12/04/13

Surat Izin Palsu



Teman kita ini bernama Nina. Masih kelas VI SD. Bu Maryam, guru yang paling ditakutinya, minggu lalu memberinya tugas yang harus dikumpul besok. Nina merasa tugas itu sangat berat. Nina jadi malas mengerjakannya. Tugas itu pasti tidak bakal selesai bila baru mulai dikerjaan hari ini.

Bila besok Nina tidak mengumpulkan tugas, Bu Maryam, seperti biasa, aka marah dan menghukumnya. Bu Maryam akan menyuruhnya hormat bendera sampai bel istirahat berdering. Bu Maryam juga akan menyuruhnya mengelilingi lapangan sekolah sebanyak sepuluh kali putaran. Nina tidak mau dimarahi dan dihukum oleh Bu Maryam.

Bagaimana jalan keluarnya? Nina mendapat ide: menulis surat izin tidak masuk sekolah. Alasannya, sakit. Ketika menulis surat tersebut, Nina mendengar suara dari dalam hatinya: “Nin, menulis surat ini namanya berbohong. Jangan tulis surat ini. Jangan dilanjutkan.” Sesaat Nina ragu melanjutkan “misi penipuannya”. Tapi Nina kemudian menepis, membungkam, dan mengabaikan suara tersebut. Melanjutkan menulis surat.

Ada satu masalah lagi. Surat itu harus ditandatangani oleh orang tuanya. Nina tidak mungkin meminta ayah atau ibunya menandatangani surat itu. Maka, Nina melipatgandakan kebohongannya. Memalsukan tanda tangan ibunya.

***

Malam ini Nina pergi menemui Lala. Rumah Lala tidak begitu jauh dari rumah Nina, berjarak kira-kira 500 meter saja. Sampai di rumah Lala, cepat-cepat Nina menemui teman karibnya itu, menceritakan misinya kepada Lala. Lala lalu berkata, “Nin, itu namanya bohong. Kata ibuku, kita tidak boleh bohong. Kata ibuku, berdosa nanti. Kata ibuku, nanti kamu kena batunya.”

“Uh. Kata ibuku, kata ibuku terus... Aku nulis surat ini kan gara-gara Bu Maryam juga. Sudah galak, seneng marah, seneng menghukum, ngasih tugas berat banget lagi. Tahu nggak, Bu Maryam itu guru paling kejam sedunia. Sebel aku sama monster itu.”

“Husy! Masak guru sendiri dikatain monster. Besok masuk aja lah kayak biasa. Kalau tugasmu belum selesai, ya tinggal ngomong aja ama Bu Maryam. Paling-paling Bu Maryam menghukum kamu. Tapi kalau kamu bicara ama Bu Maryam, tugasnya berat banget, Bu Maryam mungkin mau maafin kamu.”

“Ah, nggak mungkin. Bu Maryam itu jahat. Nggak bakalan kasih maaf. Tugasmu emang udah selesai?”

“Udah. Barusan aja.”

“Pokoknya,” desak Nina “kamu besok pokoknya harus bantu akau ngasih surat ini ama Bu Maryam. Kalau kamu nggak mau bantu aku, persahabatan kita putus sampai di sini. Putus!”

“Nin, kok gituuuuuuu...”

“Pokoknya harus. Kamus harus bantu aku. Nih suratnya. Udah ya, aku pulang dulu. Met malem...”

Setelah berkata demikian, setelah memberikan surat izinnya kepada Lala, Nina ngacir pulang. Lala sebenarnya tidak setuju dengan misi Nina. Lala ingat betul nasihat yang sering dikatakan ibunya: berbohong itu dosa; orang yang berbohong akan kena batunya. Walaupun demikian, akhirnya Lala pun membantu Nina. Lala tidak mau ikatan persahabatannya dengan Nina putus.

***

Sebagaimana direncanakan, Nina hari ini tidak masuk sekolah. Waktu ibunya bertanya mengapa tidak masuk sekolah, Nina bingung mau menjawab apa. Nina mencari akal. Ketemu. Menjawab, “Hari ini kan sekolah libur, Bu. Semua guru rapat. Sekolah diliburkan.”

Nina bohong lagi. Sebuah kebohongan memang melahirkan kebohongan-kebohongan lain. Ibu Nina tidak sepenuhnya percaya dengan ucapan anaknya. Soalnya, wajah Nina memancarkan gelagat aneh. Ibu membiarkannya. Tidak mengusut lebih lanjut ucapan Nina.

Hingga sore, Nina di rumah saja. Tidak pergi ke mana-mana. Sekitar pukul tiga sore, pintu rumah diketuk. Nina sedang di dapur. Seorang perempuan beruluk salam dan mengucapkan “permisi”.

Kayaknya, pikir Nina, aku kenal suara itu. Nina bingung dan ketakutan. Pintu diketuk lagi. Suara uluk salam dan “permisi” terdengar lagi. Kali ini kian keras. “Aduh, gimana ini?” teriak Nina dalam hati, sambil bergegas masuk ke dalam kamarnya. Pintu kamar dikuncinya.

Nina berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Ia mengutuki dirinya sendiri, “Bodoh, kenapa aku tulis surat itu? Kenapa aku bohong? Masak sekarang harus pura-pura sakit!”

“Nin, itu pintunya dibuka! Ada tamu,” perintah Ibu kepada Nina. Karena yang disuruh lama tidak menyahut, Ibu pun membukakan pintu dan menyambut sang tamu.

 “Waalaikumsalam. Eh, Bu Maryam. Mari masuk. Silakan duduk, Bu. Minum apa, Bu? Oh ya, saya baru menerima kiriman kopi dari luar kota. Katanya sih enak. Saya bikinkan kopi saja, ya Bu?”

Setelah mempersilakan Bu Maryam duduk, Ibu pergi ke dapur, membuatkan secangkir kopi untuk guru anaknya. Tidak berapa lama, Ibu telah menyuguhkan secangkir kopi itu kepada Bu Maryam.

“Bagaimana, Bu? Enak kan kopinya?” tanya Ibu Nina.

“Enak sekali. Ini kopi dari daerah mana ya? Baru kali ini saya minum kopi seenak ini. Sebenarnya, saya datang ke sini untuk menjenguk Nina. Nina sakit apa, Bu? Kok sampai tidak masuk sekolah?”

Ibu Nina terkejut. Nina sakit? Lho, katanya hari ini sekolah libur. Benar dugaanku, pikir Ibu, anak itu pasti menyembunyikan sesuatu. Tahu Nina menipu gurunya, Ibu merasa malu sekali terhadap Bu Maryam. Ibu lantas memanggil Nina, “Nin, ke sini! Ini ada Bu Maryam. Datang menjengukmu.”

Nina, yang dari tadi menguping pembicaraan antara Bu Maryam dan ibunya, tambah takut dan bingung. Andai punya teman seperti Doraemon, ia akan membujuk Doraemon mengeluarkan “Pintu Kemana Saja” dari kantong ajaibnya. Tapi Nina bukan Nobita. Tidak punya teman seperti Doraemon. Nina tidak bisa lari. Tidak bisa sembunyi lagi.

”Nin, cepet ke sini! Bu Maryam menunggumu ini,” panggil Ibu sekali lagi, dengan nada suara yang makin lama makin meninggi. Ibu memang sedang menahan amarahnya.

Nina keluar dari kamarnya, berjalan lemas menuju ruang tamu dengan kepala tertunduk, untuk memenuhi panggilan ibunya. “Nin, duduk!” perintah Ibu, singkat, rada kasar. Kemarahan Ibu sedikit meledak rupanya.

Kali ini, Bu Maryamlah yang terkejut. Nina tampak sehat-sehat saja. Badannya bugar. Sangat bugar malah. Hanya wajahnya memang pucat. Pucat bukan karena sakit, tetapi karena takut. Bu Maryam berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Sebagai basa-basi, Bu Maryam bertanya kepada Nina, “Nin, bagaimana, sudah sembuh? Sakit apa, kok sampai tidak masuk sekolah? Wajahmu pucat sekali.”

Nina tidak dapat membuka mulutnya. Tidak tahu harus menjawab apa. Malah menangis. Menyaksikan muridnya menangis, Bu Maryam berbasa-basi lagi, “Lho, kok nangis, Nin?” Karena telah sangat marah, Ibu tidak trenyuh oleh tangis Nina. Malah tambah marah. “Nin, cepat minta maaf kepada Bu Maryam!” Bukan mematuhi perintah ibunya, tangis Nina justru menjadi-jadi.

Tanggap keadaan, Bu Maryam berkata, “Nin, sudah. Jangan menangis lagi. Ibu sudah tahu. Ibu akan memaafkan kamu, asal kamu mau mengakui kesalahanmu, asal kamu mau jujur mengungkapkan alasanmu menulis surat izin palsu itu, asal kamu berjanji tidak akan mengulangi kesalahanmu lagi. Jangan berbohong lagi. Jangan menipu lagi.”

“Nin, cepat minta maaf kepada Bu Maryam!” Ibu mengulangi perintahnya. Sambil sesenggukan, Nina pun minta maaf kepada Bu Maryam. “Kenapa kamu berbohong?” tanya Bu Maryam. “Saya belum mengerjakan tugas yang Ibu suruh. Tugas yang Ibu berikan sangat berat. Saya takut, kalau saya masuk dan belum mengerjakan tugas, Ibu memarahi dan menghukum saya.”

Sekali lagi, Bu Maryam terkejut. Bu Maryam sadar, ternyata Nina berbohong karena dirinya. Bu Maryam juga sadar, selama ini kelewat galak kepada murid-muridnya, terlalu egoistis, kurang memperhatikan kondisi mereka. Tidak dekat dan akrab dengan mereka.

“Sepertinya, saya juga harus minta maaf kepada Nina. Nin, maafkan saya, selama ini memang Ibu terlalu galak sama kalian, sama Nina juga. Tapi itu bukan alasan untuk tidak masuk sekolah. Tidak mengerjakan tugas juga bukan alasan untuk tidak masuk sekolah. Sekarang, Ibu janji tidak akan galak lagi sama kalian, tapi Nina juga janji ya, tidak akan menipu lagi, apalagi menulis surat izin palsu seperti tadi.” Nina mengangguk. Isak tangisnya mereda.

Ketika mendengar pengakuan anaknya, marah Ibu Nina luntur. Ternyata Nina tidak sepenuhnya salah. “Nah, Nin, itu dengar kata-kata Bu Maryam. Jangan bohong lagi. Jangan menipu lagi. Jangan menulis surat izin palsu lagi.”

Kepada Bu Maryam, Ibu berkata, “Bu, mohon maafkan kesalahan anak saya, ya. Nina memang bandel. Saya jadi malu kepada Ibu, apalagi Ibu minta maaf segala kepada Nina. Ibu tidak perlu minta maaf kepada anak bandel ini.”

“Tidak apa-apa, Bu,” balas Bu Maryam. “Meminta maaf kepada Nina merupakan keharusan bagi saya. Saya harus memberi teladan baik. Wah, sudah setengah empat ini. Sudah waktunya menjemput Aan. Kalau begitu, saya permisi dulu ya, Bu”.

Ibu Nina tidak mencoba menahan tamunya agar tidak segera pulang. Ia tahu bahwa Aan, putra Bu Maryam yang mengikuti kursus bahasa Perancis, sekarang pasti sedang menunggu jemputan ibunya.

***

Nina kapok. Sejak mengalami kejadian itu, tidak mau menulis surat izin palsu lagi. Nina bertekad, tidak akan berbohong untuk tujuan buruk lagi. Tidak mau kena batunya lagi. Nina kini rajin mengerjakan tugas-tugas sekolah. Menjadi dekat dengan Bu Maryam yang dulu ditakuti dan dimusuhinya.

Sekarang Bu Maryam benar-benar menjadi sahabat bagi murid-muridnya. Ia tidak lagi dijuluki sebagai “monster” atau “guru paling kejam sedunia”.

Sementara itu, Ibu kini lebih teliti memperhatikan perilaku Nina. Ibu sekarang sering menanyakan kepada Nina apakah ada tugas sekolah dan apakah tugas sekolahnya telah dikerjakan atau belum.

Yogyakarta, Maret-April 2013

Guru Lugu itu Bernama Gandhi



WAKTU yang terus mengegelinding memberi kita anugerah yang patut disyukuri. Salah satunya, pengalaman yang kian kaya dan pengertian yang kian luas. Saya yang dulu dengan saya yang sekarang melihat sesuatu melalui dua tingkatan cahaya yang berbeda. Saya bergerak dinamis di dalam diri saya sendiri. Dan penyebab gerakan dinamis intrapersonal tersebut adalah waktu, selain cara saya merespon dan menafsirkan rangkaian peristiwa yang saya menjadi tokoh porosnya.

Saya sudah membaca buku yang merangkum pandangan Gandhi, Semua Manusia Bersaudara, diterbitkan Yayasan Obor Indonesia. Waktu itu, saya membacanya dengan pengalaman yang masih miskin dan pengertian yang masih sempit. Hasilnya, saya merasa telah sungguh-sungguh memahami apa yang dikemukakan Gandhi, padahal saya belum memahaminya sedikit pun. Sekarang saya membaca kembali buku tersebut, dengan cahaya yang berbeda. Memang, saya belum memahami isinya secara utuh karena, terus terang saja, saya bukan orang yang berpengalaman kaya dan berpengertian luas. Akan tetapi, identifikasi-diri saya kepada Gandhi rasanya menjadi lebih kuat. Dapat sedikit saya bayangkan bagaimana Gandhi berjuang menempuh jalan kebenaran yang pelik nan berbahaya. Dan Gandhi adalah Gandhi, tidak surut langkahnya menghadapi setiap cobaan dan percobaan yang merundungnya tanpa belas kasih.

Pada bagian otobiografis di mana Gandhi bercerita tentang eksperimentasinya terhadap kebenaran, saya terpukau dengan kualitas pribadi yang dimilki Gandhi, yang sekarang telah jadi spesies yang terancam punah, yakni keluguan. Ketika SMP, gurunya mengisyaratkan Gandhi untuk menyontek agar akreditasi dan prestise sekolahnya tidak jatuh. Gandhi tidak memahami, atau mungkin sengaja tidak memahami, isyarat gurunya tersebut. Ia mengaku tidak bisa menyontek.

Saat bekerja sebagai pengacara di Afrika Selatan, lantaran alasan tertentu Gandhi mulai belajar mencuci dan menyetrika sendiri pakaiannya. Terlalu banyak Gandhi menuangkan tepung kanji. Ia menyetrika baju berkerahnya dengan setrika yang kadar panasnya tak mencukupi. Ia mengenakan baju itu ketika bertugas. Teman-temannya menertawai dan mengolok-oloknya karena tepung kanji yang meresap di kerahnya luntur dan meleleh. Olok-olok itu Gandhi terima dengan kasih sayang yang begitu lugu. Tidak ada perasaan tersinggung, terhina, atau amarah yang buas. Perlu dicatat, ketika itu Gandhi sudah menjadi tokoh terhormat tidak saja di kalangan masyarakat imigran India, namun juga di kalangan masyarakat kulit putih. Jika saya kebetulan bertemu dengan orang yang perilakunya seperti ini, saya pasti akan menilainya sebagai orang bodoh atau orang gila.

Kisah lugu berikutnya masih terjadi ketika Gandhi tinggal di Afrika Selatan. Syahdan, Gandhi hendak potong rambut di sebuah salon yang hanya melayani pengunjung kulit putih. Sang juru pangkas rambut menolak melayani Gandhi. Gandhi memaklumi penolakan itu. Bagi sang juru pangkas rambut, melayani pengunjung kulit berwarna akan memacetkan aliran rezekinya. Sampai di sini kisah belum berakhir. Selanjutnya, Gandhi mencukur sendiri rambutnya. Bagian depan tercukur rapi. Tapi bagian belakang acak-acakan. Dengan “gaya” rambut seperti itu Gandhi pergi ke kantornya untuk menjalankan tugasnya. Tentulah rekan-rekan kulit putihnya lagi-lagi menertawai dan mengolok-oloknya. Seorang rekannya mengejeknya, “Kenapa rambutmu, Gandhi? Dimakan tikus?”. Jawaban Gandhi lugu saja: “Oh tidak. Hanya karena tukang pangkas rambut putih tidak mau menyentuh rambutku yang hitam ini, jadi saya potong sendiri. Biar jelek, nggak apa.” Jawaban itu membuat rekan-rekannya kaget. Jawaban itu menikam jantung rasialisme koloni Inggris di Afrika Selatan.

Itulah tiga kisah keluguan Gandhi. Barangkali banyak lagi kisah keluguannya yang lain yang tidak diceritakannya kepada kita. Biar cuma tiga biji, kisah-kisah berharga itu sudah cukup memulihkan kepercayaan saya bahwa keluguan, khususnya keluguan kanak-kanak, adalah modal yang sangat diperlukan oleh seorang pemimpin. Keluguan yang dimiliki seorang pemimpin tidak menunjukkan kebodohan, keloloan, atau kegilaannya. Sama sekali tidak. Keluguan justru menandakan kobaran api iman di dalam dadanya yang tidak mudah dipadamkan, apalagi dipadamkan oleh sekadar pandangan mayoritas manusia. Keluguan menjadikannya sabar, tabah, dan tegar berjalan menentang arus opini umum yang disalahpahami sebagai kebenaran. Keluguan mencerminkan keagungan jiwanya dan kualitas kepemimpinannya yang mumpuni. Punyakah kita keluguan yang membuat nama Gandhi mulia dan abadi itu?

Yogyakarta, 11 April 2013

04/04/13

Terjemahan 4



Jamuan Cinta untuk Teroris

Oleh: Gede Prama

Kebanyakan orang berbagi kesamaan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mengusir jauh-jauh sesuatu yang tak disenangi dan berebut sesuatu yang disenangi. Tidak saja dalam perang dan perpecahan, tetapi hal itu terjadi juga dalam spiritualitas. Tuhan dan orang suci disembah sedangkan setan dan pendosa dikutuk. Dan, sebagaimana telah dicatat rapi oleh sejarah, cara ini tidak menjauhkan kita dari konflik dan dukacita, tetapi mendekatkan kita kepadanya dengan kekuatan yang luar biasa. Bom teroris dan persenjataan nuklir Korea Utara merupakan beberapa bukti yang dapat dikemukakan.

Amerika serikat, semasa kepresidenan George W. Bush, dapat dijadikan contoh. Dengan kehebatannya, Amerika ingin mengakhiri terorisme dengan cara kekerasan, antara lain bahkan dengan menuduh beberapa negara lain sebagai “poros kejahatan”. Beberapa tahun berikutnya, teroris menjadi lebih mengancam, Afganistan dan Irak diperangi, bahkan Amerika sendiri mengalami kemunduran yang mengkhawatirkan. Ini menggambarkan pelajaran penting bahwa melawan kekerasan dengan kekerasan, sama saja dengan menuangi nyala api dengan bensin.

Isu tentang Pembangunan Material
Nyatanya, selalu ada penggoda pada setiap zaman. Pada era nabi Muhammad penggoda tersebut ialah Quraisy, Yudas pada era Yesus. Istri Rama diculik oleh Rahwana, Sri Krisna dipaksa terlibat dalam pertempuran oleh kerakusan Duryudana, dan Buddha hendak dibunuh oleh Devadatta. Rangkaian sejarah panjang ini menceritakan bahwa mencoba menghilangkan godaan adalah tidak berguna sekaligus menentang hukum alam. Lagipula, tidak akan pernah ada pertumbuhan tanpa godaan.

Suatu waktu seorang ayah berkata kepada anaknya, “Nak, bila engkau menjadi tua akan ada lebih banyak masalah yang engkau hadapi. Tetapi ingatlah, masalah-masalah itu tidak muncul untuk dihilangkan, karena tujuan mereka adalah mengubahmu menjadi manusia. Alam semesta sesungguhnya menjadi semakin tua, jadi muncul semakin banyak masalah, dan hanya tangan bijaklah yang sanggup mengubah kesusahan menjadi berkah pembangunan. Guru-guru yang menempuh jalan ini percaya bahwa “Ketika dukacita menyerang hati, terbitlah kasih sayang”. Bagi mereka kegelapan penderitaan tidak mengundang amarah yang membabi buta namun menyalakan cahaya kasih sayang.

Mendung Kesalahpahaman
Dalam sebuah majelis taklim di Jakarta disampaikan sebuah pesan indah, “Jangan menjauh dari orang-orang yang kasar dan jahat. Harus ada yang mendekati, peduli, dan mencintai mereka, terutama agar mereka bisa meninggalkan lingkaran gelap kekerasan.” Betapa ini merupakan undangan kebijaksanaan yang mengungkapkan ekspresi Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Seorang kakek suatu saat berbicara sambil membelai lembut rambut cucunya yang marah, “betapa pun terlukanya tubuhmu, betapa pun tertekannya jiwamu, ingatlah, jangan sekali-kali menciptakan musuh, karena musuh yang sesungguhnya adalah kesalahpahaman”.

Luangkan waktu untuk melihat teroris lebih dekat. Mereka juga dilahirkan oleh pasangan yang satu sama lain saling merangkul intim, diharapkan oleh orang tuanya menjadi orang yang berguna, diajari kedermawanan di sekolah. Mereka juga beribadah di rumah ibadah demi keselamatan. Akan tetapi, karena tidak memahami satu dua hal, mereka diselimuti oleh mendung kesalahpahaman. Selain itu, mereka bukanlah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas mendung tersebut. Dunia yang tidak adil, berita kekerasan, pemerintahan yang kacau, sekolah yang mengintimidasi, keluarga yang hancur, teladan yang buruk, dan iklan yang merayu hanyalah beberapa elemen dalam suatu jaringan yang mengarahkan mereka masuk ke dalam terowongan gelap salah pengertian. Menyerang mereka hanya akan menebalkan mendung, dan mengutuk korban tidak pernah diajarkan oleh agama apa pun.

Dari sudut pandang ini, dapat disadari bahwa tidaklah beralasan menimpakan seluruh kesalahan pada teroris. Memahami betapa terbatasnya pendidikan, lingkup sosial, dan pengetahuan agama mereka, kiranya lebih tepat jika kita memandang mereka sebagai korban daripada pembangkit kesalahpahaman. Ini mirip dengan orang yang marah terhadap lalat padahal rumahnya dipenuhi sampah busuk. Sebenarnya, kekerasan dan keributan yang diperbuat manusialah yang menyebabkan munculnya kekerasan teroris. Jika rumah bersih dan wangi, lalat tidak akan mengerubunginya.

Oleh karena itu, memahami bahwa kekerasan tidak dapat diatasi dengan mengutuk teroris, kinilah saatnya membersihkan rumah yang sehari-hari ditinggali. Merujuk pada ucapan seorang tetua, bagi orang baik, semua orang itu baik. Memperhatikan pesan seorang pembimbing jalan kebaikan, “Jika engkau tak dapat mencintai mereka yang memperlakukanmu dengan buruk, itu menandakan bahwa jiwamu belum sepenuhnya bangun”.

Seorang pertapa sederhana yang hatinya bergetar dan menangis tatkala mendengar bom teroris, mendengar suara guru yang berada di dalam batinnya: “Ajaklah orang-orang pulang. Kebencian, kemarahan, dan kekerasan bukan tujuan sejati. Tidak ada rumah sejati kecuali cinta dan ketulusan.” Ini mengingatkan kita bagaimana Nuh menaati suara hatinya untuk membuat bahtera raksasa meskipun pada faktanya ia hidup di gurun, dan bagaimana Ibrahim dengan segenap jiwa melakukan perintah batin untuk mengorbankan anaknya.

Dicerahi oleh wawasan spiritual ini, barangkali ada baiknya jika kita mengirim jamuan cinta untuk para teroris. Pemimpin dan tokoh masyarakat harus hati-hati karena mereka adalah teladan. Guru agama harus mengenalkan kepada muridnya ekspresi spiritual penuh cinta yang indah di awal, di tengah, dan di akhir. Orang tua harus mencintai anak-anaknya. Wartawan harus memberitakan kedamaian. Televisi harus menyiarkan program-program yang membangkitkan energi kasih-sayang. Itulah beberapa contoh bagaimana kita menghadirkan jamuan cinta untuk siapa pun yang mungkin menjadi teroris di masa depan.

Sebagai tambahan, lelaku ini membuktikan bahwa rumah batin kita sudah bersih dan jernih. Dengan pikiran ini kita menyambut masa depan yang lebih menjanjikan. Mistikus sufi Jalaluddin Rumi pernah menulis bahwa hidup seperti rumah tetirah. Tamu datang dan pergi. Tetapi, siapa pun yang saat ini menghuni, entah kebahagiaan atau kesedihan,  jangan pernah lupa menyunggingkan senyum.


Versi bahasa Inggris dari tulisan ini dapat dibaca di: http://gedepramascompassion.com/author/gedepramacompassion/