22/06/13

Nasib Sang Pawang


I
Kamdi boleh bertepuk dada. Dan nyatanya, itu memang dilakukan Kamdi, baik secara kiasan maupun harfiah. Sahibul hajat tentu puas dengan hasil kerjanya hari itu. Apabila kelak menyelenggarakan hajat lagi, ia pasti akan membeli jasa Kamdi lagi. Ia pasti akan menceritakan kasuksesan Kamdi hari itu kepada tetangganya, teman-temannya, kepada orang sekampung.

Reputasi dan popularitas Kamdi akan pulih. Kamdi akan bergelut dengan pekerjaannya yang dulu, sebelum bekerja sebagai buruh karet. Problem-problem ekonominya yang tergawat akan segera teratasi. Hari depanku pasti cerah, pikir Kamdi, optimistis dan percaya diri. Terbayang rumah bata yang diimpikannya, lengkap dengan perabotan yang perlu-perlu dan bagus-bagus dan mahal-mahal, ditambah sebuah sepeda motor baru yang terparkir di halamannya. Kamdi pun sesumbar, “Bagiku, urusan atur-mengatur hujan, soal kecil belaka. Apalah arti cuaca bagiku.” Kamdi yakin, ia bakal segera jadi orang kaya, mimpinya sejak kecil yang sampai waktu itu belum kesampaian.

Dan Kamdi berjalan hilir-mudik di belakang panggung organ tunggal dengan kepala yang mendongak, bahu yang terangkat tinggi, dada yang dibusung-busungkan, juga dengan langkah kaki yang sengaja diseretnya, srek-srek-srek bunyinya. Sungguh berisik dan tak nyaman didengar sebenarnya. Untung saja, bunyi srek-srek-srek itu dikalahkan oleh gelegar organ tunggal yang kadang-kadang sampai menggetarkan tiang panggung tempat biduan bernyanyi dan berjoget.

Kamdi kemudian berjalan menuju bagian belakang rumah sahibul hajat. Dipantaunya atap rumah yang terbuat dari genting merah. Di atasnya beberapa helai bra dan celana dalam wanita yang berserakan masih terjemur aman. Belum ada maling jahil yang mengambilnya. Ah, siapa pula manusia primitif yang menyaru mengambil sandangan bekas dan sronok itu. Ini kan zaman modern, Bung! Abad teknologi dan informasi. Sekali lagi Kamdi memantau atap, sekadar untuk memastikan.

Pandangannya lalu dinaikkannya, diarahkan pada langit. Matahari sedang berada tepat di atas ubun-ubunnya. Langit tampak lapang. Biru dan cerah. Gerumbulan awan putih melintasi langit pelan-pelan. Beberapa di antaranya menyerupai citra tertentu. Langit mengeluarkan aura magisnya, merangsang mekarnya rasa bangga, rasa puas, dan rasa gembira di hati Kamdi. Kamdi menarik kedua ujung bibirnya ke atas. Tersenyum. Dan mengangguk-angguk.

Ketika sampai di salah satu pojok rumah sahibul hajat, Kamdi kembali mengangguk-angguk. Dupa yang pagi tadi dibakarnya belum mati. Asapnya mengepul tipis, membumbung ke atas, meliuk-liuk gemulai dimainkan angin. Mulutnya komat-kamit merapal mantra. Terdengar bagai igauan, atau gumaman. Tangannya bersedekap, persis bersedakapnya orang sembahyang. Tegaknya kokoh, tenang dan khidmat. Selesai bermantra, Kamdi membatin, “Aku memang hebat. Coba, cuaca saja patuh padaku. Hujan saja bisa kusuruh-suruh. Tidak ada yang dapat menyaingi ngelmu dan kemampuanku.”

Prak. Wadah dupa pecah terbentur tembok rumah setelah tertendang kaki anak kecil yang berlari buta karena dikejar temannya. Setelah tendangan yang mengolengkan kesadaran Kamdi tersebut, anak kecil itu terus saja berlari, tertawa-tawa pula, seperti sengaja menertawakan Kamdi. “Bocah setannnn,” Kamdi mengumpat.

Orang-orang di sekitarnya, yang dari tadi sibuk mencuci piring, menoleh ke arahnya. Mereka hanya sempat mereaksi kejadian tersebut dengan tolehan karena Kamdi segera mengembalikan kesadarannya sendiri, dan kepada mereka berkata, “Tidak apa-apa. Tidak masalah. Anak-anak kalau bermain memang selalu kebablasan. Semua barang mereka hancurkan. Lanjutkanlah pekerjaan kalian.” Walaupun ucapan yang berasal dari mulut Kamdi itu terdengar tenang dan tenteram, tetapi sebetulnya kerusuhan dan keresahan hati Kamdi belum lenyap, malah meluap-luap.

Dengan pikiran kalut dan semrawut, Kamdi menukar wadah dupa yang pecah itu dengan yang baru. Tanggannya bergetar waktu mengisi dupa dan kemenyan ke dalamnya, menyalakannya. Merapal mantra. Tetapi, saat sampai pada pertengahan mantra, komat-kamit Kamdi terhenti. Kamdi mengatupkan kelopak matanya lebih dan lebih rapat. Keningnya berkerut. “Celaka, kenapa aku bisa lupa sambungan mantra ini.”

“Lha, Kang Kamdi, sampeyan di sini rupanya. Tak cari-cari dari tadi.” Tegur-sapaan sahibul hajat, Pak Parman, itu membuat Kamdi kontan membuka matanya, terkejut. Pak Parman menepuk-tepuk punggung Kamdi. “Cek-cek-cek, sampean betul-betul wong pinter. Ngelmu sampeyan ampuh. Ndak percuma saya panggil sampeyan hari ini.” Pujian Pak Parman menyebabkan Kamdi terlupa akan masalah mantra tak rampungnya. Pujian itu juga berhasil membuat Kamdi tersipu. “Terima kasih, Mas. Kalau hari ini tidak hujan, itu cuma kebetulan.” Kamdi merendah.

Pawang hujan profesional mesti pandai berbasa-basi, demikian prinsip Kamdi. Prinsipnya yang lain, pawang hujan profesional harus mahir merahasiakan isyarat-isyarat buruk yang muncul saat ia melangsungkan ritual. Dan kebanggaan Kamdi surut seketika, berganti kegusaran. Ia teringat akan mantranya yang tak rampung dirapal dan wadah dupa yang pecah itu. Bukankah dua hal itu merupakan isyarat petaka yang dikirim oleh alam? tanya Kamdi kepada dirinya sendiri.

“Sampeyan boleh berkata apa saja. Tapi bagi saya, pokoknya sampean itu hebat. Luar biasa. Oalah, saya kok malah lupa. Saya mencari-cari sampeyan untuk mengajak makan siang. Mari. Makanan terlezat yang kami olah sudah kami siapkan, spesial untuk sampean. Mari…”

Mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah. Pak Parman bergerak enteng dan luwes, bercerita berkelakar. Kamdi bergerak kaku, membisu. Terjedut daun pintu yang tingginya setelinganya. Memang, pintu belakang rumah Pak Parman rendah.

II
Sendirian Kamdi duduk di lincak bambu yang terletak di teras rumahnya yang berdinding papan beratap seng. Jarum 76-nya yang terakhir hampir habis dihisapnya. Kamdi memandangi asap yang ia hembuskan sendiri. Ditiupnya. Seolah-olah dengan meniup asap, Kamdi meniup bersih berbagai masalah yang mengepungnya dan menyesakkan dadanya. Panas telah tak menyengat tetapi magrib masih jauh. Perutnya berkeruyuk. Melilit perih. Hari ini ia hanya makan bergelas-gelas air putih dan asap rokok itu. Istri dan anak-anaknya juga belum menelan sebutir nasi pun.

Benar, istrinya belum makan nasi, apalagi minum obat. Itulah yang mencemaskan Kamdi. Sudah tiga hari istrinya terbaring di atas dipan, hanya beralaskan tikar pandan yang robek dan bolong. Kamdi belum tahu apa penyakit istrinya. Ia tak mungkin memeriksakan istrinya ke puskesmas atau rumah sakit. Tiada lain di dalam dompetnya kecuali KTP dan lipatan-lipatan kertas tak berharga. Televisi, radio tape, kipas angin, semua perkakas elektronik sudah dijualnya untuk menyambung hidup. Juga emas dan tanah warisan.

Terus terang, Kamdi takut kalau-kalau istrinya kena penyakit mematikan, demam berdarah atau muntaber misalnya. Setengah bulan lalu, keponakannya, yang tinggal sekampung dengannya, meninggal karena demam berdarah. Tetapi kata tetangga, muntah-muntah istrinya tak usah dicemaskan betul. Itu gejala sakit biasa. Paling masuk angin atau apa. Pokoknya sakit biasa. Diagnosis tetangganya yang tidak tamat SD itu tambah mencemaskan Kamdi. Soalnya, tetangga yang sok tahu dan banyak bicara itu bercerita tentang saudara dekatnya yang dibunuh oleh muntaber dan saudara jauhnya yang dimangsa oleh demam berdarah.

Kamdi beranjak dari lincak, hendak menengok istrinya di satu-satunya kamar di rumahnya. Menatap istrinya tertidur damai, Kamdi merasa sedikit terbebas dari kecemasan. Tatapan Kamdi bergulir ke dinding depan dipan, di samping almari pakaian plastik. Di sana tergantung seragam SMP Trimo, anak bungsunya, yang minggu depan harus mendaftar masuk SMA. Duit lagi. Kamdi melenguh. Biaya masuk SMA pasti tak murah. Kamdi berkhayal, ah, seandainya semua SMA gratis. Tidak ada biaya pendaftaran, biaya SPP, atau biaya tetek-bengek lain. Seandainya.

Khayalan tinggal khayalan. Andaian selamanya bukan kenyataan. Kenyataan yang dihadapi Kamdi adalah, ia harus mendapatkan uang untuk mendaftarkan Trimo masuk SMA dan untuk mengobati istrinya. Tetapi, dari mana uang itu akan didapatkan? Jelas tidak dari langit. Tuhan belum sekali pun menurunkan hujan uang.

Melintas wajah Pak Parman di dalam benaknya. Pak Parman ialah tengkulak getah karet, orang terkaya di kampung kami. Rumahnya bertingkat. Mobilnya empat. Semua anaknya kuliah di luar negeri, dua di Malaysia, satu di Singapura, dan satu lagi di Belanda. Kebun karetnya puluhan hektar. Buruhnya 50-an orang. Kamdi salah satunya. Kepada Pak Parmanlah Kamdi menjual panenan getah karetnya. Kepada majikannya itu pulalah Kamdi biasanya berhutang.

Menurut Kamdi, menghutang kepada Pak Parman bukan jalan keluar. Hutangnya kepada Pak Parman sudah menggunung. Baru bisa dilunasi dengan dua atau tiga ton getah karet. Untuk memperoleh jumlah panenan getah karet sebanyak itu, Kamdi harus bekerja tanpa gaji selama dua atau tiga tahun. Tanpa gaji! Memikirkan itu, kepala Kamdi berdenyut-denyut, tengkuknya mengeluarkan keringat dingin. Merinding. Namun, apa boleh buat, malaikat penyelamat Kamdi sekeluarga hanya Pak Parman. Terpaksa Kamdi berhutang lagi kepada Pak Parman.

“Kang, sampeyan kan tahu, hutang sampeyan sudah banyak. Kalau saya kasih pinjaman lagi, saya khawatir sampean ndak sanggup bayar. Jadi, maaf, kali ini saya ndak bisa kasih sampean pinjaman.”

Mendengar perkataan Pak Parman tersebut, Kamdi menunduk, tetapi ia merasakan darahnya yang naik ke kepala dan jantungnya yang berdentam-dentum, sedangkan kedua tangannya meremas udara sekeras-kerasnya. Kamdi tak menyangka, Pak Parman setega itu. Setelah Kamdi merendah-rendah dan menghiba-hiba memohon pinjaman untuk sekadar mengobati istrinya dan mendaftarkan Trimo masuk SMA, Pak Parman malah menolak permohonannya dengan kata-kata yang demikian lugas dan tajam. Padahal, Kamdi sudah berbulat pikir, berapa pun jumlah pinjaman yang diberikan Pak Parman akan diterima dengan suka cita meskipun tidak mencukupi kebutuhannya. “Orang kaya di mana-mana kikir. Tidak punya perasaan. Melupakan dan menginjak saudaranya yang miskin. Mentang-mentang kaya!” batin Kamdi.

“Kang Kamdi, saya ndak seperti yang sampean pikirkan. Penduduk sekampung tahu, saya ndak tegaan orangnya. Saya memang ndak akan meminjami sampean uang. Itu akan lebih menyulitkan kehidupan sampean. Ndak. Saya ndak akan meminjamkan uang, saya hanya akan memberikan uang kepada sampean.”

Kamdi mengangkat kepalanya. Kepalan tangannya mengendor. Mulutnya agak terlongo sebelum ia berkata, “Memberi saya uang, Pak?”

“Ya. Memberi sampean uang. Tapi ndak cuma-cuma. Saya dengar, sebelum pindah ke kampung ini, sampean dulu pawang hujan ya? Tiga hari lagi, saya akan mengadakan pesta pernikahan anak saya yang pertama. Pawang hujan yang saya hubungi sakit, ndak bisa pergi ke mana-mana. Bagaimana kalau sampean membantu saya memperlancar pesta pernikahan besok? Uang yang akan saya berikan kepada sampean, untuk membayar jasa mengatur hujan itu. Bagaimana, Kang?”

Kamdi tak menjawab. Tak bisa menjawab. Situasi yang membingungkan tersebut belum lagi ternalar olehnya.

“Diam artinya bersedia. Saya kasih segini, buat panjar. Sisanya menyusul habis pesta. Uang segini pasti lebih dari cukup untuk mengobati istri sampean dan mendaftarkan Trimo. Kalau kurang, sampean silakan ke sini, mengambil sisanya.” Pak Parman mengatakan itu sambil menyodorkan beberapa lembar seratusan ribu tanpa memedulikan Kamdi yang masih duduk mematung termangu-mangu.

III
Pak Parman tidak bohong. Hampir seluruh makanan yang menurut Kamdi lezat tersaji di hadapannya. Ada opor ayam, nila bakar, sayur asam, rendang, dan beberapa jenis makanan lain yang jarang benar dinikmati Kamdi. Siap santap. Ada pula beberapa jenis minumam. Sirup, kopi, es jeruk. Tinggal pilih. Buah-buahannya pun boleh dikata lengkap. Di sebelah kiri depan, ada pisang, jeruk, semangka, pepaya. Di sebelah kanan depan, ada jambu air, mangga, dan entah buah apalagi.

Melihat komposisi hidangan tersebut, Kamdi merasa dijamu laksana raja. Justru penjamuan yang di luar kebiasaan itulah yang membuat Kamdi kehilangan selera makan. Rendang, makanan yang paling disukainya, tidak meneteskan air liurnya. Sedikit pun tak berkeinginan melahap mangga atau semangka atau buah lain. Tak tahu mengapa, Kamdi merasa tidak berhak memperoleh jamuan segila itu, gila menurut ukuran Kamdi tentu. Bayangan wadah dupa yang pecah tertendang dan mantra yang tak rampung dirapal masih berlalu-lalang dalam kepala Kamdi. Dan bayangan itu membuatnya lebih tidak berselera makan.

Kamdi mengambil nasi serta lauk-pauk dengan gerakan tangan yang berat setelah Pak Parman menyilakannya. Di lidah Kamdi, rendang hambar rasanya. Semangka tawar. Bahkan, es teh pun jadi pahit. Hanya rasa tak enak dengan sahibul hajatlah yang membuat Kamdi memaksa diri berbasa-basi mengaku makanan ini lezat, buah itu sedap, minuman ini segar, dibumbui dengan senyum dan tertawa yang tak jujur. Pak Parman tampaknya sedang terlalu larut dalam kebahagiaan sehingga kepura-puraan Kamdi tak tertangkap olehnya.

“Hujan, hujaan, hujaaan,” teriak orang-orang di luar. Riuh-rendah. Berbalas-balas, sambung-menyambung. Teriakan tersebut terdengar jelas oleh Kamdi dan Pak Parman karena kru organ tunggal tengah istirahat untuk makan siang. Mestinya, teriakan tersebut tak mengagetkan Kamdi sebab alam telah mengiriminya dua isyarat kegagalan pekerjaannya. Tetapi, ternyata respon Kamdi terhadap teriakan itu sama dengan respon Pak Parman: kaget.

Kamdi tak berani memutar badannya ke belakang untuk memeriksa dengan mata kepala sendiri melalui jendela apakah hujan benar turun atau tidak. Pandangan Kamdi terpaku pada piring bekas makannya yang berada di depan kakinya yang dilipat bersila. Kendati penasaran dengan reaksi Pak Parman, Kamdi takut melirik muka majikannya. Tamat sudah riwayatku, simpul Kamdi.  Tamat.

Sementara itu, melalui jendela yang berada tak jauh di depannya, Pak Parman mengamati lekat-lekat hujan deras yang tak diharapkan itu. Tamu-tamunya yang duduk-duduk di luar tenda berlarian kocar-kacir kesana kemari mencari tempat berteduh. Demikian pula saudara-saudara dan tetangga-tetangganya yang membantunya menyelenggarakan pesta. Pak Parman lalu menyorotkan pandangan ke tubuh Kamdi, dari rambut hingga kaki, dari kaki hingga rambut. Menatap jendela lagi. Menatap Kamdi lagi. Jendela. Kamdi. Yang ditatap meng-keret, mengecil, tersudut, tertusuk. Pak Parman bangkit dari duduknya, berjalan tergesa-gesa keluar rumah, pergi meninggalkan Kamdi sendirian tanpa berkata apa-apa.

Jika Pak Parman mendadak diam, sorot matanya terasa menusuk, kemudian pergi menghilang entah ke mana, itu artinya Pak Parman marah besar. Kamdi mengenal betul perangai Pak Parman yang satu ini. Kalau marah, Pak Parman tidak mengumpat, menyumpah, atau melontarkan kata-kata makian yang kasar dan jorok, tidak juga menggampar atau menampar orang yang ia marah kepadanya, tetapi diam dan pergi menghilang, menjauhi sumber marahnya. Karena itu, wajar bila Kamdi jadi semakin takut, cemas, dan putus asa. 
           
            Emosi-emosi negatif yang mengaduk-aduk batinnya menyebabkan Kamdi merasa letih dan lemas tak kepalang. Ia masih duduk, duduk lemas-lunglai di tempat itu, di depan aneka makanan dan minuman yang seperti turut merutuki dan mengutuki kegagalannya.

Kamdi tidak menerima dengan tabah rutukan dan kutukan tersebut, tetapi memproyeksikannya kepada hujan deras. Hujan deras keparat itu membuyarkan segala angan-anganku, begitu Kamdi murka dalam hati. Kamdi tak jadi membangun rumah baru. Mungkin tak pernah akan jadi. Tak jadi membeli sepeda motor baru. Mungkin tak pernah akan jadi. Tak jadi membeli perabotan yang perlu-perlu dan bagus-bagus dan mahal-mahal. Mungkin, mungkin tak pernah akan jadi karena di kantong Kamdi hanya terselip selembar sepuluh ribuan.

Uang panjar sebagai balas jasanya mengatur hujan sudah habis untuk mengobati istrinya, untuk mendaftarkan Trimo, dan untuk bermain judi. Di meja judi, Kamdi malah nombok, berhutang kepada lawan-lawannya. Ia berjanji kepada mereka, hutang kalah judi itu akan dibayarnya setelah ia menerima pembayaran pelunasan dari Pak Parman.

Namun, hujan deras tentu mengubah pikiran Pak Parman. Pasti uang pelunasan itu tidak bakal Kamdi terima. Dan nyaris pasti pula, besok atau lusa majikannya akan memecatnya. Semua pikiran itu membuat Kamdi pusing. Dan tatkala memalingkan kepala hendak menatap hujan deras lewat jendela, Kamdi hanya dapat menatap gelap. Kesadarannya hilang.

Sepeda Buat Ibu


Adam belum bisa memejamkan matanya, padahal malam sudah sangat larut. Di dalam kepala Adam, hanya terdapat tujuh kata, sepeda, sepeda, sepeda, sepeda, sepeda, sepeda, sepeda…. Ingatannya tertambat pada kejadian di sekolahnya tadi pagi, saat jam pelajaran Bahasa Indonesia. Tidak seperti biasa, pagi itu Bu Mala mendeklamasikan puisi yang bagi Adam bagus sekali, juga menyentuh sekali. Puisi itu mengisahkan pengorbanan seorang ibu.

“Anak-anak, tahukah kalian kenapa Ibu pagi ini mendeklamasikan puisi ini?” tanya Bu Mala setelah selesai berdeklamasi.

Teman-teman sekelas Adam sibuk dengan pikiran masing-masing. Ada yang berbisik-bisik dengan teman sebangkunya. Ada yang diam, berusaha mencari jawaban. Adam juga diam.

“Anak-anak, Ibu membaca puisi ini karena pada bulan ini, bulan April, kita memperingati Hari Ibu. Nah, pada Hari Ibu besok, hadiah apa yang akan kalian berikan untuk ibu kalian?”

Kelas hening sejenak.

“Baju baru, Bu” jawab Hendra, bersemangat.

“Bunga, Bu. Bunga melati yang buanyak.” Lili menjawab tak kalah bersemangat.

Kelas pun menjadi ribut. Anak-anak berebutan menjawab pertanyaan Bu Mala. Tapi Adam masih diam. Bingung menentukan hadiah yang akan diberikannya untuk ibunya. Bu Mala, yang mengamati gelagat Adam, bertanya: “Adam, hadiah apa yang akan kamu berikan untuk ibumu? Tidak tahu?” Adam mengangguk lugu. “Pernahkah ibumu mengutarakan keinginannya kepadamu?” Adam mengangguk, lagi-lagi dengan lugu. “Apa yang ibumu inginkan?”

“Sepeda, Bu. Ibu ingin sepeda.”

Ibu Adam menginginkan sepeda baru. Dengan sepeda itu, ibu akan dapat menjajakan gorengannya hingga ke luar kampong. Ibu akan lebih banyak memperoleh rejeki. Dan Adam ingin memberi ibunya hadiah berupa sepeda baru agar keinginan ibunya terwujud. Namun, Adam tak punya uang. Tidak sempat menabung. Uang jajannya pas-pasan, kadang-kadang malah kurang. Dari mana aku memperoleh uang untuk membeli sepeda? Itulah yang menjadi pikiran Adam sekarang. Mungkin karena telah letih, Adam akhirnya tertidur. Dalam mimpinya, Adam melihat ibunya menaiki sepeda baru sambil tersenyum.


***

Adam menceritakan keinginannya kepada Rina, teman sekelasnya. Ia juga menceritakan kesulitannya memperoleh uang untuk membeli sepeda baru.

“Itu gampang,” ujar Rina.

“Gampang?” tanya Adam keheranan.

“Iya, gampang. Ayahku kan punya restoran. Kamu bisa kerja di restoran ayahku. Nanti aku bilangin ke ayah.”

Ayah Rina sebenarnya tidak sampai hati memperkerjakan Adam di restorannya. Adam masih kecil, masih sekolah SD. Tapi, karena dipaksa oleh anaknya yang manja, Ayah Rina membolehkan Adam bekerja di restorannya. Pekerjaan yang diberikan sangat ringan sekali, hanya mengelap meja makan. Gaji per hari yang diberikan, besar. Jika tak dipaksa oleh anaknya, ayah Rina sebenarnya ingin memberikan uang gaji itu secara cuma-cuma kepada Adam, tanpa memperkerjakan Adam.

Adam menikmati hari pertamanya bekerja. Hari kedua dijalaninya dengan semangat. Hari ketiga demikian pula. Memasuki hari kelima, mendung di wajah Adam mulai tampak. Uang yang dikumpulkannya belum cukup untuk membeli sepeda. Padahal, Hari Ibu tinggal satu hari lagi. Adam masih harus bekerja seminggu lagi agar uangnya cukup. Melihat laci uang yang terdapat di restoran tempatnya bekerja, pikiran jahat Adam muncul.

“Adam, ambil saja uang itu. Uang yang ada di laci itu pasti cukup untuk menggenapi uang yang telah kau kumpulkan. Ambil saja uang itu biar kau bisa membeli sepeda. Ambil saja uang itu, mumpung tak ada orang,” demikian setan membisiki Adam.

“Jangan Adam. Jangan diambil uang itu. Itu bukan uangmu. Berdosa kalau kau mengambil uang itu,” bisik hati nurani Adam.

“Jangan dengarkan dia, Adam. Acuhkan nasihatnya. Ambil saja uang itu. Kalau kau tak mengambilnya, kau tak akan bisa membelikan ibumu sepeda. Kau akan jadi anak durhaka!” tangkis setan yang bersemayam di dalam hati Adam.

Adam tidak mau menjadi anak durhaka, lagi pula Adam ingin, amat ingin, membelikan ibunya sepeda. Adam berjalan berjingkat-jingkat mendekati laci, membukanya pelan-pelan, mengambil uangnya selembar demi selembar.

“Adam, kamu lagi apa?” tegur Ayah Rina.

Adam kaget. Berlembar-lembar uang yang dipegangnya buyar, jatuh berhamburan ke lantai. Wajah Adam memucat. Ayah Rina mendelik, marah-marah kepada Adam dengan suara mengguntur.

Setelah Adam meminta maaf, mengakui kesalahannya, dan menyatakan alasannya kenapa mencuri uang, marah Ayah Rina surut. Ayah Rina justru kasihan dengan Adam dan ingin membantu Adam.

“Oh, jadi begitu? Kenapa itu tidak kamu katakan dari kemarin-kemarin?”

Adam tidak mengerti dengan pertanyaan Ayah Rina.

“Kalau kamu mengatakannya sejak kemarin, saya pasti memberimu gaji yang lebih besar. Kamu tidak perlu bekerja berminggu-minggu. Kamu hanya perlu bekerja dua atau tiga hari saja untuk mengumpulkan uang itu.”

“Baiklah. Tenang saja, Adam. Nanti, biar sepeda itu saya yang beli. Anggap saja itu sebagai hadiah untukmu karena kamu telah berani mengakui kesalahanmu. Tapi ingat ya Adam, kamu jangan mengulangi kesalahanmu lagi. Jangan pernah mencuri lagi…”

Adam mengangguk.

***
Ketika melihat ibunya tersenyum, Adam merasa menjadi orang yang paling bahagia sedunia. Dan kebahagiaan Adam semakin membuncah ketika ibunya mengucapkan terima kasih kepadanya, terima kasih untuk sepeda yang diberikan Adam.

“Ibu senang sekali mendapat hadiah sepeda baru ini, Adam. Senang sekali. Ibu bangga sekali punya anak seperti kamu. Tetapi Adam, kamu jangan mencuri lagi ya. Ibu sudah mendengar semuanya dari Ayah Rina. Bila kamu berhasil mencuri, dan uang hasil curian itulah yang kamu pakai untuk membeli sepeda, ibu pasti akan sangat bersedih.”

Mendengar ucapan Ibu tersebut, Adam tertunduk.

“Jangan merasa bersalah lagi. Kan kamu tidak jadi mencuri. Ibu menghargai usahamu. Ibu pun sangat berterima kasih atas sepeda ini. Sepeda ini bakal banyak gunanya bagi Ibu. Tapi Adam, kamu tahu, hadiah apa yang paling ibu inginkan?”

“Tidak, Bu.” Jawab Adam, polos.

“Hadiah yang paling Ibu inginkan adalah, kamu menjadi anak yang baik. Menjadi anak yang baik artinya kamu harus menjadi orang yang jujur, yang amanah, yang tidak mau mencuri. Adam, kamu mau membahagiakan Ibu, kan?”

“Mau, Bu.”

“Kalau kamu mau membahagiakan Ibu, berjanjilah, kamu akan menjadi anak yang baik. Janji ya, demi Ibu .…”

“Ya, Bu. Adam janji. Adam akan jadi anak yang baik demi Ibu.”

Lalu Adam dipeluk ibunya. Mata Ibu Adam berkaca-kaca. Pipinya dialiri air.

Surat Izin Palsu


Teman kita ini bernama Nina. Kelas VI SD. Minggu lalu, Nina dan teman-teman sekelasnya diberi tugas oleh Bu Maryam, guru yang paling ditakutinya. Tugas harus dikumpul besok. Nina merasa tugas itu sangat berat. Nina jadi malas mengerjakannya, bahkan hingga hari ini. Bila hari ini baru mulai dikerjakan, pasti tugas itu tidak bakal selesai tepat waktu.

Bila besok tidak mengumpulkan tugas, Bu Maryam, seperti biasa, akan marah dan menghukum Nina. Bu Maryam akan menyuruhnya hormat bendera sampai bel istirahat berbunyi. Juga akan menyuruhnya mengelilingi lapangan sekolah sepuluh kali. Nina tidak mau dimarahi dan dihukum oleh Bu Maryam.

Nina lalu mendapat ide. Menulis surat tidak masuk sekolah. Pada surat tersebut Nina menulis, minta izin tidak masuk sekolah karena sakit. Akan tetapi, surat harus diisyarattangani orang tuanya. Nina tidak mungkin minta ayah atau ibunya menandatangani surat izin itu. Ia pun memalsukan isyarat tangan ibunya.

***

Malam ini Nina pergi menemui Lala yang rumahnya tidak begitu jauh dari rumah Nina, kira-kira 500 meter saja. Sampai di rumah Lala, Nina langsung menemui teman karibnya itu. Setelah Nina menceritakan misinya kepada Lala, Lala buru-buru menasihati, “Nin, itu bohong namanya. Kita kan tidak boleh bohong. Berdosa. Nanti kamu kena batunya.”

“Habis, gimana? Bu Maryam sih, sudah galak, seneng marah, seneng menghukum, ngasih tugas berat banget lagi. Sebel aku sama monster itu.”

“Husy! Guru sendiri kok dikatain monster. Besok masuk aja lah kayak biasa. Kalau tugasmu belum selesai, ngomong aja ma Bu Maryam. Paling dihukum. Tapi kalau kamu bicara jujur ma Bu Maryam, ‘Bu, tugasnya berat banget,’ mungkin Bu Maryam mau maafin kamu.”

“Ah, nggak mungkin. Bu Maryam nggak bakalan kasih maaf. Tugasmu udah?”

“Udah. Barusan.”

“Pokoknya,” desak Nina “Kamu besok harus bantu aku ngasih surat izin ini sama Bu Maryam. Kalau nggak mau bantu, persahabatan kita pu-tus.”

“Lho, Nin…” kata lala, sedikit mengerutkan dahi.

“Pokoknya harus. Harus bantu. Nih, suratnya. Udah ya, pulang dulu. Met malem…”

Setelah berkata seperti itu, setelah menitipkan surat izinnya kepada Lala, Nina ngacir pulang. Lala sebenarnya tidak setuju dengan misi Nina. Lala ingat nasihat yang diulang-ulang ibunya, bohong itu dosa, orang yang berbohong akan kena batunya. Namun demikian, Lala akhirnya membantu Nina. Lala tidak mau persahabatannya dengan Nina putus.

***

Sebagaimana direncanakan sebelumnya, Nina tidak masuk sekolah hari ini. Waktu ditanya ibunya kenapa tidak sekolah, Nina menjawab: “Libur, Bu. Semua guru rapat. Sekolah diliburkan.” Ibu Nina tidak sepenuhnya percaya dengan ucapan anaknya. Ia melihat gelagat aneh pada wajah Nina, seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Namun, ia membiarkannya, tidak mengusut ucapan Nina lebih lanjut.

Hingga sore, Nina di rumah saja. Tidak pergi ke mana-mana. Sekitar pukul tiga, pintu rumah diketuk. Saat itu Nina di dapur. Seorang perempuan beruluk salam dan mengucapkan “permisi”. Nina merasa kenal dengan suara tersebut. Nina bingung dan ketakutan. Pintu diketuk lagi. Suara uluk salam dan “permisi” lagi. Kian keras. “Aduh, gimana nih?” ujar Nina dalam hati. Ia kemudian berjalan buru-buru masuk ke dalam kamarnya. Mengunci pintunya.

“Nin, pintu depan dibuka. Ada tamu,” perintah Ibu. Karena Nina lama tak menyahut, Ibu membukakan pintu dan menyambut sang tamu. “Waalaikum salam. Eh, Bu Maryam. Mari masuk. Silakan duduk. Minum apa, Bu? Oh ya, saya baru menerima kiriman kopi dari luar kota. Katanya sih enak. Saya bikinkan kopi saja, ya Bu.” Setelah mempersilakan Bu Maryam duduk, ibu Nina pergi ke dapur, menyedu secangkir kopi. Tak berapa lama, Ibu telah menyuguhkan secangkir kopi itu untuk Bu Maryam.

“Bagaimana, Bu, enak kan kopinya?”

“Enak sekali. Ini kopi dari daerah mana? Baru sekali ini saya minum kopi seenak ini. Sebenarnya, saya datang ke sini untuk menjenguk Nina. Nina sakit apa, Bu? Kok sampai tidak masuk sekolah?”

Ibu Nina terkejut. Nina sakit? Lho, katanya sekolah libur. “Benar dugaanku,” pikir ibu Nina, “Anak itu memang menyembunyikan sesuatu”. Ibu malu  karena tahu bahwa Nina menipu Bu Maryam. Ibu lantas memanggil Nina, “Nin, ke sini. Ada Bu Maryam. Menjengukmu.”

Nina, yang menguping pembicaraan antara ibunya dengan Bu Maryam, semakin takut dan bingung. Andai punya teman seperti Doraemon, ia akan minta Doraemon mengeluarkan “pintu kemana saja” dari kantong ajaibnya, tetapi Nina bukan Nobita. Tidak punya teman seperti Doraemon. Tidak bisa lari. Tidak bisa sembunyi. “Nin, cepat ke sini. Bu Maryam menunggu,” sekali lagi Ibu memanggil, dengan suara yang lebih tinggi. Ibu memang sedang menahan marah.

Nina keluar dari kamarnya, berjalan gontai menuju ruang tamu dengan kepala tertunduk, untuk memenuhi panggilan ibunya. “Duduk,” perintah Ibu, singkat, rada kasar. Kemarahan Ibu meledak rupanya.

Giliran Bu Maryam yang terkejut. Nina tampak sehat-sehat saja. Badannya bugar. Sangat bugar malah. Hanya, wajahnya memang pucat. Pucat bukan karena sakit tetapi karena takut. Sebisa mungkin Bu Maryam menyembunyikan keterkejutannya.  Sebagai basa-basi, Bu Maryam bertanya kepada Nina, “Nin, sudah sembuh? Sakit apa, kok sampai tidak masuk sekolah? Wajahmu pucat.”

Tidak dapat membuka mulutnya Nina. Tidak tahu harus menjawab apa. Malah manangis. Menyaksikan Nina menangis, Bu Maryam berbasa-basi lagi, “Kok nangis, Nin?” Karena marah betul, Ibu tidak trenyuh oleh tangis Nina. Malah tambah marah. “Cepat minta maaf sama Bu Maryam!” Bukan mematuhi perintah ibunya, Nina malah terus menangis, menjadi-jadi. Tanggap keadaan, Bu Maryam berkata, “Sudah, jangan nangis. Ibu sudah tahu. Ibu akan memaafkan kamu, asal kamu mau mengakui kesalahanmu, asal kamu mau berterus terang memaparkan alasanmu kenapa kamu menulis surat izin palsu itu, asal kamu janji tidak akan mengulangi kesalahanmu lagi. Jangan bohong lagi. Jangan menipu lagi.”

“Cepat minta maaf!” Ibu mengulangi perintahnya. sambil sesenggukan, Nina pun minta maaf kepada Bu Maryam. “Nina, kenapa bohong?” tanya Bu Maryam. “Saya belum mengerjakan tugas yang disuruh Ibu. Tugasnya berat. Saya takut, kalau saya masuk dan belum mengerjakan tugas, Ibu marah. Ibu menghukum saya.”

Sekali lagi, Bu Maryam terkejut. Bu Maryam sadar, ternyata justru karena dirinyalah Nina berbohong. Ia juga sadar, selama ini memang galak terhadap murid-muridnya. “Kalau begitu, saya juga perlu minta maaf sama Nina. Maafkan saya ya Nin, selama ini galak sama kalian, termasuk sama Nina. Tapi kegalakan Ibu bukan alasan untuk tidak masuk sekolah.  Tidak mengerjakan tugas juga bukan alasan untuk tidak masuk sekolah. Ibu janji tidak akan galak lagi sama kalian, tapi Nina juga janji ya, tidak menipu lagi, apalagi menulis surat izin palsu lagi.” Nina mengangguk.

Mendengar pengakuan anaknya, marah ibu Nina luntur. Nina tidak sepenuhnya bersalah. “Dengar itu kata-kata Bu Maryam. Jangan bohong lagi. Jangan menipu lagi. Jangan menulis surat izin palsu lagi.” Kepada Bu Maryam, Ibu berkata, “Bu, tolong maafkan kesalahan anak saya. Nina memang nakal. Saya malu kepada Ibu, apalagi Ibu malah minta maaf sama Nina. Ibu tidak perlu minta maaf sama anak nakal ini.”

“Tidak apa-apa, Bu,” balas Bu Maryam. “Minta maaf sama Nina merupakan keharusan bagi saya. Saya harus memberi teladan baik. Wah, sudah setengah empat. Sudah waktunya menjemput Aan. Kalau begitu, saya permisi ya, Bu…”

Ibu Nina tidak mencoba menahan tamunya agar tidak segera pulang. Ia tahu, Aan, putra Bu Maryam yang mengikuti kursus bahasa Perancis, sekarang pasti sudah menunggu jemputan ibunya.

***

Sejak mengalami kejadian itu, Nina tidak mau menulis surat izin palsu lagi. Nina bertekad, tidak akan berbohong untuk tujuan buruk lagi. Ia tidak mau kena batunya lagi. Nina kini juga rajin mengerjakan tugas-tugas sekolah, selain tambah dekat dengan Bu Maryam yang dulu ditakutinya, tetapi yang sekarang disayanginya karena sudah tidak galak dan suka marah-marah. Sementara itu, Ibu kini lebih teliti mengawasi perilaku Nina, sering menanyakan kepada Nina apakah ada tugas sekolah dan apakah tugas sekolahya telah dikerjakan apa belum.