13/07/16

Menjemput Fajar Kalasuba

KALABENDU. Istilah ini pertama kali diperkenalkan Ronggawarsita III. Sebagai mata rantai terakhir pujangga Jawa, santri Kiai Imam Besari Ponorogo ini kawentar dengan ramalannya. Dalam Serat Sabda Jati, dia menulis,

Waluyaning benjang yen wus ana wiku
memuji ngesthi sawiji
sabuk lebu lir majenun
galibetan tudang-tuding
anacahken sakehing wong.

Iku lagi sirep jaman kalabendu
kalasuba kang gumanti
wong cilik bisa gumuyu
nora kurang sandhang bukti
sedyane kabeh kalakon.

Zaman edan berakhir bila sudah ada pendeta
ikhlas menyembah Tuhan yang Esa
berikat pinggang tanah, laksana orang gila
kian kemari berjalan, menuding-nuding telunjuknya
menghitung jumlah semua orang.

Pada masa itu, zaman kalabendu berakhirlah
berganti dengan zaman kalasuba.
Rakyat jelata dapat tertawa.
Tiada kurang sandang pangan.
Terwujud semua cita-cita.

Dalam serat tersebut, kalabendu adalah nama bagi sebuah zaman. Ronggawarsita juga menyebut zaman itu sebagai zaman edan. Berbeda nama, berbeda penekanan, tapi intinya sama: zaman kalabendu atau zaman edan adalah zaman yang tak diharapkan, tapi pasti menghampiri. Kita mesti menerima dan menjalaninya dengan tabah.
Terlempar ke dalam zaman seperti itu, tugas kita yang primer adalah menjaga kewarasan, kesehatan akal (dan) budi. Tidak ikut edan. Tidak hanyut terseret arus kejahiliahan massal. Anglaras ilining banyu, pesan Sunan Kalijaga, ngeli ning ora keli. Menjalani kehidupan selaras aliran air sungai, mengalir tapi tak hanyut.

Hakikat Kalabendu
Untuk menjalankan pesan tersebut, kita mesti paham dulu karakter dan hakikat zaman kalabendu. Kala adalah waktu adalah masa adalah zaman. Bendu banyak maknanya. Kata ini bisa bermakna amarah atau murka atau kutukan. Tapi juga bisa dimaknai bencana. Kedua dimensi makna ini tidak kontradiktif. Ada yang memandang bencana sebagai kasih sayang Ilahi. Tapi, ada pula yang memahaminya sebagai amarah, murka, atau kutukan langit.
Jadi, kalabendu adalah zaman bencana. Bencana itu sendiri menandakan amarah, murka, dan kutukan. Akarnya, atmosfer amarah yang menyelimuti bumi, sifat dur angkara yang menghuni dada kebanyakan orang.
Pada zaman kalabendu, ya zaman kita ini, di mana pun orang-orang diliputi aura raksasa. Sedikit-sedikit marah. Sebentar-sebentar ngamuk. Agama yang bersendikan kasih sayang pun bisa menyulut api amarah. Atas nama agama, kita ngamuk menyerang saudara sendiri yang seiman.
Seiring dengan itu, bencana alam datang silih berganti. Bencana yang satu belum tuntas tertangani, sudah muncul bencana lain. Terlalu seringnya terjadi bencana, kita jadi terbiasa dengan bencana. Bencana jadi hal yang sehari-hari, lumrah, lazim. Bencana jadi sesuatu yang banal, yang tak menggetarkan hati, menggugah jiwa, dan menunjukkan jalan pencerahan. Bagi sebagian kalangan yang berada jauh dari lokasi bencana, ada bencana atau tidak, sama saja.
Tapi, tidak demikian bagi kalangan lain, para pemancing di air keruh. Bagi mereka, bencana adalah uang. Mereka menjalankan bisnis bencana. Atas nama kemanusiaan, mengemis sumbangan ke setiap penjuru bumi. Sebagian sangat kecil dari sumbangan itu memang menetes kepada korban bencana. Tapi sebagian sangat besarnya, mengalir ke rekening pribadi para pengemis itu.
Kita tak perlu kaget dengan gejala amoral tersebut. Aja gumunan, aja kagetan. Bisnis bencana barangkali umurnya sudah setua sejarah umat manusia. Kita tentu sepakat, kemiskinan adalah bencana. Bencana yang hingga kini belum rampung-rampung ditangani. Bencana yang menunjukkan betapa bodohnya kita, betapa jahatnya kita, juga betapa edannya kita.
Demi menyauk simpati rakyat, pemimpin mana yang tak berjanji bakal membasmi kemiskinan? Tapi, pemimpin mana pula yang tak mengingkari janjinya itu? Mereka yang sinis akan mendefinisikan pemimpin sebagai pendusta. Politik adalah dusta yang dilembagakan, kemunafikan yang dibenarkan.
Agama apa yang tak berpihak pada kaum miskin? Tapi, agamawan mana yang tulus bersahabat dengan dan membela kaum miskin? Kebanyakan agamawan justru memuja harta dan hartawan, merasa jijik dengan kemiskinan dan kaum miskin. Bahkan, mereka tega menjual agama untuk memperoleh sebanyak-banyaknya pundi rupiah.
Itulah ciri ulama Bani Israel pada zaman Nabi sebagaimana digambarkan al-Quran. Bukan Tuhan, tapi dunialah kiblat hati mereka. Ke mana pun wajah menghadap, yang mereka lihat hanya uang. Jangankan kemiskinan dan kaum miskin, ayat-ayat suci pun bagi mereka sangat bernilai dan bermanfaat. Maksudnya, bernilai tukar, sehingga jadi komoditas yang diperjualbelikan. Bermanfaat untuk mengumpulkan harta dan kehormatan dan nama besar.
Bagi mereka, ilmu mereka pun bermanafaat. Maksudnya, bermanfaat untuk memperoleh pekerjaan, pangkat, kedudukan, gelar, status, gengsi. Perjalanan hidup mereka melingkar-lingkar dari hal duniawi ke hal duniawi lainnya. Ibaratnya, keledai yang berjalan melingkar untuk menggerakkan alat pengolah gandum.
Memang, berkenaan dengan ilmu yang mereka miliki, al-Quran mengumpamakan ulama Bani Israel sebagai keledai. Keledai itu memanggul setumpuk buku di punggungnya. Ini mengisyaratkan, ilmu mereka hanya tertulis pada lembaran buku. Mereka diberi al-Kitab, tapi tidak mengamalkannya. Ilmu justru menjauhkan mereka dari cahaya.
Ilmunya menutup mata hati. Akibatnya, mereka tidak bisa melihat kebenaran. Ketertutupan mata hati itulah arti dasar dari kufur. Orang kafir adalah orang yang mata hatinya tertutup sehingga dia tidak tahu, tidak pula bisa membedakan, mana yang benar dan mana yang salah. Semua itu menunjukkan, mereka dikutuk oleh ilmunya sendiri. Karena ilmu itu, mereka mendapat kutukan, amarah, murka, bendu.
Kalangan Bani Israel seperti inilah yang dalam Surat al-Fatihah disebut sebagai orang-orang yang dimurkai, al-maghdhub ‘alaihim. Hati mereka membantu dan terkunci mati. Bagi mereka, agama bukan soal rasa. Agama semata-mata akal. Bukan akal (yang) sehat, tapi akal (yang) sakit. Akal paling rendah. Akal pragmatis.
Prinsip keberagamaan akal pragmatis adalah, kalau menguntungkan bagiku, itulah agama. Kalau merugikan bagiku, bukan agama. Kehendak Tuhan adalah kehendak perutku. Maka, dengan sekehendak perut, ulama Bani Israel menjungkir-balikkan tata syariat: menghalalkan yang haram, mengharamkan yang halal. Mereka pun jadi berparadigma syariat sentris. Syariat atau hukum kudus ditunggangi untuk merebut sebanyak mungkin keuntungan pribadi.
Dengan perilaku sebejat itu, adakah hal yang bisa menghindarkan mereka dari bendu? Mungkin, ada jawaban positif untuk pertanyaan ini. Tapi yang lebih mungkin, adalah jawaban negatif. Mereka berhak menerima bendu.
Ada lagi karakter lain masyarakat Bani Israel. Ini diterangkan dalam Surat Yasin. Mereka tidak bermawas diri. Tidak berkaca pada cermin yang sudah disediakan. Semut di ujung lautan kelihatan. Tapi, gajah di pelupuk mata tak tampak. Bagaikan orang menuding, jari telunjuk mereka mengarah pada orang lain. Tapi, tiga jari menekuk ke belakang, mengarah pada diri sendiri.
Ketika ditimpa bencana dirundung bendu, mereka mencari kambing hitam. Mereka tidak merasa salah dan tidak mau disalahkan. Mereka merasa benar sendiri, pertanda bahwa hati telah membatu dan terkunci mati. Mereka tak kenal lagi hikmah ngundhuh wohing pakarti.
Sebab, bagi mereka, bencana bukan akibat perbuatan tangan sendiri. Bencana melekat pada sang kambing hitam, sang juru eling utusan langit. Sang juru eling sudah mengkritik tradisi yang diwariskan leluhur. Karena itu, bendu pun datang.
Siapakah Bani Israel saat ini? Al-Quran adalah petunjuk (al-huda) dan obat hati (al-syifa’). Dia baru jadi petunjuk, baru jadi obat hati, jika kita menggunakannya sebagai cermin. Kalau mau berkaca pada cermin yang tersedia, kita pun menyaksikan betapa bopengnya wajah sendiri.
Apakah kita mau menerima kebenaran atau tidak, itulah persoalannya. Kalau hati kita membatu dan terkunci mati, mata hati kita pun tertutup. Tidak bisa melihat kebenaran. Bahkan, kebenaran itu kita tampik, sebagaimana Bani Israel pernah menampik kebenaran karasulan Muhammad yang ummy dan orang Arab.

Tanda Kalabendu
Tapi, sungguhkah kita sekarang sedang tertimpa bendu? Apa saat ini kita benar-benar sedang mengalami kalabendu? Ronggawarsita memang memaparkan tanda-tanda zaman kalabendu. Namun, leluhur Jawa lain juga menjelaskannya: yen pasar ilang kumandange, yen kali ilang kedunge; wong lanang ilang perbawane, wong wadhon ilang wirange.
Kita mulai urai maknanya dari kalimat terakhir: wong wadhon ilang wirange. Ada kemungkinan, kata wirang diserap dari bahasa Arab, wira’ atau wara’. Lebih kurang, artinya harga diri, kehormatan, kemuliaan, martabat. Karena itu, wirang juga bermakna malu, identitas perempuan yang seharusnya paling menonjol. Perempuan adalah rasa malu, martabat, kemuliaan, kehormatan, harga diri. Perempuan adalah aurat.
Barangkali karena hal ini, syariat Islam mengharuskan perempuan mengenakan hijab khususnya ketika salat. Hijab itu menutupi seluruh anggota tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Sebabnya, perempuan adalah rasa malu. Wong wadhon menandakan ke-wirang-an.
Dengan kata lain, hakikat wong wadhon adalah wirang. Untuk menjaga wirang itulah, pakaian dikenakan. Khususnya bagi perempuan, fungsi busana adalah sebagai penutup aurat, penanda identitas keperempuanan.
Tapi, nyatanya saat ini fungsi busana telah bergeser. Pakaian dikenakan tidak semata-mata untuk menutup aurat, menjaga ke-wirang-an, atau hifdhzul farji dalam istilah al-Quran. Pakaian adalah life style. Masalahnya, dalam dinamika pasar, life style itu berlari tunggang langgang tiada hentinya. Mode fashion berganti begitu cepat mengejar kecepatan pergerakan moneter. Kini, pakaian tak bisa dipisahkan dari pasar, tak dapat dilepaskan dari uang.
Maka, pakaian pun jadi tanda keduniawian. Seberapa terikatnya seorang perempuan, juga laki-laki, dengan hal duniawi, terbaca pada pakaian yang dikenakan. Pakaian telah jadi tanda ketidak-eling-an kita. Padahal, semestinya pakaian melambangkan ke-eling-an. Kita tentu ingat frasa Quranik libas al-taqwa, pakaian takwa, yang diambil Hamengkubawana I untuk menamai baju tradisional Jawa yang dia desain: baju takwa.
Pada umumnya, sekarang pakaian tak lagi menandakan ketakwaan, ke-eling-an, dan kemuliaan. Pada kebanyakan perempuan, pakaian tak lagi menandakan ke-wirang-an. Justru sebaliknya, pekaian melambangkan ketidak-wirang-an. Itu artinya, pada saat ini, pada zaman pascamodern, kebanyakan perempuan sebenarnya kehilangan rasa malu, entah sedikit entah banyak.
Bagi Anda, lebih-lebih bagi golongan feminis, hasil pembacaan kasunyatan ini barangkali salah. Namun sebaiknya, kita mengembalikan benar salah pada kenyataan, pada fakta. Kalau kenyataan berkata demikian, apa kita bisa menafikannya? Kalau kasunyatan berkata, wong wadhon ilang wirange, apa kita bisa menyangkalnya?
Tanda zaman kalabendu berikutnya adalah, wong lanang ilang perbhawane. Perbhawa atau kewibawaan batin adalah apa yang membuat kepemimpinan jadi efektif. Karena seorang pemimpin lelaki berwibawa, yang dipimpin pun patuh.
Bawahan menghormati pemimpinnya dengan tulus. Dia menjalankan perintah dengan segenap semangat pengabdian. Dia tidak membangkang. Sebab, dia tahu bahwa sang pemimpin senantiasa berada di pihaknya. Sang pemimpin tidak berlaku zalim kepadanya.
Dalam konteks negara, pemimpin itu adalah presiden sedangkan yang dipimpin adalah rakyat. Dalam konteks keluarga, normalnya pemimpin itu adalah suami, yang tentu saja laki-laki. Yang dipimpin pertama-tama adalah istrinya, yang tentu saja perempuan, kemudian anak-anaknya. Kalau tidak punya wibawa di hadapan istri, suami tidak dipatuhi istrinya. Kepemimpin keluarga pun tidak efektif. Bahtera rumah tangga pada akhirnya karam.
Saat ini, betapa banyak jumlah keluarga broken home. Angka pernikahan dini tinggi. Angka perceraian cenderung meningkat. Kriminalitas remaja, bahkan anak-anak, meruyak. Sedihnya, gejala ini tidak hanya terjadi di kota-kota tapi juga di desa-desa.
Masyarakat kita jadi haus kasih sayang, lapar perhatian. Apa ini yang menyebabkan kita gemar ber-selfie, saya tak tahu. Apa karena ini komunikasi media sosial bagi kita lebih penting daripada interaksi nyata, saya juga tak tahu. Tapi saya yakin, rasa haus akan kasih sayang dan rasa lapar akan perhatian berkaitan dengan masyarakat kita yang sekarang suka ngamuk. Sedikit-sedikit marah.
Kita memandang orang lain dengan mata kebencian dan kecurigaan. Kita cenderung tidak percaya pada orang lain. Lihat saja, di kota Yogyakarta, betapa banyak tukang parkir. Di kota Jambi, betapa tertutupnya masjid. Bahkan, masjid pun berpagar. Pagar besi lagi. Setelah isya, pintu dikunci. Sekolah merasa perlu pasang kamera pantau, CCTV. Kita merasa tidak aman. Kita curiga kepada orang lain, bahkan kepada jamaah masjid dan siswa sekolah yang kita didik. Kita memperlakukan orang lain sebagai ancaman.
Dan psikologi kolektif yang negatif itu boleh jadi bermula pada situasi keluarga. Akarnya, suami yang kehilangan wibawa batin. Wong lanang ilang perbhawane. Ternyata, leluhur Jawa begitu canggih berpikir. Mereka meneliti rantai sebab akibat suatu gejala sosial hingga ke akarnya yang terpangkal, tidak berhenti pada analisis lapis permukaan.
Kecanggihan berpikir leluhur Jawa juga tampak pada penjelasan mereka tentang tanda zaman kalabendu lain: kali ilang kedunge, sungai hilang sumber mata airnya. Dalam budaya Sunda, ada peribahasa mun kiruh tigiring, komo ka halirna. Kalau keruh air di hilir sungai, lebih keruh lagi di hilirnya. Hulu, sumber mata air, melambangkan pemimpin. Hilir menyimbolkan rakyat. Jika pemimpin tak beres, rakyatnya lebih tak beres lagi. Krisis sosial mencerminkan krisis kepemimpinan.
Kali, dalam kalimat kali ilang kedunge, dapat disamakan dengan hilir. Kedung adalah hulu. Kali adalah rakyat. Kedung adalah pemimpin. Kali ilang kedunge menggambarkan situasi ketika masyarakat kehilangan kepemimpinan, ketika rakyat tidak punya pemimpin sejati.
Yang tampil di panggung politik adalah para pemimpin yang mahir main akrobat pencitraan. Tebar pesona untuk menangguk trust dan popularitas. Janjinya diingkari sendiri. Kebijakannya zalim. Politik hanya dimengerti sebagai jurus untuk merebut dan mengelola kekuasaan. Juga untuk mengumpulkan kekayaan. Politik jadi semata-mata bernilai duniawi. Tidak diterangi cahaya hikmah, pelita hikmat kebijaksanaan. Kali ilang kedunge.
Tanda zaman kalabendu keempat: pasar ilang kumandange. Mengapa pasar ilang kumandange? Bukankah hal itu tidak mungkin terjadi? Pasar senantiasa ramai. Hiruk-pikuk. Kumandangnya terdengar hingga jauh. Bila pasar ilang kumandange, tentu bukan pasar lagi. Tidak mungkin pasar sepi seperti kuburan.
Pasemon ini tidak hanya mengisyaratkan kematian pasar tradisional karena kalah bersaing dengan pasar modern dan pasar moneter. Pada era kapitalisme lanjut, pasar mengalami ekstensifikasi seluas-luasnya. Pasar berekspansi sejauh-jauhnya bahkan hingga ke ranah paling privat dan paling personal. Pada Hari Valentin, biasanya mal dan media massa berdagang komoditas cinta.
Selain cinta, religiositas pun telah dikuasai dan dijajah pasar. Secara terang-terangan, agama diperdagangkan. Muncul generasi ulama, yang kini lazim kita sebut ustadz, yang mematok harga tinggi sekali untuk ceramahnya.
Bahkan, ada ustadz yang hilir mudik mengemis sedekah. Bermunculan pula lembaga zakat non-pemerintah. Sebagian amil zakat privat bertampang profesional ini memanfaatkan kemiskinan dan syariat untuk cari uang. Cerita tentang takmir masjid yang sibuk sebar proposal, sudah klise.
Sekarang, tidak ada satu ranah kehidupan pun yang terbebas dari logika pasar. Sekolah dan madrasah adalah pasar. Rumah sakit adalah pasar. Panti asuhan adalah pasar. Masjid adalah pasar. Semuanya jadi pasar, tempat jual beli. Ketika semua ranah kehidupan jadi pasar, apa kita mendengar kumandang pasar? Jangankan kumandangnya, seringkali bahkan kita tak sadar sedang berada di pasar, sedang berpikir untung rugi, sedang bertindak dengan paradigma ekonomistik.
Bandingkan saja, apa kita mendengar suara ultrasonik yang amat sangat keras itu? Saking kerasnya suara, sampai-sampai kita tak mendengarnya. Bandingkan lagi, apa kita dapat melihat sinar matari tengah hari? Saking terangnya sinar, sampai-sampai mata kita tak dapat menangkapnya. Saking luasnya pasar, saking kerasnya hiruk-pikuk pasar, sampai-sampai kita tak mendengar kumandangnya. Pasar ilang kumandange. Sebab, semua telah jadi pasar. Segala hal adalah pasar.

Menuju Kalasuba
Jadi, apa kita sedang mengalami zaman kalabendu? Anda sudah tahu jawabannya. Masalahnya sekarang, bagaimana seharusnya kita menyikapi zaman kalabendu? Bagaimana agar kewarasan kita tetap terpelihara pada zaman edan ini?
Leluhur Jawa menyambung penjelasannya tentang zaman kalabendu: enggal-enggal tapa lelana, njajah desa milang kori. Jika datang kalabendu, segeralah bertapa kelana. Menjelajahi desa dan menghitung pintu rumah.
Apakah tujuan tapa kelana? Imam al-Ghazali ternyata memberikan jawaban. Tujuan tapa kelana, yang dalam literatur sufisme disebut safar, adalah untuk mencari hikmah yang hilang tergerus zaman, menemukan hakikat yang rucat dari syariat, mengejar makna yang meninggalkan wadah simbolisnya.
Sederhananya, tujuan tapa kelana adalah untuk mengobati hati, meruwat diri sendiri. Hati jadi sakit karena terinveksi virus zaman kalabendu, pascamodern, kapitalisme lanjut. Karena itu, hati perlu segera diobati, perlu secepatnya diruwat, supaya segera sembuh dan tak mengeras, membantu, akhirnya terkunci mati. Obat hati banyak. Salah satunya tapa kelana.
Saat bertapa kelana, kita menjelajahi desa, menghitung pintu rumah. Pasemon ini bisa dimaknai sebagai silaturahmi dari rumah ke rumah, dari desa ke desa. Tapi, saya kira maknanya lebih dalam dari itu.
Desa mawa cara, negara mawa tata. Begitu petuah para sesepuh Jawa. Di luar sana, ada banyak kebudayaan, aneka hikmah. Cara satu desa dengan desa lain berbeda. Tatanan satu kota dengan kota lain tidak sama. Tradisi kampung ini dan kampung itu lain. Adat masyarakat ini dan masyarakat itu pun lain.
Berapa banyak desa, sebanyak itulah cara. Berapa banyak kota, sebanyak itulah tatanan. Masing-masing desa, setiap kota, punya rahasia hikmahnya sendiri. Rahasia hikmah itulah yang dicari saat bertapa kelana.
Sebab, apa yang hilang pada zaman kalabendu pada dasarnya adalah hikmah, yang dilambangkan dengan kumandang pasar, kedung kali, perbhawa wong lanang, dan wirang wong wadhon. Jika dalam tapa kelana, yang tidak harus dilakukan secara fisik tapi bisa juga dijalankan secara intelektual, kita bersabar memungut percik demi percik hikmah, dada kita kelak bakal penuh hikmah.
Al-Quran menyebut orang-orang yang dadanya penuh hikmah, yang senantiasa eling, sebagai ulul albab, penjaga rahasia hati. Rahasia hati itu antara lain hikmah, makna, ilmu. Kearifan hidup, kata Gus Dur. Ronggawarsita, dalam penggalan Serat Sabda Jati yang dikutip pada mukadimah tulisan ini, menyebut ulul albab sebagai wiku. Ibnu ‘Arabi, kemudian al-Jilli, menamainya al-insan al-kamil.
Ahli hikmah secara teguh dan istikamah menggenggam bara api kebenaran. Meski kulit telapak tangan leleh oleh bara, dia tidak mengendurkan genggaman itu, apalagi membukanya. Dia memuji ngesthi sawiji, senantiasa beribadah kepada Yang Maha Esa dengan menghayati makna terdalam tauhid: manunggaling kawula-Gusti. Al-‘abuudah.
Tak putus-putus memandang Ilahi, dia senantiasa eling dalam segala keadaan: berdiri, duduk, berbaring. Segala tindak-tanduknya adalah ibadah. Dia ahli tawakal. Dia tak kenal sedih, tak kenal takut.
Karena itu, dengan sepenuhnya bertumpu pada kebenaran, dia berani galibetan tudang-tuding/anacahken sakehing wong, berjalan kian kemari menuding orang lain, menghitung jumlah orang banyak. Dia berani membuka kedok pencitraan penguasa. Menyingkap dusta para pemimpin. Terhadap kasunyataan, dia berkata apa adanya. Tidak ada yang ditambah atau dikurangi. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Cablaka.
Dari mana keberanian itu datang? Dia telah mengalami puncak pencarian hikmah. Telah sungguh-sungguh menghayati bahwa pada asal kejadiannya manusia adalah tanah yang ditiupkan ke dalamnya ruh Ilahi. Mengapa mesti takut jika ternyata Allah, Tuhan Semesta Raya, lebih dekat daripada urat leher sendiri? Adakah yang mampu mengalahkan-Nya? Manusia memang hanya tanah, tapi tanah yang dilimpahi cahaya Ilahi.
Itulah sebabnya, Ronggawarsita menulis, sang wiku, yang kehadirannya menandai berakhirnya zaman kalabendu, mengenakan sabuk tanah. Pada saatnya, manusia yang semula tanah, bakal jadi tanah lagi. Setiap manusia bakal mati. Dalam perjalan hidup yang sekejap, dunia hanya persinggahan sementara. Dunia tak perlu dikejar mati-matian. Orang yang tak takut mati, apa takut menyatakan kebenaran, takut kepada penguasa zalim?
Karena ketidak-takutannya dalam menyatakan kebenaran dan mengkritik kekuasaan itu, sang penguasa, juga mayoritas orang yang telah tenggelam dalam pesona dan nikmat pasar, menganggap sang wiku sebagai orang gila, majnun. Dia gila dalam pandangan manusia. Tapi di langit, namanya harum. Seungguhnya sang wiku berjiwa sehat.
Apakah sang wiku, yang hanya seorang diri ini, benar-benar dapat mengantar kita dari zaman kalabendu menuju zaman kalasuba? Betapa pun juga, sastra adalah pasemon atau simbol, termasuk sastra Jawa. Sastra mengandung berlapis-lapis makna. Sang wiku barangkali simbol pencerahan kolektif.
Bahwa pencerahan kolektif itulah yang menandai peralihan zaman kalabendu ke kalasuba, secara tersirat dinyatakan Ronggawarsita dalam candrasengkala Serat Jaka Lodhang: wiku sapta ngesthi ratu. Tafsirnya, 1877 Saka. Angka tahun ini biasanya di-gathuk-kan dengan 1946 Masehi, satu tahun setelah kemerdekaan Indonesia.
Terjemahan candrasengkala itu lebih kurang adalah, tujuh pendeta jadi pemimpin. Ternyata, tidak hanya satu, tapi ada tujuh wiku yang akan menahkodai bahtera peralihan zaman. Apa makna tujuh di situ? Apakah mengisyaratkan jumlah tujuh orang?
Tampaknya, makna tujuh tidak sesederhana itu. Tujuh, dalam budaya Jawa, juga dalam tradisi Islam, adalah bilangan istimewa. Lebih dari sekadar menunjuk pada jumlah tujuh, kata tujuh melambangkan kejamakan.
Wiku sapta ngesthi ratu kiranya bermakna pencerahan kolektif, katakanlah semacam renaissance spiritual dan budaya. Terang saja, ketika renaissance seperti ini terjadi, kalabendu tentu bakal segera jadi masa lampau.
Waktu bakal segera bergulir menuju kalasuba, zaman ketika orang kecil tak lagi sengsara. Mereka tertawa gembira. Sebab, sandang pangan tercukupi. Segala harapan politik dan ekonomi pun terwujud. Krisis ekonomi, politik, sosial, dan budaya, berakhir. Tentang zaman kalasuba ini, Ronggawarsita menambah keterangan lain.

Sengkalane maksih nunggal jamanipun
neng sakjroning madya akhir
wiku sapta ngesthi ratu
ngadil parimarmeng dasih
ing kono karsaning manon.

Tinemune wong ngantuk anemu kethuk
malenuk samargi-margi
marmane bungah kang nemu
marga jroning kethuk isi
kencana sasotya abyor.

Terjemahan Simuh (1988), dengan beberapa penyesuaian, atas penggalan Serat Jaka Lodhang itu adalah sebagai berikut. Ciri waktu pada zaman itu, yakni pada zaman pertengahan akhir, muncul wiku sapta ngesthi ratu. Itulah masa keadilan dan kemakmuran yang merata. Demikian kehendak Tuhan. Waktu itu, orang yang sedang mengantuk pun, sambil duduk-duduk saja menemukan kethuk (benda). Kethuk itu terdapat di sepanjang jalan. Orang yang mendapatkannya, bersuka cita. Sebab, di dalamnya ada permata gemerlapan.
Pendek kata, kalasuba adalah antitesis kalabendu. Kesengsaraan kalabendu berganti jadi kesejahteraan kalasuba. Dulu serasa dikutuk. Kini dianugerahi rahmat dan nikmat berlimpah. Zaman kalabendu diselimuti atmosfer amarah. Pada zaman kalasuba, menyebar wangi kasih sayang.
Rantai bencana alam terputus. Politik dan hukum kembali manunggal dengan etika. Ulama jadi pewaris para nabi. Ilmunya bermanfaat. Pasar kembali terdengar kumandangnya. Kali menemukan kedung-nya yang pernah hilang. Lelaki punya kewibawaan batin. Perempuan teguh menjaga wiring-nya.

Kalasuba Pribadi
Kita tak tahu kapan pastinya zaman emas itu tiba. Kita juga tak bisa menerka-nerka kapan ajal kalabendu datang. Sebelum kemerdekaan, kita pernah merasa sedang mengalami kalabendu. Manakala kemerdekaan diproklamasikan, kita pernah merasa yakin bahwa kalabendu telah usai, kalasuba telah menghampiri. Tapi, kemudian kita kecewa. Terbenam kembali dalam liang gelap pesimisme. Rupanya, kalabendu belum berakhir. Begitu kita menyimpulkan.
Sebelum reformasi, kita pun pernah merasa hidup pada zaman kalabendu. Manakala Orde Baru tumbang, kita merasa yakin sedang berdiri di depan gerbang kalasuba. Nyatanya, justru setelah reformasi, berbagai macam bendu berdatangan, seakan menyerbu dari seluruh penjuru.
Kini, kita merasa perlu membaca kembali karya Ronggawarsita. Untuk sekadar membaca tanda-tanda zaman. Untuk merumuskan sikap terbaik merespons kalabendu. Untuk menjaga nyala api optimisme dan harapan yang hampir padam. Atau, untuk mencari jalan keluar dari labirin kalabendu.
Meski pernah berkali-kali, pada berbagai kurun berbeda, membaca tanda-tanda zaman dengan hasil yang meleset, tampaknya kita tak bisa mengelak dari kepastian tanda-tanda zaman saat ini. Kenyataan menunjukkan, kita sedang mengalami kalabendu. Kalasuba terasa bagai mimpi yang jauh.
Sang wiku majnun yang bersabuk tanah, belum tampil. Tujuh wiku yang memimpin masyarakat pun, belum terlihat. Maka, kita butuh renaissance. Kita perlu bertapa kelana. Menjelajahi desa demi desa. Menghitung pintu rumah satu demi satu. Bersegara, tapi dengan sabar dan istikamah, memungut puing-puing hikmah yang berserakan di mana-mana. Lalu, hikmah-hikmah itu diramu sebagai obat hati.
Kita harus bertapa kelana untuk mengumpulkan air hikmah dari tujuh sumur. Air suci itu, tirta itu, lalu kita gunakan untuk membersihkan diri dari najis dan hadats dan janabah kalabendu. Untuk meruwat raksasa yang mendekam dalam dada. Untuk mengikis sifat dur angkara pribadi.
Jika sepanjang hayat tak berjumpa zaman kalasuba, minimal kita mengalami kalasuba pribadi. Saya pikir, itulah yang pertama-tama dikehendaki Ronggawarsita, jawaban mengapa dia menulis Suluk Saloka Jiwa, Suluk Suksma Lelana, Serat Pamoring Kawula-Gusti, dan Wirid Hidayat Jati.
Ronggawarsita ingin kalasuba terbit dan kalabendu terbenam. Tapi dia lebih ingin, kita secara pribadi mengalami kematian dalam kehidupan dan kehidupan dalam kematian, mati sakjroning urip dan urip sakjroning mati. Dia bermaksud menuntun kita menuju jalan lurus, membimbing kita menemukan hidayah. Kepada kita, Ronggawarsita membentangkan rute yang mesti ditempuh untuk menjemput fajar kalasuba pribadi.
Setelah mengalami kalasuba pribadi, ketika mencapai martabat ulul albab, kita tak (lagi) jadi sumber bendu. Setelah menjalani ruwatan, kita tak (lagi) jadi raksasa bagi yang lain. Sebagai penyalur rahmat dan penyebar salam, kita pun bisa dengan jujur berujar: rahayu, rahayu, rahayu….


Bumi Mataram, 27 Ramadan 1437 H

Sebab Semua Wajah Belum Tersenyum


ALI bin Abi Thalib pernah pernah diberi Baginda Rasul pakaian yang bahannya bercampur sutra. Dia kemudian menghadap Baginda Rasul dengan mengenakan pakaian tersebut. Baginda Rasul tampak marah. Ali lalu pulang, melepaskan pakaian itu, dan menghadiahkannya kepada istrinya.
Dalam kitab haditsnya masing-masing, Imam Bukhari dan Muslim merekam kisah kecil tersebut, kisah tentang haramnya sutra bagi muslim lelaki. Sedemikian keras pengharaman itu hingga Baginda Rasul pasang wajah marah ketika melihat Ali mengenakan baju yang bahannya bercampur sutra.
Selain sutra, muslim lelaki pun dilarang memakai perhiasan emas dan perak. Sehubungan dengan hal ini, ada larangan lain. Tidak khusus bagi muslim lelaki saja. Umum sifatnya. Setiap muslim, baik lelaki maupun perempuan, dilarang makan dan minum dengan piring dan gelas dari emas atau perak. Menyimpan air dalam gentong emas atau perak pun dilarang. Demikian pula berwudu dengan kendi emas atau perak.
Sebuah hadits memberikan jawaban eskatologis mengapa hal itu dilarang. Gentong dan kendi emas merupakan perkakas rumah tangga sehari-hari muslim di akhirat kelak. Yang memakainya di dunia ini hanyalah mereka yang tergolong bukan muslim.
Adakah alasan lain? Muslim yang sungguh-sungguh percaya akan adanya akhirat, tentu memandang kehidupan dunia ini dengan kacamata akhirat. Dibandingkan akhirat, umur dunia tidak ada artinya. Dibandingkan akhirat, kesenangan, kenikmatan, dan kekayaan dunia pun tak berarti. Dunia hanyalah seujung kuku akhirat.
Lagipula, akhirat adalah kekekalan, sedangkan dunia adalah kesemantaraan belaka. Dunia bukan tempat bagi keabadian. Apa pun yang ada di atas bumi pasti akan sirna. Semula tidak ada, sekarang ada, nanti kembali tidak ada.
Semula kita lahir dalam kondisi fakir. Tanpa makanan. Tanpa pakaian. Tanpa rumah. Sekarang kita kaya raya. Paling tidak, sekarang kita memiliki sesuatu untuk dimakan hari ini, untuk menutupi tubuh dan memuliakan diri, dan untuk berteduh. Nanti, ketika ajal datang, kita kembali fakir. Ke liang kubur, kita tak membawa harta. Tak membawa rumah. Tak membawa makanan. Bahkan tak juga membawa pakaian yang sekarang melekat di badan.
Harta yang selama hidup kita kumpulkan dengan cucuran keringat bakal ditinggalkan di dunia. Lantas, mengapa pula kita perlu memamerkan dan membanggakannya? Mengapa kita perlu menebar benih sedih dan dengki dan benci di hati orang lain, lebih-lebih di hati mereka yang tak berpunya?
Berbangga atas harta, juga memamerkannya, sebenarnya adalah tindakan bodoh, adat istiadat jahiliah. Secara personal, tindakan itu berbahaya. Bisa melahirkan dan mengundang musuh. Secara sosial, berpotensi merusak, berkemungkinan menimbulkan ifsad fi al-ardh, kerusakan di muka bumi.
Konflik sosial seringkali bermula dari cinta dunia, bangga harta, pamer kekayaan. Hal ini kemudian menyalakan api dengki dan benci dalam dada kaum miskin. Saya yakin, begitulah logika kultural di belakang kerusuhan Mei 1998, juga kerusuhan anti-Cina lain di Indonesia. Begitu pulalah latar belakang kultural perang anti-Yahudi dalam sejarah Eropa.
Islam tidak menghendaki konflik sosial semacam itu. Islam sejatinya agama kasih sayang. Visi politik Islam adalah penataan masyarakat. Hamemayu hayuning bawana. Karena masyarakat tersusun oleh individu-individu, penataan masyarakat itu harus dimulai dari pendidikan, pembangunan budi pekerti, atau character building.
Sendi ketertiban masyarakat adalah akhlak mulia semua anggota masyarakat. Sementara itu, sendi akhlak adalah iman, terutama iman akan adanya Allah yang Esa dan iman akan adanya hari akhirat. Fungsi rukun Islam, sejak syahadat hingga naik haji, salah satunya terletak dalam kerangka character building ini. Ibadah senantiasa berkaitan dengan moral.
Fungsi sosial salat adalah untuk menjauhkan pelaku salat dari segala tindakan keji dan mungkar. Suradira jayaningrat lebur dening pangastuti. Salat memadamkan api angkara murka yang berkobar-kobar dalam dada. Baginda Rasul mengibaratkan salat seperti mandi. Setiap hari, seorang muslim menegakkan salat wajib lima kali sehari. Dia mandi lima kali sehari dengan air sungai yang mengalir. Mandi membersihkan tubuh dari kotoran. Salat membersihkan kita dari dosa. Membersihkan hati dari najis ruhani atau penyakit hati.
Fungsi sosial puasa berakar pada fungsi psikologisnya: olah rasa. Semakin banyak berpuasa, mestinya rasa empati kita semakin tinggi. Kita jadi gampang dan terbiasa ber-tepo seliro dengan orang lain. Kita jadi bisa merasakan, tidak sedikit-sedikit merasa bisa. Iso rumangsa, ora rumangsa iso. Rendah hati, andap asor. Tidak sok, ora dumeh. Tidak adigang adigung adiguna.
Kalau kita pintar, kita berempati dengan orang lain yang belum pintar. Kalau kita sukses, kita berempati dengan orang lain yang gagal. Kalau kita kaya, kita berempati dengan orang lain yang miskin. Kalau kita pejabat, kita berempati dengan orang lain yang hanya rakyat jelata. Kalau kita dihormati, kita berempati dengan orang lain yang dicampakkan dan dilupakan. Kalau kita kenyang, kita berempati dengan orang lain yang lapar.
Saat kenyang, kita ingat orang lain yang lapar. Saat berpakaian, kita ingat orang lain yang telanjang. Saat tinggal nyaman dalam rumah, kita ingat orang lain yang hidup menggelandang berlantai bumi berpayung langit. Saat sehat, kita ingat orang lain yang sakit. Saat bahagia, kita ingat orang lain yang bersedih. Saat berilmu, kita ingat orang lain yang awam. Saat berparas rupawan, kita ingat orang lain yang tidak berwajah elok. Saat jadi pemimpin, kita ingat orang lain yang dipimpin. Saat kaya, kita ingat orang lain yang miskin.
Karena itu, inti pesan puasa sebenarnya sederhana: hidup sederhana. Prasojo lan sakmadyo. Tidak mengumbar nafsu. Mengendalikan keinginan. Rumah sederhana. Pakaian sederhana. Makanan sederhana. Kendaraan sederhana. Tutur kata pun sederhana. Tidak ndakik-ndakik dan njelimet-njelimet.
Dengan gaya hidup sederhana itu, kita lebih berpotensi selamat tidak hanya di akhirat, tetapi juga di dunia. Terwujudlah damai di hati demi damai di bumi. Buah sosial dari gaya hidup sederhana adalah tertib dan damainya masyarakat.
Untuk mengajarkan gaya hidup sederhana, Baginda Rasul melarang muslim lelaki mengenakan pakaian sutra dan perhiasan emas perak. Beliau juga melarang kita, baik lelaki maupun perempuan, menggunakan perkakas rumah tangga dari emas perak. Selain itu, kaum lelaki dilarang mengenakan celana yang panjangnya melewati mata kaki.
Dan Baginda Rasul sendiri tidak hanya melarang-larang saja. Sebagai teladan bagi umatnya, beliau hidup dengan sederhana. Gaya hidup sederhana adalah sunah Nabi. Karena gaya hidup sederhana harusnya lahir dari tepo seliro, tepo seliro artinya sunah Nabi juga.
Dalam sebuah hadits, Baginda Rasul pernah menegaskan, takwa itu di sini, sambil menunjuk dadanya tiga kali. Maksudnya, takwa tempatnya di hati, agama sebetulnya soal rasa. Takwa berkaitan dengan kasih. Islam adalah agama cinta, rahmat bagi semesta. Dalam hadits tersebut, beliau juga melarang setiap muslim mengusik darah, harta, dan harga diri muslim lain. Itu artinya, tepo seliro adalah makna sosial takwa.
Itulah sebabnya, zakat dan sedekah jadi tanda kebertakwaan, juga keberimanan, seorang muslim. Jika memperoleh rezeki lebih, kita ingat orang yang rezekinya seret. Jika kaya, kita ingat saudara kita yang miskin. Seandainya saya tidak kaya seperti ini, tapi miskin seperti mereka, apa yang saya rasakan, pikirkan, dan lakukan? Kalau saya memamerkan kekayaan saya di depan mereka, apa yang mereka rasakan? Setelah berempati dengan kaum miskin, orang yang kaya, paling tidak yang dikaruniai rezeki yang lebih dari cukup untuk makan hari ini, membayar zakat. Jika punya harta berlebih, dia dianjurkan bersedekah.
Puncak dari pendidikan tepo seliro dalam Islam adalah naik haji. Saat berhaji, seorang muslim bertemu dengan berkumpul dengan muslim lain dari segenap penjuru bumi. Dia berjumpa dengan orang dari berbagai lapisan, hierarki, dan golongan sosial.
Karena itu, haji seharusnya memperluas jangkauan tepo seliro-nya. Sebelum berhaji, jangkauan tepo seliro-nya hanya seluas keluarga, tetangga, sanak kerabat, teman, kampung, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, dan paling banter negara. Setelah berhaji, harus seluas bumi.
Dengan berhaji, dia merasakan makna persaudaraan umat Islam, bahkan persaudaraan seluruh umat manusia. Dia menghayati makna kemanusiaan. Al-Quran menyebutkan, Nabi Ibrahim tidak hanya mengundang orang Islam untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah. Beliau memanggil seluruh umat manusia untuk naik haji. Ini mengisyaratkan, visi sosial Islam memang hamemayu hayuning bawana. Seluruh manusia di bumi ini mau dibangun budi pekertinya. Islam menghendaki ketertiban sosial secara mondial. Damai di bumi sebagai perluasan damai di langit.
Dan semua itu bermula dari pendidikan karakter. Pertama-tama, tepo seliro mesti jadi budaya. Takwa harus jadi adat istiadat sehari-hari. Kita mesti mengikuti sunah Nabi dalam bergaya hidup sederhana. Kaum lelaki tidak mengenakan pakaian sutra dan perhiasan emas perak. Baik kaum lelaki maupun perempuan tidak menggunakan perkakas rumah tangga dari emas perak, apalagi makan dengan piring emas, minum dengan gelas perak.
Biarlah piring emas, gelas perak, dan pakaian sutra dipakai oleh kaum (sok) kaya yang tak punya perasaan. Biarlah busana branded dan kendaraan mewah dibeli, dimiliki, dibanggakan, dan dipamerkan oleh kaum (sok) kaya yang tak punya hati.
Bagi seorang muslim, yang punya hati dan akal, keglamoran dan kemewahan tempatnya di surga. Sebab, di surga tidak ada fakir miskin. Tidak ada duka lara. Tidak ada cemas takut. Tidak ada dengki benci. Semua mulut berucap salaman, salaman. Semua lidah berujar rahayu, rahayu. Semua hati tenteram damai. Semua jiwa rida bahagia. Semua wajah tersenyum bungah.


Bumi Mataram, 5 Syawal 1437 H

26/06/16

Setelah Malam, Datanglah Siang

Malam tidak kekal. Siang pun tidak hadir selamanya. Setalah malam, datang siang. Sesudah siang, tibalah malam. Lanskap langit pun berganti. Senja pergi selangkah demi selangkah. Matari turun panggung. Giliran bulan menampilkan wajahnya yang cantik dan cemerlang. Di sekelilingnya, bertebaran jutaan bintang.
Begitulah al-Quran memberikan amsal cakra manggilingan. Lakon kehidupan bagai roda yang berputar. Yang berada di atas, tidak selamanya di atas. Yang hidup, tidak selamanya hidup. Yang berjaya, tidak selamanya berjaya. Yang kuat, tidak selamanya kuat. Yang pintar, tidak selamanya pintar. Yang cantik, tidak selamanya cantik. Yang kaya, tidak selamanya kaya. Yang muda, tidak selamanya muda. Malam tidak selamanya. Siang tidak selamanya.
Setiap makhluk punya batas akhir. Ajal akan datang. Mati sedang menanti. Maut sedang menunggu. Makhluk tidak mungkin terbebas dari sifat fana. Entah kapan, tapi pasti, makhluk bakal lenyap. Tiada satu pun tersisa, kecuali ruh keabadian. Semua yang ada di muka bumi, pasti sirna. Yang tetap ada, selamanya ada, adalah wajah-Nya.
Kasunyatan tersebut begitu jelas. Begitu tak tarbantah. Juga begitu intim. Tapi pikiran kita sering mengembara terlampau jauh. Keinginan kita sering terbang terlalu tinggi. Akibatnya, kita jadi kelewat berjarak dari kenyataan.
Kenyataan berkata, siapa ada di atas, bakal turun. Tapi kita menyangkal: saya pasti di atas selamanya. Saya akan jadi raja selamanya. Saya akan jadi pejabat selamanya. Saya akan jadi figur terhormat, selamanya. Saya akan menikmati status dan gengsi tinggi, selamanya. Ketika masa demisioner datang, ketika masa pensiun menghampiri, kita pun terhenyak. Ternyata, apa yang selama ini diyakini sebagai kebenaran, hanyalah sangkaan belaka. Raja hanya jabatan sementara. Presiden, gubernur, bupati, camat, lurah, juga hanya peran sosial sementara. Setelah seorang raja turun, dia digantikan raja selanjutnya. Setelah siang berlalu, malam pun hadir. Setelah malam rampung, siang pun memulai jejaknya.
Ibrahim bin Adham, sang guru dari Khurasan itu, pernah ditegur keras oleh Khidr. Waktu itu Ibrahim menjabat sebagai raja Balkh. Seorang musafir, entah dari penjuri bumi mana, sekonyong-konyong masuk istana, langsung menghampiri Ibrahim yang sedang duduk di singgasana. Pakaiannya serba sederhana. Dekil dan kotor.
“Hai musafir,” tanya sang raja “apa keperluanmu datang ke istanaku?”
Tamu gelandangan itu menjawab, “Hamba butuh tempat istirah. Hamba ingin menginap di sini, Yang Mulia. Sebentar saja. Barang semalam dua malam.”
Ibrahim panas. Wajahnya memerah. “Kaukira istanaku ini penginapan?”
“Lho, bukannya memang demikian, Paduka? Bolehkah hamba bertanya?”
“Apa yang hendak kautanyakan?”
“Sebelum Paduka, siapa yang bersemayam di singgasana yang sedang Paduka duduki itu?”
“Ayahku.”
“Sebelum ayahanda Paduka?”
“Kakekku. Itu sudah jelas.”
“Sebelum kakenda Paduka?”
“Buyutku.”
“Lantas, apa bedanya singgasana Paduka itu dengan ranjang penginapan? Apa bedanya istana ini dengan hotel? Apa bedanya, Paduka? Apa bedanya?”
Ibrahim terdiam, seketika termenung. Air matanya mengaliri pipi. Dia baru ingat, raja hanya jabatan sementara. Hidupnya akan khatam di liang lahat. Kemudian, anaknya dinobatkan sebagai raja baru. Dunia tidak bisa, tidak pula mungkin, jadi sandaran hati. Sebuah tekad pun menyelinap masuk ke dalam dada: mencari Yang Abadi, tonggak kokoh yang tak hanyut diseret arus perguliran siang dan malam.
“Hai musafir, siapa sebenarnya Engkau?” tanya Ibrahim, setelah tenggelam dalam permenungan.
Musafir itu hanya menjawab dengan diam. Lalu pergi meninggalkan Ibrahim. Melangkah keluar dari pintu istana, entah ke penjuru bumi mana. Ditinggalkan begitu saja, Ibrahim kembali tenggelam dalam lautan permenungan. Dia merasa gersang. Dia mengalami kehampaan. Dia berhadapan dengan rentetan pertanyaan oneng: untuk apa kau melakukan semua ini? Apa makna kehidupan ini? Apakah untuk ini kau diciptakan? Siapa engkau? Dari mana dan akan ke mana engkau?
Ibrahim kemudian melepaskan mahkota, juga jubah raja. Mengenakan pakaian rakyat jelata, yang fakir dan gelandangan. Mendermakan seluruh harta. Dia pun mengembara untuk mencari jawaban, mencari makna, mencari hikmah, mencari Yang Abadi. Kota demi kota disinggahi. Gurun demi gurun dilalui. Dari Balkh, dia berjalan hingga ke Mekah, akhirnya hingga ke Siria, tempat ajal menjemputnya dengan lemah lembut. Ibrahim bin Adham, sebagaimana manusia lain, sebagaimana makhluk hidup yang lain, akhirnya mati. Yang hidup, tidak selamanya hidup. Entah kapan, tapi pasti, dia bakal mati. Tiada kehidupan hakiki, kecuali Yang Maha Hidup.
Dalam setiap kematian, kita menyadari kefanaan diri, mengingat Dia Yang Tidak Berajal. Dalam setiap kasunyatan, kita mengenal diri untuk mengenal-Nya. Begitulah seharusnya. Tapi keharusan jelas bukan kenyataan sehari-hari.
Batara Darma pernah menguji putranya, Yudhistira. “Apakah hal yang paling mengherankan di dunia ini?” tanya Batara Darma.
Perlahan, tenang, dan mantap, Yudhistira menjawab, “Hal yang paling mengherankan di dunia ini adalah, setiap hari terjadi kematian. Tapi, orang-orang tidak memikirkannya.” Kematian dianggap peristiwa massal yang biasa, yang tak perlu dipikirkan. Tak perlu dipertanyakan, mengapa kehidupan mesti diakhiri kematian. Tak perlu dipersoalkan, apa yang ada di balik dan di belakang kematian. Hakikat kehidupan yang fana ini, tak perlu dipermasalahkan.
Kebanyakan orang memang bersikap demikian. Tapi Chairil tidak. Dia bukan orang kebanyakan. Setelah neneknya meninggal, hatinya galau bukan kepalang. Dia gelisah, seperti Camus gelisah, seperti Heidegger gelisah. Kehidupan jadi terasa sia-sia. Absurd. Tak terpahami. Mengapa kehidupan mesti berakhir dengan kematian? Apa makna kasunyatan ini? Maka, pada Oktober 1942, Chairil menulis puisi pertamanya. Judulnya Nisan, sebuah ode untuk almarhum neneknya.

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertakhta.

Chairil muda bingung, mengapa kehidupan neneknya, perempuan yang sangat baik itu, mesti berakhir dengan kematian? Dan dia lebih bingung lagi, mengapa neneknya menerima kematian, yang datang tiba-tiba untuk merenggut seluruh kesenangan, dengan segala keridaan? Sejak neneknya meninggal, selama tujuh tahun ke depan, Chairil bergumul dengan jalinan pertanyaan oneng tersebut. Apakah pada akhirnya Chairil menemukan jawaban, kita tak tahu pasti. Sejarah hanya merekam, pada 1949 dia menulis Derai-Derai Cemara.

cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

Chairil akhirnya menyadari dan merasakan, hari memang dan pasti akan jadi malam. Siang hari tidak hadir selamanya. Siang hari ada batasnya. Sesudah siang, tibalah malam. Dahan pohon tidak selamanya kokoh. Pada waktunya, dia akan merapuh, jatuh dipukul angin yang terpendam. Dedaunan yang dulu muda itu pun sekarang mengering kemudian gugur. Dunia ini fana. Setiap makhluk punya ajal. Dan bagi manusia seperti Chairil, ajal itu semakin lama semakin menambah keterasingannya dari cinta sekolah rendah. Kepastian datangnya ajal menyebabkan Chairil tidak dapat mencecap segenap nikmat kesenangan duniawi.
Mengapa ajal datang, mengapa kehidupan berujung pada kematian, tetap tak terjawab. Bagi Chairil, hal itu tetap jadi misteri, tetap tidak diucapkan. Berhadapan dengan kematian, ternyata manusia tidak bisa bersikap lain kecuali menyerah. Bendera putih dikerek naik ke pucuk tiang. Kita pun mengaku kalah, tunduk, menyerah. Kita pun bersyahadat. Taslim, islam, tampaknya satu-satunya jawaban dari misteri kematian, dari problem of evil, dari segenap absurditas kehidupan.
Al-Quran menyatakan, islam adalah agama fitrah, agama yang selaras dengan conditio humana, juga dengan state of nature. Sejak zaman Bapa Adam hingga kiamat kelak, hanya ada satu agama rohani yang dapat kita jadikan pakaian untuk memuliakan pribadi, hanya ada satu agemaning aji, yaitu agama kemenyerahan, kepasrahan, kesumarahan, ketundukan, keridaan. Itulah islam. Islam dalam maknanya yang terdalam dan terdasar ini adalah ruh yang merasuk ke dalam jasad semua agama formal.
Dan dengan jalannya sendiri, bermula dari permenungannya yang intensif akan kematian, Chairil menemukan ruh itu. Dia menemukan makna: hidup hanya menunda kekalahan puncak, sebelum pada akhirnya kita sepenuh-penuhnya menyerah. Misteri kematian mempertemukan Chairil dengan Tuhan. Berhadapan dengan-Nya, Chairil merasa seperti laron yang terbang memburu api lilin, terjun ke dalam api tersebut, lalu terbakar habis di dalamnya. Dalam Doa, Chairil menulis

….
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
….
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling.

Laron telah habis terbakar. Hilang bentuk. Remuk. Fana. Tiada. Nol. Yang ada, satu-satunya yang ada, tinggal kerdip lilin di kelam sunyi. Semua yang ada di muka bumi, pada hakikatnya fana dan pada akhirnya akan sirna sama sekali. Yang ada, tinggal wajah-Nya, tinggal Dia satu-satunya. Ketika laron tiada lagi, api lilin tampak nyata gamblang. Tidak satu pun benda yang menghalangi pandangan mata kita. Ketika Chairil telah merasa hilang bentuk dan remuk di dalam Tuhan, dia tidak bisa berpaling dari-Nya. Dalam kesadaran akan kefanaan itu, disaksikanlah keabadian, Yang Abadi. Charil telah menemukan-Nya. Diam-diam Chairil menyembunyikan rahasia perjumpaan dengan-Nya dalam puisi.
Perjumpaan itu, pengenalan itu, tidak akan terjadi sekiranya Chairil tidak merenungi kematian neneknya. Seandainya dia tidak terheran-heran akan kasunyatan kematian, kita tidak mewarisi puisi-puisi indah gubahan Chairil: Nisan, Derai-Derai Cemara, Doa, yang semuanya adalah gema dari suluk dan munajat yang ditulis para guru pada masa dulu. Juga gema dari pesan Nabi: matilah sebelum engkau mati. Menjadi tiada untuk menyaksikan Sang Ada. Mengenal diri untuk mengenal-Nya. Menyadari kefanaan untuk merasakan keabadian. Merenungi perguliran malam dan siang untuk menguak misteri kehidupan.
Saya kira, inilah rahasianya mengapa Nabi menangis persis setelah dua ayat dari surat Al ‘Imran ini diturunkan menjelang subuh hari, titik waktu antara malam dan siang, momen pergantian malam dan siang.

Sesungguhnya
dalam kesinambungan penciptaan langit dan bumi
dan pergantian malam dan siang
tersembunyi isyarat-isyarat keber-ada-an-Nya
bagi penjaga rahasia hati

yaitu orang-orang yang mengingat Allah
ketika berdiri, ketika duduk, ketika berbaring
dan merenungkan misteri
kesinambungan penciptaan langit dan bumi
sehingga bermunajat mereka:
O, Tuhan kami, tidaklah Engkau
menciptakan semua ini sia-sia
Maha Suci Engkau
lindungi kami dari api neraka

(QS Al ‘Imran: 190-191)

Menerima ayat-ayat sesunyi dan semenggatarkan itu, betapakah Nabi tidak menangis? Mata kita pun, jika menghayati kandungan makna ayat-ayat itu, tentu berkaca-kaca. Pipi terasa hangat. Kita pun tanpa sadar menangis sepuas-puasnya. “Dan karena hidup itu indah,” tulis Sapardi dalam Dalam Diriku “aku menangis sepuas-puasnya”. Barangkali inilah puncak kebahagiaan: keinsyafan akan misteri dan paradoks kehidupan. Dzikir yang tak kunjung putus. Kas(ah)idan jati. Sasahidan, kesaksian akan keber-ada-an-Nya. Kesadaran akan kebermaknaan hidup. Penemuan hikmah bahwa kehidupan nyatanya tidaklah sia-sia, tidaklah absurd.
Datangnya kematian setelah kehidupan, perguliran malam dan siang, cakra manggilingan, semua kasunyatan itu ternyata adalah cara-Nya mengenalkan diri kepada hamba. “Aku,” firman-Nya dalam sebuah hadits suci masyhur “adalah perbendaharaan tersembunyi. Aku cinta untuk dikenal. Secara sinambung, Aku ciptakan makhluk. Dengan-Ku mereka mengenal-Ku.” Rahasia penciptaan adalah pengenalan. Daya penggerak penciptaan adalah cinta. Tujuan penciptaan adalah ibadah.
Sekali lagi, kehidupan tidak sia-sia. Kehidupan tidak absurd. Ada isyarat suci di balik problem of evil. Ada makna yang terpendam jauh di kedalaman simbol. Ada hikmah yang terhampar di semesta raya dan dalam diri kita. Ada kebahagiaan dalam cobaan. Karena itu, kita tak perlu membayangkan bahwa Sisyphus berbahagia. Biarlah Camus terkubur bersama khutbahnya.


Bumi Mataram, malam Senin, 21 Ramadan 1437 H