11/03/14

Keindahan Sebuah Candi Aksara


INDONESIA punya sejumlah karya sastra agung. Nilainya tak kalah dengan karya-karya sastra yang sudah menjadi klasik baik di barat maupun di timur. Hanya saja, karya-karya sastra itu memang kurang terpublikasi secara luas. Mereka ditulis dengan aksara yang bukan Latin dan bahasa yang bukan bahasa yang sehari-hari kita gunakan, misalnya bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Hanya filolog dan pelampah sastralah yang punya kemampuan dan mendapat kemudahan dalam mengakses, membaca, dan memahaminya.


Ketika dunia sastra Indonesia kehilangan kepercayaan terhadap kebudayaan barat yang sebelumnya menjadi kiblatnya, seiring dengan membusuknya kebudayaan itu dari dalam, sekelompok sastrawan merintis gerakan untuk kembali pada akar dan sumber tradisi nusantara. Ini sebenarnya dialektika lanjut dari polemik kebudayaan 1930-an. Karya-karya sastra klasik Indonesia yang lama tak terjamah, mulai kembali diapresiasi, diteliti, dan diterbitkan terjemahan baik versi Inggris maupun versi Indonesianya. Mulai bangkit rasa percaya diri terhadap kebudayaan ciptaan leluhur sendiri.

Di antara sekian karya sastra klasik Indonesia pra-Islam, Kakawin Sutasoma termasuk teks yang memperoleh apresiasi sungguh-sungguh. Penggalan sebuah lariknya, bhineka tunggal ika, dikutip sebagai semboyan negara Indonesia, dengan makna yang diperluas: persatuan dalam keberagaman, hidup harmonis dalam perbedaan budaya, agama, aliran politik, dan sebagainya.

Dalam kerangka pikir bhineka tunggal ika, the others dianggap bukan sebagai musuh yang mengancam dan harus ditumpas, tetapi sebagai unsur pembangun subjek yang harus dirangkul. Nalar bhineka tunggal ika tidak mengenal fundamentalisme dan terorisme the others yang direspon oleh subjek dengan kekerasan. Sebab itulah, ibarat sokoguru sebuah rumah, semboyan ini menopang tegaknya rumah Indonesia yang multikultural. Ia pun merupakan falsafah yang berpotensi memberi sumbangan berarti bagi terciptanya perdamaian dunia dan harmoni global.

Kakawin Sutasoma telah diteliti oleh sekurang-kurangnya empat filolog: Ida Bagus Sugriwa (1956), J. Ensink (1967), Soewito Santoso (1975), dan Zoetmulder (1983). Di samping meneliti, Santoso juga menerjemahkan kakawin ini ke dalam bahasa Inggris. Di Bali, terus berlangsung resepsi Kakawin Sutasoma yang diwujudkan dalam berbagai aktivitas budaya, yang menghasilkan beraneka artefak.

Dan pada Agustus 2009, Komunitas Bambu menerbitkan buku ini, Kakawin Sutasoma edisi dwibahasa, bahasa Jawa Kuno dan bahasa Indonesia, dengan aksara Latin. Penerjemahnya: DWR Mastuti, filolog yang ahli dalam sastra Jawa Kuno; dan Hastho Bramantyo, teolog Buddha yang telah menulis banyak buku tentang agama yang dianut pengarang Kakawin, Mpu Tantular.

Tidak diketahui pasti kapan Mpu Tantular menggubah kakawin ini. Diperkirakan pada paruh kedua abad ke-14, setelah Mpu Prapanca rampung menulis Nagarakrtagama (1365), sebelum raja Majapahit terbesar, Hayam Wuruk meninggal (1389).

Secara tidak langsung, Kakawin Sutasoma mencerminkan era kegemilangan dan kejayaan majapahit. Mpu tantular mempersembahkan kakawin ini kepada Hayam Wuruk. Ia merepresentasikan Hayam Wuruk sebagai tokoh utama kakawin, yaitu Sutasoma, penjelmaan Buddha di dunia, personifikasi kenyataan tertinggi. Raja segala raja. Raja tiga dunia (tribhuana). Raja semesta.

Sutasoma menaklukkan kejahatan tidak dengan senjata, melainkan dengan belas kasihnya. Ia mengembalikan kedamaian di bumi setelah kedamaian itu direnggut oleh raksasa Porusada. Perdamaian antara Sutasoma dengan Purosada menyimbolkan Siwabuddha, agama yang tumbuh di tanah Jawa, yang merupakan sintesis agama Siwa dan agama Buddha. Dalam rangka sintesis agama itu pulalah, Mpu Tantular mengarang kakawin ini.

Jadi, Kakawin Sutasoma adalah karya agung, risalah politiko-teologis yang ditulis dalam bentuk puisi naratif, tidak dalam bentuk prosa nonfiksi. Ini mengagumkan. Membanggakan. Sebab kekaguman dan kebanggaan saya yang lain adalah, teknik deskripsi yang digunakan dalam Kakawin, walaupun hiperbolis, benar-benar indah. Keindahan deskripsi tersebut justru terletak terutama pada hiperbolanya.

Untuk contoh, saat melakukan perjalanan spiritual untuk bertapa brata, Sutasoma singgah di sebuah lereng gunung. Di sana terdapat pertapaan yang dilukiskan seperti ini: Ada sebuah lereng dengan pertapaan yang sangat indah dan mengesankan. Di depan pertapaan tersebut berdiri bangunan pemujaan  yang sangat indah. Atap merunya terdiri dari tujuh tingkat. Pada puncaknya terdapat permata yang bersinar terang. Kecemerlangannya bagaikan kendaraan Dewa Surya yang menjelajahi langit.//Tempat itu dipenuhi berbagai macam bunga. Ada pohon andong cantik di tepi kolam yang sangat indah. Jangga yang terletak pada dinding altar berayun-ayun ditiup angin. Seakan-akan memberitahukan keindahan pertapaan tersebut pada semua yang berada di bawahnya. Beberapa ertapa berada di lembah dan salak anjing mereka jelas terdengar. Masih banyak deskripsi lain, baik berupa deskripsi tempat, peristiwa, maupun tokoh, yang lebih indah daripada pelukisan tempat pertapaan ini.

 Secara isi dan bentuk, kakawin ini barangkali layak disandingkan bersama epos-epos besar dunia seperti Odysseus, Iliad, Mahabarata, Ramayana, dan I La Galigo. Kakawin Sutasoma adalah menumen sastra. Mpu tantular ialah arsitek yang membangun candi aksara. Bersama Borobudur dan Prambanan dan candi-candi lain, Kakawin Sutasoma dan karya sastra Jawa Kuno yang lain menunjukkan betapa berbudayanya leluhur kita, betapa agungnya harapan mereka. Narasi Kakawin membuktikan hal ini.

Terjadi gonjang-ganjing di negeri Hastina. Para raksasa, yang dipimpin Purosada, mengamuk. Rakyat dan para pertapa ketakutan.  Demikian pula para dewa. Sri Mahaketu, raja Hastina, mengerahkan seluruh prajuritnya untuk mengatasi amukan raksasa itu. Tapi percuma. Upayanya gagal.

Setelah berdoa kepada dewata, istrinya melahirkan putra yang merupakan titisan Buddha, diberi nama Sutasoma. Ialah yang kelak akan menaklukkan Porusada dan mengembalikan ketentaraman di Hastina dan di bumi. Raja dan Ratu sangat berharap agar ketika dewasa Sutasoma bersedia menjadi raja di Hastina, dalam rangka menciptakan perdamaian dan kesejahteraan di dunia.

Tapi mereka kecewa. Kehendak Sutasoma lain. Bukan mewujudkan harapan orang tuanya, Sutasoma justru menampik segala yang duniawi. Ia bertekad menjadi pertapa untuk memperoleh pembebasan. Para dewa, yang juga sangat berharap pada Sutasoma, sangat menyesalkan kehendaknya itu.

Ketika keinginannya untuk menjadi pertapa kian kuat, Sutosoma diam-diam kabur dari istana. Seisi kerajaan gempar. Usaha mereka untuk mencari sang pangeran berujung pada kesia-siaan.

Dalam perjalanan spiritualnya Sutasoma bertemu dengan tiga makhluk jahat yang kemudian menjadi muridnya: Gajahwaktra, Naga, dan Harimau Betina. Ketiga mahkluk itu ditaklukkan Sutasoma tidak dengan senjata, tetapi dengan belas kasihnya.

Sutasoma melanjutkan pertapaannya di gunung Semeru. Merasa terancam oleh Purosada, para dewa berusaha menggagalkan tapa brata Sutasoma. Mereka mengirim bidadari untuk menggodanya. Tetapi misi itu tidak berhasil. Sutasoma sama sekali tidak tergoda oleh kecantikan mereka. Sebaliknya, bidadarilah yang terjerat oleh ketampanannya.

Akhirnya, raja para dewa, Indra turun tangan sendiri. Untuk menggoda Sutasoma, ia menyamar menjadi dewi yang sangat cantik, jauh lebih cantik daripada bidadari. Tapi hati Sutasoma tak goyah. Dan Indra dibikin terkejut oleh Sutasoma yang menjelma dalam wujud ilahinya sebagai Sri Wairocana. Seketika Indra dan seluruh dewa bersujud menyembahnya. Mereka memohon agar Sutasoma berkenan menyudahi laku spiritualnya untuk menyelematkan dunia dari kemusnahan akibat perilaku jahat Purosada. Berkat belas kasihnya, Sutasoma bersedia mengabulkan permohonan mereka.

Sutasoma selanjutnya bertemu dengan raja Dasabahu yang menikahkannya dengan adiknya, Candrawati. Candrawati ialah Locana, permaisuri Buddha sebelum ia menitis di dunia. Setelah menikah, Sutasoma kembali ke Hastina. Hastina menyambutnya dengan sukacita. Tidak lama kemudian, Sri Mahaketu mangkat, Sutasoma diangkat menjadi raja. Dasabahu sendiri, dan seluruh pangeran yang ayahnya ditangkap Purosada untuk dikorbankan kepada Dewa Kala, mengabdi pada Sutasoma.

Bukan tanpa alasan Purosada menawan raja-raja itu. Suatu kali Purosada terluka. Di hutan tempatnya kini berada sendirian, tidak ada seorang pun yang dapat menolongnya. Purosada lantas bernazar, jika lukanya sembuh, ia akan mengumpulkan seratus raja untuk dikorbankan bagi Dewa Kala. Lukanya sembuh. Dan Purosada melaksanakan nazarnya.

Sebagai raja raksasa yang amat sakti, Purosada mampu mengumpulkan 100 raja untuk Dewa Kala. Tapi Dewa Kala menolak persembahan tersebut. Ia menginginkan Sutasoma. Purosada segera mengerahkan seluruh prajuritnya untuk berperang melawan bala tentara Hastina, demi menangkap Sutasoma.

Hastina mengetahui rencana Purosada ini. Sutasoma dan seluruh ksatria kerajaan berembuk. Sutasoma tidak ingin pertumpahan darah terjadi. Baginya, lebih baik menyerahkan dirinya kepada Purosada untuk dipersembahkan kepada Dewa Kala daripada berperang melawan raja raksasa yang kuat itu. Hastina pasti kalah. Tapi pendapat Dasabahu dan para ksatria Hastina lain. Peranglah yang mereka pilih.

Maka, terjadilah perang besar di padang Kuru antara kubu Purosada dan kubu Dasabahu. Sutasoma tidak ikut dalam peperangan.  Perang raya yang berlangsung sangat sengit itu, yang lebih dahsyat daripada Baratayuda, dimenangkan kubu Purosada. Dasabahu gugur setelah beradu kesaktian dengan Purosada.

Mendengar kabar kalahnya Hastina, Sutasoma datang menemui Purosada di padang Kuru. Purosada menjelma menjadi Rudra, menyerang Sutasoma dengan berbagai senjata. Tapi senjata itu berubah menjadi bebungaan dan tetumbuhan sebelum menyentuh tubuh Sutasoma.

Takut oleh akibat yang ditimbulkan kamarahan Rudra, para dewa turun menyembahnya. Indra menjelaskan kepada Rudra, hakikat Siwa dan Buddha sesungguhnya identik. Bhineka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa. Beragam tapi hakikatnya tunggal, tak ada kebenaran yang men-dua. Oleh penjelasan itu, Purosada melunak. Dan semakin melunak ketika mengetahui sikap Sutasoma yang rela menyerahkan diri untuk dikorbakan kepada Dewa Kala. Itu semua menyebabkan Purosada bertobat.

Setelah Sutasoma menghidupkan kembali semua ksatria yang gugur, Purosada mengantarkannya menemui Dewa Kala. Dewa Kala berubah menjadi naga, menyantap Sutasoma yang pasrah. Sebelum menelan seluruh tubuh Sutasoma, Dewa Kala mengalami pencerahan. Ia pun bertaubat. Bersama Purosada berguru pada Sutasoma.

Sementara keduanya menjadi pertapa untuk mencapai pembebasan, Sutasoma kembali memerintah sebagai raja. Selama dipimpin olehnya, Hastina damai sejahtera. Beberapa lama kemudian, Sutasoma mangkat, kembali menjadi Buddha di Jinalaya, dengan Purosada sebagai pengawalnya. Sementara itu, berkat tapanya yang keras, Dewa Kala telah kembali menjadi Hyang Pasupati. Tahta Hastina sekarang dipegang putra Sutasoma, Arddhana.  

Narasi Kakawin Sutasoma ini memperlihatkan kemahiran Mpu Tantular menyisipkan filosofi relijius dan harapan etiknya ke dalam cerita. Sastra digunakan sebagai wahana untuk menyebarkan ajaran agama dengan cara yang tak verbalistis. Ini teladan yang baik untuk sastrawan-sastrawan kita.

Melalui Kakawin Sutasoma, Mpu Tantular mengajarkan: kebaikan mengalahkan kejahatan. Tapi tidak dengan jalan pertumpahan darah, melainkan dengan pengamalan belas kasih. Putaran lingkaran setan dendam kesumat mesti dihentikan. Manusia mesti membebaskan diri dari perbudakan nafsu. Harus berjuang mengalahkan dirinya, meneladani perjuangan batin Sutasoma, untuk membersihkan hatinya dan mengembangkan potensi belas kasihnya. Kejahatan hanya dapat disirnakan dengan belas kasih. Api tidak padam oleh api, tapi oleh air. Belas kasih, kita tahu, adalah ruh semua agama, termasuk agama Siwa, Buddha, dan Siwabuddha.

Doktrin ini sepertinya respon atas Mahabarata. Kakawin Sutasoma barangkali resepsi dari epos yang sangat memengaruhi budaya Jawa itu. Salah satu faktor utama pemicu meletusnya Baratayuda adalah dendam kusumat Drupadi, istri Puntadewa, terhadap Kurawa. Hikmah Baratayudha: dendam kesumat bermuara pada peperangan yang sia-sia; maka, dendam kesumat harus dilenyapkan, belas kasih harus ditumbuhkan. Mpu Tantular tampaknya sangat berharap, pembaca kakawinnya belajar menghayati belas kasih.

Kita bersyukur punya pujangga seluhur Mpu Tantular, punya karya sastra semendalam dan seindah Kakawin Sutasoma.

01/03/14

Kisah Pemulung Merah


TAPOL novel ketiga Ngarto Februana. Novel pertama Lorong Tanpa Cahaya (1999). Novel kedua Menolak Panggilan Pulang (2000). Tapol mengangkat tragedi sejarah Indonesia paling kelam dan berdarah: peristiwa G 30 S. Pertama kali terbit, September 2002, daya hentak Tapol mungkin masih kerasa. Sampai saat itu, belum begitu banyak penulis yang terinsipirasi peristiwa G 30 S. Tapi jika dibaca sekarang, 2014, ketika penulis lama maupun baru seolah-olah berlomba memfiksikan G 30 S, Tapol jadi ora ngangkat ora gayeng. Ceritanya jadi biasa-biasa saja: seorang tak terlibat PKI, tetapi diganyang musuh-musuh PKI: dituduh PKI, ditangkap dan diadili dan dipenjara atau dibuang, kemudian menderita sepanjang hayat. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang menyentak.

Terlebih, alur ceritanya gampang ditebak. Bagian awal novel jadi membosankan. Membuat malas menyelesaikan membaca hingga tamat. Untung saja, Ngarto pintar bermain konflik. Bagian akhir novel mengetengahkan konflik psikologis yang dialami Lastri dan Mirah, dua tokoh perempuan utama. Tokoh utama Tapol ada tiga: Kardjono, Lastri, dan Mirah.

Kardjono mulanya perwira angkatan udara yang bersih, lurus, patuh, tetapi lugu. Pengikut Bung Karno yang tidak memihak ataupun membenci PKI. Oleh Sudjono, komandannya, ia dan teman-temannya disuruh menyelenggarakan pelatihan militer untuk masyarakat. Untuk menguatkan pondasi Nasakom katanya. Pelatihan berpusat di daerah Lubang Buaya. Kardjono patuh menjalankan komando. Tapi saat pelatihan, Kardjono merasakan sesuatu yang aneh: yang dilatih hanya orang-orang PKI. Ia bercerita tentang hal ini kepada Lastri. Istrinya itu menangkap firasat buruk dan menasihatinya. Nasihat tersebut agak diabaikan Kardjono.

Firasat buruk Lastri terbukti. Malam itu peristiwa G 30 S terjadi. Kemudian PKI diganyang. Kader dan simpatisannya ditangkap lalu dibunuh atau dibuang atau dipenjara tanpa proses hukum. Kardjono ikut ditangkap dan dipenjara. Diduga dan dituduh PKI. Lastri yang sedang hamil tua mencari kabar Kardjono. Tetangganya, yang suaminya juga ditangkap, melapor: Kardjono ditangkap, dipenjara, dibunuh; mayatnya dibuang ke laut. Dengan laporan itu, Lastri percaya saja.

Kehilangan suami, Lastri pulang kampung. Klaten, kampung halamannya, termasuk kawasan paling bergolak selama masa ontran-ontran itu. Harapan Lastri bertemu orangtuanya, pupus. Ayah dan kakaknya diganyang. Langsung tak langsung, keduanya ikut PKI. Keluarganya yang lain diganyang juga. Akhirnya Lastri hijrah ke Yogya, numpang di rumah Sarijah, Bude sahabatnya di Klaten, Sriharti. Perempuan sebatang kara itu menerima Lastri seperti anak sendiri. Menganggap kedua anak Lastri, Mirah dan Hernowo, sebagai cucu sendiri. Dibantu Sarijah, Lastri membesarkan kedua anaknya. Kepada anak-anaknya, Lastri merahasiakan siapa sebenarnya bapak mereka.

Mirah perempuan yang gelisah. Menjadi mahasiswa sosiologi UGM, Mirah ambil bagian dalam gerekan prodemokrasi 80/90-an. Mirah tertarik dengan komunisme. Bersimpati dengan PKI. Sangat membenci Soeharto. Mengikuti diskusi-diskusi kiri. Teriak-teriak dalam aksi demonstrasi kasus waduk Kedungombo dan rentetan kasus setelahnya. Lastri tidak menyetujui aktivisme Mirah. Lastri tak mau anaknya menjadi komunis.

Tapi Mirah terus berdiskusi dan berdemonstrasi. Setiap berdemonstrasi, seorang pemulung aneh selalu mengawasinya. Mirah curiga: jangan-jangan pemulung itu intel yang khusus memata-matai tindak-tanduknya. Kawan-kawan aktivis Mirah berpikiran serupa. Namun pikiran mereka keliru. Sebab ternyata pemulung itu ialah Djon, mantan perwira angkatan udara yang ditangkap dan dipenjara karena dituduh terlibat PKI, ayah Mirah. Setelah ditengkap, Djon atau Kardjono dilempar dari penjara ke penjara, kemudian dibebaskan pada 1975. Bagi Djon, kebebasan bukan gerbang kebahagiaan. Ia tak tahu di mana keluarganya kini berada. Tak mungkin pulang ke Nganjuk di mana sanak kadangnya yang berideologi Masyumi tinggal. Kardjono akhirnya memutuskan menjadi pemulung. Hidup menggelandang di Yogya.

Sehabis sakit, Djon baru ketemu Mirah dan Lastri. Djon ditolong Mirah yang setelah lulus kuliah mendirikan LSM untuk kaum miskin kota, khususnya untuk anak jalanan dan pemulung. Djon terserang liver. Temannya membawa Djon kepada Mirah. Mirah membawa Djon berobat ke rumah sakit. Seminggu Djon dirawat disana. Ditunggui Mirah dan kawan-kawannya. Keluar dari rumah sakit, Mirah membawa Djon ke rumahnya. Saat itulah Djon ketemu Lastri. Mirah sendiri terkejut, ternyata pemulung yang ditolongnya adalah ayahnya yang dikira telah meninggal. Mereka membuka lembaran idup baru, sebagai keluarga yang kini utuh kembali.

Sebelum ketemu kembali dengan Djon, Lastri sudah menerima lamaran Jumadi, duda yang sekian tahun ingin sekali memperistrinya. Kembalinya Djon tentu menerbitkan dilema di hati Lastri: apakah akan melanjutkan hubungannya dengan Jumadi atau kembali kepada Djon. Tapi Ngarto tidak memaksimalkan potensi konflik psikologis ini. Ngarto malah tidak menyinggung-nyinggung lagi bagaimana hubungan Lastri-Jumadi sekembalinya Djon.

Ngarto hanya berkutat pada konflik psikologis Mirah. Mirah ingin setia pada komunisme, tapi bapak ibunya berharap Mirah menanggalkan ideologi yang pernah menghancurkan keluarga itu. Djon terus menasihati Mirah untuk bertaubat dari komunisme. Juga saat kesehatan Djon mulai melemah. Djon barangkali sakit karena kebanyakan memikirkan Mirah yang kelewat teguh dengan komunismenya. Sakit Djon kian parah, dirawat di rumah sakit. Saat itu dilema batin Mirah memuncak: apakah bersetia pada komunisme atau mengikuti nasihat orangtuanya. Ketika Mirah mau mengabarkan kepada ayahnya bahwa ia memutuskan menanggalkan komunisme, Djon keburu meninggal.

Demikian Tapol ditutup. Dengan niat yang tak kesampaian. Dengan penyesalan yang bakal terus membayang-bayangi Mirah seumur hidup.

Bagian akhir Tapol memang bagus, tapi bagian awalnya tidak. Ini kelemahan Tapol. Kekuatannya ada pada tema dan gaya bahasanya yang lebih jurnalistis daripada sastrawi. Kalimatnya pendek-pendek dengan sedikit metafor dan kata berbunga. Irit. Benar-benar seperti laporan soft-news. Memang, di samping menulis fiksi, Ngarto bekerja juga sebagai wartawan di D & R, kemudian Semanggi dan DeTak. Rampung menulis Tapol, Ngarto tercatat bekerja di Pusat Data dan Analisis Tempo. Kekuatan Tapol yang lain: imajinasi dalam Tapol didasari hasil riset. Pertama, beberapa riset tentang G 30 S. Kedua, sebuah riset tentang pemulung Yogya. Tapi kekuatan ini barangkali kelemahan juga: Tapol nyaris menjadi buku teks pelajaran sejarah.  

29/12/13

Sinopsis Hikayat Negeri Jambi

Berikut kami sajikan sinopsis Hikayat Negeri Jambi (HNJ), sebuah naskah klasik Melayu Jambi yang ditulis pada paruh pertama abad ke-19. HNJ berisi pseudo-sejarah Jambi sejak masa pemerintahan Tuan Talanai, rajanya yang pertama, hingga masa pemerintahan Sultan Mahmud Fakhruddin yang memerintah kesultanan Jambi ketika HNJ ditulis. Sepelacakan kami, sejauh ini HNJ baru dipelajari oleh dua sarjana, Indiyah Prana Amertawengrum dan Sergei Kukushkin. Sinopsis HNJ di bawah ini kami salin dari tesis Amertawengrum, Hikayat Negeri Jambi: Suntingan Teks dan Analisis Struktural (1996), hlm. 2017-217. Selamat membaca.
  

Dusun Muara [Jambi] merupakan tempat asal mulanya kerajaan Jambi. Rajanya bernama Tuan Talanai. Dalam memerintah, ia dibantu oleh lima orang hulubalang. Atas perintah Tuan Talanai, salah seorang hulubalang yang bernama Si Pahit Lidah berhasil membuat sungai mulai dari dusun Muara [Jambi] hingga ke laut dalam tempo satu jam. Oeh karena itu, nagari tersebut disebut Jambi.

Telah beberapa lama Tuan Talanai bertahta, belum juga ia dikaruniai anak. Hal itu membuatnya gundah karena memikirkan siapa yang akan menggantikannya bila ia meninggal. Tuan Talanai dan isterinya berupaya agar mendapat anak, baik dengan mencari obat, pergi ke dukun, maupun minta kepada para dewa.

Tidak lama kemudian isteri Tuan Talanai hamil. Setelah genap bulan kehamilannya, isteri Tuan Talanai melahirkan seorang anak laki-laki yang baik parasnya. Kelahiran bayi tersebut disertai dengan tanda-tanda yang menakjubkan. Guncangan yang ditimbulkannya membuat dukun yang menolong tidak kuasa untuk memegangnya, bahkan papan rumah maupun atap rumah pun patah.

Kelahiran seorang putera yang sangat dinantikannya membuat Tuan Talanai bersuka cita. Akan tetapi, setelah mengetahui kejadian yang menyertai kelahiran puteranya tersebut, Tuan Talanai merasa heran dan sekaligus takut kelak anaknya lebih berkuasa sehingga akan membahayakan nagari Jambi. Untuk mengetahui ihwal anaknya tersebut, Tuan Talanai memanggil 40 orang ahli nujum.

Dikatakan oleh para ahli nujum bahwa anak yang baru dilahirkan itu kelak membawa bencana yang besar bagi nagari Jambi serta menjadikan hidup Tuan Talanai tidak senang. Agar nagari Jambi terhindar dari bencana, maka anak yang baru dilahirkan itu harus dibuang ke laut. Mendengar kata ahli nujum, Tuan Talanai segera memberi perintah kepada hulubalangnya untuk membuatkan peti tujuh lapis untuk membuang anaknya.

Setelah dihiasi dengan pakaian yang indah, sebagaimana layaknya anak seorang raja, anak Tuan Talanai dimasukkan ke dalam peti yang jumlahnya tujuh lapis dan disertakan pula sebuah surat di dalam peti tersebut. Selanjutnya, peti itu dibuang ke laut.

Empat puluh hari empat puluh malam lamanya peti itu dibawa gelombang hingga sampai ke laut Siam dan ditemukan oleh raja Siam. Raja Siam dan isterinya merawat anak itu dengan penuh kasih sayang. Dicarikannya inang pengasuh dan kawan bermain-main buat anak angkatnya itu. Anak itu tumbuh menjadi anak yang sangat ditakuti oleh kawan-kawannya bermain karena jikalau ia marah maka dihempaskannya orang yang membuatnya marah tersebut. Melihat ulahnya yang demikian, kawan-kawannya memperoloknya dengan mengatakan bahwa ia anak yang tidak tentu siapa bapanya, raja Siam bukanlah orang tua yang sebenarnya sehingga pantas apabila perilakunya sangat jahat.

Mendengar olok-olok kawannya, anak angkat raja Siam pun bertanya kepada bundanya tentang orang tuanya yang sebenarnya. Menginjak umur empat belas tahun, anak angkat raja Siam teringat kembali akan perkataan bahwa ia bukan anak raja Siam yang sebenarnya. Ia pun menanyakan kembali hal itu kepada bundanya dan menceritakan tentang mimpinya bahwa sesungguhnya ia adalah anak Tuan Talanai, raja Jambi. Ia bertekad akan bunuh diri bila tidak diberi tahu tentang hal yang sebenarnya. Mengetahui anak angkatnya hendak bunuh diri, raja Siam kemudian memerintahkan orang-orangnya untuk menyediakan kelengkapan berlayar bagi anak angkatnya yang hendak ke nagari Jambi menemui Tuan Talanai.

Sesampai di Jambi, ternyata Tuan Talanai tidak mau mengakui anak angkat raja Siam sebagai anak kandungnya meskipun kepadanya telah ditunjukkan surat dari raja Siam sebagai bukti bahwa anak itu adalah anak kandungnya. Penolakan Tuan Talanai tersebut menyebabkan kemarahan anak angkat raja Siam dan kemudian menyerang nagari Jambi. Dalam peperangan inilah akhirnya Tuan Talanai dibunuh oleh anak kandungnya sendiri. Setelah berhasil membunuh Tuan Talanai, anak angkat raja Siam kembali ke negeri Siam. Sepeninggal Tuan Talanai, negeri Jambi tidak beraja lagi.

Pada pasal kedua diceritakan bahwa pada kurun waktu berikutnya bangsawan dari Turki datang ke pulau berhala dan menjadi raja di pulau ini dan dikenal dengan sebutan Datuk Paduka Berhala. Sebelum meninggal ia berpesan kepada puteranya, Datuk Paduka Ningsun, agar mengantarkan persembahan kepada Sultan Mantaram setahun sekali.

Datuk Paduka Ningsun menjadi raja setelah ayahnya meninggal. Ia menikah dengan seorang puteri Ki Demang Lebar Daun dari Palembang. Pada saat menjadi raja, Datuk Paduka Ningsung berpindah nagari ke Ujung Jabung. Ia dikaruniai empat orang anak, yaitu Orang Kaya Itam, Orang Kaya Pingai, Orang Kaya Pedataran, dan Orang Kaya Gemuk.

Sepeninggal Datuk Paduka Ningsung, Orang Kaya Itam menjadi raja dan kemudian membuat nagari di Muara Sampang yang dikenal dengan sebutan nagari Kota Tua. Pada saat menjadi raja, Orang Kaya Itam tidak mau lagi mengantarkan persembahan kepada Sultan Mantaram sehingga datang surat dari Sultan Mantaram menanyakan hal tersebut.

Orang Kaya Itam, Orang Kaya Pingai, dan Orang Kaya Pedataran pergi ke Mantaram dengan cara menyamar. Sesampai di Mantaram mereka bertiga tiba di tempat membuat keris. Dari tukang keris itu Orang Kaya Itam mengetahui bahwa keris itu milik Sultan Mantaram yang akan digunakan untuk membunuh Orang Kaya Itam jika datang ke Mantaram. Hal itu menimbulkan kemarahan Orang Kaya Itam sehingga ia merampas keris itu kemudian membunuh tukang keris dan mengamuk di pasar.

Sultan Mantaram terdiam tatkala mengetahui bahwa orang yang mengamuk itu adalah Orang Kaya Itam yang berasal dari Jambi. Setelah mengetahui duduk persoalan mengapa Orang Kaya Itam tidak pernah datang ke Mantaram, Sultan Mantaram menyerahkan keris itu kepada Orang Kaya Itam tiga bersaudara. Selain itu, diserahkannya juga sebuah pedang dan dua batang tombak kepada Orang Kaya Itam untuk dibawa pulang ke Jambi. Sejak saat itu Sultan Mantaram memeberikan kebebasan kepada Orang Kaya Itam untuk datang ke Mantaram sesuka hatinya.

Sekembali dari Mantaram, Orang Kaya Itam berhasil menundukkan beberapa dusun hingga sampai ke Muara Tembesi. Orang Kaya Itam meninggal di nagari Kota Tua. Ia tidak memiliki anak sehingga kedudukannya sebagai raja dilanjutkan oleh Orang Kaya Pingai. Sepeninggal Orang Kaya Pingai, yang juga tidak mempunyai anak, Orang Kaya Pedataran menjadi raja. Setelah Orang Kaya Pedataran meninggal, Orang Kayo Gemuk yang berada di Mantaram dan memiliki lima orang anak pun kembali ke nagari Kota Tua. Akan tetapi, tatkala baru sampai di pulau Tungkal, Orang Kaya Gemuk mendadak sakit dan kemudian meninggal. Anak turunan Orang Kaya Gemuk inilah yang selanjutnya mengadakan rukhyat raja di dalam nagari Jambi.

Pada pasal ketiga diceritakan tentang anak keturunan Orang Kaya Gemuk menjadi raja. Sesuai dengan wasiat Orang Kaya Gemuk, kelima anaknya bermufakat untuk mengangkat salah satu di antaranya menjadi raja di nagari Kota Tua. Mereka bersepakat untuk mengangkat Si Bungsu Yang Berujud menjadi raja. Sebelum menyatakan kesediaannya menjadi raja, Si Bungsu Yang Berujud menghendaki adanya kata mufakat dari semua saudaranya itu. Masing-masing kemudian menyatakan kesanggupannya untuk melakukan sesuatu demi kepentingan raja dan nagari sesuai dengan kecakapannya. Mereka membuat nagari di Rangas Pandak sehingga raja yang terpilih diberi gelar Pangeran Rangas Pandak. Saat itulah dimulainya adat penobatan raja.

Sementara itu, Tuan Puteri Pinang Masak, anak raja Minangkabau bermaksud hendak membuat nagari di Jambi yang dikabarkan telah menjadi hutan sejak ditinggal Tuan Talanai. Mendengar berita tentang adanya puteri raja Minangkabau yang menetap di bekas kerajaan Tuan Talanai (Muara Jambi), Pangeran Rangas Pandak mengirim utusan untuk melihatnya. Tuan Puteri Pinang Masak merasa gembira dengan kunjungan utusan Pangeran Rangas Pandak. Pangerang Rangas Pandak menikah dengan Tuan Puteri Pinang Masak dan selanjutnya mereka menetap di Rangas Pandak. Mereka memiliki empat orang anak, yaitu Pangeran Tumenggung Kabul Di Bukit, Pangeran Adipati Tiada Katik Bayang-Bayang, Pangeran Paku Negara, dan Panembahan Di Bawah Sawo. Pada saat Pangeran Rasas Pandak menjadi raja, belum seluruh pucuknya Jambi sembilan lurah kepadanya, kecuali dusun-dusun yang dulu telah ditundukkan oleh Orang Kaya Itam.

Pada pasal keempat diceritakan tentang anak Pangeran Rangas Pandak menjadi raja. Pangeran Tumenggung Kabul Di Bukit bermufakatan dengan saudara-saudaranya hendak membuat nagari terlebih dahulu sebelum menetapkan raja yang baru karena hal itu sudah menjadi kebiasaan bagi raja-raja sebelumnya. Mereka membuat nagari di Malayapura sehingga semua yang ada di Rangas Pandak pindah ke Malayapura.

Selain membuat nagari, mereka juga bersepakat untuk menundukkan pucuknya Jambi sembilan lurah. Setelah berhasil menundukkannya, mereka memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi raja. Panembahan Di Bawah Sawo terpilih untuk menjadi raja. Selain membuat perjanjian dengan orang-orang yang telah ditundukkannya, Panembahan juga membuat perjanjian dengan Yang Dipertuan Balang mengenai batas-batas daerah kerajaan. Setelah itu, mereka kembali ke tempat masing-masing.

Sesampai di muara sungai Tabo, Panembahan berhenti dan menyuruh orang untuk membuat takir sejumlah seratus. Setelah diisi, takir tersebut dihanyutkan hingga sampailah di sebelah ulu Tanah Pilih. Di tempat ini panembahan bertapa selama tujuh hari tujuh malam dan bertemu dengan Cina yang kemudian memberinya bedil yang bernama Si Jimat, gong bernama Si Taming Jambi, dan tombak bernama Si Macan Turu. Di Tanah Pilih inilah akhirnya Panembahan membuat nagari dan mendirikan keraton. Sementara itu, saudara-saudaranya yang lain membuat kampung sendiri pula. Pangeran Tumenggung Kabul Di Bukit membuat kampung yang diberi nama Kadipan,  Pangeran Adipati Yang Tiada Katik Bayang-Bayang membuat kampung yang diberi nama Perabon, dan Pangerann Paku Negara membuat kampung yang diberi nama Kebumen.

Panembahan memiliki dua orang anak, perempuan dan laki-laki. Anak perempuannya, Ratu Mas Juminten, menikah dengan raja Johor. Anak laki-lakinya selanjutnya dinobatkannya menjadi raja dengan gelar Sultan Agung Sri Ingalaga.

Ketika Ratu Mas Juminten meninggal, Raja Johor tinggal bersama Sultan Agung di nagari Jambi. Pada saat Sultan Agung sedang pergi ke ulu, Raja Johor pulang ke Johor dengan melarikan bedil kerajaan yang bernama Si Jimat dan gong yang bernama Si Taming Jambi.

Sekembali dari ulu, Sultan Agung terkejut mengetahui bedil dan gong kerajaan dilarikan oleh Raja Johor. Sultan Agung segera memerintahkan orang-orangnya untuk menyerang nagari Johor hingga akhirnya Johor dapat dikalahkan. Nagari Johor kemudian meminta bantuan dari Palembang dan Jambi pun minta bantuan dari Padang di bawah pimpinan Tuan Petor. Setelah Johor dapat dipukul mundur kembali, Tuan Petor membuat gedung di Pacinan.

Pada pasal kelima diceritakan tentang pembuangan Sultan Agung oleh anaknya. Diceritakan bahwa Sultan Agung mempunyai dua orang anak, Raden Gegadih dan Raden Jumut. Raden Gegadih yang gagal membunuh Sultan Agung meminta bantuan kepada Tuan Petor untuk membuang ayahnya ke Betawi. Mengetahui perbuatan Raden Gegadih, Raden Jumut melarikan diri ke Muara Tabo dan kemudian diangkat sebagai raja oleh rakyatnya dengan gelar Sultan Maharaja Batu.

Niat jahat Raden Gegadih muncul tatkala mengetahui bahwa Raden Jumut telah menjadi raja di Muara Tabo. Ia minta bantuan ke Palembang untuk menyerang Sultan Maharaja Batu. Peperangan ini dapat dilerai oleh Yang Dipertuan Minangkabau. Selanjutnya, mereka pulang ke tempat masing-masing. Meskipun demikian, Raden Gegadih tetap saja berniat jahat kepada Sultan Maharaja Batu. Ia minta bantuan kepada Tuan Petor untuk membuang Sultan Maharaja Batu. Sultan Maharaja Batu tertangkap dan dibuang ke Betawi. Sepeninggal Sultan Maharaja Batu, anak tertuanya diambil oleh Sultan Gegadih dan diangkatnya sebagai raja untuk menggantikannya, dengan gelar Sultan Abdul Mukhyi.

Mendengar kabaar bahwa saudaranya menjadi raja di nagari Jambi, Raden Abdul Rahman, yang juga putera Sultan Maharaja Batu, pergi ke hilir menemui Sultan Abdul Mukhyi dan memaksanya untuk menyerahkan kedudukannya sebagai raja kepada dirinya. Saat itu pula Raden Abdul Rahman menjadi raja dengan gelar Sultan Abdul Rahman Anom Sri Ingalaga. Sementara itu, Sultan Abdul Mukhyi dibuang ke pedalaman.

Di dalam masa pemerintahannya, Sultan Abdul Rahman mengangkat menteri-menteri dan memberi nama serta pangkatnya masing-masing. Seorang menterinya yang bernama Ki Demang Miskin bermaksud memperisteri anaknya, tetapi hal itu menimbulkan kemarahan raja-raja di dalam nagari itu. Mengetahui hal tersebut, Ki Demang Miskin datang kepada Tuan Petor dan menyebarkan fitnah bahwa sultan bersama raja-raja dan menteri bersepakat hendak menyerang Tuan Petor.

Akibat fitnah yang dilontarkan oleh Ki Demang Miskin tersebut, Tuan Petor menyerang negeri Jambi hingga berbulan-bulan lamanya. Dalam peperangan itu banyak rakyat negeri Jambi yang mati. Sultan Abdul Rahman Anom segera menyuruh utusan pergi menghadap Tuan Jenderal di Betawi untuk mengadukan adanya serangan Tuan Petor tanpa sebab yang jelas. Setelah memeriksa perkara itu, Tuan Jenderal memulangkan Ki Demang Miskin ke Jambi serta menyuruh Tuan Petor menetap kembali di Jambi. Selanjutnya, Tuan Petor membangun kota di Muara Kumpeh.

Tatkala Sultan Abdul Rahman meninggal, anaknya yang menjadi pangeran ratu menggantikannya menjadi raja dengan gelar Sultan Ahmad Zainuddin. Pada masa Sultan Ahmad Zainuddin menjadi raja inilah Tuan Petor yang berada di Muara Kumpeh diamuk oleh orang Jambi karena persoalan dalam jual beli lada. Tuan Petor akhirnya melarikan diri pulang ke Betawi.

Selanjutnya hanya diceritakan secara ringkas jurai kuturunan Sultan Ahmad Zainuddin. Sepeninggal Sultan Ahmad Zainuddin, anaknya yang menjadi pangeran ratu menggantikannya sebagai raja dengan nama Sultan Masyhud. Sepeninggal Sultan Masyhud, anaknya yang menjadi pangeran ratu menggantikannya sebagai raja dengan nama Sultan Mahmud Mukhiddin. Anak Sultan Mahmud Mukhiddin yang pertama, Raden Mahmud, dijadikannya pangeran ratu yang kemudian menggantikannya menjadi raja dengan nama Sultan Mahmud Fakhruddin. Tamatlah hikayat ini di dalam Muara Kumpeh pada sanat 1253 dan kepada 27 Rabiulakhir, hari Ahad tamat adanya.