Tampilkan postingan dengan label reproduksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label reproduksi. Tampilkan semua postingan

29/12/13

Sinopsis Hikayat Negeri Jambi

Berikut kami sajikan sinopsis Hikayat Negeri Jambi (HNJ), sebuah naskah klasik Melayu Jambi yang ditulis pada paruh pertama abad ke-19. HNJ berisi pseudo-sejarah Jambi sejak masa pemerintahan Tuan Talanai, rajanya yang pertama, hingga masa pemerintahan Sultan Mahmud Fakhruddin yang memerintah kesultanan Jambi ketika HNJ ditulis. Sepelacakan kami, sejauh ini HNJ baru dipelajari oleh dua sarjana, Indiyah Prana Amertawengrum dan Sergei Kukushkin. Sinopsis HNJ di bawah ini kami salin dari tesis Amertawengrum, Hikayat Negeri Jambi: Suntingan Teks dan Analisis Struktural (1996), hlm. 2017-217. Selamat membaca.
  

Dusun Muara [Jambi] merupakan tempat asal mulanya kerajaan Jambi. Rajanya bernama Tuan Talanai. Dalam memerintah, ia dibantu oleh lima orang hulubalang. Atas perintah Tuan Talanai, salah seorang hulubalang yang bernama Si Pahit Lidah berhasil membuat sungai mulai dari dusun Muara [Jambi] hingga ke laut dalam tempo satu jam. Oeh karena itu, nagari tersebut disebut Jambi.

Telah beberapa lama Tuan Talanai bertahta, belum juga ia dikaruniai anak. Hal itu membuatnya gundah karena memikirkan siapa yang akan menggantikannya bila ia meninggal. Tuan Talanai dan isterinya berupaya agar mendapat anak, baik dengan mencari obat, pergi ke dukun, maupun minta kepada para dewa.

Tidak lama kemudian isteri Tuan Talanai hamil. Setelah genap bulan kehamilannya, isteri Tuan Talanai melahirkan seorang anak laki-laki yang baik parasnya. Kelahiran bayi tersebut disertai dengan tanda-tanda yang menakjubkan. Guncangan yang ditimbulkannya membuat dukun yang menolong tidak kuasa untuk memegangnya, bahkan papan rumah maupun atap rumah pun patah.

Kelahiran seorang putera yang sangat dinantikannya membuat Tuan Talanai bersuka cita. Akan tetapi, setelah mengetahui kejadian yang menyertai kelahiran puteranya tersebut, Tuan Talanai merasa heran dan sekaligus takut kelak anaknya lebih berkuasa sehingga akan membahayakan nagari Jambi. Untuk mengetahui ihwal anaknya tersebut, Tuan Talanai memanggil 40 orang ahli nujum.

Dikatakan oleh para ahli nujum bahwa anak yang baru dilahirkan itu kelak membawa bencana yang besar bagi nagari Jambi serta menjadikan hidup Tuan Talanai tidak senang. Agar nagari Jambi terhindar dari bencana, maka anak yang baru dilahirkan itu harus dibuang ke laut. Mendengar kata ahli nujum, Tuan Talanai segera memberi perintah kepada hulubalangnya untuk membuatkan peti tujuh lapis untuk membuang anaknya.

Setelah dihiasi dengan pakaian yang indah, sebagaimana layaknya anak seorang raja, anak Tuan Talanai dimasukkan ke dalam peti yang jumlahnya tujuh lapis dan disertakan pula sebuah surat di dalam peti tersebut. Selanjutnya, peti itu dibuang ke laut.

Empat puluh hari empat puluh malam lamanya peti itu dibawa gelombang hingga sampai ke laut Siam dan ditemukan oleh raja Siam. Raja Siam dan isterinya merawat anak itu dengan penuh kasih sayang. Dicarikannya inang pengasuh dan kawan bermain-main buat anak angkatnya itu. Anak itu tumbuh menjadi anak yang sangat ditakuti oleh kawan-kawannya bermain karena jikalau ia marah maka dihempaskannya orang yang membuatnya marah tersebut. Melihat ulahnya yang demikian, kawan-kawannya memperoloknya dengan mengatakan bahwa ia anak yang tidak tentu siapa bapanya, raja Siam bukanlah orang tua yang sebenarnya sehingga pantas apabila perilakunya sangat jahat.

Mendengar olok-olok kawannya, anak angkat raja Siam pun bertanya kepada bundanya tentang orang tuanya yang sebenarnya. Menginjak umur empat belas tahun, anak angkat raja Siam teringat kembali akan perkataan bahwa ia bukan anak raja Siam yang sebenarnya. Ia pun menanyakan kembali hal itu kepada bundanya dan menceritakan tentang mimpinya bahwa sesungguhnya ia adalah anak Tuan Talanai, raja Jambi. Ia bertekad akan bunuh diri bila tidak diberi tahu tentang hal yang sebenarnya. Mengetahui anak angkatnya hendak bunuh diri, raja Siam kemudian memerintahkan orang-orangnya untuk menyediakan kelengkapan berlayar bagi anak angkatnya yang hendak ke nagari Jambi menemui Tuan Talanai.

Sesampai di Jambi, ternyata Tuan Talanai tidak mau mengakui anak angkat raja Siam sebagai anak kandungnya meskipun kepadanya telah ditunjukkan surat dari raja Siam sebagai bukti bahwa anak itu adalah anak kandungnya. Penolakan Tuan Talanai tersebut menyebabkan kemarahan anak angkat raja Siam dan kemudian menyerang nagari Jambi. Dalam peperangan inilah akhirnya Tuan Talanai dibunuh oleh anak kandungnya sendiri. Setelah berhasil membunuh Tuan Talanai, anak angkat raja Siam kembali ke negeri Siam. Sepeninggal Tuan Talanai, negeri Jambi tidak beraja lagi.

Pada pasal kedua diceritakan bahwa pada kurun waktu berikutnya bangsawan dari Turki datang ke pulau berhala dan menjadi raja di pulau ini dan dikenal dengan sebutan Datuk Paduka Berhala. Sebelum meninggal ia berpesan kepada puteranya, Datuk Paduka Ningsun, agar mengantarkan persembahan kepada Sultan Mantaram setahun sekali.

Datuk Paduka Ningsun menjadi raja setelah ayahnya meninggal. Ia menikah dengan seorang puteri Ki Demang Lebar Daun dari Palembang. Pada saat menjadi raja, Datuk Paduka Ningsung berpindah nagari ke Ujung Jabung. Ia dikaruniai empat orang anak, yaitu Orang Kaya Itam, Orang Kaya Pingai, Orang Kaya Pedataran, dan Orang Kaya Gemuk.

Sepeninggal Datuk Paduka Ningsung, Orang Kaya Itam menjadi raja dan kemudian membuat nagari di Muara Sampang yang dikenal dengan sebutan nagari Kota Tua. Pada saat menjadi raja, Orang Kaya Itam tidak mau lagi mengantarkan persembahan kepada Sultan Mantaram sehingga datang surat dari Sultan Mantaram menanyakan hal tersebut.

Orang Kaya Itam, Orang Kaya Pingai, dan Orang Kaya Pedataran pergi ke Mantaram dengan cara menyamar. Sesampai di Mantaram mereka bertiga tiba di tempat membuat keris. Dari tukang keris itu Orang Kaya Itam mengetahui bahwa keris itu milik Sultan Mantaram yang akan digunakan untuk membunuh Orang Kaya Itam jika datang ke Mantaram. Hal itu menimbulkan kemarahan Orang Kaya Itam sehingga ia merampas keris itu kemudian membunuh tukang keris dan mengamuk di pasar.

Sultan Mantaram terdiam tatkala mengetahui bahwa orang yang mengamuk itu adalah Orang Kaya Itam yang berasal dari Jambi. Setelah mengetahui duduk persoalan mengapa Orang Kaya Itam tidak pernah datang ke Mantaram, Sultan Mantaram menyerahkan keris itu kepada Orang Kaya Itam tiga bersaudara. Selain itu, diserahkannya juga sebuah pedang dan dua batang tombak kepada Orang Kaya Itam untuk dibawa pulang ke Jambi. Sejak saat itu Sultan Mantaram memeberikan kebebasan kepada Orang Kaya Itam untuk datang ke Mantaram sesuka hatinya.

Sekembali dari Mantaram, Orang Kaya Itam berhasil menundukkan beberapa dusun hingga sampai ke Muara Tembesi. Orang Kaya Itam meninggal di nagari Kota Tua. Ia tidak memiliki anak sehingga kedudukannya sebagai raja dilanjutkan oleh Orang Kaya Pingai. Sepeninggal Orang Kaya Pingai, yang juga tidak mempunyai anak, Orang Kaya Pedataran menjadi raja. Setelah Orang Kaya Pedataran meninggal, Orang Kayo Gemuk yang berada di Mantaram dan memiliki lima orang anak pun kembali ke nagari Kota Tua. Akan tetapi, tatkala baru sampai di pulau Tungkal, Orang Kaya Gemuk mendadak sakit dan kemudian meninggal. Anak turunan Orang Kaya Gemuk inilah yang selanjutnya mengadakan rukhyat raja di dalam nagari Jambi.

Pada pasal ketiga diceritakan tentang anak keturunan Orang Kaya Gemuk menjadi raja. Sesuai dengan wasiat Orang Kaya Gemuk, kelima anaknya bermufakat untuk mengangkat salah satu di antaranya menjadi raja di nagari Kota Tua. Mereka bersepakat untuk mengangkat Si Bungsu Yang Berujud menjadi raja. Sebelum menyatakan kesediaannya menjadi raja, Si Bungsu Yang Berujud menghendaki adanya kata mufakat dari semua saudaranya itu. Masing-masing kemudian menyatakan kesanggupannya untuk melakukan sesuatu demi kepentingan raja dan nagari sesuai dengan kecakapannya. Mereka membuat nagari di Rangas Pandak sehingga raja yang terpilih diberi gelar Pangeran Rangas Pandak. Saat itulah dimulainya adat penobatan raja.

Sementara itu, Tuan Puteri Pinang Masak, anak raja Minangkabau bermaksud hendak membuat nagari di Jambi yang dikabarkan telah menjadi hutan sejak ditinggal Tuan Talanai. Mendengar berita tentang adanya puteri raja Minangkabau yang menetap di bekas kerajaan Tuan Talanai (Muara Jambi), Pangeran Rangas Pandak mengirim utusan untuk melihatnya. Tuan Puteri Pinang Masak merasa gembira dengan kunjungan utusan Pangeran Rangas Pandak. Pangerang Rangas Pandak menikah dengan Tuan Puteri Pinang Masak dan selanjutnya mereka menetap di Rangas Pandak. Mereka memiliki empat orang anak, yaitu Pangeran Tumenggung Kabul Di Bukit, Pangeran Adipati Tiada Katik Bayang-Bayang, Pangeran Paku Negara, dan Panembahan Di Bawah Sawo. Pada saat Pangeran Rasas Pandak menjadi raja, belum seluruh pucuknya Jambi sembilan lurah kepadanya, kecuali dusun-dusun yang dulu telah ditundukkan oleh Orang Kaya Itam.

Pada pasal keempat diceritakan tentang anak Pangeran Rangas Pandak menjadi raja. Pangeran Tumenggung Kabul Di Bukit bermufakatan dengan saudara-saudaranya hendak membuat nagari terlebih dahulu sebelum menetapkan raja yang baru karena hal itu sudah menjadi kebiasaan bagi raja-raja sebelumnya. Mereka membuat nagari di Malayapura sehingga semua yang ada di Rangas Pandak pindah ke Malayapura.

Selain membuat nagari, mereka juga bersepakat untuk menundukkan pucuknya Jambi sembilan lurah. Setelah berhasil menundukkannya, mereka memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi raja. Panembahan Di Bawah Sawo terpilih untuk menjadi raja. Selain membuat perjanjian dengan orang-orang yang telah ditundukkannya, Panembahan juga membuat perjanjian dengan Yang Dipertuan Balang mengenai batas-batas daerah kerajaan. Setelah itu, mereka kembali ke tempat masing-masing.

Sesampai di muara sungai Tabo, Panembahan berhenti dan menyuruh orang untuk membuat takir sejumlah seratus. Setelah diisi, takir tersebut dihanyutkan hingga sampailah di sebelah ulu Tanah Pilih. Di tempat ini panembahan bertapa selama tujuh hari tujuh malam dan bertemu dengan Cina yang kemudian memberinya bedil yang bernama Si Jimat, gong bernama Si Taming Jambi, dan tombak bernama Si Macan Turu. Di Tanah Pilih inilah akhirnya Panembahan membuat nagari dan mendirikan keraton. Sementara itu, saudara-saudaranya yang lain membuat kampung sendiri pula. Pangeran Tumenggung Kabul Di Bukit membuat kampung yang diberi nama Kadipan,  Pangeran Adipati Yang Tiada Katik Bayang-Bayang membuat kampung yang diberi nama Perabon, dan Pangerann Paku Negara membuat kampung yang diberi nama Kebumen.

Panembahan memiliki dua orang anak, perempuan dan laki-laki. Anak perempuannya, Ratu Mas Juminten, menikah dengan raja Johor. Anak laki-lakinya selanjutnya dinobatkannya menjadi raja dengan gelar Sultan Agung Sri Ingalaga.

Ketika Ratu Mas Juminten meninggal, Raja Johor tinggal bersama Sultan Agung di nagari Jambi. Pada saat Sultan Agung sedang pergi ke ulu, Raja Johor pulang ke Johor dengan melarikan bedil kerajaan yang bernama Si Jimat dan gong yang bernama Si Taming Jambi.

Sekembali dari ulu, Sultan Agung terkejut mengetahui bedil dan gong kerajaan dilarikan oleh Raja Johor. Sultan Agung segera memerintahkan orang-orangnya untuk menyerang nagari Johor hingga akhirnya Johor dapat dikalahkan. Nagari Johor kemudian meminta bantuan dari Palembang dan Jambi pun minta bantuan dari Padang di bawah pimpinan Tuan Petor. Setelah Johor dapat dipukul mundur kembali, Tuan Petor membuat gedung di Pacinan.

Pada pasal kelima diceritakan tentang pembuangan Sultan Agung oleh anaknya. Diceritakan bahwa Sultan Agung mempunyai dua orang anak, Raden Gegadih dan Raden Jumut. Raden Gegadih yang gagal membunuh Sultan Agung meminta bantuan kepada Tuan Petor untuk membuang ayahnya ke Betawi. Mengetahui perbuatan Raden Gegadih, Raden Jumut melarikan diri ke Muara Tabo dan kemudian diangkat sebagai raja oleh rakyatnya dengan gelar Sultan Maharaja Batu.

Niat jahat Raden Gegadih muncul tatkala mengetahui bahwa Raden Jumut telah menjadi raja di Muara Tabo. Ia minta bantuan ke Palembang untuk menyerang Sultan Maharaja Batu. Peperangan ini dapat dilerai oleh Yang Dipertuan Minangkabau. Selanjutnya, mereka pulang ke tempat masing-masing. Meskipun demikian, Raden Gegadih tetap saja berniat jahat kepada Sultan Maharaja Batu. Ia minta bantuan kepada Tuan Petor untuk membuang Sultan Maharaja Batu. Sultan Maharaja Batu tertangkap dan dibuang ke Betawi. Sepeninggal Sultan Maharaja Batu, anak tertuanya diambil oleh Sultan Gegadih dan diangkatnya sebagai raja untuk menggantikannya, dengan gelar Sultan Abdul Mukhyi.

Mendengar kabaar bahwa saudaranya menjadi raja di nagari Jambi, Raden Abdul Rahman, yang juga putera Sultan Maharaja Batu, pergi ke hilir menemui Sultan Abdul Mukhyi dan memaksanya untuk menyerahkan kedudukannya sebagai raja kepada dirinya. Saat itu pula Raden Abdul Rahman menjadi raja dengan gelar Sultan Abdul Rahman Anom Sri Ingalaga. Sementara itu, Sultan Abdul Mukhyi dibuang ke pedalaman.

Di dalam masa pemerintahannya, Sultan Abdul Rahman mengangkat menteri-menteri dan memberi nama serta pangkatnya masing-masing. Seorang menterinya yang bernama Ki Demang Miskin bermaksud memperisteri anaknya, tetapi hal itu menimbulkan kemarahan raja-raja di dalam nagari itu. Mengetahui hal tersebut, Ki Demang Miskin datang kepada Tuan Petor dan menyebarkan fitnah bahwa sultan bersama raja-raja dan menteri bersepakat hendak menyerang Tuan Petor.

Akibat fitnah yang dilontarkan oleh Ki Demang Miskin tersebut, Tuan Petor menyerang negeri Jambi hingga berbulan-bulan lamanya. Dalam peperangan itu banyak rakyat negeri Jambi yang mati. Sultan Abdul Rahman Anom segera menyuruh utusan pergi menghadap Tuan Jenderal di Betawi untuk mengadukan adanya serangan Tuan Petor tanpa sebab yang jelas. Setelah memeriksa perkara itu, Tuan Jenderal memulangkan Ki Demang Miskin ke Jambi serta menyuruh Tuan Petor menetap kembali di Jambi. Selanjutnya, Tuan Petor membangun kota di Muara Kumpeh.

Tatkala Sultan Abdul Rahman meninggal, anaknya yang menjadi pangeran ratu menggantikannya menjadi raja dengan gelar Sultan Ahmad Zainuddin. Pada masa Sultan Ahmad Zainuddin menjadi raja inilah Tuan Petor yang berada di Muara Kumpeh diamuk oleh orang Jambi karena persoalan dalam jual beli lada. Tuan Petor akhirnya melarikan diri pulang ke Betawi.

Selanjutnya hanya diceritakan secara ringkas jurai kuturunan Sultan Ahmad Zainuddin. Sepeninggal Sultan Ahmad Zainuddin, anaknya yang menjadi pangeran ratu menggantikannya sebagai raja dengan nama Sultan Masyhud. Sepeninggal Sultan Masyhud, anaknya yang menjadi pangeran ratu menggantikannya sebagai raja dengan nama Sultan Mahmud Mukhiddin. Anak Sultan Mahmud Mukhiddin yang pertama, Raden Mahmud, dijadikannya pangeran ratu yang kemudian menggantikannya menjadi raja dengan nama Sultan Mahmud Fakhruddin. Tamatlah hikayat ini di dalam Muara Kumpeh pada sanat 1253 dan kepada 27 Rabiulakhir, hari Ahad tamat adanya.

05/01/12

pendidikan 17


Rahasia Pendidikan Jepang dan Switzerland

Oleh: Mochtar Lubis

Beberapa waktu yang lalu, mingguan Elsevier yang diterbitkan di Negeri Belanda mengungkapkan “rahasia” sistem pendidikan di Jepang dan Switzerland. Terutama pendidikan di bidang teknologi, anak didik sedini mungkin telah disuruh melakukan praktek, di samping belajar teori. Setelah menamatkan sekolah rendah, maka murid-murid yang berminat selama tiga tahun (di Switzerland) dapat meneruskan pendidikan mereka ke “kelas-jembatan”. Yang lain dapat memasuki sekolah lanjutan dan masuk universitas. Yang memilih pendidikan teknologi meneruskan pendidikan mereka ke sekolah praktek; separuh dari jam belajar untuk berpraktek di kantor atau dipabrik, dan waktu belajar yang separuh lagi adalah di bangku sekolah.

Setelah mereka menyelesaikan pendidikan praktek, maka siapa yang berminat dapat meneruskan pendidikan mereka ke sekolah tinggi atau universitas. Di sana mereka dapat menyelesaikan pendidikan mereka hingga menjadi seorang insinyur. Mereka yang mendapat gelar insinyur setelah melalui sekolah berpraktek dinilai jauh lebih tinggi dari mereka yang jadi insinyur tanpa berpraktek terlebih dahulu.

Dengan beberapa variasi, maka orang Jepang juga menerapkan sistem pendidikan teknologi yang serupa.

Baik Switzerland dan Jepang terkenal dengan mutu hasil industri mereka yang tinggi kadar presisi dan mutunya.

Di Indonesia, istilah “siap-pakai” dicemoohkan, seakan lulusan universitas hendak dicetak sebagai mesin saja.

Sebaliknya orang Jepang dan Switzerland ternyata dengan sengaja dan sistematis melakukan pendidikan yang membuat anak didik, setelah selesai pendidikannya, juga mereka yang meneruskan hingga ke tingkat universitas, benar-benar langsung dapat menerapkan ilmu yang telah berbentuk teori yang belum pernah atau amat sedikit mereka praktekkan, tetapi sejak dini telah mereka lakukan dan kuasai.

Pengamat pendidikan di dua negeri ini mengatakan, bahwa inilah rahasia mengapa penguasaan teknologi begitu mantap dapat dikuasai oleh orang Switzerland dan Jepang di berbagai bidang perindustrian.

Konsep seperti ini tidak hanya dapat dilakukan untuk bidang industri saja, tetapi juga di berbagai bidang lain, seperti pertanian, kehutanan, perikanan darat dan laut, dan sebagainya. Penyatuan antara praktek dan ilmu sejak dini yang memberikan mutu tambahan yang berarti.

Di negeri kita umpamanya kita lihat banyak lulusan Institut Pertanian Bogor yang setelah berhasil meraih gelar sarjana pertanian, malahan meninggalkan bidangnya, dan lalu menjadi wartawan, atau pekerjaan dalam birokrasi di luar bidangnya. Banyak yang menyandang gelar insinyur atau doktor bekerja di luar bidang keilmuannya, jadi birokrat atau pengusaha.

Baik juga hal ini mendapat perhatian para ahli pendidikan di Indonesia.

Majalah Horizon, No. 6, Th. XXVI, 1992, hal. 183

pendidikan 16


Sekilas Pendidikan di Finlandia

Oleh: Munif Chatib*

Tidak ada salahnya kita mengintip sejenak model pendidikan di Finlandia. Saya mencoba merangkum informasi yang diperoleh dari hasil video conference dengan Dewan Guru di Finlandia pada Januari hingga Mei 2008.

Di Finlandia, anggara pendidikan mendapat prioritas utama, meskipun bukan yang tertinggi di antara negara-negara Eropa lainnya.  Pada 2003, anggaran pendidikan Finlandia mencapai € 5,9 miliar (€ 1.100 per kapita). Leo Pahkin, Konselor Pendidikan dari Badan Pendidikan Nasional Finlandia, terus memacu mutu pendidikan di Finlandia yang dia pandang sebagai aset kemajuan bangsa. “Kami menanam investasi yang besar di bidang pendidikan dan pelatihan agar bisa mencetak tenaga ahli dan terampil yang kelak menghasilkan inovasi,” ujarnya.

Kegiatan sekolah di Finlandia rata-rata hanya 30 jam per minggu, berarti hanya 6 jam per hari. Pelajar akan masuk sekolah pukul 08.00 dan pulang pukul 13.00. Artinya, di sana berlaku sekolah non-asrama, bukanlah full-day school. Ternyata, jumlah waktu untuk bertemu keluarga di rumah menjadi prioritas yang paling penting. Di Finlandia, interaksi keluarga dianggap sebagai proses belajar penting yang tidak akan dijumpai di sekolah. Bayangkan!

Tidaklah mudah menjadi guru di Finlandia. Untuk dapat kuliah di jurusan pendidikan saja, seseorang harus bersaing sangat ketat. Fakultas Pendidikan dikatakan sebagai fakultas paling bergengsi dibandingkan dengan fakultas lainnya. Rata-rata dari 7 orang peminat, hanya 1 orang yang akan diterima di Fakultas Pendidikan. Tak heran, fakultas tersebut begitu diminati karena gaji guru di Finlandia rata-rata mencapai $ 2.311 per bulan. Negara dan rakyat Finlandia menempatkan guru sebagai profesi terhormat dan mereka yang menyandang profesi itu pun merasa mendapat sebuah prestise dan kebanggaan tersendiri. (Sampai di sini, saya ingat sebuah guyonan klasik di negara kita, “Jangan cari menantu seorang guru untuk anak perempuan kita, biasanya hidupnya akan susah! Gajinya kecil dan perlu waktu sangat lama untuk sukses, bahkan profesi guru itu dianggap tidak punya jenjang karir. Kasihan nanti anak perempuan kita.” Pasti guyonan seperti itu tidak berlaku di Finlandia.)

Guru-guru di Finlandia dibebaskan menyusun kurikulum dan silabus sesuai dengan visi dan misi sekolah. Dengan kreatif, mereka merancang buku teks yang aplikatif. Hampir semua guru menjadi penulis, minimal penulis buku pelajaran yang mereka gunakan di kelas. Mereka juga menggunakan strategi belajar-mengajar yang beragam dengan memperhatikan multiple intelligences semua siswa. Guru juga menentukan model evaluasi dan penilaian setiap aktivitas belajar-mengajar. Dan akhirnya, gurulah yang menjadi penilai terbaik para siswanya. Dampak dari otonomi guru tersebut menjadikan guru-guru Finlandia sangat bertanggung jawab terhadap keberhasilan pendidikan para siswanya. Bahkan, moto guru di Finlandia, “Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa, itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya.”

Kewibawaan guru demikian tinggi di mata para siswanya. Mereka sangat menghindari memberi kritik terhadap pekerjaan siswa, tetapi mereka mengajak para siswa untuk membandingkan dengan nilai sebelumnya yang pernah diraih (konsep ipsative). Para guru menghindari memvonis siswa dengan mengatakan “Kamu salah!” karena mereka menganggap sebagai hal biasa jika siswa melakukan kesalahan, termasuk dalam mengerjakan soal-soal.

Proses belajar-mengajar berjalan dua arah. Suasana sekolah boleh dibilang jadi lebih cair, fleksibel, dan menyenangkan. Dan, efektif. Siswa di Finlandia juga diarahkan mampu mengevaluasi secara mandiri hasil belajar masing-masing. Hal itu diterapkan sejak dini/pra-TK. Mereka didorong bekerja secara individu, tak peduli apa pun hasilnya. “Ini akan membantu siswa untuk belajar bertanggung jawab atas pekerjaan mereka sendiri,” kata Sundstrom, seorang kepala sekolah dasar di Poikkilaakso, Finlandia.

Sampsa Vaurio, seorang guru di Torpparinmaki Comprehensive School, Finlandia, menjelaskan bahwa sistem pendidikan di negaranya dijalankan sangat demokratis. Penekanan belajar fokus pada proses, bukan pada hasil belajar. Remedial tidak dianggap sebagai kegagalan, tapi untuk perbaikan; sedangkan pekerjaan rumah (PR) dan ujian tak harus dikerjakan dengan sempurna—yang penting murid menunjukkan adanya usaha. Ujian justru dipandang sebagai penghancur mental siswa. Tidak ada sistem peringkat (ranking) sehingga siswa merasa percaya diri dan nyaman terhadap dirinya. Sistem peringkat dipandang hanya membuat guru terfokus pada murid-murid terbaik saja, bukan kepada seluruh murid.

Kesimpulannya, Finlandia telah sukses menggabungkan kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi, dan komitmen dengan keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi.

NB: tulisan ini dipetik dari buku terbaru Munif Chatib, Gurunya Manusia: Menjadikan Semua Anak Istimewa dan Semua Anak Juara (Kaifa: 2011), hal. 26-27.

*Konsultan pendidikan. Pakar-praktisi Kecerdasan Majemuk dan Quantum learning ini telah menulis dua buku pedagogis yang wajib dimamah dan dihayati oleh para guru dan calon guru, Sekolahnya Manusia (Kaifa, 2009) dan Gurunya Manusia (Kaifa, 2010). Dia ingin menulis buku ketiganya, Sekolahnya Orangtua. Emailnya: munif.chatib@gmail.com.

26/12/11

pendidikan 15


“Masukkan Kembali Semua!”

Totto-chan belum pernah bekerja sekeras itu sepanjang hidupnya. Hari itu ia benar-benar sial. Dompet kesayangannya jatuh ke dalam kakus! Tidak ada uang di dalamnya, tapi Totto-chan sangat suka dompet itu. Dibawanya dompet itu ke mana-mana, termasuk ke kakus. Dompet itu memang cantik, terbuat dari kain tafetta kotak-kotak merah, kuning, dan hijau. Bentuknya segi empat, tipis dan dihiasi bros berbentuk anjing scotch terrier pada penutupnya yang berbentuk segitiga.

Nah, Totto-chan punya kebiasaan aneh. Sejak kecil, setiap kali ke kakus, ia selalu mengintip ke dalam lubang setelah selesai buang air. Akibatnya, bahkan sebelum masuk ke sekolah dasar, ia telah kehilangan beberapa topi, termasuk satu yang terbuat dari jerami dan satu yang terbuat dari renda putih. Kakus, di masa itu, belum punya sistem guyur-otomatis. Di bawahnya ada semacam penampung kotoran. Tak heran jika topi-topinya tampak terapung-apung di bak penampung kotoran. Mama selalu melarang Totto-chan mengintip ke dalam lubang kakus setelah selesai memakainya.

Hari itu, ketika Totto-chan pergi ke kakus sebelum sekolah mulai, ia melupakan larangan Mama. Sebelum menyadari apa yang sedang dilakukkannya, tahu-tahu ia sudah mengintip ke dalam lubang. Mungkin karena genggamannya yang mengendor, dompet kesayangan Totto-chan terlepas dari tangannya dan tercebur ke dalam lubang. Air pun berkecipak. Totto-chan menjerit ketika dompetnya lenyap di telan kegelapan di bawahnya.

Tapi Totto-chan bertekad takkan menangis atau merelakan dompetnya hilang. Ia pergi ke gudang peralatan tukang kebun lalu mengeluarkan gayung kayu bertakai panjang yang biasa digunakan untuk menyiram tanaman. Panjang tangkai gayung itu hampir dua kali tinggi badannya, tapi itu sama sekali tidak menyurutkan tekad Totto-chan. Ia berjalan ke belakang sekolah sambil menyeret gayung itu dan coba menemukan lubang untuk mengosongkan bak penampung kotoran. Ia menduga letaknya pasti di luar sisi dinding kakus. Setelah susah payah mencari, akhirnya ia melihat penutup lubang berbentuk bundar kira-kira satu meter dari situ. Dengan susah payah, ia membuka penutup itu dan akhirnya menemukan lubang yang dicarinya. Totto-chan menjulurkan kepalanya ke dalam.

“Wah ini sama besarnya dengan kolam di Kuhonbutsu!” serunya.

Kemudian Totto-chan mulai bekerja. Ia mulai mencedok isi bak penampung kotoran itu. Mula-mula ia mengaduk-aduk tempat jatuhnya dompet. Tapi bak itu dalam, gelap, dan luas karena menampung buangan dari tiga kakus terpisah. Lagi pula Totto-chan bisa jatuh ke dalam bak jika memasukkan kepalanya terlalu dalam. Akhirnya ia memutuskan untuk terus mencedoki kotoran dan berharap akan menemukan dompetnya. Begitulah, Totto-chan mencedoki kotoran lalu menuangkannya ke tanah di sekitar lubang.

Tentu saja setiap kali mencedok ia memeriksa kalau-kalau dompetnya sudah terangkat bersama kotoran. Tapi ia tidak mengira akan perlu waktu lama untuk menemukan dompetnya dan sejauh ini belum ada tanda-tanda benda itu akan ditemukan. Di mana dompet itu? Bel berdering tanda kelas dimulai.

Apa yang harus kulakukan? pikir Totto-chan. Tapi karena sudah telanjur, ia pun memutuskan untuk melanjutkan. Gadis cilik itu meneruskan mencedok dengan semangat baru.

Tumpukan kotoran di tanah sudah cukup tinggi ketika Kepala Sekolah kebetulan lewat.

“Kau sedang apa?” tanyanya kepada Totto-chan.

“Dompetku jatuh,” jawab Totto-chan, sambil terus mencedok. Ia tak ingin membuang waktu.

“Oh, begitu,” kata Kepala Sekolah, lalu berjalan pergi, kedua tangannya bertaut di belakang punggung, seperti kebiasaannya ketika berjalan-jalan.

Waktu berlalu. Totto-chan belum juga menemukan dompetnya. Gundukan berbau busuk itu semakin tinggi.

Kepala sekolah datang lagi. “Kau sudah menemukan dompetmu?” tanyanya.

“Belum,” jawab Totto-chan dari tengah-tengah gundukan. Keringatnya berleleran dan pipinya memerah.

Kepala Sekolah mendekat dan berkata ramah, “Kau akan mengembalikan semuanya kalau sudah selesai, kan?” Kemudian pria itu pergi lagi, seperti sebelumnya.

“Ya,” jawab Totto-chan riang, sambil terus bekerja. Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di benaknya. Ia memandang tumpukan itu. Kalau aku sudah selesai aku bisa memasukkan semua kotoran itu kembali ke dalam bak, tapi bagaimana airnya?

Air kotor terserap cepat ke dalam tanah. Totto-chan berhenti bekerja dan mencoba memikirkan cara memasukkan air kotor kembali ke dalam bak, karena ia telah berjanji kepada Kepala Sekolah akan memasukkan semua kembali. Akhirnya ia memutuskan untuk memasukkan tanah yang basah.

Sekarang gundukan itu benar-benar sudah menggunung dan bak penampung nyaris kosong, namun dompet Totto-chan belum juga ditemukan. Mungkin tersangkut di pinggi bak atau tenggelam di dasar bak. Tapi Totto-chan tidak peduli. Ia puas karena telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencari dompet itu. Kepuasan Totto-chan jelas adalah hasil rasa percaya diri yang ditanamkan Kepala Sekolah dengan mempercayainya dan tidak memarahinya. Tapi, tentu saja hal itu terlalu rumit untuk bisa dimengerti Totto-chan saat itu.

Kebanyakan orang dewasa, jika mendapati Totto-chan dalam situasi seperti itu, akan bereaksi dengan berteriak, “Apa-apaan ini?” atau “Hentikan, itu berbahaya!” atau malah menawarkan bantuan.

Bayangkan, Kepala Sekolah hanya berkata, “Kau akan memasukkan semua kembali kalau kau sudah selesai, kan?”

Sungguh Kepala Sekolah yang hebat, pikir Mama ketika mendengarkan cerita kejadian itu dari Totto-chan.

Sejak kejadian tersebut, Totto-chan tidak pernah lagi mengintip ke dalam lubang setelah selesai menggunakan kakus. Ia juga makin sayang dan percaya kepada Kepala Sekolah.

Totto-chan memenuhi janjinya. Ia memasukkan semua kembali ke dalam bak penampungan. Mengeluarkan isi bak itu sungguh kerja yang keras, tapi memasukkannya kembali ternyata jauh lebih cepat. Tentu saja, Totto-chan juga memasukkan tanah basah. Kemudian ia meratakan tanah, menutup kembali lubang itu dengan rapi, lalu mengembalikan gayung kayu yang dipinjamnya ke gudang tukang kebun.

Malam itu, sebelum tidur Totto-chan teringat dompetnya yang indah dan jatuh ke dalam lubang gelap. Ia sedih karena kehilangan dompetnya, tapi kejadian hari itu membuatnya sangat letih hingga tak lama kemudian ia sudah lelap tidur.

Sementara itu, di tempat kejadian, tanah yang lembap memantulkan cahaya bulan yang indah.

Dan di suatu tempat, dompet Totto-chan tergeletak dalam sunyi.



NB:

Catatan ini adalah fragmen dari otobiografi Tetsuko Kuroyanagi, Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela, hal. 56-60 (Gramedia Pustaka Utama, 2008). Terima kasih kepada Iwan Martin yang telah meminjami saya buku bermutu ini. Totto-chan menggambarkan kondisi-pembelajaran di Tomoe Gakuen, sebuah sekolah alternatif di Jepang.

Di Indonesia pernah dan tengah ada sekolah alternatif yang cukup ideal, berkualitas, dan inspiratif, antara lain: INS Kayu Tanam, Qoryah Thoyyibah, dan masih banyak lagi. Saya berharap alumni dari sekolah-sekolah itu mau menulis pengalamannya selama belajar di almamater mereka, seperti apa yang telah dilakukan oleh Tetsuko. Saya yakin, jika jumlah sekolah alternatif di Indonesia kian banyak, maka nilai Human Development Index (HDI) kita akan kian naik dan membaik.

Sudah tak mungkin lagi, dan sudah bukan waktunya untuk, menaruh harapan terlalu besar kepada pemerintah yang kerjanya hanya melanggar undang-undang dan hukum, serta membuat masyarakatnya kecewa, bingung, frustasi, dan putus asa. Masyarakat harus mandiri, juga dalam hal pendidikan.