Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

06/05/17

JALAN CINTA SUNAN BONANG




Maka tempuhlah jalan-jalan (menuju) Tuhan yang dimudahkan
—sebuah penggalan ayat dalam kitab suci—

“Kau,” kata seseorang kepada sahabatnya, “harus menyesal karena belum pernah mendaki gunung.”
Si sahabat menanggapi pernyataan tersebut dengan pertanyaan, “Mengapa aku harus menyesal?”
“Alasannya ada dua. Pertama, kalau kau belum pernah mendaki gunung, kau tidak akan merasakan betapa menuruni gunung—setelah kau mendakinya dengan menguras sekian besar energi dan memeras sekian banyak keringat—terasa mudah, ringan, dan lekas. Seakan-akan jarak dilipat dan waktu disingkat. Rasanya, baru saja kau berada di puncak, tiba-tiba sudah sampai di kaki gunung. Jalan turun gunung jauh lebih mudah daripada jalan pendakiannya.”
“Alasan pertama menarik juga. Lantas, apa alasan kedua?”
“Alasan kedua, jalur turun gunung, sebagaimana jalur dakinya, tidak hanya satu. Untuk mencapai puncak, sebenarnya kita bisa mulai mendaki dari sisi kaki gunung mana saja. Kita bisa mendaki menempuh jalur yang sudah dibuka dan sering dilalui. Tapi, terbuka pula kemungkinan untuk menempuh jalur yang belum lagi ditemukan. Catatannya, jalur itu akan aman menurut perhitungan kita. Catatan selanjutnya, kita memiliki keberanian, pengetahuan, kehendak, dan keyakinan yang cukup untuk menempuh jalur baru tersebut.”
“Ya, ya. Alasan kedua juga menarik. Tapi nanti dulu, Kawan. Mengapa kau yakin bahwa aku akan menyesal karena tidak mengetahui hal itu, bahwa aku pun akan menyesal karena tidak pernah mendaki gunung?”
“Rahasianya akan aku ungkapkan. Hal yang baru saja kujelaskan adalah metafora kecil tentang hidup beragama. Agama adalah jalan untuk mengenal Tuhan. Agama adalah cara untuk berjumpa dengan-Nya. Agama adalah wujud kerinduan terpendam manusia untuk pulang ke pangkuan-Nya.”
“Kawan, kita sering lupa. Kita sering lupa bahwa jalan untuk mengenal Tuhan tidak hanya satu. Ada banyak sekali jalan untuk mengenal-Nya, sebagaimana ada banyak sekali jalan untuk mendaki sebuah gunung dalam rangka mencapai puncaknya.”
“Untuk mencapai puncak gunung spiritual, segolongan manusia menempuh jalur pendakian yang sudah ada dan sudah pernah dilalui. Bahkan, peta jalur pendakian pun sudah dibuat dan dicetak massal. Rambu-rambu sepanjang jalur sudah dipancangkan dengan tulisan yang jelas. Sudah pula diterangkan oleh penjaga jalur tersebut berbagai bahaya yang bakal ditemui dan kesulitan yang bakal muncul saat pendakian.”
“Karena itu, kebanyakan pendaki mengira, inilah jalur yang paling mudah. Maka, dengan keyakinan yang tinggi, mereka pun menempuh jalur ini. Namun, nyatanya tidak semua pendaki mencapai puncak. Malah ada yang sudah berhenti sebelum sampai di pos pertama. Ada yang berhenti di pos kedua, pos ketiga, atau pos keempat, sehinga mereka tidak sampai di puncak. Bahkan, ada yang tersesat karena tidak mengindahkan peta dan rambu. Ada yang terpeleset di tepi jurang sehingga jatuh dan meninggal. Ada yang entah bagaimana hilang selamanya bagai tertelan rimba gunung yang senantiasa misterius.”
“Apa kaitan jalur pendakian yang mudah tersebut dengan hidup beragama kita? Aku belum menangkap makna kata-katamu.”
“Kawan, jangan tergesa-gesa. Sabarlah dalam menyimak penjelasanku. Jalur pendakian yang mudah menuju puncak gunung spiritual ini dalam agama Islam disebut sebagai syariat. Syariat adalah salah satu jalan—ingat, hanya salah satu jalan, bukan satu-satunya jalan—untuk mengenal Tuhan. Kelebihan syariat dibandingkan jalan lain untuk mengenal Tuhan adalah kemudahannya. Jalan syariat sudah sedemikian jelas. Peta sudah lengkap. Rambu sudah lengkap. Informasi tentang bahaya dan kesulitan sewaktu mendaki pun sudah lengkap. Tapi Kawan, satu hal hingga kini masih membuatku ngungun terheran-heran.”
“Mengapa kau terheran-heran?”
“Walaupun merupakan jalan mudah untuk mengenal Tuhan, nyatanya tidak setiap individu dalam umat Islam mengenal siapa Tuhannya. Saksikanlah perilaku keseharian mereka. Mereka mengaku mengenal Tuhan tetapi mengapa mereka tidak peduli dengan saudaranya yang kelaparan, kehausan, dan telanjang? Mereka mengaku mengenal Tuhan tetapi mengapa mereka masih membanggakan kebesaran, kerupawanan, kepandaian, kekuasaan, kemampuan, dan kekayaan dirinya yang palsu dan fana? Mereka mengaku mengenal Tuhan tetapi mengapa mereka masih menderita karena masa lalu dan sengsara karena masa depan? Mereka mengaku mengenal Tuhan tetapi mengapa mereka menjadi budak keinginan? Mereka mengaku mengenal Tuhan tetapi mengapa mereka tidak menanti-nanti datangnya kematian dan justru malah takut menghadapinya?”
“Bukan bagianku menjawab pertanyaanmu, Kawan. Setelah mendengar ceramah dan gugatanmu, aku baru mengerti. Jalur pendakian umum yang sudah dibuka dan sering dilalui memang mudah. Tapi, sayang sekali, tidak semua pendaki sampai di puncak gunung.”
“Kawan, kau berkata apa tadi? ‘Sayang sekali’? Memang sayang sekali. Tapi, ada yang lebih disayangkan lagi. Ada yang lebih perlu dikasihani lagi, yaitu mereka yang menempuh jalur pendakian yang sulit atau paling sulit.”
“Adakah jalur pendakian seperti itu dalam hidup beragama?”
“Sesungguhnya Kau tidak perlu bertanya demikian karena jawabannya telah terang benderang. Jalur pendakian gunung spiritual yang paling sulit adalah jalur akal. Anehnya, walaupun dalam jalur ini medan yang harus dilalui sungguh berat, jalur ini ternyata ditempuh banyak pendaki. Di antara mereka, hanya sedikit yang berhasil sampai di puncak. Karena kelelahan, kebanyakan pendaki berhenti di pos-pos yang terdapat di sepanjang jalur. Sebagian pendaki lain tersesat karena tidak membawa peta atau karena peta yang dibawa menyesatkan. Rambu-rambu memang dipancangkan tetapi tulisannya rata-rata tidak terbaca dengan jelas. Sebagian pendaki lain mengalami nasib yang amat buruk di mata seorang pendaki. Setelah tersesat, secara tidak sadar mereka keluar dari jalur pendakian, berjalan tanpa tahu arah, dan akhirnya justru kembali ke kaki gunung. Bukan hanya sia-sia, pendakian mereka terhitung merugikan. Itulah pendakian yang bodoh.”
“Kau benar. Pendakian begitu memang benar-benar bodoh.”
“Kawan, maukah Kau kutunjukkan bentuk pendakian yang tidak bodoh?”
“Menjadi orang pintar, siapa yang tidak mau?”
“Jalur syariat yang sudah dibentangkan untuk mencapai puncak gunung spiritual memang jalur yang mudah. Tapi, ada jalur yang jauh lebih mudah?”
“Kau tidak sedang berdusta, bukan?”
“Aku tidak mendapat upah dengan menipumu.”
“Jangan tersinggung, Kawan. Aku tidak bermaksud meragukan Kau. Aku hanya ingin menenggak segelas air kepastian untuk memuaskan akalku yang haus akan kebenaran. Apakah jalur pendakian gunung spiritual yang lebih mudah daripada jalur syariat itu?”
“Jalur turun gunung.”
“Kau hendak mencandaiku?”
“Lidahku menampik canda dan gurau. Yang kumaksud adalah, jalur pendakian ini semudah, seringan, dan selekas jalur turun gunung. Ketika Kau menempuh jalur ini, seakan-akan jarak dilipat dan waktu disingkat.”
“Penjelasanmu semakin membuatku tertarik dan penasaran.”
“Itulah tujuanku mencicil penjelasan. Untuk membuatmu tertarik dan penasaran.”
“Kawan, katakanlah segera. Jangan lagi Kau suruh aku bersabar.”
“Jalur yang begitu mudah, juga begitu beragam dan berwarna ini, ditempuh para lebah. Itulah rahasianya mengapa lebah menghasilkan madu. Lebah mengonsumsi yang terbaik untuk memproduksi yang terbaik dengan cara yang terbaik pula. Dia bekerja dan berjuang untuk menyembuhkan dan memberikan kasih sayang bagi manusia. Siapakah manusia bagi lebah? Dialah makhluk yang menghancurkan rumah lebah untuk mengambil madunya. Pada lebah, bukan hanya madunya, sengatannya pun adalah obat. Lebah menyakiti untuk menyembuhkan.”
“Mengagumkan.”
“Kekagumanmu kepada lebah adalah wajar. Tapi, Kau lebih wajar untuk kagum kepada yang menciptakan lebah. Seperti halnya binatang lain, lebah tidak berakal. Sungguh pun demikian, masyarakat lebah jauh lebih baik daripada masyarakat makhluk berakal yang disebut manusia? Ironi kenyataan ini sungguh mengagumkan. Siapakah yang merancangnya?”
“Aku kagum dengan lebah. Kagum dengan ironi kenyataan. Kagum pula dengan pencipta lebah dan perancang ironi kenyataan. Namun Kawan, aku tak kagum dengan caramu menjelaskan. Kau bertele-tele. Kau terlalu banyak bicara tentang keajaiban lebah. Kau telah melupakan tujuanmu semula untuk memaparkan kepadaku jalan mengenal Tuhan yang mudah, ringan, dan lekas?”
“Aku tidak sedang bertele-tele. Aku pun tidak sedang banyak bicara tentang lebah. Setelah mengenal lebah, Kau mengaguminya. Kemudian, Kau pun  mengenal dan mengagumi penciptanya. Inilah jalan yang kumaksud. Inilah jalur pendakian menuju puncak gunung spiritual yang mudah, ringan, dan lekas. Semudah, seringan, dan selekas jalur turun gunung. Apabila Kau menempuh jalur ini, jarak yang memisahkan Kau dengan Tuhan seakan dilipat. Waktu tempuhmu pun disingkat. Jalur pendakian ini banyak jumlahnya, sebanyak jumlah ciptaan. Seluruh ciptaan adalah tanda keberadaan dan isyarat kehadiran-Nya. Seluruh ciptaan adalah bayangan-Nya. Ke arah mana pun Kau memandang, di situ tampak wajah-Nya.”
“Kata-katamu membuat lidahku kaku.”
“Kawan, kata-kataku janganlah membuat lidahmu kaku. Jangan Kau kakukan lidahmu hanya karena kata-kataku. Kakukanlah lidahmu manakala dengan mata hatimu Kau saksikan wajah-Nya di balik seekor lebah. Kuncilah mulutmu manakala dengan mata hatimu Kau saksikan wajah-Nya di balik sebatang pohon. Rapatkanlah kedua bibirmu manakala dengan mata hatimu Kau saksikan wajah-Nya di balik ciptaan paling remeh, kecil, lemah, rendah, hina, buruk, dan jahat sekali pun. Kata-kata, Kawan, akan menyembunyikan kembali kemaha-agungan dan kemaha-indahan-Nya. Kata-kata akan membelenggu kakimu saat Kau melangkah di jalan ini.”
“Karena itu, Kawan, hapuslah seluruh kata-kata yang mengotori lembaran buku pikiranmu. Sucikanlah masjid hatimu dari najis berhala dengan air ilmu. Dan usirlah selaksa raksasa angkara murka yang bersarang dalam dadamu. Tabuhlah genderang perang akbar melawan nafsumu. Maka, saat Tuhan membuka pintu rumah-Nya bagimu, Dia akan menyentuh hatimu. Dia akan memelukmu mesra. Kau akan linglung terhuyung-huyung menatap keindahan-Nya. Kau akan tergetar dan terkesima di mana pun. Di mana pun kau mendengar tasbih dan pujian. Kau pun bertasbih dan memuji di mana pun. Bumi yang terhampar menjadi sajadahmu, tempat kau tersungkur pasrah di bawah kaki keagungan-Nya. Dan air mata syukurmu tumpah tak terbendung lalu mengalir tak henti-hentinya dari mata hatimu.”
“Lanjutkan, Kawan. Lanjutkan penjelasanmu. Aku mau mengerti lebih banyak.”
“Jalan mengenal Tuhan yang paling mudah, ringan, dan lekas ini sudah amat tua usianya. Orang-orang menyebutnya dengan berbagai nama. Ada yang menamainya jalan hikmah. Ada yang menamainya jalan filsafat. Ada yang menamainya jalan cinta. Ada yang menamainya jalan hati. Ada pula yang menamainya jalan rasa. Tapi, nama apa pun yang mereka sandangkan untuk jalan ini, hakikatnya hanya satu. Inilah kiranya jalan menuju Tuhan yang pernah diwahyukan kepada lebah. ‘Dan makanlah,’ titah-Nya kepada lebah, ‘sebagian dari bebuahan. Lalu, tempuhlah jalan-jalan (menuju) Tuhanmu yang mudah.’ Jalan mudah inilah yang ditempuh Sunan Bonang, kekasih-Nya yang mengagumi lebah itu.”
“Sudah, Kawan. Sudahilah penjelasanmu. Aku telah merasa cukup dengan kata-kata. Sekarang aku menghendaki pengalaman, bukan lagi penjelasan.”
Itulah ucapan terakhir dalam percakapan di antara kedua sahabat tersebut. Mereka lalu menyimpan kata-kata ke dalam peti yang tergembok dalam rangka terjun ke dalam lautan pengalaman dan penghayatan. Seluas, sebanyak, dan setinggi apa pun ilmu tentang jalan mengenal Tuhan, kalau ilmu itu tidak diamalkan, apa gunanya?

ajadah dera ngulati kawi
kawi iku nyata ing sarira
punang rat wus aneng kene
kang minangka pandulu
Kresna Jati sariraneki
siyang dalu den awas
pandulunireku
punapa rekeh pracihna
kang nyateng sarira sakabehe ini
saking sifat prakarya

Jangan jauh-jauh Sang Pujangga kau cari.
Sang Pujangga nyata ada dalam diri.
Bahkan, semesta raya pun telah ada di sini.
Pelita yang menerangi penglihatanmu
adalah Krisna Jati dalam dirimu.
Siang malam perhatikanlah
penglihatanmu.
Apa pun wujudnya,
semua yang tampak dalam diri ini
adalah sebagian dari sifat dan perbuatan Ilahi.

(dikutip dari Suluk Wujil, sebuah manuskrip Jawa yang dinisbahkan pada Sunan Bonang)


wallahu al-‘alim wa ‘abduhu al-jahil

18/03/15

QS Hud 25-49

di manakah islam berada?

setiap hari, seorang muslim wajib salat 5 kali, 17 rakaat. pada setiap rakaat, dia membaca surah al-fatihah. paruh terakhir al-fatihah berisi doa. bukan sembarang doa, tapi doa yang sangat dasar dan penting, yaitu doa memohon petunjuk, mengharap hudan atau hidayat. hidayat inilah yang dicari-cari oleh kangjeng sunan kalijaga, mahaguru umat islam tanah jawa. hidayat ini pulalah yang diajarkan secara tertulis oleh pujangga pamungkas jawa, yaitu ranggawarsita III, melalui kitabnya yang masyhur, wirid hidayat jati.

ihdina al-shirata al-mustaqim; shirat alladzina an'amta 'alaihim. anugerahi kami petunjuk berupa jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat. inilah bagian pertama doa yang terdapat dalam surah al-fatihah tersebut. siapakah orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah itu? jawabannya ditemukan pada bagian lain al-quran. 

ada empat golongan manusia yang memperoleh nikmat. dengan demikian, mereka pun mendapat petunjuk. golongan pertama, para nabi. kedua, orang yang berintegritas dan tidak terbelah jiwanya (al-shiddiq). ketiga, pahlawan yang wafat dalam berjuang di jalan Allah (al-syahid). keempat, orang yang luhur akhlaknya (al-shalih).  keempat kualitas mulia ini boleh jadi terhimpun pada diri seorang manusia. ada manusia yang punya satu, dua, atau tiga kualitas saja.

golongan manusia yang diberi petunjuk yang memperoleh porsi paparan cukup besar dalam surah hud adalah para nabi. dari semua nabi yang namanya diajarkan kangjeng rasul, hanya 7 nabi yang dikisahkan dalam surah hud. mereka adalah nuh, hud, saleh, ibrahim, luth, syuaib, dan musa. musa, syuaib, dan nuh digambarkan sebagai manusia yang berpihak kepada golongan lemah dengan status sosial rendah yang merupakan korban ketidakadilan struktural. mereka membela gabah den interi, gabah yang ditampi, jenis manusia yang nasibnya terombang-ambing tak menentu. 

musa berpihak kepada dan membela bani israil yang diperbudak firaun. sebegitu keras dan lama perbudakan itu berlangsung, sampai-sampai musa menghadapi banyak kesulitan dalam upayanya membebaskan bani israil dari mentalitas budak. sekalipun demikian, musa tidak melepaskan keberpihakannya kepada bani israil, golongan yang lemah di negeri mesir pada zamannya. syuaib juga berpihak kepada golongan masyarakat yang lemah secara ekonomi. bahkan, beliau dipandang sebagai bagian golongan masyarakat ini. mereka adalah korban dari kerakusan pengusaha dan penguasa bangsa madyan.

sebagaimana musa dan syuaib, nuh pun berpihak kepada golongan masyarakat yang tidak beruntung. di negeri nuh, kaum yang tidak beruntung disebut araadzil. kata ini merupakan turunan dari bentuk dasar r-dz-l. mashdarnya, radzaalah, mengandung arti berkonotasi negatif: hina, buruk, keji, jahat. maka, araadzil adalah golongan masyarakat yang bukan hanya lemah secara ekonomi, tetapi juga lemah secara moral, sehingga para bangsawan menstigma mereka sebagai manusia yang hina, buruk, keji, dan jahat. 

barangkali tidak salah kalau kita berpikir bahwa fakir, miskin, yatim piatu, pencuri, pelacur, pemabuk, difabel, budak, preman, dan gelandangan termasuk ke  dalam golongan araadzil. kepada merekalah nuh berpihak. bukan para bangsawan yang membanggakan keluhuran dan keberadabannya, tetapi golongan araadzil-lah yang justru menerima dengan hati terbuka pesan tauhid yang disampaikan nuh. 

islam sesungguhnya berada di kalangan araadzil ini. karena itu, kangjeng rasul kabarnya pernah berdoa agar diwafatkan bersama-sama kaum fakir miskin. beliau pernah bercerita tentang seorang pelacur yang memperoleh rahmat karena memberi minum seekor anjing. kita pun ingat, betapa kangjeng rasul begitu memuliakan ibnu ummi maktum yang tuna netra itu. beliau juga memberikan kepada bilal bin rabbah, budak berkulit hitam, posisi keagamaan yang tinggi dan terhormat.

sebagai rasul, baik kangjeng rasul maupun nuh teguh berpihak kepada golongan araadzil. nuh tidak mencabut keberpihakannya meskipun dimusuhi dan diancam kaum bangsawan. mereka bermaksud mengusir golongan araadzil dari negerinya, tetapi nuh tidak setuju. nuh justru membela golongan araadzil yang telah beriman. kalau aku [ikut-ikutan] mengusir mereka, kata nuh, siapa yang akan menolongku dari [hukuman] Allah? menurut nuh, Allah juga memberikan kebaikan kepada golongan araadzil. kendati kelihatan hina dan tak beradab, mereka adalah manusia yang pasti punya kebaikan. mereka pasti memiliki akhlak luhur meskipun sekecil biji sawi. seharusnya, mereka di-emong, bukan malah dihina, dijauhi, dan disingkirkan. mereka bukan beban sosial, apalagi sampah masyarakat.

kaum bangsawan memaksa nuh agar tidak menghalangi mereka mengusir kaum araadzil. nuh tetap pada pendiriannya. hal inilah, di samping perendahan dan penghinaan yang disasarkan kaum bangsawan terhadap nuh, yang menimbulkan konfrontasi hebat antara pihak nuh dan pihak bangsawan. tidak lama kemudian nuh memperoleh wahyu untuk membuat bahtera. melihat perilaku ganjil nuh tersebut, penghinaan kaum bangsawan semakin menjadi-jadi.  nuh membalas penghinaan itu dengan berkata, kalau sekarang kalian menghina kami, maka pasti kami nanti akan menghina kalian sebagaimana kalian menghina kami. 

apakah nuh benar-benar menghina kaum bangsawan ketika banjir bandang melanda negerinya? tidak ada keterangan tentang hal itu karena keterangan tersebut memang tak perlu. sebagai rasul yang punya sifat welas asih di atas rata-rata, nuh, saya pikir, tidak tega menghina kaum bangsawan ketika mereka tergulung ombak setinggi gunung. saat itu tampaknya perhatian nuh terpusat kepada anaknya. nuh tidak menyangka bahwa anaknya juga ikut tergulung ombak. ini bagian dari kisah nuh yang paling dramatis dan tragis.

dari jauh, dari atas geladak bahteranya, nuh memanggil-manggil anaknya. ananda, naiklah bersama kami; jangan engkau berpihak kepada orang-orang yang ingkar. orang-orang ingkar itu jauh dari dan menentang kebenaran. mereka tidak membela kaum araadzil, bahkan hendak mengusirnya dari negeri. ajakan nuh, sayang sekali, ditampik oleh anaknya. anaknya binasa termakan air bah bersama kaum bangsawan yang ingkar, yang sombong, yang menolak kebenaran, yang berlaku diskriminatif terhadap kaum araadzil. 

kematian anaknya secara hina itu, merupakan kenyataan getir yang bagi nuh tak logis. karena itu, beliau mengadu kepada Allah. Gusti, ujar nuh, anakku itu keluargaku--[mengapa Engkau binasakan dia]; [tapi, meskipun demikian, hamba percaya bahwa] sesungguhnya janjimu [untuk menghukum orang-orang yang ingkar] itu benar; Engkau adalah sebaik-baik hakim. 

perkataan tersebut menggambarkan bahwa nuh masih, meskipun dalam kadar yang kecil, memegang pandangan yang terbingkai oleh logika, konvensi, dan tradisi. beliau masih mendefinisikan keluarga secara empiris. Allah kemudian meluaskan cakrawala berpikir nuh hingga melampaui apa yang nampak. 

seperti kita, walaupun bergelar rasul, nuh juga manusia. setelah diangkat sebagai rasul, dia masih harus belajar. dan bagi nuh, salah satu pelajaran yang paling berharga barangkali pelajaran tentang siapa keluarga yang sebenarnya. dalam pandangan Allah, anaknya yang binasa oleh gelombang air bah, bukanlah bagian dari keluarganya. Wahai nuh, firman Allah, sesungguhnya dia bukan bagian dari keluargamu; sebab, amalnya tidaklah saleh. 

kriteria kekeluargaan bukanlah darah, tetapi amal saleh. rendah-luhurnya akhlak, itulah yang menentukan siapa keluarga kita sebenarnya. meskipun dengan si fulan kita tak punya hubungan darah, tetapi akhlak fulan demikian luhur terhadap kita dan terhadap orang lain, fulan haruslah kita pandang dan kita terima sebagai keluarga. 

tidak semata-mata kepada nuh, firman Allah tentang pengertian keluarga yang hakiki tersebut ditujukan pula kepada kanjeng rasul dan pengikutnya; artinya kepada kita juga. pengikut kangjeng rasul, kaum muslim generasi awal, menghadapi masalah besar berkenaan dengan pengertian keluarga. mereka memeluk islam, sementara saudara, ayah, ibu, atau anaknya belum mau menerima kebenaran. muncul pertanyaan , apakah mereka harus terus memandang keluarganya yang belum beriman sebagai keluarga, padahal keluarganya itu tidak jarang menyiksa mereka agar kembali ke pangkuan agama leluhur. bagaimana seharusnya mereka bersikap terhadap keluarganya yang belum beriman dan memusuhi mereka?

surah hud, melalui kisah nuh, memberi jawaban. mereka tidak harus memandang keluarganya yang belum beriman sebagai keluarga. keluarga sejati adalah siapa pun yang telah menerima kebenaran islam dan beramal saleh. sekali lagi, batasan keluarga dan bukan keluarga adalah akhlak luhur. diasumsikan bahwa siapa pun yang telah menerima islam akan berusaha untuk memiliki akhlak luhur. 

itu artinya, seorang muslim mesti berusaha keras untuk memperoleh petunjuk, meneladani manusia-manusia yang dilimpahi nikmat, yaitu para nabi, para sidik, para saleh, dan para syahid. mereka berpihak kepada kaum araadzil. mereka selamat dari pembinasaan, sedangkan kaum bangsawan yang ingkar dan diskriminatif terhadap kaum araadzil dibinasakan dengan cara yang hina dan mengerikan. 

11/03/15

QS Hud 84-95

mengapa bangsa madyan dibinasakan?

hakikatnya, korupsi adalah mencuri. tapi, dibandingkan dengan pencurian pada umumnya, korupsi punya ciri khasnya sendiri. pada korupsi, juga ada dusta. koruptor memanipulasi tindak pencuriaannya sehingga tampak bukan sebagai pencurian. jadi, korupsi merupakan pencurian dengan metode yang canggih.

penyakit korupsi ini, ketika syuaib menyerukan pesan tauhid, telah merajalela, bahkan mengakar, di kalangan bangsa madyan. korupsi sudah menjadi budaya. ideologi atau pandangan hidup bangsa madyan, yang terbangun dari teologi politeistik, membenarkan dan mengesahkan perilaku korupsi. 

pedagang atau pengusahanya, mempermaikan timbangan demi mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. pemimpin atau penguasanya, mendukung dan melindungi mereka. para pedagang itu tak memedulikan kerusakan (fasad) yang diakibatkan oleh perilaku curang dan jahatnya. bahwa korupsi merugikan orang lain, mereka tak peduli. mengapa mesti peduli, toh penguasa mendukung mereka, lagipula ideologi dan paugeran yang diturunkan darinya, melegitimasi korupsi yang mereka lakukan.

korupsi yang telah membudaya dan terjadi pada semua ranah dan tingkat sosial menciptakan barisan korban. mereka adalah rakyat bawah, wong cilik, yang tenaga, keringat, bahkan darahnya dihisap oleh para koruptor. kecil sekali kesempatan yang mereka miliki untuk mendaki ke tangga sosial yang lebih tinggi. bukan mengalami mobolitas sosial ke atas secara teratur, mereka justru kadang jatuh tergelincir ke tangga sosial yang lebih rendah. hari demi hari, mereka harus menghadapi masalah ekonomi yang sulit dicari jalan keluarnya. 

syuaib, meskipun keluarganya kuat secara ekonomi, bahkan terpandang di kalangan bangsa madyan, ternyata adalah bagian dari wong cilik tersebut. apakah pesan dari kenyataan rancangan Allah ini? bahwa syuaib adalah bagian dari wong cilik, itu bukan kebetulan. islam, agama nabi syuaib, berpihak kepada wong cilik, kepada korban. islam datang untuk membebaskan mereka dari belenggu sistem nilai dan sistem sosial yang diskriminatif. senjata ideologis yang dapat dengan efektif digunakan untuk melaksanakan misi profetik ini adalah ajaran tauhid. 

jadi, tauhid sesungguhnya mengandung dimensi sosial. ada sistem sosial busuk dan merusak (fasad) yang hendak direformasi (ishlah) oleh nabi dan rasul, antara lain syuaib, yang ditugaskan untuk menyerukan pesan tauhid. dengan demikian, tauhid tidak hanya berkaitan dengan masalah semacam jilbab, miras, dan lokalisasi pelacuran, juga qunut, wirid, dan rakaat salat tarawih.  tauhid adalah teologi pembebasan yang mengemban fungsi liberatif (nahi munkar). sebenarnya, fungsi liberatif ini, kalau kita kaitkan dengan konsepsi pandangan profetik kuntowijoyo, hanyalah salah satu fungsi tauhid. fungsi yang lain adalah humanisasi (amar ma'ruf) dan transendentalisasi (iman). 

karena itu, seruan tauhid syuaib adalah sebentuk gerakan sosial yang berakar pada ideologi yang efektif. untuk menghancurkan budaya korupsi bangsa madyan, pada gilirannya juga untuk membebaskan wong cilik negeri madyan yang menjadi korban korupsi, syuaib mengimbau penguasaha, penguasa, pendeknya pembesar-pembesar bangsa madyan, untuk hanya menyembah Allah, satu-satunya tuhan, dan meninggalkan tuhan-tuhan yang sudah disembah sejak zaman nenek moyang.

sebagaimana dapat diduga, mereka menampik imbauan syuaib. mengapa mereka menampiknya padahal syuaib telah menunjukkan bayyinah? 

pertama, seruan tauhid syuaib mengancam kemapanan dan kenyamanan mereka dalam berkorupsi, lagipula syuaib pun terang-terangan melarang mereka berkorupsi. sasaran tembak seruan tauhid adalah ideologi politeistik yang, seperti telah disebutkan di atas, melegitimasi budaya korupsi bangsa madyan. itulah sebabnya, pembesar-pembesar bangsa madyan menafsirkan seruan tauhid secara ekstrem sebagai tantangan terbuka untuk berperang. padahal, syuaib tidak bermaksud mengajak berperang. tujuan beliau adalah mengadakan reformasi (ishlah), ya reformasi ideologi, ya reformasi sosial. alasan kedua mengapa mereka menampik seruan tauhid adalah karena syuaib merupakan bagian dari wong cilik yang lemah secara ekonomi. beliau tidak termasuk ke dalam golongan pembesar. mereka gengsi menerima dan mengikuti kebenaran yang berasal dari wong cilik. 

kegengsian seperti ini adalah unsur inheren dalam tata nilai materialistis yang menimbulkan dan melestarikan budaya korupsi. korupsi tidak disebabkan oleh himpitan ekonomi, melainkan dirangsang oleh nafsu untuk memiliki sebanyak-banyaknya kekayaan. dengan kata lain, korupsi disebabkan oleh kerakusan. kerakusan sendiri pada mulanya muncul karena kecemesan yang berlebihan dalam menghadapi ujian duniawi. 

sementara itu, pangkal dari kecemasan tersebut adalah pertama, ketidaktahuan dan ketidakyakinan kita akan hakikat kehidupan. kehidupan tidak sebatas kehidupan di dunia ini saja. ada kehidupan lain, setelah kehidupan dunia, yang kekal. 

kedua, ketidaktahuan dan ketidakyakinan bahwa satu-satunya tuhan adalah Allah dan bahwa Allah itu pemurah, pengasih, dan penyayang, memberi rizki secara adil kepada segenap makhluknya. maka, hal pertama yang dilakukan syuaib untuk mereformasi sistem sosial negeri madyan adalah mengobati hati bangsa madyan dari penyakit kecemasan dan kerakusan dengan ajaran tauhid. teknisnya, dengan pendidikan karakter, yaitu menamankan iman ke dalam sanubari mereka.

tetapi para pembesar bangsa madyan, yang gagal memahami bahwa syuaib berdakwah tidak hanya untuk membebaskan wong cilik, melainkan juga untuk membebaskan mereka dari kesadaran palsu, menolak ajaran tauhid. mereka tidak mau beriman. mereka menolak seruan syuaib untuk menghentikan perilaku korupsi dan untuk berdagang secara adil dan etis. bahkan, mereka mengancam syuaib setelah beliau mengimbau mereka untuk minta ampun kepada Allah dan bertobat. mereka tidak percaya bahwa kasih sayang dan cinta Allah tak ada batasnya. mereka tidak percaya bahwa Allah-lah tuhan yang sejati.

tidak berapa lama kemudian, setelah syuaib menarik garis batas yang tegas antara dirinya dan para pembangkang, kemudian setelah syuaib bersama peingkutnya yang dirahmati diselamatkan, bangsa madyan pun dibinasakan. suara keras menghancur-sirnakan negeri madyan, seolah-olah bangsa madyan tidak pernah mendiami negeri tersebut. Allah ternyata menghukum koruptor dengan cara yang begitu seram dan hina, tidak hanya memenjarakan koruptor selama belasan atau puluhan tahun saja.

10/03/15

QS Hud 69-83

apakah tujuan pernikahan bagi manusia? mengapa manusia diciptakan berpasang-pasangan? mengapa secara alamiah pada dasarnya manusia cenderung berhasrat kepada lawan jenisnya? 

secara sosial, tujuan pernikahan adalah untuk menjaga kelestarian umat manusia. jadi, pernikahan bukan hanya pernyataan cinta antara dua individu berjenis kelamin berbeda, juga bukan hanya sarana untuk memuaskan nafsu seksual. hasrat manusia kepada lawan jenisnya merupakan perangkat psikologis yang dibutuhkan agar manusia dapat berkembang biak sehingga putaran roda sejarah tidak terhenti sebelum sampai pada ajalnya sebagaimana tertulis di langit.

berkaitan dengan itu, secara individual tujuan menikah adalah untuk mendapatkan keturunan. akan tetapi, tidak semua pasangan suami isteri berhasil memenuhi tujuan tersebut. ada pasangan yang belum dianugerahi keturunan setelah belasan bahkan puluhan tahun menikah. surah hud mengisahkan pasangan suami isteri yang mengalami ujian keimanan ini, yaitu pasangan ibrahim dan isterinya-- siapa nama isteri ibrahim, tidak disebut.

suatu hari, dua lelaki bertamu ke rumah ibrahim. tuan rumah menyuguhi daging anak sapi panggang. ibrahim, yang pemurah itu, biasa memperlakukan tamunya laksana raja, menyuguhi mereka dengan hidangan istimewa. tapi tamu-tamu ibrahim kali ini tingkahnya ganjil. jangankan mencicipi, mereka bahkan tidak menyentuh hidangan yang disuguhkan. karena itu, ibrahim, yang halus itu, merasa takut. jangan-jangan mereka bukan orang baik-baik. tetapi ketakutan itu sirna ketika tamu-tamu itu berkata, "jangan takut. sebenarnya kami diutus kepada kaum luth." 

sebelum menemui kaum luth untuk melaksankan perintah pembinasaan, mereka harus menyampaikan berita gembira dulu kepada ibrahim dan isterinya. pasangan suami isteri yang telah memasuki usia senja itu akan mendapatkan keturunan. isteri ibrahim akan melahirkan anak bernama ismail, kemudian ismail akan memberi ibrahim cucu bernama ishak. 

menyadari bahwa hal itu mustahil terjadi, isteri ibrahim berkata, "sungguh ajaib! mungkinkah saya melahirkan anak? saya sudah tua. suami saya ini pun sudah sepuh." sang tamu menjawab, "mengapa engkau terkejut ketika mendengar keputusan Allah? bahwa kalian akan memperoleh keturunan, itu merupakan rahmat dan berkah dari Allah. Allah itu maha terpuji lagi maha mulia." ada hikmah di balik penundaan pemberian keturunan bagi ibrahim dan isterinya. hikmahnya, agar mereka pada waktunya dapat secara otentik dan total memuji dan memuliakan Allah; agar mereka mengerti bahwa Allah memang memiliki sifat terpuji dan mulia.

setelah menyampaikan berita gembira tersebut, para tamu kemudian pergi menuju negeri luth untuk membinasakan umatnya. alasan pembinasaan: umat nabi luth berperilaku zalim. kaum lelakinya tidak berhasrat untuk menikahi perempuan. mereka mencari lelaki untuk memuaskan nafsu seksual. tidak saja merupakan dosa atau maksiat, penyimpangan orientasi seksual tersebut telah melanggar kodrat alam. perilaku homoseksual yang dijalankan secara massif akan berakibat pada terputusnya sejarah umat manusia. generasi baru tidak dilahirkan. kemanusiaan terancam. fungsi penciptaan manusia secara berpasang-pasangan tidak teraktualisasikan. 

pada akhirnya, tugas manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi, tidak terpenuhi. umat manusia sudah punah sebelum mereka sempat mencapai puncak kekhalifahannya. artinya, umat nabi luth, yang berperilaku homoseksual, menentang kehendak Allah. 

agar perilaku mereka tidak menjalar dan melembaga sebagai tradisi yang diwariskan turun-temurun, tidak dapat tidak, umat nabi luth mesti dibinasakan. pembinasaannya pun mesti dengan cara yang mengerikan agar umat-umat yang datang setelah umat luth takut meniru perilaku homokseksual mereka. negeri luth dijungkirbalikkan setelah luth dan keluarganya-kecuali isterinya--diselamatkan, kemudian dihujani dengan bebatuan dari tanah yang terbakar membara. 

itulah ganjaran atas kezaliman umat nabi luth; zalim karena perilaku homoseksual mereka berpotensi meruntuhkan bangunan kemanusiaan.

09/03/15

QS Hud 61-68


apakah bangsa tsamud dibinasakan, dihancur-sirnakan, hanya karena mereka menyembelih unta betina? sesederhana dan sesepele itukah alasannya? 

hud menyerukan pesan tauhid kepada bangsa 'ad. yang diseru, minta bayyinah atau bukti konkret bahwa hud benar utusan Allah dan bahwa Allah benar dan nyata adanya. kepada bangsa 'ad, hud tidak memberikan bayyinah itu. inilah faktor penting kenapa bangsa 'ad menolak pesan suci yang disampaikan hud. 

sementara itu, shalih, nabi yang datang setelah hud, memberikan bayyinah kepada umatnya, bangsa tsamud. sebagaimana bangsa 'ad, bangsa tsamud juga minta bayyinah. kalau shalih dapat memberikan atau memperlihatkan bayyinah tersebut, bangsa tsamud akan mengimani kenabian shalih.

shalih memberikan bayyinah yang diminta, yaitu seekor unta betina. nyatanya, setelah bangsa tsamud secara empiris melihat bayyinah yang melegitimasi kebenaran shalih itu, mereka tetap saja mengingkari pesan suci yang disampaikan shalih, kepada siapa mereka sebelumnya mengharapkan kepemimpinan sejati. jadi, ada dusta besar dalam perkataan dan janji bangsa tsamud. 

puncak dusta itu tampak ketika bangsa tsamud dengan sengaja menyembelih si unta betina. padahal, shalih sudah berpesan bahwa unta tersebut hendaknya dibiarkan lepas bebas saja. biarkan dia makan apa saja yang ada di bumi yang disukainya. shalih juga berpesan, unta betina itu jangan sedikit pun diciderai. jangan dilukai. 

tapi bangsa tsamud durhaka kepada shalih. tidak sekadar menciderai atau melukai si unta betina, mereka bahkan menyembelihnya. aksi penyembelihan tersebut merupakan tantangan terbuka terhadap shalih, kebenaran, dan Allah. dengan menyembelih si unta betina, bangsa tsamud sebenarnya mengajak pihak shalih, yang tentu saja didukung Allah, berperang. 

itulah sebabnya, mengapa penyembelihan unta betina yang kelihatan sederhana dan sepele menjadi preseden simbolik pembinasaan bangsa tsamud. penyembilah unta betina menandakan betapa ingkarnya bangsa tsamud. pada ayat 68 ada semacam kesimpulan atau amanat: alaa inna tsamuuda kafaruu rabbahum; ingat-ingatlah, bangsa tsamud itu benar-benar ingkar kepada tuhannya. karena itu, sudah semestinya dan sewajarnya mereka dibinasakan. alaa bu'dan li tsamuud. ingatlah, binasalah bangsa tsamud. jauh dari kebenaranlah bangsa tsamud itu.

07/03/15

Q.S. Hud: 50-60

ketika sudah jauh meninggalkan ajaran islam, apakah bencana yang ditimpakan kepada bangsa ad sebagai teguran atau peringatan? surat hud tidak menyebutkannya secara eksplisit. tetapi ada isyarat bahwa bencana itu adalah kekeringan. kepada umatnya, hud berkata bahwa jika bangsa ad memohon ampun kepada Allah dan kembali kepada-Nya sungguh-sungguh, maka Allah akan menurunkan hujan deras dari langit. saat mengalami kekeringan panjang yang menghancurkan kehidupan dan penghidupan, apakah yang kita nantikan dan harapkan selain hujan, hujan yang deras? 

tetapi bangsa ad tidak menyambut nasihat tulus hud itu. mereka malah menentang hud, bahkan menuduhnya telah dibikin gila oleh tuhan2 mereka karena hud secara frontal melawan tuhan2 itu. Hud sengaja berkonfrontasi terhadap tradisi, karena itu menggoncangkan kemapanan para pemimpin bangsa ad yang mencari legitimasi kekuasaan dari tradisi tersebut untuk mengesahkan kesewanang-wenangan dan kedurhakannya. pada klimaksnya, Hud menggoreskan garis pemisah tegas antara dirinya dengan umatnya, kemudian bangsa ad dibinasakan.

apa sebab-sebab dibinasakannya bangsa ad? surat hud ayat 59 menerangkannya dengan ringkas. ada tiga penyebab kebinasaan bangsa ad. 

pertama, menyangkal ayat-ayat atau tanda-tanda keberadaan tuhan mereka yang sebenarnya, ialah tuhan yang mengutus Hud, bukan tuhan-tuhan yang mereka sembah, artinya tuhan-nya hud juga. menyangkal tanda-tanda kehadiran Allah sama saja dengan menyangkal keberadaan Allah itu sendiri. bagi bangsa Ad, Allah sebagai satu-satunya tuhan, tidak ada. yang ada hanyalah tuhan-tuhan sesembahan mereka. 

kedua, durhaka kepada rasul-rasul Allah, salah satunya Hud. ini isyarat bahwa sebelum Hud, Allah telah mengutus rasul-rasul lain kepada bangsa ad. yang digunakan adalah bentuk plural, bukan dual atau singular, dari akar kata r-s-l. wujud penyangkalan bangsa ad terhadap rasul-rasul Allah dijelaskan juga dalam surat hud, dengan kerasulan hud sebagai case study. bangsa ad menampik dakwah tauhid yang diserukan hud. ketika hud memerintahkan mereka untuk bermohon ampun kepada Allah dan kembali kepada-Nya agar Allah menurunkan hujan deras untuk menghentikan kekeringan panjang dan untuk menambah kekuatan fisik mereka--bangsa ad sangat mengandalkan kekuatan fisik, mereka tidak melaksanaan perintah itu. sikap-sikap durhaka bangsa ad muncul karena mereka tidak percaya akan kerasulan hud karena hud tidak mendemonstrasikan bukti-bukti nyata kerasulannya. materialis dan empiris, di samping mengandalkan kekuatan fisik, itulah karakter bangsa ad. puncak kedurhakaan tersebut terjadi manakala bangsa ad menuduh hud sebagai gila. gilanya hud, menurut bangsa ad, diciptakan oleh tuhan-tuhan mereka. tampak bahwa bangsa ad hidup dalam gelimang mitos, takhayul, ilusi. tuhan-tuhan yang mereka sembah pun, bagi hud, merupakan mitos yang jauh dari kebenaran dan kenyataan. sebarapa kuat dan manusiawikah tradisi, kebudayaan, atau peradaban yang dilandaskan dan disandarkan pada bukan kebenaran dan kenyataan? di situ pastilah nuh merasa sedih... 

nyatanya memang tradisi berpondasi mitos tersebut menghasilkan penguasa dan pemimpin yang sewenang-wenang dan durhaka, yang absurdnya, ditaati oleh rakyat ad. inilah sebab ketiga dibinasakannya bangsa ad. hilangnya kemanusiaan bermula dari hilangnya ketauhidan. surutnya spiritualisme menyebabkan pasangnya struktur sosial yang tidak adil. kesewanang-wenangan dan kedurhakaan penguasa mengindikasikan adanya kelumpuhan hukum dan kejungkirbalikan sistem nilai. kalau demikian situasi kebudayaan yang dihadapi hud ketika beliau berdakwah kepada bangsa ad, bukankah sudah jelas bahwa ketika bangsa ad menampik dakwah hud, maka pada akhirnya bangsa hud bakal dibinasakan?

kepada siapa kisah pembangkangan bangsa ad dan kerasulan hud ini diceritakan? tidak lain adalah kepada umat muhammad, bangsa arab mekah dan madinah. kisah ad dan hud adalah alegori untuk bangsa arab dan muhammad. kalau bangsa arab menampik dakwah muhammad, maka kesudahan bangsa arab tidak akan lebih baik daripada bangsa hud. tapi sejarah mencatat, bangsa arab bukanlah bangsa ad. mereka mulanya menampik kerasulan muhammad, tetapi akhirnya menerima kerasulan itu. sebab itulah, bangsa arab tidak dibinasakan.

apakah sasaran komunikasi kisah ad dan hud hanya bangsa arab semasa kerasulan muhammad? tidak. alquran universal, petunjuk bagi umat manusia, diperuntukkan pula kepada bangsa2 lain yang datang setelah kerasulan muhammad dan yang bukan bangsa arab, termasuk bangsa kita, dengan nama apapun kita menyebut bangsa kita itu. bagaimanakah kondisi spiritual dan situasi kebudayaan bangsa kita saat ini? apakah sudah seperti bangsa ad ketika hud diutus?