17/10/21

Literasi (di) Pesantren, La Raiba Fihi

MESKIPUN kelihatan tradisional, pesantren sebenarnya telah mengandung elemen modern, bahkan sebelum melakukan proses panjang modernisasi--sejak awal abad ke-20--yang hingga kini belum mencapai bentuk finalnya. Di antara elemen modern dalam pesantren adalah budaya literasi. Membaca, menulis, dan berdiskusi merupakan suatu living culture dalam komunitas pesantren.

Jadi, bila sebuah pesantren memiliki madrasah, sekolah umum, atau pun semacam perguruan tinggi, lembaga-lembaga pendidikan ini tak perlu disuruh-suruh untuk menghidupkan budaya literasi. Munculnya suruhan demikian menandakan bahwa pihak eksternal, yang menyuruh pesantren untuk menghidupkan budaya literasi, tak memahami betul seluk-beluk pesantren. Dalam hal menghidupkan budaya literasi, justru lembaga-lembaga pendidikan formal non-pesantrenlah yang harus belajar kepada pesantren.

Di pesantren, aktivitas dan habit literasi dapat dipilah menjadi dua kategori. Pertama, guided collective literacy, yaitu aktivitas literasi santri secara berjamaah yang dibimbing sang kiai.

Contoh konkretnya, dalam pengajian kitab kuning yang rutin dilaksanakan, kiai dan para santri membaca kitab, yang umumnya berbahasa Arab, yang dipelajari secara bersama-sama. Sang kiai membaca kitab tersebut kata per kata, lalu menerjemahkannya kata per kata pula. Setelah itu, ia menerangkan makna satuan kalimat atau satuan wacana (discourse) yang telah diterjemahkan itu.

Ketika sang kiai membaca dan menerjemahkan kitab kata per kata, para santri juga membaca kitab tersebut, sembari memberi harakat pada tiap kata dan menulis arti kata di bawah kata bersangkutan.

Sebelum dan setelah melakukan guided collective literacy, sebagian santri melakukan creative individual literacy. Inilah kategori kedua aktivitas literasi dalam dunia pesantren.

Sebelum mengaji, santri yang rajin biasanya membaca kitab yang akan dipelajari. Ia memberi harakat tiap kata dan mencari sendiri terjemahannya, juga merenung-renung sendiri untuk memahami makna dan maksud kitab yang sedang dibacanya.

Untuk mengharakati kata, menerjemahkan kata, serta menelusuri makna dan maksud kandungan kitab, diperlukan daya pikir dan daya kreatif yang tidak kecil. Karena itulah, kategori literasi kedua ini dipandang sebagai aktivitas literasi yang "creative".

Setelah mengaji, si santri kembali membaca satuan wacana dalam kitab yang baru saja dipelajari. Jika menemukan wawasan, pandangan, atau persoalan baru, ia mendiskusikannya dengan teman-temannya sesama santri.

Kegiatan diskusi yang semula bersifat spontan ini kemudian dilembagakan menjadi forum bahtsul masa-il, ruang bagi para santri yang ilmu agamanya telah cukup memadai untuk berdialektika dalam rangka merumuskan pemecahan atas persoalan fikihiah tertentu, dengan merujuk pada kitab-kitab fikih yang mu'tabarah di kalangan pesantren.

Berdasarkan fenomena-fenomena keliterasian di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa dalam dunia pesantren, bahkan pesantren tradisional (salafiyah) sekali pun, budaya literasi telah berjalan dan berkembang sedemikian rupa. Budaya literasi (di) pesantren merupakan fenomena yang "la raiba fihi"; yang sudah tak diragukan lagi keberadaannya. Dan budaya literasi ini sesungguhnya merupakan elemen modern dalam pesantren.

14/10/21

Problem Pedagogi Content

Dalam dunia pendidikan kita, terdapat paradigma pedagogis implisit yang real, masih berdiri kokoh, dan sukar diubah. Paradigma implisit tersebut adalah, guru mengajarkan content ilmu, bukan metode untuk mencari dan mengembangkan ilmu.

Maka, yang terbentuk adalah kultur reproduksi ilmu. Inovasi dan kreativitas keilmuan, kalaupun ada, merupakan anomali, yaitu suatu kondisi yang luar biasa. Siswa-siswi kita, demikian pula para gurunya, menjadi konsumen pengetahuan. Hal ini benar untuk pendidikan umum, apalagi pendidikan Islam.

Kurikulum 2013, yang mengutamakan pendekatan saintifik, sebenarnya disusun untuk menghilangkan kultur reproduksi pengetahuan tersebut. Tapi, dalam implementasinya, tujuan dari disusunnya Kurikulum 2013 gagal tercapai.

Kita bisa mendaftar faktor-faktor kegagalan tersebut. Ada pengamat yang menyatakan bahwa kegagalan itu disebabkan karena rendahnya mutu pendidikan guru kita, sehingga bukan hanya para siswa yang tak siap menghayati paradigma Kurikulum 2013, guru pun sebetulnya tidak siap. Walaupun mengajarkan Kurikulum 2013, guru masih berpikir, bertindak, dan bersikap dengan paradigma kurikulum lawas yang lebih menitikberatkan content ilmu daripada metode ilmiah.

Hal itu, jika ditelisik lebih dalam, menunjukkan betapa susahnya mengubah kultur dan paradigma, apalagi bila paradigma tersebut implisit dan tak tersadari. Terbukti berkali-kali, mengganti kurikulum nyatanya hanya mengubah wadah, bungkus, atau kemasan. Pada tataran penerapan, esensi semua kurikulum sama saja, dalam arti masih saja mengajarkan content pengetahuan.

Karena itu, solusi untuk mengikis paradigma reproduksi dan konsumsi ilmu pengetahuan dalam dunia pendidikan bukanlah mengganti kurikulum, merevisinya, melengkapinya, memodifikasinya, menyederhanakannya, atau pun mengurangi bobotnya. Solusinya adalah inisiasi dan implementasi gerakan besar-besaran revolusi paradigma pedagogis.

Garda terdepan revolusi paradigma ini bukanlah pemerintah, melainkan guru. Pemerintah hanya membuat policy untuk menata ekosistem pendidikan yang dipersyaratkan dan dibutuhkan. Gurulah yang menjadi eksekutor revolusi paradigma tersebut.

Sayangnya, kalau kita mengamati secara objektif kualitas guru kita saat ini, revolusi paradigma pedagogis itu mungkin akan sangat sulit dijalankan, untuk tidak mengatakan "mustahil dijalankan". Memang ada guru-guru pembelajar yang mau maju dan memajukan siswa-siswinya. Tapi, mayoritas guru kita adalah guru yang formalis, administratif, dan birokratif.

Kalau aktivitas pembelajaran bisa dilakukan secara mudah dengan hanya mengajarkan content pengetahuan kepada para siswa dan hal itu sudah cukup untuk memenuhi kualifikasi administratif yang bisa dimanipulasi, kenapa kita harus bersusah-payah belajar pedagogi berparadigma baru demi mengajarkan metode ilmiah kepada para siswa? 

06/05/19

Membaca The Alchemy of Happiness (1)



AL-GHAZALI mengawali buku The Alchemy of Happiness dengan ajakan untuk merenung. Sebagai makhluk, apakah manusia diciptakan secara iseng, kebetulan, dan tanpa tujuan tertentu? Sesungguhnya, apa makna hidup ini? Hidup ternyata adalah tangga untuk naik ke langit rohani tertinggi. Hidup adalah jalur pendakian yang harus ditempuh untuk mencapai puncak gunung spiritual. 
 
Langit rohani tertinggi atau puncak gunung spiritual itulah yang digambarkan sebagai surga. Di sana, manusia menikmati kabahagiaan yang tak palsu, yang tak semu, yang tak sementara, yang tak berakhir pahit padahal pada mulanya manis. Kenikmatan yang dialaminya di surga bukanlah kenikmatan jasmaniah rendahan, melainkan kenikmatan rohaniah yang ultim dan sublim. Di surga, manusia berjumpa dengan Keindahan Abadi (al-Jamil al-Baqi) yang dicarinya dengan susah payah sejak ia dieksiskan.

Secara implisit, al-Ghazali mengisyaratkan bahwa surga lebih dari apa yang selama ini terbayang dalam benak kita. Kita masih membayangkan surga sebagai himpunan puncak-puncak kenikmatan jasmaniah.

Di sana, disediakan bidadari cantik yang siap melayani lelaki gagah tampan. Di sana, berdiri istana-istana emas yang megah, yang di sekitarnya mengalir sungai susu, madu, dan anggur. Di atas sungai-sungai lezat itu, tumbuh pepohonan anggur dan kurma yang amat rindang, yang akarnya di atas dan buahnya menggelantung ke bawah. Penghuni surga duduk santai di atas dipan berkasur sambil menikmati minuman yang dituangkan ke dalam gelas kristal.

Apakah kondisi surga sejasmaniah itu, padahal yang jasmani bersifat fana sedangkan kehidupan surgawi bersifat kekal? Demi tujuan komunikatif, al-Quran memang menggambarkan surga secara demikian. Tapi, sebuah hadis menyatakan, hakikat surga tidak dapat dilihat mata, tidak terjangkau daya pendengaran telinga, dan tidak pernah terlintas dalam pikiran al-basyar (manusia sebagai makhluk biologis).

Surga memang digambarkan secara jasmaniah. Tapi, surga jauh lebih tinggi daripada apa yang sekadar jasmani. Kenikmatan surga adalah kekal. Keindahan surga juga kekal, berbeda dengan keindahan di dunia ini yang sementara. Untuk mencapai keindahan surgawi yang kekal itulah manusia diciptakan. 

Manusia diciptakan tidak untuk terpesona dengan keindahan duniawi, lalu betah hidup di alam dunia dan terikat kepadanya. Alam dunia adalah terminal transit dalam sebuah perjalanan panjang menuju Keabadian dan Kesejatian.

Manusia diciptakan tidak untuk memanjakan dan mengumbar nafsu. Tujuan hidup bukan untuk memburu fasilitas duniawi sebanyak-banyaknya, kemudian menikmati fasilitas fana tersebut sepuas-puasnya. Justru sebaliknya, manusia diciptakan untuk terus-menerus berjuang melawan nafsunya demi mencapai surga, demi tenggelam dalam perenungan akan Keindahan yang kekal.

Al-Ghazali menyebut metode untuk mencapai Keindahan Kekal atau kebahagiaan sejati tersebut sebagai kimiya-us sa’adah, the alchemy of happiness, atau ramuan kimiawi kebahagiaan. Alchemy ini adalah the philosopher’s stone yang secara ajaib mengubah batu dan logam menjadi emas murni, yang secara menakjubkan mengubah tangisan menjadi senyuman, penderitaan menjadi kebahagiaan, kejelekan menjadi keindahan, dan kerendahan budi pekerti menjadi keluhuran akhlak. Bila diringkas sepadat-padatnya, rumus/resep alchemy ini berbunyi: “melepaskan ikatan hati dari yang duniawi dalam rangka berjalan menuju Ilahi”.

Semua manusia, lebih-lebih manusia yang hidup pada zaman kalabendu ini, sesunggunya setiap hari jungkir balik mencari kebahagiaan sejati. Tapi, kenapa kebahagiaan itu belum juga ditemukan? Jawabannya: kita mencari kebahagian bukan di tempat yang seharusnya. Kita mempelajari ilmu kebahagiaan bukan dari sumber yang tepat. Seperti Abu Nawas, kita mencari kunci di luar rumah. Padahal, kunci itu jelas-jelas terjatuh di dalam rumah.

Sumber ilmu kebahagian (kawruh begja) yang tepat adalah para nabi. Sepanjang sejarah, menurut sebuah hadis, telah diturunkan 124 ribu nabi. Tugas mereka adalah mengajarkan kepada umat manusia resep the alchemy of happiness. Mereka membimbing umat manusia dalam perjuangan rohani (mujahadah) mengobati hati dari segala macam penyakit hati. Jihad paling besar bukan perang melawan kaum kafir, melainkan jihad melawan nafsu, yang boleh ditafsirkan sebagai perang melawan kekafiran pribadi. Setelah para nabi pergi, amanat untuk membimbing umat diwariskan kepada para ulama, ahli “hikmah”, filosof sejati, atau bijak bestari.

Tujuan kedatangan para nabi, yang masing-masing risalahnya membangun sebuah identitas keagaman tersendiri, pada dasarnya adalah untuk membahagiakan manusia. Ajaran agama dirancang untuk membuat manusia bahagia. Agama hadir tidak untuk membuat manusia menderita dan kesusahan. Agama ada tidak demi menciptakan permusuhan (‘adawah) dan keonaran (mafsadah). Sebab, dari segi psikologis, substansi semua agama yang dibangun, dijaga, dan dikembangkan para nabi adalah the alchemy of happiness.

The alchemy of happiness tersusun dari empat senyawa kimiawi yang sekaligus merupakan empat kategori ma’rifat (kearifan). Pertama, mengenal jati diri (ma’rifat al-nafs). Pertanyaan dasarnya: siapa manusia itu sebenarnya? Mengapa manusia diciptakan? Apa makna kehidupan dan kematian? Apa tugas manusia saat hidup di alam dunia? Kedua, mengenal Ilahi (ma’rifatullah). Pertanyaan dasarnya: siapa Tuhan itu sesungguhnya? Bagaimana relasi fitri antara manusia dan Tuhan? Ketiga, mengenal hakikat dunia (ma’rifat al-dunya). Sejatinya, apa hakikat dunia yang sekarang kita tinggali ini? Apakah dunia menyuguhkan kesejatian dan keabadian? Keempat, mengenal hakikat akhirat (ma’rifat al-akhirah). Apakah alam akhirat itu dan bagaimana sifat-sifatnya jika dibandingkan dengan alam dunia? Mengapa akhirat perlu ada?

Apakah Anda sudah lelah dengan kesedihan yang seakan tak berujung? Apakah Anda sudah letih dengan perasaan menderita yang tak henti-hentinya merundung? Apakah Anda menginginkan kebahagiaan? Kalau Anda juga mencari kebahagiaan, sebagaimana saya, marilah kita membaca buku The Alchemy of Happiness karya al-Ghazali lebih lanjut. Marilah kita menjelajahi gagasan, tuntunan, dan nasihat sang ulama lebih jauh.


NB: Saat saya mulai menulis catatan tentang The Alchemy of Happiness ini, kebetulan K.H. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) juga sedang mengadakan pengajian pasanan yang membedah kitab Kimiya-us Sa’adah. Jika Anda ingin mendalami kitab bagus dan penting ini, silakan buka YouTube untuk menonton video pengajian tersebut di Channel Gus Mus. Gus Mus adalah ahli yang memiliki otoritas, baik kerohanian maupun keilmuan, untuk menguraikan isi kitab tersebut. Sementara itu, saya hanya awam yang bodoh tetapi sok pamer wawasan tentang isi kitab The Alchemy of Happiness.