Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

09/01/16

rahasia hujan bulan juni

Pengorbanan meminta syarat yang begitu berat, yang tak semua orang sanggup memenuhinya, yaitu ketabahan. Walaupun syaratnya berat, buah pengorbanan sungguh berharga. Pengorbanan berbuah kebajikan dan kearifan. Tapi, pengorbanan dengan buah semahal ini bukanlah pengorbanan yang lamis dan basa-basi, melainkah pengorbanan yang menghancur-luluhkan eksistensi siapa yang berkorban. Inilah tingkat pengorbanan para nabi dan wali.
Namun demikian, hingga kadar tertentu, pengorbanan sejati ini hadir di sekeliling kita, khususnya pada sosok ibu. Tidak ada ibu yang tidak berkorban tulus untuk anaknya, kecuali ibu yang kehilangan kesadaran, kemanusiaan, dan keibuannya.
Pengorbanan tingkat tinggi yang ditopang oleh ketulusan kita temukan kisahnya pada puisi Sapardi Djoko Damano yang populer, berjudul Hujan Bulan Juni. Berikut puisi itu selengkapnya.

HUJAN BULAN JUNI

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu.

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu.

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu.

Dalam puisi tersebut, hiduplah tokoh bernama Hujan Bulan Juni. Kalau kita kembali pada tahun-tahun silam sebelum siklus musim menjadi tidak normal seperti sekarang, pada bulan Juni tidak ada hujan. Bulan Juni adalah bagian dari musim kemarau. Di daerah beriklim tropis, hujan tentu hanya datang pada musim penghujan, khususnya pada empat bulan yang namanya berakhiran –er, yaitu September, Oktober, November, dan Desember. Begitulah dongeng yang dituturkan guru kita di sekolah dasar dulu.
Pertanyaannya, mengapa hujan tidak berkenan datang pada bulan Juni? Seorang ilmuwan akan menjawab pertanyaan tersebut dengan kering dan tautologis. Hujan tidak datang pada bulan Juni karena bulan Juni adalah bagian dari musim kemarau. Lantas, ilmuwan tersebut menjelaskan gejala itu dengan sehimpun teori dan data klimatologis.
Apabila pertanyaan itu dilayangkan kepada penyair, kita akan memperoleh jawaban lain. Jawaban yang aneh dan asing, tetapi memancing nalar dan menyentuh hati, menerbitkan fajar pencerahan. Pada bulan Juni, menurut Sapardi yang penyair itu, hujan bukan tidak ada. Hujan sebenarnya ada pada bulan Juni. Tapi, Hujan Bulan Juni, tokoh kita itu, memutuskan untuk tidak menampakkan diri, bahkan untuk tidak memberadakan atau mewujudkan diri. Dia memilih menghancur luluhkan, menyirnakan total, eksistensinya.
Mengapa dan untuk apa dia melakukan hal itu? Dia tidak ingin mengganggu keseimbangan musim. Tidak ingin pula merusak harmoni alam. Kalau harmoni alam rusak, kehidupan semesta pun rusak, akhirnya kehidupan manusia ikut rusak. Ketakseimbangan makrokosmos, yaitu alam semesta menyebabkan ketakseimbangan mikrokosmos, yaitu manusia. Ada kesaling-tergantungan eksistensial antara manusia dengan alam semesta. Karena itu, Hujan Bulan Juni meniadakan keberadaannya. Dia mengorbankan keseluruhan dirinya demi keseimbangan dan kehidupan semesta, juga demi eksistensi manusia.
Maka, Sapardi pun memuji ketabahan Hujan Bulan Juni yang menjalani laku pengorbanan eksistensial. Tak ada yang lebih tabah daripada Hujan Bulan Juni. Dia merahasiakan rintik rindunya kepada pohon berbunga itu. Hujan Bulan Juni sebenarnya ingin tetap ada, tampak, dan hadir. Sebab, dia begitu rindu kepada pohon berbunga itu. Dia sangat ingin, dengan rintiknya, membasah-kuyupi pohon berbunga itu, sehingga bunga pada pohon itu merekah indah berhias titik-titik air bening, sesaat setelah Hujan Bulan Juni menjatuhkan jutaan rintiknya.
Tidak hanya memuji ketabahan Hujan Bulan Juni. Sapardi juga mengenang pekerti luhur Hujan Bulan Juni, yaitu sifat bijaknya, buah dari pengorbanan yang maha. Tak ada yang lebih bijak daripada Hujan Bulan Juni. Dia menghapus jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu. Dia tidak mau jalan itu basah oleh jejak-jejak kakinya, yang ragu-ragu. Kalau pun memilih datang pada bulan Juni, dia merasa akan datang dalam kebimbangan. Pilihan egosentris itu, keputusan zalim itu, dosa kosmis itu, tidak direstui oleh nuraninya sendiri. Sebab itu, dia memilih untuk tidak turun pada bulan Juni. Walhasil, pada jalan itu sama sekali tidak ada jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu.
Sapardi juga menyanjung kearifan Hujan Bulan Juni, akhlak yang lahir dari rahim pengorbanan. Tak ada yang lebih arif daripada Hujan Bulan Juni. Dia membiarkan sesuatu yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu. Apakah sesuatu yang tak terucapkan itu? Pengorbanan, nama lain dari cinta. Cinta itu indah dan bernilai justru karena tak terucapkan. Cinta itu hadir dengan sungguh-sungguh justru karena disembunyikan dari kata-kata. Cinta yang tak terjangkau kata-kata itulah yang kita sebut sebagai ketulusan atau keikhlasan. Apakah pemberian yang dipublikasikan secara berlebih-lebihan, yang dicerita-ceritakan, yang diungkit-ungkit, merupakan pemberian yang ikhlas, pengorbanan yang berlandaskan cinta?
Hujan bulan Juni tidak kenal dengan pemberian serendah itu. Hujan Bulan Juni hanya memberikan sesuatu sebagai pengorbanan, dengan motif ketulusan, atas nama cinta. Inilah jenis pemberian yang berkualitas persembahan, darma. Apakah yang diberikan hujan bulan Juni kepada pohon bunga itu? Hujan bulan Juni tidak memberikan rintiknya, tetapi memberikan eksistensinya justru dengan meniadakan eksistensinya itu.
Hujan Bulan Juni rela untuk tidak ada demi bunga itu, supaya alam tetap mengalir dalam ritmenya yang normal, tetap menyanyi dalam iramanya yang harmonis, supaya pohon bunga itu bisa tetap hidup dalam keseimbangan. Hujan Bulan Juni rela tidak ada demi keberadaan yang lain. Tapi, justru karena tindakannya itu, Hujan Bulan Juni pada hakikatnya menjadi ada dalam keberadaan yang lain, keberadaan semesta, termasuk pohon bunga itu. Dia, yang sudah meniada, diserap akar pohon bunga itu.
Jadi, Hujan Bulan Juni adalah personifikasi, adalah metafora bagi pengorbanan, cinta, dan keikhlasan. Sebab itu, dia tabah, bijak, dan arif. Makna ini bukan sesuatu yang baru, melainkan merupakan hikmah abadi, perennial wisdom. Dalam berbagai kitab suci, kita menemukan hikmah ini. Para guru, dari bermacam tradisi, juga mengajarkan hikmah ini.
Salah seorang guru yang mengajarkan hikmah pengorbanan, cinta, dan keikhlasan ialah Syaikh Ibnu ‘Athaillah al-Iskandary. Dalam kitabnya yang populer, berjudul al-Hikam, beliau berpesan: kuburkan eksistensimu dalam tanah tak dikenal; sebab, pohon apa pun yang benihnya tak dipendam dalam tanah tidak akan sempurna buahnya.
Jika tidak didasari keikhlasan, dilandasi cinta, dan dimaksudkan sebagai pengorbanan sebagai persembahan sebagai darma sebagai ibadah, sebuah tindakan, meskipun tampak besar, tidak akan sempurna hasilnya, bahkan bisa jatuh menjadi tindakan yang tak berharga, tak bernilai, sia-sia. Tindakan tersebut tampaknya memang kokoh, tetapi sejatinya rapuh, seperti sarang laba-laba.
Bagi laba-laba, yang mengalami sarangnya dalam dimensinya sendiri dan dari sudut pandangnya sendiri, sarang yang dia bangun memang kuat. Tapi, bagi manusia, sarang laba-laba itu rapuh, serapuh-rapuhnya rumah. Sekali dikebas dengan tangan, sarang itu hancur seketika. Karena itu, kita perlu meneladani Hujan Bulan Juni dalam pengorbanan, cinta, dan keikhlasannya agar tindakan kita menjadi kokoh, bagaikan pohon yang akarnya terhunjam dalam ke perut bumi dan pucuknya mencapai langit. Wallahu al-‘alim, wa ‘abduhu al-jahil.


Yogyakarta, 8 Januari 2016

18/06/14

Cerita dari Kampung (1)



SAYA lahir dan besar di sebuah kampung transmigran, dusun Suka Damai, desa Pondok Meja. Lokasinya nun di pelosok Jambi. Di kebun keluarga yang letaknya tidak jauh dari rumah, kadang-kadang masih terlihat segerombolan beruk liar yang berlompatan dari satu pohon karet ke pohon karet lain. Masih ada satu dua cerita tentang pasukan babi hutan yang menggasak kebun palawija warga. Sekali waktu saya bertatapan dengan biawak, binatang soliter yang ditakuti warga kampung karena dianggap bertuah. Di parit dekat rumah, seekor ular sebesar paha orang dewasa pernah ditangkap. Seekor kobra nyelonong masuk ke ruang tamu ketika kami sekeluarga tidur siang. Suatu pagi saat menyadap getah karet, ibu menyaksikan penampakan harimau putih.

Penduduk kampung saya rata-rata migran dari pulau Jawa, antara lain dari Jepara, Pacitan, Sunda, Kebumen, Ponorogo, Pati. Yang terbanyak adalah migran dari Kebumen, tanah leluhur saya. Datang ke Jambi dalam beberapa gelombang migrasi. Gelombang pertama menginjak Jambi pada zaman revolusi.

Mayoritas migran Jawa ini petani. Mereka menggarap kebun karet sendiri, walaupun tidak seberapa luas. Ada juga yang menjadi buruh penggarap lahan karet milik saudara, tetangga, atau taukenya. Umumnya para migran ini kerasan di Jambi. Yang setiap tahun mudik ke Jawa saat Lebaran, bisa dihitung jari jumlahnya. Ibu saya baru mudik ke Jawa setelah lebih dari 20 tahun hidup di Jambi.

Di kampung saya, jumlah warga Melayu Jambi sedikit. Profesi mereka umumnya tidak ‘ndeso’, yaitu guru, penyuluh pertanian, pegawai bank, dan sebagainya. Ada sorang dua orang yang menyadap getah karet, mengikuti jejak tetangganya yang Jawa.

Dalam percaturan sosial, posisi mereka tidak begitu berarti, bahkan terdesak, terjepit, dan terpinggir. Ayah menyebut minoritas sosial ini sebagai orang kenyok. Sebab, mereka sering mengucapkan kata kenyok, sebuah kata dalam bahasa Melayu Jambi yang artinya ‘bukan’. Hubungan antara komunitas Jawa dengan komunitas Melayu harmonis, tetapi tidak bebas dari prasangka etnis. Api sentimen antaretnis yang bersifat pribadi, belum pernah berkobar menjadi konflik terbuka.
Hingga saya merantau ke Yogya, belum ada keluarga Bugis, Banjar, Tionghoa, Batak, atau Padang yang tinggal di kampung saya. Saya juga heran, kok bisa begitu? Padahal, di daerah Jambi kota, yang berjarak kira-kira 15 kilometer dari kampung saya, lima etnis tersebut tidak sulit dijumpai.

Kampung Abangan
Tentu saja, lantaran mayoritas penduduknya berdarah Jawa, kampung saya amat bernuansa Jawa. Bukan Jawa santri apalagi Jawa priyayi, tetapi Jawa abangan. Sebelum peristiwa 30 September 1965, konon kampung saya jadi sarang judi togel. Seorang bandar togel yang kawentar hingga ke kampung-kampung tetangga, sampai sekarang masih hidup. Mbah Muji namanya, teman sekaligus tetangga almarhum kakek. Selidik punya selidik, keduanya ternyata dedengkot PKI.

Ketika saya sowan ke rumahnya, Mbah Muji menasihati saya untuk belajar bahasa Jawa, maksudnya bahasa Jawa halus, krama inggil. Ia tahu, saya sedang merantau di Yogya, jantung budaya Jawa.

Saya bisa memastikan, tak seorang pun anak muda di kampung saya yang menguasai krama inggil, meskipun mereka keturunan Jawa. Sama seperti saya, mereka lahir dan besar di Jambi. Sejak kecil, sehari-hari mereka berkomunikasi dengan bahasa Jawa ngoko yang bercampur-aduk dengan bahasa Melayu-Jambi. Tanyai mereka arti rahayu atau widodo, pasti jawabannya ‘tidak tahu’.

Kalau mau mantu atau nyunat atau nyukur, warga kampung berkonsultasi dengan seorang sesepuh, Mbah “Haji” Ngadino, untuk menentukan kapan acara itu akan diselenggarakan. Sebelum menentukan jadwal acara, ia menanyakan weton kliennya.

Gelar ‘haji’ yang disandang sesepuh satu ini, perlu ditandapetiki. Dalam pergaulan sosial, ia sangat menonjolkan kehajiannya dan keislamannya. Entah kenapa. Ia sampel sintesa Jawa dan Islam yang terjadi di Jambi. Bukankah proses sintesa Jawa dan Islam tidak hanya terjadi di pulau Jawa, tetapi juga berlangsung di daerah-daerah perantauan orang Jawa, termasuk Jambi?

Ritual slametan tujuh hari, empat puluh hari, atau seribu hari meninggalnya salah seorang anggota keluarga, belum punah di kampung saya. Justru warga akan was-was kalau ritual ini tidak diadakan. Takut ketiban sial. Takut kena balak. Takut sang arwah menjadi marah atau penasaran.

Apabila menghadiri slametan, Anda bisa melihat tumpeng kuat, nasi kuning, ingkung, jajan pasar, dan macam-macam uba rampe khas ritual Jawa lain. Pada pengujung ritual, doa dibacakan dalam dua bahasa oleh dua tokoh kampung: bahasa Arab oleh imam kampung dan bahasa Jawa oleh sesepuh kampung yang tugasnya memang sebagai pendoa, tepatnya perapal mantra doa. Dalam doa berbahasa Jawa ini, disebut nama nabi-nabi, tetapi disebut pula nama makhluk-makhluk halus yang barangkali menjadi penjaga kampung. Ayah dan ibu, yang belakangan ini keislamannya menebal sedangkan keabangannya menipis, agak tidak sreg dengan doa yang sinkretis tersebut. Saya sih netral-netral saja…

Tradisi Nyekar
Sewaktu saya kecil, menjelang bulan Puasa seperti saat ini atau menjelang Lebaran, ayah biasanya pergi ke pasar Angso Duo untuk membeli kembang setaman. Pulang dari pasar, ia mengajak saya ke pemakaman kampung. Membersihkan makam kakek, bibi, dan sepupu yang telah wafat. Lalu membaca Yasin dan berdoa di sana. Sementara itu, di rumah ibu membuat bubur merah bubur putih dan segelas air teh untuk diletakkan di sudut kamar sembahyang. Di antara sesajen dinyalakan sebuah lampu teplok kecil. Tanpa sepengatahuan ibu dan ayah, diam-diam saya mendulit-dulit bubur merah yang manis rasanya itu.

Warga kampung menyebut rangkaian ritual ziarah kubur menjelang bulan Puasa dan Lebaran tersebut sebagai nyekar. Saat belajar di Yogya, saya baru ngerti bahwa ritual semacam ini tidak hanya ada di kampung saya, melainkan juga merupakan tradisi di daerah-daerah berbudaya Jawa. Nyekar sangat berkesan bagi saya, sampai-sampai dengan tidak begitu saya sadari, saya pernah memuisikan ritual ini.

Tapi sayang, kelihatannya di kampung saya nyekar nyaris punah. Pada beberapa pulang kampung terakhir, saat menjelang Lebaran saya tidak menemukan sesajen yang diletakkan di kamar sembahyang, kendati masih melihat ayah berziarah ke pemakaman seorang diri.

Mungkin kampung saya, setidaknya keluarga saya, telah menjadi semakin modern dan menjadi semakin Islam. Ayah kini kerap mengimami salat jamaah di masjid, sedangkan Ibu kini rajin mengenakan jilbab. Keluarga besar saya rutin mengikuti pengajian thoriqoh yang diadakan sebuah pondok pesantren di desa tetangga, cabang pondok pesantren Lirboyo, Jawa Timur. Saban Jumat Pon diadakan pengajian selapanan di masjid kampung. Pembina merangkap penceramah tetapnya ialah ibu nyai pengasuh pondok pesantren Nurul Iman yang terletak di desa tetangga, cabang pondok pesantren Tebu Ireng, Jawa Timur. Kiainya berkerabat dengan kiai-kiai pondok pesantren al-Munawir, Krapyak, Yogya.

Yogya, 8 Juni 2014

29/12/13

Sinopsis Hikayat Negeri Jambi

Berikut kami sajikan sinopsis Hikayat Negeri Jambi (HNJ), sebuah naskah klasik Melayu Jambi yang ditulis pada paruh pertama abad ke-19. HNJ berisi pseudo-sejarah Jambi sejak masa pemerintahan Tuan Talanai, rajanya yang pertama, hingga masa pemerintahan Sultan Mahmud Fakhruddin yang memerintah kesultanan Jambi ketika HNJ ditulis. Sepelacakan kami, sejauh ini HNJ baru dipelajari oleh dua sarjana, Indiyah Prana Amertawengrum dan Sergei Kukushkin. Sinopsis HNJ di bawah ini kami salin dari tesis Amertawengrum, Hikayat Negeri Jambi: Suntingan Teks dan Analisis Struktural (1996), hlm. 2017-217. Selamat membaca.
  

Dusun Muara [Jambi] merupakan tempat asal mulanya kerajaan Jambi. Rajanya bernama Tuan Talanai. Dalam memerintah, ia dibantu oleh lima orang hulubalang. Atas perintah Tuan Talanai, salah seorang hulubalang yang bernama Si Pahit Lidah berhasil membuat sungai mulai dari dusun Muara [Jambi] hingga ke laut dalam tempo satu jam. Oeh karena itu, nagari tersebut disebut Jambi.

Telah beberapa lama Tuan Talanai bertahta, belum juga ia dikaruniai anak. Hal itu membuatnya gundah karena memikirkan siapa yang akan menggantikannya bila ia meninggal. Tuan Talanai dan isterinya berupaya agar mendapat anak, baik dengan mencari obat, pergi ke dukun, maupun minta kepada para dewa.

Tidak lama kemudian isteri Tuan Talanai hamil. Setelah genap bulan kehamilannya, isteri Tuan Talanai melahirkan seorang anak laki-laki yang baik parasnya. Kelahiran bayi tersebut disertai dengan tanda-tanda yang menakjubkan. Guncangan yang ditimbulkannya membuat dukun yang menolong tidak kuasa untuk memegangnya, bahkan papan rumah maupun atap rumah pun patah.

Kelahiran seorang putera yang sangat dinantikannya membuat Tuan Talanai bersuka cita. Akan tetapi, setelah mengetahui kejadian yang menyertai kelahiran puteranya tersebut, Tuan Talanai merasa heran dan sekaligus takut kelak anaknya lebih berkuasa sehingga akan membahayakan nagari Jambi. Untuk mengetahui ihwal anaknya tersebut, Tuan Talanai memanggil 40 orang ahli nujum.

Dikatakan oleh para ahli nujum bahwa anak yang baru dilahirkan itu kelak membawa bencana yang besar bagi nagari Jambi serta menjadikan hidup Tuan Talanai tidak senang. Agar nagari Jambi terhindar dari bencana, maka anak yang baru dilahirkan itu harus dibuang ke laut. Mendengar kata ahli nujum, Tuan Talanai segera memberi perintah kepada hulubalangnya untuk membuatkan peti tujuh lapis untuk membuang anaknya.

Setelah dihiasi dengan pakaian yang indah, sebagaimana layaknya anak seorang raja, anak Tuan Talanai dimasukkan ke dalam peti yang jumlahnya tujuh lapis dan disertakan pula sebuah surat di dalam peti tersebut. Selanjutnya, peti itu dibuang ke laut.

Empat puluh hari empat puluh malam lamanya peti itu dibawa gelombang hingga sampai ke laut Siam dan ditemukan oleh raja Siam. Raja Siam dan isterinya merawat anak itu dengan penuh kasih sayang. Dicarikannya inang pengasuh dan kawan bermain-main buat anak angkatnya itu. Anak itu tumbuh menjadi anak yang sangat ditakuti oleh kawan-kawannya bermain karena jikalau ia marah maka dihempaskannya orang yang membuatnya marah tersebut. Melihat ulahnya yang demikian, kawan-kawannya memperoloknya dengan mengatakan bahwa ia anak yang tidak tentu siapa bapanya, raja Siam bukanlah orang tua yang sebenarnya sehingga pantas apabila perilakunya sangat jahat.

Mendengar olok-olok kawannya, anak angkat raja Siam pun bertanya kepada bundanya tentang orang tuanya yang sebenarnya. Menginjak umur empat belas tahun, anak angkat raja Siam teringat kembali akan perkataan bahwa ia bukan anak raja Siam yang sebenarnya. Ia pun menanyakan kembali hal itu kepada bundanya dan menceritakan tentang mimpinya bahwa sesungguhnya ia adalah anak Tuan Talanai, raja Jambi. Ia bertekad akan bunuh diri bila tidak diberi tahu tentang hal yang sebenarnya. Mengetahui anak angkatnya hendak bunuh diri, raja Siam kemudian memerintahkan orang-orangnya untuk menyediakan kelengkapan berlayar bagi anak angkatnya yang hendak ke nagari Jambi menemui Tuan Talanai.

Sesampai di Jambi, ternyata Tuan Talanai tidak mau mengakui anak angkat raja Siam sebagai anak kandungnya meskipun kepadanya telah ditunjukkan surat dari raja Siam sebagai bukti bahwa anak itu adalah anak kandungnya. Penolakan Tuan Talanai tersebut menyebabkan kemarahan anak angkat raja Siam dan kemudian menyerang nagari Jambi. Dalam peperangan inilah akhirnya Tuan Talanai dibunuh oleh anak kandungnya sendiri. Setelah berhasil membunuh Tuan Talanai, anak angkat raja Siam kembali ke negeri Siam. Sepeninggal Tuan Talanai, negeri Jambi tidak beraja lagi.

Pada pasal kedua diceritakan bahwa pada kurun waktu berikutnya bangsawan dari Turki datang ke pulau berhala dan menjadi raja di pulau ini dan dikenal dengan sebutan Datuk Paduka Berhala. Sebelum meninggal ia berpesan kepada puteranya, Datuk Paduka Ningsun, agar mengantarkan persembahan kepada Sultan Mantaram setahun sekali.

Datuk Paduka Ningsun menjadi raja setelah ayahnya meninggal. Ia menikah dengan seorang puteri Ki Demang Lebar Daun dari Palembang. Pada saat menjadi raja, Datuk Paduka Ningsung berpindah nagari ke Ujung Jabung. Ia dikaruniai empat orang anak, yaitu Orang Kaya Itam, Orang Kaya Pingai, Orang Kaya Pedataran, dan Orang Kaya Gemuk.

Sepeninggal Datuk Paduka Ningsung, Orang Kaya Itam menjadi raja dan kemudian membuat nagari di Muara Sampang yang dikenal dengan sebutan nagari Kota Tua. Pada saat menjadi raja, Orang Kaya Itam tidak mau lagi mengantarkan persembahan kepada Sultan Mantaram sehingga datang surat dari Sultan Mantaram menanyakan hal tersebut.

Orang Kaya Itam, Orang Kaya Pingai, dan Orang Kaya Pedataran pergi ke Mantaram dengan cara menyamar. Sesampai di Mantaram mereka bertiga tiba di tempat membuat keris. Dari tukang keris itu Orang Kaya Itam mengetahui bahwa keris itu milik Sultan Mantaram yang akan digunakan untuk membunuh Orang Kaya Itam jika datang ke Mantaram. Hal itu menimbulkan kemarahan Orang Kaya Itam sehingga ia merampas keris itu kemudian membunuh tukang keris dan mengamuk di pasar.

Sultan Mantaram terdiam tatkala mengetahui bahwa orang yang mengamuk itu adalah Orang Kaya Itam yang berasal dari Jambi. Setelah mengetahui duduk persoalan mengapa Orang Kaya Itam tidak pernah datang ke Mantaram, Sultan Mantaram menyerahkan keris itu kepada Orang Kaya Itam tiga bersaudara. Selain itu, diserahkannya juga sebuah pedang dan dua batang tombak kepada Orang Kaya Itam untuk dibawa pulang ke Jambi. Sejak saat itu Sultan Mantaram memeberikan kebebasan kepada Orang Kaya Itam untuk datang ke Mantaram sesuka hatinya.

Sekembali dari Mantaram, Orang Kaya Itam berhasil menundukkan beberapa dusun hingga sampai ke Muara Tembesi. Orang Kaya Itam meninggal di nagari Kota Tua. Ia tidak memiliki anak sehingga kedudukannya sebagai raja dilanjutkan oleh Orang Kaya Pingai. Sepeninggal Orang Kaya Pingai, yang juga tidak mempunyai anak, Orang Kaya Pedataran menjadi raja. Setelah Orang Kaya Pedataran meninggal, Orang Kayo Gemuk yang berada di Mantaram dan memiliki lima orang anak pun kembali ke nagari Kota Tua. Akan tetapi, tatkala baru sampai di pulau Tungkal, Orang Kaya Gemuk mendadak sakit dan kemudian meninggal. Anak turunan Orang Kaya Gemuk inilah yang selanjutnya mengadakan rukhyat raja di dalam nagari Jambi.

Pada pasal ketiga diceritakan tentang anak keturunan Orang Kaya Gemuk menjadi raja. Sesuai dengan wasiat Orang Kaya Gemuk, kelima anaknya bermufakat untuk mengangkat salah satu di antaranya menjadi raja di nagari Kota Tua. Mereka bersepakat untuk mengangkat Si Bungsu Yang Berujud menjadi raja. Sebelum menyatakan kesediaannya menjadi raja, Si Bungsu Yang Berujud menghendaki adanya kata mufakat dari semua saudaranya itu. Masing-masing kemudian menyatakan kesanggupannya untuk melakukan sesuatu demi kepentingan raja dan nagari sesuai dengan kecakapannya. Mereka membuat nagari di Rangas Pandak sehingga raja yang terpilih diberi gelar Pangeran Rangas Pandak. Saat itulah dimulainya adat penobatan raja.

Sementara itu, Tuan Puteri Pinang Masak, anak raja Minangkabau bermaksud hendak membuat nagari di Jambi yang dikabarkan telah menjadi hutan sejak ditinggal Tuan Talanai. Mendengar berita tentang adanya puteri raja Minangkabau yang menetap di bekas kerajaan Tuan Talanai (Muara Jambi), Pangeran Rangas Pandak mengirim utusan untuk melihatnya. Tuan Puteri Pinang Masak merasa gembira dengan kunjungan utusan Pangeran Rangas Pandak. Pangerang Rangas Pandak menikah dengan Tuan Puteri Pinang Masak dan selanjutnya mereka menetap di Rangas Pandak. Mereka memiliki empat orang anak, yaitu Pangeran Tumenggung Kabul Di Bukit, Pangeran Adipati Tiada Katik Bayang-Bayang, Pangeran Paku Negara, dan Panembahan Di Bawah Sawo. Pada saat Pangeran Rasas Pandak menjadi raja, belum seluruh pucuknya Jambi sembilan lurah kepadanya, kecuali dusun-dusun yang dulu telah ditundukkan oleh Orang Kaya Itam.

Pada pasal keempat diceritakan tentang anak Pangeran Rangas Pandak menjadi raja. Pangeran Tumenggung Kabul Di Bukit bermufakatan dengan saudara-saudaranya hendak membuat nagari terlebih dahulu sebelum menetapkan raja yang baru karena hal itu sudah menjadi kebiasaan bagi raja-raja sebelumnya. Mereka membuat nagari di Malayapura sehingga semua yang ada di Rangas Pandak pindah ke Malayapura.

Selain membuat nagari, mereka juga bersepakat untuk menundukkan pucuknya Jambi sembilan lurah. Setelah berhasil menundukkannya, mereka memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi raja. Panembahan Di Bawah Sawo terpilih untuk menjadi raja. Selain membuat perjanjian dengan orang-orang yang telah ditundukkannya, Panembahan juga membuat perjanjian dengan Yang Dipertuan Balang mengenai batas-batas daerah kerajaan. Setelah itu, mereka kembali ke tempat masing-masing.

Sesampai di muara sungai Tabo, Panembahan berhenti dan menyuruh orang untuk membuat takir sejumlah seratus. Setelah diisi, takir tersebut dihanyutkan hingga sampailah di sebelah ulu Tanah Pilih. Di tempat ini panembahan bertapa selama tujuh hari tujuh malam dan bertemu dengan Cina yang kemudian memberinya bedil yang bernama Si Jimat, gong bernama Si Taming Jambi, dan tombak bernama Si Macan Turu. Di Tanah Pilih inilah akhirnya Panembahan membuat nagari dan mendirikan keraton. Sementara itu, saudara-saudaranya yang lain membuat kampung sendiri pula. Pangeran Tumenggung Kabul Di Bukit membuat kampung yang diberi nama Kadipan,  Pangeran Adipati Yang Tiada Katik Bayang-Bayang membuat kampung yang diberi nama Perabon, dan Pangerann Paku Negara membuat kampung yang diberi nama Kebumen.

Panembahan memiliki dua orang anak, perempuan dan laki-laki. Anak perempuannya, Ratu Mas Juminten, menikah dengan raja Johor. Anak laki-lakinya selanjutnya dinobatkannya menjadi raja dengan gelar Sultan Agung Sri Ingalaga.

Ketika Ratu Mas Juminten meninggal, Raja Johor tinggal bersama Sultan Agung di nagari Jambi. Pada saat Sultan Agung sedang pergi ke ulu, Raja Johor pulang ke Johor dengan melarikan bedil kerajaan yang bernama Si Jimat dan gong yang bernama Si Taming Jambi.

Sekembali dari ulu, Sultan Agung terkejut mengetahui bedil dan gong kerajaan dilarikan oleh Raja Johor. Sultan Agung segera memerintahkan orang-orangnya untuk menyerang nagari Johor hingga akhirnya Johor dapat dikalahkan. Nagari Johor kemudian meminta bantuan dari Palembang dan Jambi pun minta bantuan dari Padang di bawah pimpinan Tuan Petor. Setelah Johor dapat dipukul mundur kembali, Tuan Petor membuat gedung di Pacinan.

Pada pasal kelima diceritakan tentang pembuangan Sultan Agung oleh anaknya. Diceritakan bahwa Sultan Agung mempunyai dua orang anak, Raden Gegadih dan Raden Jumut. Raden Gegadih yang gagal membunuh Sultan Agung meminta bantuan kepada Tuan Petor untuk membuang ayahnya ke Betawi. Mengetahui perbuatan Raden Gegadih, Raden Jumut melarikan diri ke Muara Tabo dan kemudian diangkat sebagai raja oleh rakyatnya dengan gelar Sultan Maharaja Batu.

Niat jahat Raden Gegadih muncul tatkala mengetahui bahwa Raden Jumut telah menjadi raja di Muara Tabo. Ia minta bantuan ke Palembang untuk menyerang Sultan Maharaja Batu. Peperangan ini dapat dilerai oleh Yang Dipertuan Minangkabau. Selanjutnya, mereka pulang ke tempat masing-masing. Meskipun demikian, Raden Gegadih tetap saja berniat jahat kepada Sultan Maharaja Batu. Ia minta bantuan kepada Tuan Petor untuk membuang Sultan Maharaja Batu. Sultan Maharaja Batu tertangkap dan dibuang ke Betawi. Sepeninggal Sultan Maharaja Batu, anak tertuanya diambil oleh Sultan Gegadih dan diangkatnya sebagai raja untuk menggantikannya, dengan gelar Sultan Abdul Mukhyi.

Mendengar kabaar bahwa saudaranya menjadi raja di nagari Jambi, Raden Abdul Rahman, yang juga putera Sultan Maharaja Batu, pergi ke hilir menemui Sultan Abdul Mukhyi dan memaksanya untuk menyerahkan kedudukannya sebagai raja kepada dirinya. Saat itu pula Raden Abdul Rahman menjadi raja dengan gelar Sultan Abdul Rahman Anom Sri Ingalaga. Sementara itu, Sultan Abdul Mukhyi dibuang ke pedalaman.

Di dalam masa pemerintahannya, Sultan Abdul Rahman mengangkat menteri-menteri dan memberi nama serta pangkatnya masing-masing. Seorang menterinya yang bernama Ki Demang Miskin bermaksud memperisteri anaknya, tetapi hal itu menimbulkan kemarahan raja-raja di dalam nagari itu. Mengetahui hal tersebut, Ki Demang Miskin datang kepada Tuan Petor dan menyebarkan fitnah bahwa sultan bersama raja-raja dan menteri bersepakat hendak menyerang Tuan Petor.

Akibat fitnah yang dilontarkan oleh Ki Demang Miskin tersebut, Tuan Petor menyerang negeri Jambi hingga berbulan-bulan lamanya. Dalam peperangan itu banyak rakyat negeri Jambi yang mati. Sultan Abdul Rahman Anom segera menyuruh utusan pergi menghadap Tuan Jenderal di Betawi untuk mengadukan adanya serangan Tuan Petor tanpa sebab yang jelas. Setelah memeriksa perkara itu, Tuan Jenderal memulangkan Ki Demang Miskin ke Jambi serta menyuruh Tuan Petor menetap kembali di Jambi. Selanjutnya, Tuan Petor membangun kota di Muara Kumpeh.

Tatkala Sultan Abdul Rahman meninggal, anaknya yang menjadi pangeran ratu menggantikannya menjadi raja dengan gelar Sultan Ahmad Zainuddin. Pada masa Sultan Ahmad Zainuddin menjadi raja inilah Tuan Petor yang berada di Muara Kumpeh diamuk oleh orang Jambi karena persoalan dalam jual beli lada. Tuan Petor akhirnya melarikan diri pulang ke Betawi.

Selanjutnya hanya diceritakan secara ringkas jurai kuturunan Sultan Ahmad Zainuddin. Sepeninggal Sultan Ahmad Zainuddin, anaknya yang menjadi pangeran ratu menggantikannya sebagai raja dengan nama Sultan Masyhud. Sepeninggal Sultan Masyhud, anaknya yang menjadi pangeran ratu menggantikannya sebagai raja dengan nama Sultan Mahmud Mukhiddin. Anak Sultan Mahmud Mukhiddin yang pertama, Raden Mahmud, dijadikannya pangeran ratu yang kemudian menggantikannya menjadi raja dengan nama Sultan Mahmud Fakhruddin. Tamatlah hikayat ini di dalam Muara Kumpeh pada sanat 1253 dan kepada 27 Rabiulakhir, hari Ahad tamat adanya.

22/06/13

Nasib Sang Pawang


I
Kamdi boleh bertepuk dada. Dan nyatanya, itu memang dilakukan Kamdi, baik secara kiasan maupun harfiah. Sahibul hajat tentu puas dengan hasil kerjanya hari itu. Apabila kelak menyelenggarakan hajat lagi, ia pasti akan membeli jasa Kamdi lagi. Ia pasti akan menceritakan kasuksesan Kamdi hari itu kepada tetangganya, teman-temannya, kepada orang sekampung.

Reputasi dan popularitas Kamdi akan pulih. Kamdi akan bergelut dengan pekerjaannya yang dulu, sebelum bekerja sebagai buruh karet. Problem-problem ekonominya yang tergawat akan segera teratasi. Hari depanku pasti cerah, pikir Kamdi, optimistis dan percaya diri. Terbayang rumah bata yang diimpikannya, lengkap dengan perabotan yang perlu-perlu dan bagus-bagus dan mahal-mahal, ditambah sebuah sepeda motor baru yang terparkir di halamannya. Kamdi pun sesumbar, “Bagiku, urusan atur-mengatur hujan, soal kecil belaka. Apalah arti cuaca bagiku.” Kamdi yakin, ia bakal segera jadi orang kaya, mimpinya sejak kecil yang sampai waktu itu belum kesampaian.

Dan Kamdi berjalan hilir-mudik di belakang panggung organ tunggal dengan kepala yang mendongak, bahu yang terangkat tinggi, dada yang dibusung-busungkan, juga dengan langkah kaki yang sengaja diseretnya, srek-srek-srek bunyinya. Sungguh berisik dan tak nyaman didengar sebenarnya. Untung saja, bunyi srek-srek-srek itu dikalahkan oleh gelegar organ tunggal yang kadang-kadang sampai menggetarkan tiang panggung tempat biduan bernyanyi dan berjoget.

Kamdi kemudian berjalan menuju bagian belakang rumah sahibul hajat. Dipantaunya atap rumah yang terbuat dari genting merah. Di atasnya beberapa helai bra dan celana dalam wanita yang berserakan masih terjemur aman. Belum ada maling jahil yang mengambilnya. Ah, siapa pula manusia primitif yang menyaru mengambil sandangan bekas dan sronok itu. Ini kan zaman modern, Bung! Abad teknologi dan informasi. Sekali lagi Kamdi memantau atap, sekadar untuk memastikan.

Pandangannya lalu dinaikkannya, diarahkan pada langit. Matahari sedang berada tepat di atas ubun-ubunnya. Langit tampak lapang. Biru dan cerah. Gerumbulan awan putih melintasi langit pelan-pelan. Beberapa di antaranya menyerupai citra tertentu. Langit mengeluarkan aura magisnya, merangsang mekarnya rasa bangga, rasa puas, dan rasa gembira di hati Kamdi. Kamdi menarik kedua ujung bibirnya ke atas. Tersenyum. Dan mengangguk-angguk.

Ketika sampai di salah satu pojok rumah sahibul hajat, Kamdi kembali mengangguk-angguk. Dupa yang pagi tadi dibakarnya belum mati. Asapnya mengepul tipis, membumbung ke atas, meliuk-liuk gemulai dimainkan angin. Mulutnya komat-kamit merapal mantra. Terdengar bagai igauan, atau gumaman. Tangannya bersedekap, persis bersedakapnya orang sembahyang. Tegaknya kokoh, tenang dan khidmat. Selesai bermantra, Kamdi membatin, “Aku memang hebat. Coba, cuaca saja patuh padaku. Hujan saja bisa kusuruh-suruh. Tidak ada yang dapat menyaingi ngelmu dan kemampuanku.”

Prak. Wadah dupa pecah terbentur tembok rumah setelah tertendang kaki anak kecil yang berlari buta karena dikejar temannya. Setelah tendangan yang mengolengkan kesadaran Kamdi tersebut, anak kecil itu terus saja berlari, tertawa-tawa pula, seperti sengaja menertawakan Kamdi. “Bocah setannnn,” Kamdi mengumpat.

Orang-orang di sekitarnya, yang dari tadi sibuk mencuci piring, menoleh ke arahnya. Mereka hanya sempat mereaksi kejadian tersebut dengan tolehan karena Kamdi segera mengembalikan kesadarannya sendiri, dan kepada mereka berkata, “Tidak apa-apa. Tidak masalah. Anak-anak kalau bermain memang selalu kebablasan. Semua barang mereka hancurkan. Lanjutkanlah pekerjaan kalian.” Walaupun ucapan yang berasal dari mulut Kamdi itu terdengar tenang dan tenteram, tetapi sebetulnya kerusuhan dan keresahan hati Kamdi belum lenyap, malah meluap-luap.

Dengan pikiran kalut dan semrawut, Kamdi menukar wadah dupa yang pecah itu dengan yang baru. Tanggannya bergetar waktu mengisi dupa dan kemenyan ke dalamnya, menyalakannya. Merapal mantra. Tetapi, saat sampai pada pertengahan mantra, komat-kamit Kamdi terhenti. Kamdi mengatupkan kelopak matanya lebih dan lebih rapat. Keningnya berkerut. “Celaka, kenapa aku bisa lupa sambungan mantra ini.”

“Lha, Kang Kamdi, sampeyan di sini rupanya. Tak cari-cari dari tadi.” Tegur-sapaan sahibul hajat, Pak Parman, itu membuat Kamdi kontan membuka matanya, terkejut. Pak Parman menepuk-tepuk punggung Kamdi. “Cek-cek-cek, sampean betul-betul wong pinter. Ngelmu sampeyan ampuh. Ndak percuma saya panggil sampeyan hari ini.” Pujian Pak Parman menyebabkan Kamdi terlupa akan masalah mantra tak rampungnya. Pujian itu juga berhasil membuat Kamdi tersipu. “Terima kasih, Mas. Kalau hari ini tidak hujan, itu cuma kebetulan.” Kamdi merendah.

Pawang hujan profesional mesti pandai berbasa-basi, demikian prinsip Kamdi. Prinsipnya yang lain, pawang hujan profesional harus mahir merahasiakan isyarat-isyarat buruk yang muncul saat ia melangsungkan ritual. Dan kebanggaan Kamdi surut seketika, berganti kegusaran. Ia teringat akan mantranya yang tak rampung dirapal dan wadah dupa yang pecah itu. Bukankah dua hal itu merupakan isyarat petaka yang dikirim oleh alam? tanya Kamdi kepada dirinya sendiri.

“Sampeyan boleh berkata apa saja. Tapi bagi saya, pokoknya sampean itu hebat. Luar biasa. Oalah, saya kok malah lupa. Saya mencari-cari sampeyan untuk mengajak makan siang. Mari. Makanan terlezat yang kami olah sudah kami siapkan, spesial untuk sampean. Mari…”

Mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah. Pak Parman bergerak enteng dan luwes, bercerita berkelakar. Kamdi bergerak kaku, membisu. Terjedut daun pintu yang tingginya setelinganya. Memang, pintu belakang rumah Pak Parman rendah.

II
Sendirian Kamdi duduk di lincak bambu yang terletak di teras rumahnya yang berdinding papan beratap seng. Jarum 76-nya yang terakhir hampir habis dihisapnya. Kamdi memandangi asap yang ia hembuskan sendiri. Ditiupnya. Seolah-olah dengan meniup asap, Kamdi meniup bersih berbagai masalah yang mengepungnya dan menyesakkan dadanya. Panas telah tak menyengat tetapi magrib masih jauh. Perutnya berkeruyuk. Melilit perih. Hari ini ia hanya makan bergelas-gelas air putih dan asap rokok itu. Istri dan anak-anaknya juga belum menelan sebutir nasi pun.

Benar, istrinya belum makan nasi, apalagi minum obat. Itulah yang mencemaskan Kamdi. Sudah tiga hari istrinya terbaring di atas dipan, hanya beralaskan tikar pandan yang robek dan bolong. Kamdi belum tahu apa penyakit istrinya. Ia tak mungkin memeriksakan istrinya ke puskesmas atau rumah sakit. Tiada lain di dalam dompetnya kecuali KTP dan lipatan-lipatan kertas tak berharga. Televisi, radio tape, kipas angin, semua perkakas elektronik sudah dijualnya untuk menyambung hidup. Juga emas dan tanah warisan.

Terus terang, Kamdi takut kalau-kalau istrinya kena penyakit mematikan, demam berdarah atau muntaber misalnya. Setengah bulan lalu, keponakannya, yang tinggal sekampung dengannya, meninggal karena demam berdarah. Tetapi kata tetangga, muntah-muntah istrinya tak usah dicemaskan betul. Itu gejala sakit biasa. Paling masuk angin atau apa. Pokoknya sakit biasa. Diagnosis tetangganya yang tidak tamat SD itu tambah mencemaskan Kamdi. Soalnya, tetangga yang sok tahu dan banyak bicara itu bercerita tentang saudara dekatnya yang dibunuh oleh muntaber dan saudara jauhnya yang dimangsa oleh demam berdarah.

Kamdi beranjak dari lincak, hendak menengok istrinya di satu-satunya kamar di rumahnya. Menatap istrinya tertidur damai, Kamdi merasa sedikit terbebas dari kecemasan. Tatapan Kamdi bergulir ke dinding depan dipan, di samping almari pakaian plastik. Di sana tergantung seragam SMP Trimo, anak bungsunya, yang minggu depan harus mendaftar masuk SMA. Duit lagi. Kamdi melenguh. Biaya masuk SMA pasti tak murah. Kamdi berkhayal, ah, seandainya semua SMA gratis. Tidak ada biaya pendaftaran, biaya SPP, atau biaya tetek-bengek lain. Seandainya.

Khayalan tinggal khayalan. Andaian selamanya bukan kenyataan. Kenyataan yang dihadapi Kamdi adalah, ia harus mendapatkan uang untuk mendaftarkan Trimo masuk SMA dan untuk mengobati istrinya. Tetapi, dari mana uang itu akan didapatkan? Jelas tidak dari langit. Tuhan belum sekali pun menurunkan hujan uang.

Melintas wajah Pak Parman di dalam benaknya. Pak Parman ialah tengkulak getah karet, orang terkaya di kampung kami. Rumahnya bertingkat. Mobilnya empat. Semua anaknya kuliah di luar negeri, dua di Malaysia, satu di Singapura, dan satu lagi di Belanda. Kebun karetnya puluhan hektar. Buruhnya 50-an orang. Kamdi salah satunya. Kepada Pak Parmanlah Kamdi menjual panenan getah karetnya. Kepada majikannya itu pulalah Kamdi biasanya berhutang.

Menurut Kamdi, menghutang kepada Pak Parman bukan jalan keluar. Hutangnya kepada Pak Parman sudah menggunung. Baru bisa dilunasi dengan dua atau tiga ton getah karet. Untuk memperoleh jumlah panenan getah karet sebanyak itu, Kamdi harus bekerja tanpa gaji selama dua atau tiga tahun. Tanpa gaji! Memikirkan itu, kepala Kamdi berdenyut-denyut, tengkuknya mengeluarkan keringat dingin. Merinding. Namun, apa boleh buat, malaikat penyelamat Kamdi sekeluarga hanya Pak Parman. Terpaksa Kamdi berhutang lagi kepada Pak Parman.

“Kang, sampeyan kan tahu, hutang sampeyan sudah banyak. Kalau saya kasih pinjaman lagi, saya khawatir sampean ndak sanggup bayar. Jadi, maaf, kali ini saya ndak bisa kasih sampean pinjaman.”

Mendengar perkataan Pak Parman tersebut, Kamdi menunduk, tetapi ia merasakan darahnya yang naik ke kepala dan jantungnya yang berdentam-dentum, sedangkan kedua tangannya meremas udara sekeras-kerasnya. Kamdi tak menyangka, Pak Parman setega itu. Setelah Kamdi merendah-rendah dan menghiba-hiba memohon pinjaman untuk sekadar mengobati istrinya dan mendaftarkan Trimo masuk SMA, Pak Parman malah menolak permohonannya dengan kata-kata yang demikian lugas dan tajam. Padahal, Kamdi sudah berbulat pikir, berapa pun jumlah pinjaman yang diberikan Pak Parman akan diterima dengan suka cita meskipun tidak mencukupi kebutuhannya. “Orang kaya di mana-mana kikir. Tidak punya perasaan. Melupakan dan menginjak saudaranya yang miskin. Mentang-mentang kaya!” batin Kamdi.

“Kang Kamdi, saya ndak seperti yang sampean pikirkan. Penduduk sekampung tahu, saya ndak tegaan orangnya. Saya memang ndak akan meminjami sampean uang. Itu akan lebih menyulitkan kehidupan sampean. Ndak. Saya ndak akan meminjamkan uang, saya hanya akan memberikan uang kepada sampean.”

Kamdi mengangkat kepalanya. Kepalan tangannya mengendor. Mulutnya agak terlongo sebelum ia berkata, “Memberi saya uang, Pak?”

“Ya. Memberi sampean uang. Tapi ndak cuma-cuma. Saya dengar, sebelum pindah ke kampung ini, sampean dulu pawang hujan ya? Tiga hari lagi, saya akan mengadakan pesta pernikahan anak saya yang pertama. Pawang hujan yang saya hubungi sakit, ndak bisa pergi ke mana-mana. Bagaimana kalau sampean membantu saya memperlancar pesta pernikahan besok? Uang yang akan saya berikan kepada sampean, untuk membayar jasa mengatur hujan itu. Bagaimana, Kang?”

Kamdi tak menjawab. Tak bisa menjawab. Situasi yang membingungkan tersebut belum lagi ternalar olehnya.

“Diam artinya bersedia. Saya kasih segini, buat panjar. Sisanya menyusul habis pesta. Uang segini pasti lebih dari cukup untuk mengobati istri sampean dan mendaftarkan Trimo. Kalau kurang, sampean silakan ke sini, mengambil sisanya.” Pak Parman mengatakan itu sambil menyodorkan beberapa lembar seratusan ribu tanpa memedulikan Kamdi yang masih duduk mematung termangu-mangu.

III
Pak Parman tidak bohong. Hampir seluruh makanan yang menurut Kamdi lezat tersaji di hadapannya. Ada opor ayam, nila bakar, sayur asam, rendang, dan beberapa jenis makanan lain yang jarang benar dinikmati Kamdi. Siap santap. Ada pula beberapa jenis minumam. Sirup, kopi, es jeruk. Tinggal pilih. Buah-buahannya pun boleh dikata lengkap. Di sebelah kiri depan, ada pisang, jeruk, semangka, pepaya. Di sebelah kanan depan, ada jambu air, mangga, dan entah buah apalagi.

Melihat komposisi hidangan tersebut, Kamdi merasa dijamu laksana raja. Justru penjamuan yang di luar kebiasaan itulah yang membuat Kamdi kehilangan selera makan. Rendang, makanan yang paling disukainya, tidak meneteskan air liurnya. Sedikit pun tak berkeinginan melahap mangga atau semangka atau buah lain. Tak tahu mengapa, Kamdi merasa tidak berhak memperoleh jamuan segila itu, gila menurut ukuran Kamdi tentu. Bayangan wadah dupa yang pecah tertendang dan mantra yang tak rampung dirapal masih berlalu-lalang dalam kepala Kamdi. Dan bayangan itu membuatnya lebih tidak berselera makan.

Kamdi mengambil nasi serta lauk-pauk dengan gerakan tangan yang berat setelah Pak Parman menyilakannya. Di lidah Kamdi, rendang hambar rasanya. Semangka tawar. Bahkan, es teh pun jadi pahit. Hanya rasa tak enak dengan sahibul hajatlah yang membuat Kamdi memaksa diri berbasa-basi mengaku makanan ini lezat, buah itu sedap, minuman ini segar, dibumbui dengan senyum dan tertawa yang tak jujur. Pak Parman tampaknya sedang terlalu larut dalam kebahagiaan sehingga kepura-puraan Kamdi tak tertangkap olehnya.

“Hujan, hujaan, hujaaan,” teriak orang-orang di luar. Riuh-rendah. Berbalas-balas, sambung-menyambung. Teriakan tersebut terdengar jelas oleh Kamdi dan Pak Parman karena kru organ tunggal tengah istirahat untuk makan siang. Mestinya, teriakan tersebut tak mengagetkan Kamdi sebab alam telah mengiriminya dua isyarat kegagalan pekerjaannya. Tetapi, ternyata respon Kamdi terhadap teriakan itu sama dengan respon Pak Parman: kaget.

Kamdi tak berani memutar badannya ke belakang untuk memeriksa dengan mata kepala sendiri melalui jendela apakah hujan benar turun atau tidak. Pandangan Kamdi terpaku pada piring bekas makannya yang berada di depan kakinya yang dilipat bersila. Kendati penasaran dengan reaksi Pak Parman, Kamdi takut melirik muka majikannya. Tamat sudah riwayatku, simpul Kamdi.  Tamat.

Sementara itu, melalui jendela yang berada tak jauh di depannya, Pak Parman mengamati lekat-lekat hujan deras yang tak diharapkan itu. Tamu-tamunya yang duduk-duduk di luar tenda berlarian kocar-kacir kesana kemari mencari tempat berteduh. Demikian pula saudara-saudara dan tetangga-tetangganya yang membantunya menyelenggarakan pesta. Pak Parman lalu menyorotkan pandangan ke tubuh Kamdi, dari rambut hingga kaki, dari kaki hingga rambut. Menatap jendela lagi. Menatap Kamdi lagi. Jendela. Kamdi. Yang ditatap meng-keret, mengecil, tersudut, tertusuk. Pak Parman bangkit dari duduknya, berjalan tergesa-gesa keluar rumah, pergi meninggalkan Kamdi sendirian tanpa berkata apa-apa.

Jika Pak Parman mendadak diam, sorot matanya terasa menusuk, kemudian pergi menghilang entah ke mana, itu artinya Pak Parman marah besar. Kamdi mengenal betul perangai Pak Parman yang satu ini. Kalau marah, Pak Parman tidak mengumpat, menyumpah, atau melontarkan kata-kata makian yang kasar dan jorok, tidak juga menggampar atau menampar orang yang ia marah kepadanya, tetapi diam dan pergi menghilang, menjauhi sumber marahnya. Karena itu, wajar bila Kamdi jadi semakin takut, cemas, dan putus asa. 
           
            Emosi-emosi negatif yang mengaduk-aduk batinnya menyebabkan Kamdi merasa letih dan lemas tak kepalang. Ia masih duduk, duduk lemas-lunglai di tempat itu, di depan aneka makanan dan minuman yang seperti turut merutuki dan mengutuki kegagalannya.

Kamdi tidak menerima dengan tabah rutukan dan kutukan tersebut, tetapi memproyeksikannya kepada hujan deras. Hujan deras keparat itu membuyarkan segala angan-anganku, begitu Kamdi murka dalam hati. Kamdi tak jadi membangun rumah baru. Mungkin tak pernah akan jadi. Tak jadi membeli sepeda motor baru. Mungkin tak pernah akan jadi. Tak jadi membeli perabotan yang perlu-perlu dan bagus-bagus dan mahal-mahal. Mungkin, mungkin tak pernah akan jadi karena di kantong Kamdi hanya terselip selembar sepuluh ribuan.

Uang panjar sebagai balas jasanya mengatur hujan sudah habis untuk mengobati istrinya, untuk mendaftarkan Trimo, dan untuk bermain judi. Di meja judi, Kamdi malah nombok, berhutang kepada lawan-lawannya. Ia berjanji kepada mereka, hutang kalah judi itu akan dibayarnya setelah ia menerima pembayaran pelunasan dari Pak Parman.

Namun, hujan deras tentu mengubah pikiran Pak Parman. Pasti uang pelunasan itu tidak bakal Kamdi terima. Dan nyaris pasti pula, besok atau lusa majikannya akan memecatnya. Semua pikiran itu membuat Kamdi pusing. Dan tatkala memalingkan kepala hendak menatap hujan deras lewat jendela, Kamdi hanya dapat menatap gelap. Kesadarannya hilang.