06/05/19

Membaca The Alchemy of Happiness (1)



AL-GHAZALI mengawali buku The Alchemy of Happiness dengan ajakan untuk merenung. Sebagai makhluk, apakah manusia diciptakan secara iseng, kebetulan, dan tanpa tujuan tertentu? Sesungguhnya, apa makna hidup ini? Hidup ternyata adalah tangga untuk naik ke langit rohani tertinggi. Hidup adalah jalur pendakian yang harus ditempuh untuk mencapai puncak gunung spiritual. 
 
Langit rohani tertinggi atau puncak gunung spiritual itulah yang digambarkan sebagai surga. Di sana, manusia menikmati kabahagiaan yang tak palsu, yang tak semu, yang tak sementara, yang tak berakhir pahit padahal pada mulanya manis. Kenikmatan yang dialaminya di surga bukanlah kenikmatan jasmaniah rendahan, melainkan kenikmatan rohaniah yang ultim dan sublim. Di surga, manusia berjumpa dengan Keindahan Abadi (al-Jamil al-Baqi) yang dicarinya dengan susah payah sejak ia dieksiskan.

Secara implisit, al-Ghazali mengisyaratkan bahwa surga lebih dari apa yang selama ini terbayang dalam benak kita. Kita masih membayangkan surga sebagai himpunan puncak-puncak kenikmatan jasmaniah.

Di sana, disediakan bidadari cantik yang siap melayani lelaki gagah tampan. Di sana, berdiri istana-istana emas yang megah, yang di sekitarnya mengalir sungai susu, madu, dan anggur. Di atas sungai-sungai lezat itu, tumbuh pepohonan anggur dan kurma yang amat rindang, yang akarnya di atas dan buahnya menggelantung ke bawah. Penghuni surga duduk santai di atas dipan berkasur sambil menikmati minuman yang dituangkan ke dalam gelas kristal.

Apakah kondisi surga sejasmaniah itu, padahal yang jasmani bersifat fana sedangkan kehidupan surgawi bersifat kekal? Demi tujuan komunikatif, al-Quran memang menggambarkan surga secara demikian. Tapi, sebuah hadis menyatakan, hakikat surga tidak dapat dilihat mata, tidak terjangkau daya pendengaran telinga, dan tidak pernah terlintas dalam pikiran al-basyar (manusia sebagai makhluk biologis).

Surga memang digambarkan secara jasmaniah. Tapi, surga jauh lebih tinggi daripada apa yang sekadar jasmani. Kenikmatan surga adalah kekal. Keindahan surga juga kekal, berbeda dengan keindahan di dunia ini yang sementara. Untuk mencapai keindahan surgawi yang kekal itulah manusia diciptakan. 

Manusia diciptakan tidak untuk terpesona dengan keindahan duniawi, lalu betah hidup di alam dunia dan terikat kepadanya. Alam dunia adalah terminal transit dalam sebuah perjalanan panjang menuju Keabadian dan Kesejatian.

Manusia diciptakan tidak untuk memanjakan dan mengumbar nafsu. Tujuan hidup bukan untuk memburu fasilitas duniawi sebanyak-banyaknya, kemudian menikmati fasilitas fana tersebut sepuas-puasnya. Justru sebaliknya, manusia diciptakan untuk terus-menerus berjuang melawan nafsunya demi mencapai surga, demi tenggelam dalam perenungan akan Keindahan yang kekal.

Al-Ghazali menyebut metode untuk mencapai Keindahan Kekal atau kebahagiaan sejati tersebut sebagai kimiya-us sa’adah, the alchemy of happiness, atau ramuan kimiawi kebahagiaan. Alchemy ini adalah the philosopher’s stone yang secara ajaib mengubah batu dan logam menjadi emas murni, yang secara menakjubkan mengubah tangisan menjadi senyuman, penderitaan menjadi kebahagiaan, kejelekan menjadi keindahan, dan kerendahan budi pekerti menjadi keluhuran akhlak. Bila diringkas sepadat-padatnya, rumus/resep alchemy ini berbunyi: “melepaskan ikatan hati dari yang duniawi dalam rangka berjalan menuju Ilahi”.

Semua manusia, lebih-lebih manusia yang hidup pada zaman kalabendu ini, sesunggunya setiap hari jungkir balik mencari kebahagiaan sejati. Tapi, kenapa kebahagiaan itu belum juga ditemukan? Jawabannya: kita mencari kebahagian bukan di tempat yang seharusnya. Kita mempelajari ilmu kebahagiaan bukan dari sumber yang tepat. Seperti Abu Nawas, kita mencari kunci di luar rumah. Padahal, kunci itu jelas-jelas terjatuh di dalam rumah.

Sumber ilmu kebahagian (kawruh begja) yang tepat adalah para nabi. Sepanjang sejarah, menurut sebuah hadis, telah diturunkan 124 ribu nabi. Tugas mereka adalah mengajarkan kepada umat manusia resep the alchemy of happiness. Mereka membimbing umat manusia dalam perjuangan rohani (mujahadah) mengobati hati dari segala macam penyakit hati. Jihad paling besar bukan perang melawan kaum kafir, melainkan jihad melawan nafsu, yang boleh ditafsirkan sebagai perang melawan kekafiran pribadi. Setelah para nabi pergi, amanat untuk membimbing umat diwariskan kepada para ulama, ahli “hikmah”, filosof sejati, atau bijak bestari.

Tujuan kedatangan para nabi, yang masing-masing risalahnya membangun sebuah identitas keagaman tersendiri, pada dasarnya adalah untuk membahagiakan manusia. Ajaran agama dirancang untuk membuat manusia bahagia. Agama hadir tidak untuk membuat manusia menderita dan kesusahan. Agama ada tidak demi menciptakan permusuhan (‘adawah) dan keonaran (mafsadah). Sebab, dari segi psikologis, substansi semua agama yang dibangun, dijaga, dan dikembangkan para nabi adalah the alchemy of happiness.

The alchemy of happiness tersusun dari empat senyawa kimiawi yang sekaligus merupakan empat kategori ma’rifat (kearifan). Pertama, mengenal jati diri (ma’rifat al-nafs). Pertanyaan dasarnya: siapa manusia itu sebenarnya? Mengapa manusia diciptakan? Apa makna kehidupan dan kematian? Apa tugas manusia saat hidup di alam dunia? Kedua, mengenal Ilahi (ma’rifatullah). Pertanyaan dasarnya: siapa Tuhan itu sesungguhnya? Bagaimana relasi fitri antara manusia dan Tuhan? Ketiga, mengenal hakikat dunia (ma’rifat al-dunya). Sejatinya, apa hakikat dunia yang sekarang kita tinggali ini? Apakah dunia menyuguhkan kesejatian dan keabadian? Keempat, mengenal hakikat akhirat (ma’rifat al-akhirah). Apakah alam akhirat itu dan bagaimana sifat-sifatnya jika dibandingkan dengan alam dunia? Mengapa akhirat perlu ada?

Apakah Anda sudah lelah dengan kesedihan yang seakan tak berujung? Apakah Anda sudah letih dengan perasaan menderita yang tak henti-hentinya merundung? Apakah Anda menginginkan kebahagiaan? Kalau Anda juga mencari kebahagiaan, sebagaimana saya, marilah kita membaca buku The Alchemy of Happiness karya al-Ghazali lebih lanjut. Marilah kita menjelajahi gagasan, tuntunan, dan nasihat sang ulama lebih jauh.


NB: Saat saya mulai menulis catatan tentang The Alchemy of Happiness ini, kebetulan K.H. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) juga sedang mengadakan pengajian pasanan yang membedah kitab Kimiya-us Sa’adah. Jika Anda ingin mendalami kitab bagus dan penting ini, silakan buka YouTube untuk menonton video pengajian tersebut di Channel Gus Mus. Gus Mus adalah ahli yang memiliki otoritas, baik kerohanian maupun keilmuan, untuk menguraikan isi kitab tersebut. Sementara itu, saya hanya awam yang bodoh tetapi sok pamer wawasan tentang isi kitab The Alchemy of Happiness.

06/05/17

JALAN CINTA SUNAN BONANG




Maka tempuhlah jalan-jalan (menuju) Tuhan yang dimudahkan
—sebuah penggalan ayat dalam kitab suci—

“Kau,” kata seseorang kepada sahabatnya, “harus menyesal karena belum pernah mendaki gunung.”
Si sahabat menanggapi pernyataan tersebut dengan pertanyaan, “Mengapa aku harus menyesal?”
“Alasannya ada dua. Pertama, kalau kau belum pernah mendaki gunung, kau tidak akan merasakan betapa menuruni gunung—setelah kau mendakinya dengan menguras sekian besar energi dan memeras sekian banyak keringat—terasa mudah, ringan, dan lekas. Seakan-akan jarak dilipat dan waktu disingkat. Rasanya, baru saja kau berada di puncak, tiba-tiba sudah sampai di kaki gunung. Jalan turun gunung jauh lebih mudah daripada jalan pendakiannya.”
“Alasan pertama menarik juga. Lantas, apa alasan kedua?”
“Alasan kedua, jalur turun gunung, sebagaimana jalur dakinya, tidak hanya satu. Untuk mencapai puncak, sebenarnya kita bisa mulai mendaki dari sisi kaki gunung mana saja. Kita bisa mendaki menempuh jalur yang sudah dibuka dan sering dilalui. Tapi, terbuka pula kemungkinan untuk menempuh jalur yang belum lagi ditemukan. Catatannya, jalur itu akan aman menurut perhitungan kita. Catatan selanjutnya, kita memiliki keberanian, pengetahuan, kehendak, dan keyakinan yang cukup untuk menempuh jalur baru tersebut.”
“Ya, ya. Alasan kedua juga menarik. Tapi nanti dulu, Kawan. Mengapa kau yakin bahwa aku akan menyesal karena tidak mengetahui hal itu, bahwa aku pun akan menyesal karena tidak pernah mendaki gunung?”
“Rahasianya akan aku ungkapkan. Hal yang baru saja kujelaskan adalah metafora kecil tentang hidup beragama. Agama adalah jalan untuk mengenal Tuhan. Agama adalah cara untuk berjumpa dengan-Nya. Agama adalah wujud kerinduan terpendam manusia untuk pulang ke pangkuan-Nya.”
“Kawan, kita sering lupa. Kita sering lupa bahwa jalan untuk mengenal Tuhan tidak hanya satu. Ada banyak sekali jalan untuk mengenal-Nya, sebagaimana ada banyak sekali jalan untuk mendaki sebuah gunung dalam rangka mencapai puncaknya.”
“Untuk mencapai puncak gunung spiritual, segolongan manusia menempuh jalur pendakian yang sudah ada dan sudah pernah dilalui. Bahkan, peta jalur pendakian pun sudah dibuat dan dicetak massal. Rambu-rambu sepanjang jalur sudah dipancangkan dengan tulisan yang jelas. Sudah pula diterangkan oleh penjaga jalur tersebut berbagai bahaya yang bakal ditemui dan kesulitan yang bakal muncul saat pendakian.”
“Karena itu, kebanyakan pendaki mengira, inilah jalur yang paling mudah. Maka, dengan keyakinan yang tinggi, mereka pun menempuh jalur ini. Namun, nyatanya tidak semua pendaki mencapai puncak. Malah ada yang sudah berhenti sebelum sampai di pos pertama. Ada yang berhenti di pos kedua, pos ketiga, atau pos keempat, sehinga mereka tidak sampai di puncak. Bahkan, ada yang tersesat karena tidak mengindahkan peta dan rambu. Ada yang terpeleset di tepi jurang sehingga jatuh dan meninggal. Ada yang entah bagaimana hilang selamanya bagai tertelan rimba gunung yang senantiasa misterius.”
“Apa kaitan jalur pendakian yang mudah tersebut dengan hidup beragama kita? Aku belum menangkap makna kata-katamu.”
“Kawan, jangan tergesa-gesa. Sabarlah dalam menyimak penjelasanku. Jalur pendakian yang mudah menuju puncak gunung spiritual ini dalam agama Islam disebut sebagai syariat. Syariat adalah salah satu jalan—ingat, hanya salah satu jalan, bukan satu-satunya jalan—untuk mengenal Tuhan. Kelebihan syariat dibandingkan jalan lain untuk mengenal Tuhan adalah kemudahannya. Jalan syariat sudah sedemikian jelas. Peta sudah lengkap. Rambu sudah lengkap. Informasi tentang bahaya dan kesulitan sewaktu mendaki pun sudah lengkap. Tapi Kawan, satu hal hingga kini masih membuatku ngungun terheran-heran.”
“Mengapa kau terheran-heran?”
“Walaupun merupakan jalan mudah untuk mengenal Tuhan, nyatanya tidak setiap individu dalam umat Islam mengenal siapa Tuhannya. Saksikanlah perilaku keseharian mereka. Mereka mengaku mengenal Tuhan tetapi mengapa mereka tidak peduli dengan saudaranya yang kelaparan, kehausan, dan telanjang? Mereka mengaku mengenal Tuhan tetapi mengapa mereka masih membanggakan kebesaran, kerupawanan, kepandaian, kekuasaan, kemampuan, dan kekayaan dirinya yang palsu dan fana? Mereka mengaku mengenal Tuhan tetapi mengapa mereka masih menderita karena masa lalu dan sengsara karena masa depan? Mereka mengaku mengenal Tuhan tetapi mengapa mereka menjadi budak keinginan? Mereka mengaku mengenal Tuhan tetapi mengapa mereka tidak menanti-nanti datangnya kematian dan justru malah takut menghadapinya?”
“Bukan bagianku menjawab pertanyaanmu, Kawan. Setelah mendengar ceramah dan gugatanmu, aku baru mengerti. Jalur pendakian umum yang sudah dibuka dan sering dilalui memang mudah. Tapi, sayang sekali, tidak semua pendaki sampai di puncak gunung.”
“Kawan, kau berkata apa tadi? ‘Sayang sekali’? Memang sayang sekali. Tapi, ada yang lebih disayangkan lagi. Ada yang lebih perlu dikasihani lagi, yaitu mereka yang menempuh jalur pendakian yang sulit atau paling sulit.”
“Adakah jalur pendakian seperti itu dalam hidup beragama?”
“Sesungguhnya Kau tidak perlu bertanya demikian karena jawabannya telah terang benderang. Jalur pendakian gunung spiritual yang paling sulit adalah jalur akal. Anehnya, walaupun dalam jalur ini medan yang harus dilalui sungguh berat, jalur ini ternyata ditempuh banyak pendaki. Di antara mereka, hanya sedikit yang berhasil sampai di puncak. Karena kelelahan, kebanyakan pendaki berhenti di pos-pos yang terdapat di sepanjang jalur. Sebagian pendaki lain tersesat karena tidak membawa peta atau karena peta yang dibawa menyesatkan. Rambu-rambu memang dipancangkan tetapi tulisannya rata-rata tidak terbaca dengan jelas. Sebagian pendaki lain mengalami nasib yang amat buruk di mata seorang pendaki. Setelah tersesat, secara tidak sadar mereka keluar dari jalur pendakian, berjalan tanpa tahu arah, dan akhirnya justru kembali ke kaki gunung. Bukan hanya sia-sia, pendakian mereka terhitung merugikan. Itulah pendakian yang bodoh.”
“Kau benar. Pendakian begitu memang benar-benar bodoh.”
“Kawan, maukah Kau kutunjukkan bentuk pendakian yang tidak bodoh?”
“Menjadi orang pintar, siapa yang tidak mau?”
“Jalur syariat yang sudah dibentangkan untuk mencapai puncak gunung spiritual memang jalur yang mudah. Tapi, ada jalur yang jauh lebih mudah?”
“Kau tidak sedang berdusta, bukan?”
“Aku tidak mendapat upah dengan menipumu.”
“Jangan tersinggung, Kawan. Aku tidak bermaksud meragukan Kau. Aku hanya ingin menenggak segelas air kepastian untuk memuaskan akalku yang haus akan kebenaran. Apakah jalur pendakian gunung spiritual yang lebih mudah daripada jalur syariat itu?”
“Jalur turun gunung.”
“Kau hendak mencandaiku?”
“Lidahku menampik canda dan gurau. Yang kumaksud adalah, jalur pendakian ini semudah, seringan, dan selekas jalur turun gunung. Ketika Kau menempuh jalur ini, seakan-akan jarak dilipat dan waktu disingkat.”
“Penjelasanmu semakin membuatku tertarik dan penasaran.”
“Itulah tujuanku mencicil penjelasan. Untuk membuatmu tertarik dan penasaran.”
“Kawan, katakanlah segera. Jangan lagi Kau suruh aku bersabar.”
“Jalur yang begitu mudah, juga begitu beragam dan berwarna ini, ditempuh para lebah. Itulah rahasianya mengapa lebah menghasilkan madu. Lebah mengonsumsi yang terbaik untuk memproduksi yang terbaik dengan cara yang terbaik pula. Dia bekerja dan berjuang untuk menyembuhkan dan memberikan kasih sayang bagi manusia. Siapakah manusia bagi lebah? Dialah makhluk yang menghancurkan rumah lebah untuk mengambil madunya. Pada lebah, bukan hanya madunya, sengatannya pun adalah obat. Lebah menyakiti untuk menyembuhkan.”
“Mengagumkan.”
“Kekagumanmu kepada lebah adalah wajar. Tapi, Kau lebih wajar untuk kagum kepada yang menciptakan lebah. Seperti halnya binatang lain, lebah tidak berakal. Sungguh pun demikian, masyarakat lebah jauh lebih baik daripada masyarakat makhluk berakal yang disebut manusia? Ironi kenyataan ini sungguh mengagumkan. Siapakah yang merancangnya?”
“Aku kagum dengan lebah. Kagum dengan ironi kenyataan. Kagum pula dengan pencipta lebah dan perancang ironi kenyataan. Namun Kawan, aku tak kagum dengan caramu menjelaskan. Kau bertele-tele. Kau terlalu banyak bicara tentang keajaiban lebah. Kau telah melupakan tujuanmu semula untuk memaparkan kepadaku jalan mengenal Tuhan yang mudah, ringan, dan lekas?”
“Aku tidak sedang bertele-tele. Aku pun tidak sedang banyak bicara tentang lebah. Setelah mengenal lebah, Kau mengaguminya. Kemudian, Kau pun  mengenal dan mengagumi penciptanya. Inilah jalan yang kumaksud. Inilah jalur pendakian menuju puncak gunung spiritual yang mudah, ringan, dan lekas. Semudah, seringan, dan selekas jalur turun gunung. Apabila Kau menempuh jalur ini, jarak yang memisahkan Kau dengan Tuhan seakan dilipat. Waktu tempuhmu pun disingkat. Jalur pendakian ini banyak jumlahnya, sebanyak jumlah ciptaan. Seluruh ciptaan adalah tanda keberadaan dan isyarat kehadiran-Nya. Seluruh ciptaan adalah bayangan-Nya. Ke arah mana pun Kau memandang, di situ tampak wajah-Nya.”
“Kata-katamu membuat lidahku kaku.”
“Kawan, kata-kataku janganlah membuat lidahmu kaku. Jangan Kau kakukan lidahmu hanya karena kata-kataku. Kakukanlah lidahmu manakala dengan mata hatimu Kau saksikan wajah-Nya di balik seekor lebah. Kuncilah mulutmu manakala dengan mata hatimu Kau saksikan wajah-Nya di balik sebatang pohon. Rapatkanlah kedua bibirmu manakala dengan mata hatimu Kau saksikan wajah-Nya di balik ciptaan paling remeh, kecil, lemah, rendah, hina, buruk, dan jahat sekali pun. Kata-kata, Kawan, akan menyembunyikan kembali kemaha-agungan dan kemaha-indahan-Nya. Kata-kata akan membelenggu kakimu saat Kau melangkah di jalan ini.”
“Karena itu, Kawan, hapuslah seluruh kata-kata yang mengotori lembaran buku pikiranmu. Sucikanlah masjid hatimu dari najis berhala dengan air ilmu. Dan usirlah selaksa raksasa angkara murka yang bersarang dalam dadamu. Tabuhlah genderang perang akbar melawan nafsumu. Maka, saat Tuhan membuka pintu rumah-Nya bagimu, Dia akan menyentuh hatimu. Dia akan memelukmu mesra. Kau akan linglung terhuyung-huyung menatap keindahan-Nya. Kau akan tergetar dan terkesima di mana pun. Di mana pun kau mendengar tasbih dan pujian. Kau pun bertasbih dan memuji di mana pun. Bumi yang terhampar menjadi sajadahmu, tempat kau tersungkur pasrah di bawah kaki keagungan-Nya. Dan air mata syukurmu tumpah tak terbendung lalu mengalir tak henti-hentinya dari mata hatimu.”
“Lanjutkan, Kawan. Lanjutkan penjelasanmu. Aku mau mengerti lebih banyak.”
“Jalan mengenal Tuhan yang paling mudah, ringan, dan lekas ini sudah amat tua usianya. Orang-orang menyebutnya dengan berbagai nama. Ada yang menamainya jalan hikmah. Ada yang menamainya jalan filsafat. Ada yang menamainya jalan cinta. Ada yang menamainya jalan hati. Ada pula yang menamainya jalan rasa. Tapi, nama apa pun yang mereka sandangkan untuk jalan ini, hakikatnya hanya satu. Inilah kiranya jalan menuju Tuhan yang pernah diwahyukan kepada lebah. ‘Dan makanlah,’ titah-Nya kepada lebah, ‘sebagian dari bebuahan. Lalu, tempuhlah jalan-jalan (menuju) Tuhanmu yang mudah.’ Jalan mudah inilah yang ditempuh Sunan Bonang, kekasih-Nya yang mengagumi lebah itu.”
“Sudah, Kawan. Sudahilah penjelasanmu. Aku telah merasa cukup dengan kata-kata. Sekarang aku menghendaki pengalaman, bukan lagi penjelasan.”
Itulah ucapan terakhir dalam percakapan di antara kedua sahabat tersebut. Mereka lalu menyimpan kata-kata ke dalam peti yang tergembok dalam rangka terjun ke dalam lautan pengalaman dan penghayatan. Seluas, sebanyak, dan setinggi apa pun ilmu tentang jalan mengenal Tuhan, kalau ilmu itu tidak diamalkan, apa gunanya?

ajadah dera ngulati kawi
kawi iku nyata ing sarira
punang rat wus aneng kene
kang minangka pandulu
Kresna Jati sariraneki
siyang dalu den awas
pandulunireku
punapa rekeh pracihna
kang nyateng sarira sakabehe ini
saking sifat prakarya

Jangan jauh-jauh Sang Pujangga kau cari.
Sang Pujangga nyata ada dalam diri.
Bahkan, semesta raya pun telah ada di sini.
Pelita yang menerangi penglihatanmu
adalah Krisna Jati dalam dirimu.
Siang malam perhatikanlah
penglihatanmu.
Apa pun wujudnya,
semua yang tampak dalam diri ini
adalah sebagian dari sifat dan perbuatan Ilahi.

(dikutip dari Suluk Wujil, sebuah manuskrip Jawa yang dinisbahkan pada Sunan Bonang)


wallahu al-‘alim wa ‘abduhu al-jahil

26/09/16

Menyikapi Ateisme

I
Mengapa umat beragama, yang percaya kepada Tuhan Yang Penyayang dan Pemaaf, saling benci, saling hina, saling pukul, dan saling bunuh satu sama lain? Jika pertanyaan itu dilontarkan seorang ateis kepada Anda, sebagai orang beragama apakah jawaban yang akan Anda berikan? Semua agama berbicara tentang cinta, kemanusiaan, dan persaudaraan, tapi mengapa (terlalu) sering pecah peperangan atas nama agama?
Tidak pernah mudah menjawab pertanyaan demikian. Penanya, yang ateis itu, juga tidak mudah diyakinkan bahwa agama normatif berbeda dengan agama historis; bahwa ajaran agama adalah satu hal, sedangkan pengamalan ajaran tersebut adalah hal yang lain. Pertanyaan demikian, yang hanya merupakan apologi bagi sikap ateisme mutlak, sesungguhnya juga tidak memerlukan jawaban. Jawaban hanya akan dipahami sebagai serangan balik yang membuat penanya mengambil strategi defensif. Ketika benteng beton rasionalisasi ditegakkan tinggi-tinggi, rasio alternatif tidak akan dapat meruntuhkannya. Maka, yang terjadi hanyalah monolog, bukan dialog.
Alih-alih dijawab, pertanyaan demikian harus disikapi dengan empati. Kita perlu masuk ke dalam dunia sang ateis. Kita perlu menjawab pertanyaan lain demi membuka pintu dialog: mengapa orang menjadi ateis, padahal agama merupakan fitrah manusia?
Tanpa agama, kehidupan menjadi tampak absurd. Kita sulit menemukan makna di balik himpunan misteri kehidupan. Mengapa seorang ibu yang baik harus menyaksikan kematian balitanya dengan matanya sendiri? Mengapa seorang gadis kecil yang tak berdosa harus kehilangan kedua orang tuanya, bahkan seluruh anggota keluarganya, karena bencana alam? Mengapa koruptor selamat dari kecelakaan beruntun, sedangkan seorang petani saleh mati tertindih mobil dalam kecelakaan tersebut?
Agama menyediakan jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan eksistensial itu. Bukan sekadar jawaban teoretis, tetapi juga jawaban praksis dan terapis. Misteri kehidupan adalah pendakian terjal yang harus dilampahi demi mencapai puncak kebahagiaan. Bukan surga, tetapi kehidupan dunia adalah rangkaian ujian. Maka, betapa pun kehidupan terasa tidak adil, kita harus tetap berjalan tegak sebagai manusia yang waras. Kehidupan dunia ini, yang menjadi panggung bagi drama kolosal umat manusia, bukanlah tempat bagi keadilan mutlak. Seadil-adilnya, paling jauh manusia hanya mampu merealisasikan keadilan relatif, karena paling jauh dia pun hanya mampu menjangkau kebenaran relatif. Manusia lain, bahkan diriku sendiri, akan senantiasa merupakan misteri bagiku.
Terbentur oleh adanya misteri tersebut, yang merupakan bagian dari universum misteri kehidupan secara umum, manusia secara kodrati berpaling kepada Ilahi, Yang Maha Tahu, sekaligus Maha Misterius. Misteri kembali kepada Misteri. Akal dan bahasa ditanggalkan. Kita pun bergabung kembali dalam fitrah simfoni kesunyian. Dengan cara yang aneh, hidup menjadi sepenuhnya bermakna. Makna tersingkap justru dengan tidak menjawab persoalan absurditas kehidupan. Tak ada yang lebih arif, tulis penyair Sapardi, dari hujan bulan Juni/dibiarkannya yang tak terucapkan/diserap akar pohon bunga itu. Karena pertanyaan ‘mengapa ada hujan pada bulan Juni?’ dibiarkan tak terjawab, maka jawaban hakiki pun tersingkap tanpa terucapkan.
Peran agama, dalam menjawab absurditas kehidupan, tidak tergantikan oleh sains. Sains, yang bersendikan akal itu, di satu sisi bertolak dari hal-hal yang empiris, sementara di sisi lain menampik eksistensi alam non-empirik. Tidak tersedia ruang bagi yang Adikodrati dalam sains. Tidak pula ada ruang bagi misteri. Sains mau menjawab misteri kehidupan dengan akal setuntas-tuntasnya. Tapi apa yang dicapai akal? Kebuntuhan di hadapan misteri kehidupan. Hingga sekarang, filsafat Barat masih saja gagal memberi penjelasan rasional yang memuaskan atas problem of evil. Sains belum menemukan teknologi untuk menunda, apalagi meniadakan, kematian. Saintis masih bungkam di depan maut.
Jika seorang saintis bersedia jujur akan batas-batas pengetahuannya, penyelidikan dan eksperimentasi ilmiahnya pastilah mempertemukan dia dengan Tuhan. Dia akan menemukan titik, dalam rentang panjang perjalanan ilmiahnya, ketika dia menyadari bahwa jangkauan akal rupanya terbatas dan bahwa kemampuan ekspresif bahasa ternyata juga terbatas. Itulah momen ketika dia tertegun diam dalam keterposanaan akan misteri kehidupan. Itulah saatnya ketika dia melantunkan tasbih dalam simfoni kesunyian. Itulah waktunya ketika sains menjelma puisi. Berhadapan dengan kemahaan Ilahi, manusia tidak ada harganya, bahkan lebur dan sirna. Eksistensi manusia terserap total ke dalam Misteri.

II
Begitulah, bukan hanya kehidupan orang awam, tetapi kehidupan saintis pun, dengan sendirinya terarah kepada Tuhan, kepada agama. Tapi mengapa orang menjadi ateis? Tampaknya, ateisme lebih dari sekadar masalah epistemologis. Ateisme pertama-tama adalah masalah moral. Untuk memahami hal ini, marilah kita kembali mengenang sejarah Eropa Abad Pertengahan, di mana terlihat bahwa lahirnya epistemologi sains, yang menjadi tumpuan rasional kaum ateis modern, rupanya bermula dari krisis moralitas.
 Peradaban Eropa Abad Pertengahan dibangun di atas pondasi tradisi skolastik, demikian penilaian Seyyed Hossein Nasr.  Pada era itu, Eropa belum mengenal fragmentasi kehidupan. Pandangan dunia masih integral: agama dan negara adalah satu kesatuan yang bulat, doa dan kerja (ora et labora) pun merupakan kesatuan yang tak terpisahkan. Seluruh dimensi kehidupan dirembesi anasir Ilahiah. Juga ada kekuatan Ilahiah dalam diri penguasa. Dan penguasa mendapatkan legitimasi kekuasaannya dari gereja.
Di sinilah letak masalahnya. Kekuasaan adalah godaan, tidak saja bagi penguasa, tetapi juga bagi kalangan gereja. Tentu saja ada kaum gerejawi yang lurus, tetapi pendeta yang sengaja menyimpangi idealisme keagamaan demi mewujudkan ambisi duniawi, keberadaannya bukan lagi rahasia. Maka, agama dipolitisasi. Agama jadi alat untuk menumpuk kuasa dan harta.
Agama, yang pada mulanya hadir untuk membereskan masalah moral (yang berdimensi struktural), justru menciptakan masalah moral yang, ironisnya, sama dengan masalah moral yang dulu hendak dibereskannya. Agama datang untuk memberikan kabar gembira bahwa cinta dan keadilan itu pasti ada. Tapi agama kemudian digunakan oleh kaum agamawan munafik untuk menumpas harapan umat tentang adanya cinta dan keadilan. Agama normatif jadi amat berjarak dari agama historis. Agama pada akhirnya bercerai dari kemanusiaan. Dalam ungkapan yang lebih kritis, agama adalah biang dan alat penindasan.
Akibatnya, sikap skeptis terhadap agama pun bermunculan. Berbagai pertanyaan teologis radikal tampil di panggung sejarah: masih perlukah agama? Adakah alternatif lain bagi agama? Mungkinkah, atau tidakkah lebih baik, manusia mengatur kehidupannya tanpa berdasarkan agama? Inilah masa ketika peradaban Eropa Abad Pertengahan mulai tumbang, dan peradaban yang baru mulai dibangun. Inilah zaman ketika Copernicus, Galileo, Descartes, Voltaire dan lain-lain menyuarkan gagasan kritisnya, suatu zaman yang menyaksikan kelahiran manusia modern, manusia berkarakter fragmentatif yang menempatkan diri sebagai pusat semesta; suatu zaman yang juga menyaksikan kelahiran epistemologi sains.
Terhadap persoalan kemanusiaan yang ditimbulkan oleh relasi politik dan agama, manusia modern memberikan jawaban pragmatis. Kalau pun agama masih diperlukan, agama harus dipisahkan dari negara. Hukum agama biarlah mengatur ranah privat saja. Ranah publik adalah bagian hukum positif. Itulah jalan untuk memastikan tegaknya keadilan dan hadirnya kemanusiaan. Di sisi lain, manusia modern pun mencari alternatif selain agama untuk menemukan makna kehidupan sekaligus menguasai hukum kehidupan dan mengatur kehidupannya sendiri. Dan alternatif itu adalah sains.
Dan ternyata, sains memang memberikan harapan baru bagi manusia modern. Dengan sains, manusia modern memahami hukum alam yang pada gilirannya dimanfaatkan untuk menguasai alam demi progresivitas sejarah umat manusia. Sains juga memberikan pendar-pendar cahaya petunjuk dalam rangka menemukan makna kehidupan. Misteri kehidupan, yang dulu hanya dijawab oleh mitos secara semu, lalu juga oleh agama, kini sedikit demi sedikit disingkap oleh sains. Perhatian manusia modern pun bergeser dari yang metafisik menuju yang fisik, yang positif; dari yang gaib menuju yang empirik; dari agama menuju sains; dari Tuhan menuju manusia.
Jika pada Abad Pertengahan agama menjadi induk bagi ilmu, maka pada abad modern sains otonom dari dan sejajar dengan agama, bahkan bersaing dan bertentangan dengan agama. Jika pada Abad Pertengahan akal dan intuisi dipandang sebagai kesatuan instrumen epistemik, pada abad modern akal, yang menjadi tulang punggung sains, berpisah dari iman kaum agamawan. Secara teoretis, tidak ada tempat bagi iman dalam sains. Iman adalah percaya, sedangkan sains bekerja dengan keraguan dan kritik. Sains, demi hukum kausalitas, meragukan kerja dan eksistensi Tuhan. Sains, demi rasionalitas ilmiah, mengkritik kitab suci. Maka, sains menjadi senjata intelektual yang cocok bagi dan diperlukan oleh kaum ateis modern, yang memahami agama sebagai sesuatu yang mubazir, tidak berguna, bahkan berbahaya khususnya bagi kemanusiaan.

III
Mengapa orang menjadi ateis? Sampai di sini, pertanyaan ini belum terjawab dengan gamblang. Tapi dari perjalanan sejarah Eropa, sejak Abad Pertengahan hingga Abad Modern, kita telah memperoleh jawaban yang samar-samar. Penyebab ateisme jangan dicari di luar agama, walaupun faktor di luar agama sudah barang tentu ada. Kaum agamawan perlu bermawas diri. Modernitas ternyata anak yang keluar dari rahim agama. Sains, tepatnya epistemologi sains, dalam beberapa hal adalah kritik terhadap agama, tepatnya perilaku beragama. Demikian pula sekularisme. Ketiga fenomena modern ini merupakan bagian dari, dan mengklimaks pada, ateisme. Jadi, ateisme adalah kejengahan dan frustrasi manusia modern atas penyimpangan dalam beragama demi mewujudkan ambisi duniawi. Ringkas kata, ateisme adalah respons kritis dan resistens terhadap kemunafikan kaum beragama.
Karena itu, ateisme tak sepenuhnya negatif, juga tak sepenuhnya anti-agama. Ateisme justru beranjak dari dan ditenagai oleh salah satu nilai keagamaan yang paling inti: kejujuran. Ketika kejujuran perlahan-lahan meninggalkan agama, kaum ateis mengambilnya, lalu memegang dan menggenggamnya dengan kukuh. Dan karena kejujuran adalah nama lain dari ketulusan, kaum ateis juga menyelematkan ketulusan yang perlahan-lahan dilupakan dan diabaikan kaum beragama. Satu lagi, kaum ateis juga menampung nilai kemanusiaan yang disia-siakan oleh kaum beragama, padahal nilai kemanusiaan itu adalah hadiah terbesar Ilahi kepada mereka. Ini artinya, betapa jauh jarak kita, kaum beragama ini, dari Tuhan; betapa dekat jarak kaum ateis, yang kita pandang anti-agama dan anti-Tuhan itu, dengan Tuhan. Mereka menjunjung tinggi kejujuran, ketulusan, dan kemanusiaan. Sementara kita?
Kita terlalu sibuk mengurusi dan membela Tuhan, padahal Tuhan itu Maha Suci dari manusia yang kotor dan najis. Tuhan, sebagaimana dijelaskan-Nya sendiri dalam kitab suci, sudah cukup dengan diri-Nya sendiri. Tuhan hadir bagi kita, bukan sebaliknya. Alangkah congkaknya manusia yang mengaku telah mempersembahkan ini dan memberikan itu kepada Tuhan. Alangkah pongahnya manusia yang tak menyadari betapa jauh jarak antara dirinya dengan Tuhan. Bila kita tak berjarak dari-Nya, kita tak mungkin menyanyikan lagu rindu dan menggemakan tembang cinta.
Dan golongan manusia yang paling merasa jauh dari Tuhan adalah kaum ateis. Jangan-jangan, mereka diam-diam mendambakan Tuhan. Bukankah ekspresi cinta tak selamanya, juga tak selalu, lurus? Bukankah ada cinta yang diekspresikan secara melengkung melalui ragam tindakan yang tampak sebagai kebencian? Betapa pun juga, agama adalah fitrah manusia. Jauh dalam kegelapan hati manusia, menyala api rindu kepada Tuhan, hasrat kudus untuk berjumpa dan kembali manunggal dengan-Nya.
Sebab itu, kita tak perlu menghakimi dan menyalahkan para ateis. Kita hanya perlu membuka pintu dialog dengan mereka. Dalam hal ini, kaum beragama punya dua tugas berat. Tugas pertama mengarah ke dalam: kaum beragama mesti bermawas diri. Manusia tidak menggenggam kebenaran mutlak, universal, dan final. Tugas kedua mengarah ke luar: kaum beragama mesti belajar memahami dan belajar mengemong kaum ateis. Kita dan mereka pada dasarnya punya bahasa yang sama: kejujuran, ketulusan, dan kemanusiaan. Itulah modal kita untuk saling mengenal. Bahwa setelah bertegur sapa dan berbalas salam, mereka tetap saja teguh pada keateisannya, hal itu bukan lagi wilayah kerja kita sebagai manusia. Manungsa winenang ngudi, purba wasesa ing astane Gusti. Kepada Baginda Muhammad, Tuhan berfirman: Kau tidak akan pernah dapat memberikan petunjuk kepada orang yang kau cintai; Tuhan-lah yang memberikan petunjuk kepada orang yang Beliau kehendaki.


Bumi Mataram, Dulkangidah 1437 H