10/05/15

lentera

ada metafor romantik yang disematkan pada puisi. dia bagai lentera ketika kita berjalan dalam kepungan kegelapan. dengan cahaya lentera itu, kita dapat melihat berbagai tikungan, simpangan, halang dan rintang dan aral jalanan. kita terjauhkan dari kesesatan, sekurang-kurangnya kembali pada trayektori semula apabila tersesat. tapi tentulah tidak semua puisi merupakan lentara bagi musafir kehidupan.

yang saya temukan, kebanyakan puisi hanyalah kitsch yang digubah tanpa pertimbangan budaya yang matang. puisi yang lentera seumpama mutiara di kedalaman lautan. ada, tetapi sukar diperoleh, terbatas jumlahnya. salah satu mutiara itu adalah puisi berjudul Di Samping Terompah Raden Rama­--selanjutnya disebut Di Samping saja. dia digubah iman budi santosa, penyair sepuh yogya yang berproses kreatif bersama umbu, linus, cak nun dan lain-lain. berikut salinannya secara lengkap.

DI SAMPING TEROMPAH RADEN RAMA
: Pasewakan Agung Ayodya

Kalah janji dengan permaisuri Kekayi
Dasarata kehilangan taji
dan memilih pulang ke alam sonyaruri

Sedang Barata malah menebar teka-teki
pulang dari hutan Dandaka ia meletakkan terompah Rama
di singgasana dan menyimpan mahkota
dalam kamar pusaka

"Aku bukan raja." Suara Barata membahana
dalam pasewakan agung Ayodya
dan ketika narapraja bersujud
ia berpaling melepaskan diri dari kemelut

Sementara singgasana diduduki sepasang terompah
balairung termenung menunggu sembarang titah
"Aku hanya wakil raja, Bunda." Kembali Raden Barata
menghadang keris tombak bicara.
Tiga permaisuri menggangguk
seluruh ponggawa pun diam terduduk

Keraton tenteram, hari bulan tahun teranyam
ketika tak terbelah patembayatan oleh kuasa
yang dipertaruhkan, dibesarkan dalam angan-angan

2010

(Ziarah Tanah Jawa, 2013: 69)

saya membaca puisi ini sebagai semacam renungan atas drama politik yang terjadi di negeri ayodya pada zaman epos ramayana. bukan sembarang renungan, tetapi renungan istimewa yang oleh penyair agaknya sengaja dihadirkan sebagai cermin bagi pembaca tertentu yang istimewa kedudukan politiknya. saya tak tahu pasti dan tak hendak memastikan siapakah pembaca istimewa tersebut. namun begitu, sebagaimana puisi pada umumnya yang bersifat terbuka, tirta makna puisi ini bisa pula disauk dan diteguk oleh kalangan pidak pedarakan seperti saya.

meskipun Di Samping menyebutkan sejumlah tokoh ramayana, figur utama di dalamnya adalah Raden Barata. dia saudara tiri Raden Rama, sebapak, tapi lain ibu. menurut paugeran, pewaris sah tahta ayodya, setelah raja dasarata kelak meninggal, adalah raden rama. namun, hak pewarisan itu goyah manakala sang raja membuat sebuah perjanjian kuasa dengan calon permaisurinya yang baru, ialah kekayi. perawan kekayi rela dinikahi dasarata asalkan sang raja ikhlas menyerahkan ayodya kepada anaknya, bukan kepada raden rama. raja setuju. rara kekayi naik ke pelaminan dengan harapan yang melampaui tinggi bintang. kini dasarata punya tiga permaisuri: ibunda raden rama, ibunda raden lesmana, dan kekayi yang bakal melahirkan raden barata.

menjelang suksesi, saat dasarata memasuki gerbang kehidupan senjakalanya, kekayi menagih janji. dia menekan sang raja agar memberikan kerajaan kepada raden barata. dasarata tercenung di persimpangan jalan. menoleh simpang kanan, dia harus mempertahankan paugeran. menghadap simpang kiri, dia pun harus menepati janji. dia terhimpit di antara dua kebenaran. semua pilihan menuntut resiko besar. salah ambil langkah, kerajaan ayodya remuk-redam diharu-biru perang saudara.

pada kondisi demikian, kekayi malah bertindak sepihak. dia mengusir raden rama sekelurga dari ayodya. ketika raden lesmana mengikuti langkah kakak tirinya untuk memasuki hutan karena diusir, itu tidak meresahkan kekayi. keresahannya muncul saat raden barata juga ingin mengikuti rama. putra kinasihnya ini ternyata begitu menyayangi, menghormati, dan mengagumi sang putra mahkota sejati. kekayi menghadang langkah raden barata, tetapi yang dicegah terus saja menjalankan tekadnya. memikirkan kejadian tak diduga dan tak diharapkan itu, dasarata jatuh sakit, kemudian meninggal dalam penyesalan.

sementara itu, di lain tempat, raden barata berhasil menyusul raden rama; sebetulnya tidak hanya untuk mengikuti langkah sang kakak, melainkan juga untuk mengembalikan tahta kepada siapa yang berhak. entah dewa mana yang merasuk ke dalam dirinya, raden rama memberikan jawaban yang boleh dikatakan bersifat adimanusiawi. dia tidak mengambil hak atas tahta yang diserahkan kembali, malah balik mempercayakan ayodya kepada raden barata. raden barata menolak, sedangkan rama kukuh dengan sikap zuhudnya.

akhirnya, setelah terjadi suatu negosiasi politik yang ganjil--lebih-lebih berdasarkan sudut pandang kita yang hidup pada akhir zaman, raden barata pun menerima mandat raden rama, bukan sebagai raja, tapi hanya sebagai wakil raja. oleh raden rama, raden barata diajari hastabrata, seperangkat ilmu rohani menjadi pemimpin, kemudian kembali ke ayodya dengan membawa sepasang terompah rama. sesampainya di istana, raden barata menggelar pasewakan agung, dan terjadilah apa yang dituturkan puisi ini.

dengan meletakkan sepasang terompah rama di atas singgasana, dengan berkata kepada kekayi, "aku hanya wakil raja, ibunda," raden barata telah menghadang keris tombak bicara. berbekal sikap qonaah dan zuhud, raden barata berhasil mencegah perang saudara karena polemik suksesi. tiga permaisuri mengagguk, rukun dalam perdamaian. seluruh ponggawa pun diam terduduk, tidak bersiaga mencabut keris menghunus tombak. keraton tenteram. patembayatan agung tak terbelah oleh kuasa yang dipertaruhkan dan dibesarkan dalam angan-angan. api ketamakan gagal membakar bumi ayodya.

lantas, di manakah kemutiaraan dan kelenteraan puisi ini? ayodya adalah negeri impian, tampaknya juga bagi pendiri kesultanan ngayogyakarta hadiningrat. ada yang berasumsi, secara etimologi kata ngayogya berasal dari kata 'ayodya', negeri yang dipimpin para zahid: raden barata, lalu raden rama. leluhur kesultanan yogyakarta barangkali ingin agar anak-cucunya yang bakal melanjutkan keprabuannya meneladani kezuhudan raden barata dan raden rama, menjalankan lelampahan hastabrata dengan penghayatan yang murni. dia tidak hendak menyaksikan keturunannya berebut tahta.

tapi, kehendak, apalagi kehendak luhur, jarang bertemu dan bertaut dengan kenyataan. sejarah merekam, kesultanan yogyakarta, sebagaimana kebanyakan kesultanan lain di nusantara, tidak benar-benar sunyi dari polemik suksesi. pergantian kekuasaan menentukan hidup mati kesultanan.

yang paling terpukul batinnya karena rebut kuasa itu barangkali adalah rohaniwan yang dalam kehidupan sehari-hari menjelma sebagai pribadi-pribadi umum yang menyandang beragam profesi. boleh jadi, dia adalah kiyai, atau hanyalah pemulung, atau malah pelacur. boleh jadi pula, dia seorang tokoh budaya bernama besar, misalnya penyair.

apakah penyair iman budi santosa yang suara batinnya tersingkap melalui puisi ini juga terpukul oleh rebut kuasa yang saat ini berlangsung di keraton yogyakarta? saya tak tahu. wallahu a'lam. saya hanya merasakan, dengan derajat kepastian yang cukup, bahwa Di Samping Terompah Rama merupakan lentera yang menerangi perjalanan seorang musafir kehidupan. saya merasa beruntung pernah membaca puisi ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mohon hanya memberi komentar berupa kritik yang membangun. dimohon pula untuk memberi komentar yang tidak melecehkan nama baik pihak tertentu. salam