04/03/13

Terjemahan 1



Merancang Pendidikan Menuju Modernitas

oleh: A. Chaidar Alwasilah

Dalam bukunya yang provokatif, The New Asian Hemisphere: The Irresistible Shift of Global Power to the East (2008), Kishore Mahbubani percaya bahwa jutaan penduduk Asia sekarang sedang bergerak menuju modernitas. Pada abad ke-21, Asia bakal termodernisasi.

Itu hanya soal waktu. Sebagai seorang idealis yang optimistis, bagaimana pun, Mahbubani mengingatkan kita akan tujuh pilar modernitas Barat, yakni ekonomi pasar bebas, sains dan teknologi, meritokrasi, pragmatisme, budaya damai, penegakan hukum, dan pendidikan.

Di antara tujuh variabel itu, pendidikanlah yang memainkan peran paling vital. Teori modal manusia menekankan pentingnya investasi dalam meningkatkan kapasitas tenaga kerja melalui pelatihan pada umumnya, dan melalui pendidikan formal pada umumnya. Dengan kata lain, pendidikan merupakan bagian paling esensial untuk membangun jalan menuju modernitas.

Esensi ekonomi pasar bebas adalah kompetisi dan kewirausahaan. Sebenarnya, kompetisi juga penting dalam kesuksesan politisi, profesional, dan intelektual. Masyarakat yang kompetitif mendorong orang untuk mengeksplorasi dan mengembangkan potensinya baik demi kemajuan individual maupun kemajuan kolektif.

Meritokrasi penting untuk merangsang kreativitas dan kemajuan dalam masyarakat. KKN, khususnya dalam urusan layanan publik, bertentangan dengan kemajuan. Menjadi pragmatis secara sederhana berarti bahwa tidak ada metode tertentu yang diklaim lebih unggul daripada metode-metode yang lain. Itu artinya, menjadi pragmatis adalah membuat keputusan tepat yang praktis lagi menguntungkan.

Budaya damai adalah prasyarat bagi terselenggaranya pembangunan yang berkelanjutan. Di negara berkembang, kemajuan sering dihalangi oleh konflik yang berulang-ulang.

Gejala semacam ini sekarang tak banyak ditemui di Eropa, tetapi masih marak di negara berkembang. Konflik seperti itu sering disebabkan oleh hambatan psikologis laten yang susah dihilangkan.

Aturan hukum memandu orang bagaimana harus bertingkah laku dalam masyarakat. Penegakan hukum penting dalam rangka merawat kemajuan. Di sebuah negara dimana hukum tidak sepenuhnya ditegakkan, buah pembangunan berada di tangan sekelompok kecil masyarakat. Akibatnya, tidak ada kepemilikan kolektif terhadap pembangunan.

Mencermati tesis Mahbubani tentang modernitas Asia yang akan segera terjadi, pendidik dan guru perlu bertanya apakah kurikulum yang ada cukup efektif untuk mengimplementasikan tujuh pilar modernitas di negara ini. Bagaimana cara agar pilar-pilar itu menjadi bagian dari kurikulum dan terimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari?

Pendidikan mengajari siswa sains dan teknologi, tapi itu belum cukup untuk mengembangkan modernitas. Mengembangkan pilar-pilar tersebut berarti menanamkan nilai-nilai sains dan teknologi yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Universitas kerap dikritik karena melulu mengajarkan teori kepada mahasiswa, mengabaikan kenyataan bahwa teori tersebut segera menjadi usang dan tak relevan.

Konsekuensinya, keterampilan yang diajarkan kepada mahasiswa harus dapat difungsikan dalam situasi yang selalu berubah. Guru dan profesor akan gagal jika mereka menggunakan proses belajar yang tidak berdampak sepanjang hayat.

Mengajar pada abad ke-21 adalah membekali siswa/mahasiswa keterampilan dan nilai dasar untuk hidup dalam masyarakat berbasis pengetahuan.

Empat prinsip masyarakat berbasis pengetahuan adalah sebagai berikut. Pertama, pembelajaran sepanjang hayat. Seorang muslim akan langsung setuju dengan prinsip ini karena sejalan dengan sabda nabi Muhammad, orang harus belajar sejak masa buaian hingga liang lahat. Pendidik mesti mengajari siswanya rasa ingin tahu yang sejati untuk terus belajar hal-hal baru selama hidup.

Kedua, belajar mandiri. Siswa harus diajari memikul tanggung jawab pribadi dalam pendidikannya. Keterampilan berpikir kritis dan kreatif adalah krusial dalam belajar mandiri. Orang yang kritis cenderung mengantisipasi datangnya masalah baru dan mencari tahu bagaimana mengatasi masalah tersebut.

Ketiga, pembelajaran berbasis masalah. Kehidupan kita dibanjiri oleh masalah-masalah baru. Pendidikan tradisional disibukkan dengan teori, sementara pada kenyataannya, kehidupan di luar sekolah lebih menawari kita masalah daripada teori. Kurikulum harus dirancang ulang untuk membekali siswa keterampilan berpikir dan menyelesaikan masalah.

Pendekatan berbasis masalah terhadap kurikulum, juga berbasis pengalaman. Belajar lebih merupakan mediasi-oleh-pelatih daripada arahan-dari-guru. Siswa lebih merupakan pemecah masalah daripada penyerap pengetahuan.

Jelasnya, peran guru bukan mengantarkan pengetahuan, tetapi berkolaborasi bersama siswa menciptakan pengetahuan. Dengan kata lain, siswa diperlakukan sebagai pembangun pengetahuan yang masih pemula.

Keempat, belajar dari berbagai sumber dan dengan berbagai sumber daya. Secara tradisional, guru biasanya menjadi sumber pengetahuan yang utama dan berwenang. Guru harus menyadari bahwa sekarang siswa belajar dengan lebih cepat dari berbagai sumber. Sumber tersebut tak terbatas jumlahnya. Kerja utama guru hari ini bukan membekali pengetahuan, melainkan membantu siswa menyaring pengetahuan yang terhampar di depannya.

Lembaga pendidikan ditantang untuk menggeser paradigmanya dari “menerapkan model teori” ke model berbasis masalah.

Saat ini, calon guru dibekali teori dan cara mengajar melalui PPL atau program pengalaman lapangan. Guru magang dalam kebanyakan kasus merasa tidak siap mengajar di kelas.

Normalnya, di Indonesia mahasiswa mengikuti PPL pada semester kedelapan selama tiga hingga empat bulan. Waktu sependek ini sangat tidak cukup untuk secara penuh memahami masalah sekolah sehari-hari.

Sebagai perbandingan, di Inggris dan Jepang calon guru menjalani PPL lebih dini, yaitu pada semester pertama atau kedua. Manfaatnya, mereka merasakan budaya sekolah dalam jangka waktu yang lebih lama dan karenanya tahu bagaimana cara menghadapi masalah sekolah.

Pendidikan adalah cara paling efektif untuk memodernisasikan bangsa. Kita butuh guru yang menguasai tidak saja materi pelajaran (pedagogi), tetapi juga yang punya kemampuan menanamkan nilai dan karakter untuk hidup dalam masyarakat yang selalu berubah. Karena itu, program pendidikan guru harus secara kritis ditinjau untuk terus diperbaiki secara berkelanjutan.

Penulis adalah profesor di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan pengarang Pokoknya Rekayasa Literasi (2012)


01/03/13

fungsi puisi



Perkenankan saya memulai tulisan ini dengan menyatakan, puisi itu banyak manfaatnya. Belajar puisi bukanlah kerja yang tak berguna. Puisi bisa digunakan untuk mencari uang, mencari nama, mencari gelar, dan yang kerap terjadi: mencari perempuan bagi yang laki-laki, mencari laki-laki bagi yang perempuan. 

Fungsi pragmatis puisi merentang dari fungsi ekonomi hingga fungsi politik. Kita ingat Lekra, lembaga kebudayaan yang dibayang-bayangi PKI, yang para aktivisnya menggunakan puisi sebagai alat politik, untuk berkampanye, berproganda, tidak jarang pula untuk menjatuhkan reputasi lawan-lawan politik golongan komunis. Kita juga ingat apa yang disebut sebagai penyair koran, yang katanya mereka menggubah puisi agar dapur tetap mengepul, atau meminjam ibarat Iman Budhi Santosa, agar cerita terus bergulir.

Di samping fungsi pragmatis, puisi, agar pantas dihargai sebagai ekspresi kebudayaan, sepatutnya difungsikan secara idealistis. Misalnya, kita perlu kembali mengungkit dan mengangkat fungsi didaktis puisi yang terpendam dalam tradisi, setelah wilayah puisi oleh estetika modern, yang sebagiannya diimpor ke Indonesia, dipersempit sebatas di ranah teknis-linguistis dan atau mekanis-kognitif. 

Secara didaktis, puisi berguna sebagai sarana belajar. Belajar menggubah puisi adalah belajar mengendalikan kata-kata. Manusia berpikir dengan bantuan kata-kata. Maka, belajar menggubah puisi adalah belajar mengendalikan pikiran. Belajar mengendalikan pikiran adalah juga belajar mengendalikan rasa, karsa, kerja, dan karya. Diluaskan spektrumnya, belajar menggubah puisi sama halnya dengan belajar menyiasati hidup, hidup dalam makna yang sesungguhnya, yaitu hidup yang bermakna. Ada garis yang menghubungkan puisi, kebudayaan, dan kehidupan. Dan garis itu semestinya ialah fungsi didaktis puisi.

Apa boleh buat, ketika mendiskusikan fungsi didaktis puisi ini, teori sastra modern tampaknya mesti dikesampingkan dulu. Walaupun memang, dunia sastra modern tidak sunyi sama sekali dari diskusi tentang fungsi didaktis puisi dan peran pragmatik penyair. Penyair dalam dunia sastra modern—dalam hal ini yang dimaksud modern adalah Barat—pernah bertanggung jawab secara sosial sebagai sang pencerah atau juru selamat. Penyair adalah lampu, salah satu sumber cahaya bagi masyarakat. 

Tapi itu terjadi ketika raja masih harus merupakan penganut agama yang saleh. Kemudian, setelah menyebar keraguan kolektif terhadap agama serta harapan kolektif terhadap ilmu pengetahuan, penyair pun mengambil tanggung jawab yang sekuler, sesuai zamannya. Penyair menjadi juru bicara kebebasan, berdiri di garda depan kemerdekaan. Penyair ditakzimi dan dikenang karena dia berhasil melancarkan revolusi konvensi, baik konvensi puisi, sastra, bahasa, dan karena itu, juga konvensi sosial dan budaya. Penyair adalah lambang pemberontakan. Penyair adalah teladan kegelisahan, pencarian, petualangan. Penyair adalah ilmuwan dalam arti esoterisnya. Yang dicarinya adalah kebaruan yang segar dan memikat. Yang dihindarinya adalah keklisean yang basi dan membosankan.

Pada saat itu, wilayah puisi dipersempit atau menjadi sempit, meskipun wilayah gerak penyair secara teknis diperluas dan diperbebas. Puisi tampaknya menjadi semata-mata teknologi bahasa. Kerja penyair terutama berkutat pada aktivitas kognitif. Pandangan terhadap penyair pun berubah. Orang melihat penyair pertama-tama sebagai jenius linguistis, kamudian sebagai penyuara semangat zamannya. Sebagai karya seni bermedium bahasa, puisi pun dikaji secara otonom, dilepaskan dan dibebaskan dari kehadiran penyair. 

Dikatakan secara sloganistis, penyair telah mati. Yang diperhatikan adalah karya penyair, puisi itu sendiri. Bagaimana adab penyair, tidak lagi dipedulikan. Penyair disanjung tinggi sekali kalau puisinya terbukti canggih dan mendapat banyak kritik, kendati perilaku sehari-hari penyair itu tidaklah sastrawi, untuk tidak mengatakan kurang atau malah tak beradab. Keindahan dan kebaikan ditempatkan dalam ruang yang berbeda, bahkan dalam posisi yang bertentangan.

Dalam keadaan demikian, fungsi didaktis puisi sudah hilang. Atau, jika pun masih ada, fungsi didaktis itu tidak lebih dari sekadar pertama, latihan kognitif, latihan intelektual, latihan otak; dan kedua, latihan membebaskan jiwa sebebas-bebasnya. Manusia tidak lagi dipersepsi secara lengkap, utuh, dan holistik. Sebab, pertama, kemanusiaan dinilai atas dasar kecanggihan pikiran. Manusia hampir tidak ada bedanya dengan mesin, robot, komputer. Kata Marcuse, manusia menjadi cuma satu dimensi. Kebudayaan pun menjadi cuma kebudayaan teknologis. Kedua, manusia dinilai atas dasar kebebasan yang dinikmatinya. Menjadi manusia adalah menjadi semakin dan semakin bebas. Penilaian seperti ini membuka jalan bagi manusia untuk jatuh ke dalam derajat binatang, suatu potensi kodrati yang memang telah ada dalam diri manusia itu sendiri.

Itu sebabnya, kita perlu mendiskusikan fungsi didaktis puisi pada khususnya, dan fungsi puisi pada umumnya. Diskusi dengan tema ini akan membawa kita pada diskusi yang pasti sangat bermanfaat, yaitu peran penyair, suatu serial diskusi yang mungkin akan membuat kita merindukan tradisi yang telah lama dimuseumkan, atau bahkan dipusarakan. Semua diskusi tersebut, pada dasarnya, berujung pangkal pada masalah estetika.

Apresiasi Puisi 5



Teks I

ORANG-ORANG MALIOBORO 1969

oleh: Iman Budhi Santosa

Rumah kami Malioboro
Mata kami Malioboro
Hati kami Malioboro
Buku kami Malioboro
Puisi kami Malioboro

Di antara debu, trotoar, dan tahun-tahun kelabu
secarik kertas, berita dalam sepotong koran bekas
pernah jadi teramat perlu; di sini. Karena terik matahari
tak menjanjikan senja benar-benar temaram
malam direngkuh sinar rembulan
dan pagi pasti memuat cericit burung gereja
mengeja lapar yang semalam tertunda
tersangkut pada bentangan kabel telepon di atas kepala kita

Di pojok stasiun Tugu, masih melintas kereta demi kereta
sedang kami malah menyimpan cemas dalam saku
dalam kata, dalam senyum, ketika hanya secarik catatan
layak dibanggakan, dipamerkan
pengganti ijazah yang terlipat dalam angan-angan

Menyusuri Malioboro, pagar tembok jadi bangku
taman dan pokok asam merangkai sunyi
lebih indah dan santun dari hening rumah sendiri.
Kadang ada debat, mengadu kutipan-kutipan dari buku tua
menguji jejak pujangga, menukar pena dengan tajamnya lidah
yang tak terukur oleh rumus matematika
Ya, kami pernah di sini. Menyaksikan lampu-lampu
menjelma mercuri, mengukur panjangnya langkah
dari keraton hingga pemberhentian ini
dengan baju lusuh, mulut tabu mengaduh
tanpa sedikit pun berani memandang langit
negeri berawan yang robek dan belum terjahit

Bertahun-tahun kami mengais remah cerita
yang bertebaran di kaki lima
sepanjang Senisono sampai hotel Garuda
untuk bekal sabar mengolah musim dan cuaca.
Bertahun-tahun kami bertabrakan dengan angin pasat tenggara
yang membuat bibir retak dan kering
namun, juga memberitahu bagaimana belajar menjadi batu
yang tak pernah lapuk dalam terkaman waktu.
Bertahun-tahun kami menapak bumi keras
menginjak duri, teriris tatapan beringas
terpinggirkan bunyi klakson
terhalang bangunan toko, tiang listrik,
dan pengemis yang terus memohon.

Sungguh, kami tidak berhenti, dan hanya berhenti
ketika puluhan kisah wayang sudah tersimpan dalam hati.
Ketika sahabat bukan lagi orang-orang sakti
tapi, juga tembok dan beton, lukisan dan puisi
air comberan dan pemantik api

Di Malioboro, kami pernah menjadi bayi
pernah bertapa, sekaligus bercinta
pernah menyerupai sampah
pernah belajar mengeja
pernah tak dikenal tetangga
pernah menghitung bintang, mengikuti jejak tikus tua
membangun sarang yang nyaman
di bawah tanah kelahiran kedua
bernama Yogyakarta

2009

Parafrase I

Malioboro adalah rumah kami, tempat kami berteduh dari hujan dan panas, tempat kami bercengkerama bersama keluarga, tempat kami dibesarkan ibunda dan ramanda, tempat kami memperoleh pendidikan dasar dan perdana. Malioboro adalah mata kami, dengan mana kami memandang dunia, memandang orang lain, memandang diri kami sendiri, memandang Tuhan. Malioboro adalah hati kami, perangkat yang membuat kami dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, cahaya yang membimbing langkah perjalanan kami. Malioboro adalah buku kami, catatan atas kehidupan dari zaman ke zaman dari tempat ke tempat. Malioboro adalah puisi kami.

Di sini, di Malioboro, secarik kertas yang berisi berita dalam sepotong koran bekas, yang ditemukan di antara debu, trotoar, dan tahun-tahun kelabu, pernah jadi teramat perlu bagi kami. Karena, terik matahari tak menjanjikan bahwa senja akan benar-benar temaram sehingga malam direngkuh sinar rembulan; dan karena, pagi pasti memuat cericit burung gereja yang tersangkut pada bentangan kabel telepon di atas kepala kita. Burung gereja itu rupanya mengeja lapar yang semalam tertunda.

Masih melintas kereta demi kereta di pojok stasiun Tugu. Sementara itu, kami malah menyimpan cemas dalam saku, kata, dan senyum. Karena, kami hanya punya secarik catatan yang layak dibanggakan dan dipamerkan. Secarik catatan tersebut merupakan pengganti ijazah yang terlipat dalam angan-angan.

Ketika kami menyusuri Malioboro, pagar dan tembok pun menjadi bangku, sedangkan taman dan pokok asam merangkai sunyi. Malioboro lebih indah dan santun dari hening rumah sendiri. Kadang ada perdebatan untuk mengadu kutipan-kutipan dari buku tua, menguji jejak pujangga, dan menukar pena dengan tajamnya lidah. Bagaimana perdebatan itu, tak terukur oleh rumus matematika. Ya, kami pernah di sini, di Malioboro. Kami pernah menyaksikan lampu-lampu menjelma mercuri. Kami pernah mengukur panjangnya langkah dari keraton hingga pemberhentian ini, dengan baju lusuh, dengan mulut yang dilarang mengaduh, tanpa sedikit pun berani memandang langit, yaitu negeri berawan yang robek dan belum terjahit.

Bertahun-tahun kami mengais remah cerita, yang bertebaran di kaki lima sepanjang Senisono sampai hotel Garuda, untuk bekal sabar dalam mengolah musim dan cuaca. Bertahun-tahun kami bertabrakan dengan angin pesat dari tenggara yang membuat bibir retak dan kering. Namun, angin itu jugalah yang memberitahu bagaimana belajar menjadi batu yang tak pernah lapuk dalam terkaman waktu. Bertahun-tahun kami menapak bumi yang keras, menginjak duri, teriris tatapan beringas, terpinggirkan bunyi klakson, terhalang bangunan toko, tiang listrik, dan pengemis yang terus memohon.

Walaupun demikian, sungguh, kami tidak berhenti. Kami hanya berhenti ketika puluhan kisah wayang sudah tersimpan dalam hati. Kami hanya berhenti ketika sahabat bukan lagi orang-orang sakti, tetapi mereka juga menjadi tembok dan beton, lukisan dan puisi, air comberan dan pemantik api.

Di Malioboro, kami pernah menjadi bayi, pernah bertapa sekaligus bercinta, pernah menyerupai sampah, pernah belajar mengeja, pernah tak dikenal tetangga, pernah menghitung bintang, dan pernah mengikuti jejak tikus tua. Tikus tua itu membangun sarang yang nyaman di bawah tanah Yogyakarta, dimana kami dilahirkan untuk kedua kalinya.


Teks II

ORANG-ORANG MALIOBORO 2009

oleh: Iman Budhi Santosa

Selembar daun angsana yang gugur musim ketiga
dinihari menyapa (dengan wajah kecewa)
setelah terinjak sepatu bersama semut hitam di bawahnya
yang harus mati sebelum menemukan remah berkah
yang tengah dicari atau dicuri.
“Apa yang kau tunggu di sini, laki-laki tua?”
Tapi, laki-laki beruban itu merasa tak ada siapa-siapa
di bawah sepatunya, karena dirinya hanya mondar-mandir
sambil mengunyah catatan lama

“Di sini pernah ada Rendra.” Gumamnya
setelah di sepanjang tembok kusam
tak ada lagi poster dan iklan teater.
Tak ada lagi denting gitar melantunkan puisi
yang tak pernah dimuat oleh koran-koran besar

Waktu sepotong kenangan melintas
di seberang balkon tua lantai dua
lagi-lagi ia berhenti. “Di situ ada Umbu.”
Gumamnya, setelah merasa di sana hanya ada gelap
dan aroma karat. “Benarkah ini Malioboro yang dulu?
Benarkah sekarang jadi makam, jadi lorong hantu
milik iklan siang malam yang terus mengharu-biru?”

Maka, berhari-hari ia pun mencari
orang-orang yang masih menggenggam puisi
berhari-hari mencari sketsa lukisan
seperti disimpan handai taulan
dan dimuliakan pada kamar-kamar pribadi.
Tapi, yang ditemukan hanya suvenir yang sengaja diukir
oleh tangan para fakir membuat cerita terus bergulir.
Tengah hari ketika hidup serasa makin diburu-buru
sekali lagi ia melangkah ke utara, mencari puisi
yang dulu disembunyikan di celah pintu warung kopi
yang sekarang tiada (dan sejarahnya pun tak ada)

Demikianlah. Senantiasa ada orang-orang gila
merasa Malioboro miliknya. Ada orang-orang buta
merasa Malioboro seperti yang diraba.
Ada orang-orang bisu bahagia melukis Malioboro
dengan lidahnya. Ada orang-orang tuli
yang tak pernah mendengar
hiruk-pikuk Maliboro begitu bebas merdeka.
Ada orang-orang lumpuh yang senantiasa mengaduh
ketika harus patuh menuai peluh
beringsut sepanjang Malioboro yang terbuka.

Ada rasa malu ketika tak ada lagi tegur sapa bersahabat
ratusan orang memilih hidup dalam etalase
berkubang dalam harga
dan angka-angka yang senantiasa berkhianat

2009

Parafrase II

Pada dinihari, selembar daun angsana—yang gugur pada musim ketiga—menyapa (dengan wajah kecewa), setelah terinjak sepatu bersama semut hitam di bawahnya, semut hitam yang harus mati sebelum menemukan remah berkah yang tengah dicari atau dicuri. "Apa yang kau tunggu di sini, laki-laki tua?" tanya daun angsana tersebut. Tetapi, laki-laki beruban itu merasa tak ada siapa-siapa di bawah sepatunya karena dirinya hanya mondar-mandir sambil mengunyah catatan lama.

Setelah tak ada lagi poster dan iklan teater yang tertempel di sepanjang tembok kusam, juga setelah tak ada lagi denting gitar melantunkan puisi yang tak pernah dimuat oleh koran-koran besar, ia pun bergumam “Di sini pernah ada Rendra”.

Waktu sepotong kenangan melintas di seberang balkon tua lantai dua, lagi-lagi ia berhenti. Setelah merasa di sana hanya ada gelap dan aroma karat, ia pun bergumam, “Di situ ada Umbu”.

Maka, selama berhari-hari ia pun mencari orang-orang yang masih menggenggam puisi. Berhari-hari lamanya ia mencari sketsa lukisan. Apa yang dicarinya itu seperti disimpan oleh handai tulan dan dimuliakan pada kamar-kamar pribadi. Tetapi, ia hanya menemukan suvenir yang sengaja diukir oleh tangan para fakir dengan maksud untuk membuat cerita terus bergulir. Pada tengah hari, ketika hidup serasa makin diburu-buru, sekali lagi ia melangkah ke utara untuk mencari puisi yang dulu disembunyikan di celah pintu warung kopi, tetapi yang sekarang tiada (dan sejarahnya pun tak ada).

Demikianlah. Senantiasa ada orang-orang gila yang merasa bahwa Malioboro adalah miliknya. Senantiasa ada orang-orang buta yang merasa bahwa wujud Malioboro seperti yang dirabanya. Senantiasa ada orang-orang bisu yang merasa bahagia melukis Malioboro dengan lidahnya. Senantiasa ada orang-orang tuli yang tak pernah mendengar hiruk-pikuk Malioboro yang begitu bebas-merdeka. Ada orang-orang lumpuh yang senantiasa mengaduh ketika harus patuh menuai peluh saat beringsut di sepanjang Malioboro yang terbuka.

Ada rasa malu ketika tak ada lagi tegur sapa bersahabat. Ratusan orang memilih hidup dalam etalase serta berkubang dalam harga dan angka-angka yang senantiasa berkhianat.