31/12/21

Politik Kebaikan: dari Krisna hingga Gus Dur

Politik diperlukan untuk memenangkan kebaikan. Jika tak dikawal politik, kebaikan niscaya dikalahkan oleh kejahatan yang cerdik. Itulah pesan tersirat yang kita temukan saat "membaca" ketokohan Krisna dalam lakon Baratayudha.


Klimaks lakon Baratayudha terjadi di medan Kurusetra. Pasukan Pandawa, yang merepresentasikan kebaikan, berhadap-hadapan dengan pasukan Kurawa yang teridentikkan dengan kejahatan. Kurawa tak hanya dibela Begawan Durna, pakar perang yang berpengalaman dan cerdas, tetapi juga disokong penuh oleh Sengkuni, patih yang terkenal cerdik, bahkan licik. 


Berkat kecerdikan Sengkuni, Pandawa sempat terusir dari istana Astinapura. Para bangsawan luhur tersebut terpaksa mengai-ngais hidup di hutan belantara, lalu mencari suaka ke kerajaan lain. Berkat kecerdikan Sengkuni pula, pasukan Pandawa terpukul mundur di medan Kurusetra. Kubu Pandawa terancam kalah. 


Untung saja, kalangan Pandawa juga punya tokoh yang tak kalah cerdik ketimbang Sengkuni. Tokoh, yang setengah dewa setengah manusia, itu adalah Prabu Krisna. Saat menyaksikan tanda-tanda kekalahan Pandawa, Krisna segera menyusun siasat cerdik. 


Panglima pasukan Kurawa saat itu adalah Durna (juga disebut: Drona). Sang begawan punya putra kesayangan yang turut bertempur di Kurusetra. Aswatama namanya. Dalam analisis Kresna, cinta Durna kepada Aswatama adalah titik kelemahan sang begawan. Musibah yang terjadi pada Aswatama bakal melumpuhkan semangat juang Durna. 


Krisna lantas merancang sandiwara. Ia berbincang dengan Yudhistira, yang juga bernama Puntadewa. Ia yang tertua dari kakak-beradik Pandawa Lima. Yudhistira ditugasi menjadi pendengung (buzzer) hoax bahwa Aswatama telah tewas. 


Yudhistira dipilih karena sulung Pandawa tersebut adalah sosok yang shiddiq dan amanah. Ia lugu dan tak pernah bedusta. Jadi, siapa pun akan langsung percaya terhadap berita apapun yang disampaikan Yudhistira. Sebab, wajahnya bukanlah wajah seorang pendusta. Rekam jejaknya bersih. Integritasnya teruji. 


Sebagaimana orang lain pada umumnya, Durna pun akan langsung mempercayai apapun informasi yang disodorkan Yudhistira. Apalagi, meski keduanya berhadap-hadapan di Kurusetra, relasi Durna dengan Yudhistira amat dekat. Yudhistira adalah muridnya sendiri. 


Perang Baratayudha memang unik. Ia tak hanya memperhadap-hadapkan ayah dengan anak, kakek dengan cucu, kakak dengan adik, serta paman dengan keponakan. Perang besar itu juga membuat guru dan murid saling beradu senjata. Dan Yudhistira adalah murid yang dipercayai Durna.


Itulah sebabnya, ketika Durna mendengar berita dari Yudhistira bahwa Aswatama telah gugur, panglima sepuh itu seolah kehilangan tenaga. Barangkali, Durna ingin tak percaya terhadap berita kematian Aswatama. Tapi, bagaimana pun juga, Yudhistira telah membenarkan berita duka tersebut. Maka, Durna pun percaya, meskipun berat untuk menerima kenyataan. Senjatanya terjatuh. Dan ia pun terduduk lunglai. 


Keruntuhan moral Durna ini diungkapkan dengan sederhana, tetapi indah dan membekas di hati, oleh--Allah yarham-- Iman Budhi Santosa dalam puisinya yang berjudul Dusta Puntadewa. Berikut kutipan lengkapnya yang bersumber dari Ziarah Tanah Jawa: Kumpulan Puisi 2006-2012 (h. 12-13), salah satu karyatama sastrawan luhur Yogyakarta yang menghayati puisi sebagai semacam laku spiritual itu.


DUSTA PUNTADEWA

: Drona gugur


Drona hari itu benar-benar tak berharga

di mata Pandawa, walau Puntadewa sejenak ragu

menjawab merah atau biru pada Sang Guru


"Siapa yang mati, Ananda?"


Drona percaya, darah putih masih setia

menjaga sulung Pandawa dari durhaka


Oleh kerdipan mata Kresna, Puntadewa mengangguk

bibir dan suaranya mengombak, menyebut gambar

sekalian menombak tikus sembunyi di celah akar


Gajah Hestitama tunggangan Prameya

senapati pengapit Hastina yang tewas

digubah jadi nama emas

merampas kesaktiab Drona tua

sebelum puput menebus dosa


"Aswatama mati? Anakku mati?" Drona memekik gila

dan Destrajumena punya kesempatan menebaskan pedangnya


Perang berhenti. Kurusetra sepi.

Mata Puntadewa basah

Pandawa-Kurawa pun merasa terjerembab ke bumi

karena menang kalah harus jadi

lidah mata juga ikut berperang

menghapus kata maaf dan berbagi

pada semua yang berbaris di sisi kiri

(tempat yang salah dan dicerca sejarah)

agar cerita wayang tak pernah mati

menebar terang, mengirim wangi

serupa kisah nabi dalam kitab suci


2006


Demoralisasi Durna mempengaruhi seluruh tentara Kurawa yang dipimpinnya. Karena kehilangan pimpinan, gelar pasukan Kurawa, yang sebelumnya telah terorganisir rapi dan rapat, menjadi kocar-kacir. Kubu Pandawa menggunakan momentum itu untuk memukul mundur kubu Kurawa. Bahkan, kelengahan Durna juga dimanfaatkan untuk menyerang sang begawan. Akhirnya, guru Yudhistira itu tewas, tragisnya justru karena termakan hoax yang disebarkan muridnya. 


Gugurnya Durna menjadi titik balik dinamika peperangan. Setelah kematian Durna, selangkah demi selangkah Pandawa berhasil mendominasi jalannya peperangan. Dan kita semua tahu ending ceritanya: Pandawa menang, Kurawa kalah. Kebaikan menang. Kejahatan kalah. Hasil yang tampak sederhana, walaupun dilatarbelakangi proses yang sedemikian kompleks dan menguras perasaan.


Jika Krisna tak menyusun siasat cerdik--yang dipersepsi sebagai konspirasi licik oleh pihak Kurawa--hasil akhir peperangan mungkin akan berbeda. Mungkin Kurawa-lah yang menang, sedangkan Pandawa kalah. Atau, mungkin hasil akhirnya imbang. Tapi, berkat "politik kebaikan" yang dijalankan Krisna, Pandawa-lah yang akhirnya tampil sebagai pemenang di gelanggang peperangan. Kebaikanlah yang akhirnya menjadi juara dan jawara.


"Politik kebaikan" Krisna sebenarnya membuat figur ini sukar dipahami. Ia bukan sosok yang lurus sebagaiamana Yudhistira, yang saking lurusnya sampai-sampai disebut-sebut bahwa darahnya berwarna putih. Yudhistira, putra Betara Darma itu, memang sosok yang karakternya serba putih. Bercak noda hitam yang mengaibi putihnya kepribadian Yudhistira adalah "kebohongan"-nya kepada Durna, selain kekhilafannya di meja judi dadu.


Di kutub yang berseberangan, ada Patih Sengkuni. Ia sosok yang karakternya ditampilkan serba hitam. Sengkuni-lah yang menjadi intellectual leader di balik kezaliman dan keculasan Kurawa. 


Krisna bukan Yudhistira, bukan pula Sengkuni. Dari segi perwatakan, Krisna ada di tengah-tengah mereka berdua. Karakter Krisna bersifat moderat. Pada dirinya, berjalin secara ajaib dan padu dua hal yang kesannya bertolak belakang: kesucian-rohani Yudhistira dan kecerdikan-politik Sengkuni. Krisna, yang maqom spiritualnya lebih tinggi daripada Yudhistira, justru berpolitik. 


Dikatakan memiliki maqom spiritual lebih tinggi karena Krisna adalah titisan Wisnu. Krisna adalah dewa yang mengejawantah menjadi manusia. Krisna diyakini sebagai guru spiritual sejati. Dialognya dengan muridnya, yaitu Arjuna, bahkan terekam menjadi kitab suci Bhagavad Gita. Kontras bahwa dewa sesuci Krisna ternyata mau berkotor-kotor dalam kubangan politik. Demi memenangkan kebaikan yang dipihakinya.


Jalan "politik kebaikan" Krisna juga ditempuh Gus Dur, santri par excellance yang pada dirinya tergabung kesucian rohani sekaligus kecerdikan politik. Ketika barisan kiai penjaga moral menjauh dari politik praktis, Gus Dur justru menceburkan diri ke dalam lumpur politik, dengan risiko kehilangan nama baik di mata orang-orang pesantren. Dengan risiko terbunuh, baik secara harfiah maupun secara citrawi. Kita tahu, berkali-kali Gus Dur diserang isu miring yang berpotensi menjatuhkan reputasinya. Tak sekali dua kali Gus Dur hendak dihabisi oleh Orde Baru.


Meskipun intens berkubang dalam lumpur politik, sejarah akhirnya mencatat bahwa level Gus Dur barangkali bisa disejajarkan dengan Sunan Gunung Jati, Raden Patah, Mangkunegara IV, dan Hamengkubawana IX, segilintir di antara sekian banyak pemimpin luhur di Nusantara yang teguh menjalani lelaku politik kebaikan. Bahkan, di kalangan akar rumput NU, muncul penilaian bahwa Gus Dur adalah waliyullah yang ke-10 dari sembilan Walisanga yang telah melegenda. Tentu saja, pendapat ini tak luput dari perdebatan.


Tapi, kendati pun bukanlah waliyullah penjaga Bumi Nusantara yang ke-10, integritas Gus Dur tak usah ditanyakan lagi, walaupun sempat diragukan. Penjungkalan Gus Dur dari kursi kepresidenan dimulai dengan tuduhan yang belakangan terbukti keliru: Gus Dur terlibat dalam skandal korupsi Bruneigate dan Buloggate. 


Alih-alih melakukan korupsi, selama menjadi presiden Gus Dur justru berupaya membersihkan pemerintahan dari anasir koruptor, juga dari polah tingkah kepolitikan gaya Sengkuni. Entah kenapa, saya merasa Gus Dur seakan tak krasan di istana negara. Justru saat menjadi presiden, Gus Dur kian kerap berziarah ke makam-makam tua. Masyhur jawaban Gus Dur ketika ditanya alasan mengapa ia kerap berziarah ke makam: Orang mati itu jujur. Tidak berdusta. Tidak munafik. 


Kiranya jawaban lugas ini merefleksikan gejolak jiwa "pandita"-nya yang ingin menciptakan jarak moral antara dirinya dan politik praktis. Dalam redaksi yang berbeda, Kiai Husein Muhammad--sahabat Gus Dur yang mendirikan Fahmina Institute dan aktor intelektual terhelatnya Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) yang pertama pada 2017--juga membeberkan jiwa pendeta Gus Dur ini. 


"Gus Dur, Maulana Rumi, dan para wali Allah," tulis Kiai Husein dalam buku Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus (2016: 17), "adalah orang-orang yang selama hidupnya diabdikan untuk mencintai seluruh manusia. Mereka memberikan kebaikan karena semata-mata kebaikan itu sendiri, bukan karena mengharap kebaikan itu kembali kepada dirinya." 


Kiai Husein, dalam buku yang sama, bahkan menyandingkan dan membandingkan Gus Dur dengan Pangeran Siddharta: "Pecinta kemanusiaan sejati memang rela menanggung derita. Gus Dur bagai Buddha Gautama. Maulana Jalal al-Din Rumi dari Konya, Anatolia, Turki mengatakan bahwa pecinta sejati mengorbankan dirinya sendiri dan tidak mencari apa pun demi imbalan" (2016: 118).


Seandainya Gus Dur berpolitik demi memburu imbalan, tentu ia tidak akan turun secara sukarela dari singgasana kepresidenan ketika dipaksa lengser oleh musuh-musuh politiknya. Gus Dur berpolitik demi kesejahteraan rakyat, yang dalam konteks nasionalisme dijabarkan menjadi "demi kejayaan dan keutuhan bangsa dan negara". Prinsip politik-kebaikan ini dinyatakan Gus Dur dalam "Negara dan Kepemimpinan dalam Islam", sebuah artikel pendeknya yang terhimpun dalam buku Islamku, Islam Anda, Islam Kita: Agama, Masyarakat, Negara, Demokrasi (2011: 97-101). 


"Dalam Islam," tulis Gus Dur dalam artikel yang awalnya terbit di surat kabar Kedaulatan Rakyat tepat 19 tahun lalu itu (21/12/2002), "kepemimpinan haruslah berorientasi kepada pencapaian kesejahteraan orang banyak. Sebuah adagium terkenal dari hukum Islam adalah 'kebijakan dan tindakan seorang pemimpin haruslah terkait langsung kepada kesejahteraan rakyat yang dipimpin' (tasharruf al-imam 'ala al-ra'iyyah manuthun bi al-mashlahah). Jelaslah dengan demikian kepemimpinan yang tidak berorientasi kepada hal itu, melainkan hanya sibuk dengan mengurusi kelangsungan kekuasaan saja, bertentangan dengan pandangan Islam mengenai kepemimpinan." 


Prinsip adiluhung yang secara universal diamanatkan oleh semua agama tersebut enteng dikatakan. Tapi, mencari perimbangan antara tarikan duniawi di satu kutub dan standar ukhrawi di kutub lain merupakan jihad yang berat, bukan?


12/12/21

Kendala Belajar Bahasa Arab

Bagi orang Indonesia, kenapa belajar bahasa Arab susah? Sebagian ahli menjelaskan bahwa hal itu terjadi karena metode pembelajaran yang digunakan tidaklah tepat. Dalil mereka: ath-thoriqoh khoirun minal maaddah. Metode pembelajaran lebih baik ketimbang materi pembelajaran. Yang dimaksud "lebih baik" adalah "lebih penting" atau "lebih menentukan". 


Tapi, ada pendapat lain. Bahasa Arab sulit dipelajari orang Indonesia, yang sehari-hari memakai bahasa Indonesia, karena struktur bahasa Arab berbeda scr mendasar dgn struktur bahasa Indonesia. Dilihat dari perspektif morfologi, yaitu cabang ilmu bahasa yang mempelajari perubahan bentuk kata, pola perubahan bentuk kata dalam bahasa Arab berbeda dgn pola dalam bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia termasuk rumpun bahasa aglutinatif. Sebuah kata dasar diubah menjadi sejumlah kata turunan dgn proses pengimbuhan, pengulangan, dan pemajemukan. Contoh, kata "merah" berubah menjadi "memerahkan" dengan proses pengimbuhan, "merah-merah" dengan proses pengulangan, dan "merah padam" dengan proses pemajemukan.

Suatu kata tunggal dalam bahasa Indonesia tidak mengenal gender, jumlah, dan kala. Misalnya, kata ganti "dia" bisa digunakan untuk menunjuk baik laki-laki maupun perempuan. Bisa diacukan pada "dia" satu orang, "dia" dua orang", atau "dia" tiga orang atau lebih.

Kata "membaca" tak mengandung makna kewaktuan secara inheren. Bila saya berkata "Saya membaca", maka kalimat tersebut dapat diartikan "Saya sudah membaca", "Saya sedang membaca", atau "Saya akan membaca". Untuk mengungkapkan kala/waktu terjadinya suatu aktivitas, kata kerja harus didampingi dengan keterangan waktu: sudah, sedang, akan, dan sebagainya.

Struktur bahasa Indonesia tersebut berbeda dengan struktur bahasa Arab yang termasuk bahasa bertipe fleksi. Dalam bahasa fleksi, kata dasar tidak diubah menjadi kata-kata turunan melalui proses pengimbuhan, pengulangan, dan pemajemukan. Perubahan kata dalam bahasa Arab berpola deklinasi dan konjugasi.

Contoh deklinasi: kata dasar qiro-ah berubah menjadi kata turunan qoro-a (dia laki-laki telah membaca) dan qoro-at (dia perempuan telah membaca). Contoh konjugasi: kata dasar qiro-ah berubah menjadi kata turunan qoro-a (dia laki-laki telah membaca) dan yaqro-u (dia laki-laki sedang/akan membaca), bisa pula berubah menjadi kata turunan qoro-a (dia laki-laki satu org telah membaca), qoro-aa (dia laki-laki dua orang telah membaca), atau qoro-uu (dia laki-laki tiga orang atau lebih telah membaca).

Makna kewaktuan dan jumlah pelaku inheren di dalam suatu kata tunggal. Untuk menunjukkan kapan terjadinya sebuah aktivitas atau berapa jumlah pelaku, kata kerja tak perlu didampingi dengan keterangan waktu atau keterangan jumlah pelaku.

Perbedaan pola perubahan kata dalam bahasa Arab dan bahasa Indonesia tersebut tentulah mempersulit upaya belajar bahasa Arab bagi orang Indonesia. Biasanya, dalam pembelajaran bahasa Arab untuk penutur bahasa Indonesia, kesulitan itu diatasi dengan cara menghapalkan pola deklinasi dan konjugasi kata bahasa Arab. Metode ini dikenal dengan nama tashrifan atau tashrifiyyah.

Apakah solutif? Tidak juga. Sebab, murid yang hapal pola konjugasi dan deklinasi belum tentu bisa menerapkan pola tersebut dalam komunikasi praktis. Ia juga belum tentu mengerti makna tiap kata turunan secara tepat.

Jadi, bagaimana solusi yang lebih efektif?