09/01/16

sumur

Sumur melambangkan orang yang berilmu. Ilmu bagaikan air yang memancar dari liang sumur. Begitu pula ilmu, memancar dari dada orang berilmu. Sesring terjadi, air sumur yang dibagi-bagikan kepada warga secara gratis tidak kunjung kering. Semakin banyak dibagi, justru air dalam sumur itu semakin banyak; juga saat musim kemarau. Ilmu pun demikian. Semakin banyak dibagi, jumlahnya semakin bertambah banyak.
Air itu menghilangkan dahaga, di samping menyegarkan dan menyejukkan. Ilmu menghilangkan dahaga spiritual, juga menyegarkan rohani dan menyejukkan batin; apabila ilmu itu benar-benar ilmu. Air adalah syarat kehidupan jasmani. Ilmu adalah syarat kehidupan rohani. Karena itu, ilmu kerap disebut sebagai air kehidupan.
Air digunakan untuk bersuci. Air membersihkan kotoran, najis, dan noda yang menempel pada tubuh. Ilmu pun untuk bersuci. Ilmu membersihkan pikiran dari kotoran, najis, dan noda ilusi, fatamorgana, angan-angan, bayangan; dari semua pengertian yang serba palsu tak sejati; dari segala kesalahan. Setelah membersihkan pikiran, ilmu mensucikan hati dari kotoran, najis, dan noda rohani. Kalau ada ilmu yang mengeruhkan, bahkan mengotori pikiran dan hati, itu pasti bukan ilmu, melainkan sekadar teori yang tak bermanfaat.
Air memadamkan api yang ganas menyala-nyala, yang membakar habis kayu dan daun kering yang ditemuinya. Ilmu memadamkan api angkara murka yang menyala-nyala dalam dada. Kita mencari ilmu untuk memadamkan api angkara murka itu sebelum kebaikan dan kesadaran kita dibakar habis olehnya, sebagaimana kayu kering yang dibakar habis oleh api.
Air yang mensucikan, menghilangkan dahaga, menyegarkan rohani, menyejukkan batin, dan memadamkan api tersebut ada dalam sumur. Ilmu ada dalam dada orang yang berilmu. Berdasarkan metafor ini, jagad jawa menciptakan sumur-sumur aneh.
Dalam peribahasa sumur lumaku tinimba, kita menyaksikan sumur yang berjalan. Ternyata, tidak semua sumur diam di tempat selamanya. Ada juga sumur yang berjalan. Sumur berjalan yang dimaksud adalah cendekiawan. Kita diharuskan menimba ilmu yang memancar dari dadanya. Cendekiawan jangan diacuhkan. Jangan sampai ada cendekiawan yang keadaannya merana, seperti kain lungsed ing sampiran; kain lecek yang tergantung-gantung kesepian di jemuran. Ilmunya tidak bermanfaat karena kita tidak berguru kepadanya.
Sumur aneh lainnya dalam jagad jawa adalah sumur yang menjemput timbanya; sumur marani timba. Kali ini sumur tidak saja berjalan, tetapi juga berjalan dengan motif tertentu, yaitu menjemput timba. Makna sumur dalam peribahasa ini adalah guru. Timbanya adalah murid. Di kalangan spiritual, tidak hanya murid yang mencari guru, tetapi guru pun mencari murid. Ilmu spiritual adalah konsumsi kelompok tertentu. Tidak semua muslim berkemampuan untuk mengaksesnya. Karena itu, guru berupaya mencari murid yang sanggup menampung keaengan, keluasan, dan kedalaman ilmu spiritual.
Itulah dua, barangkali dari sekian banyak, sumur aneh yang ada dalam jagad jawa. Keanehan tersebut bermula dari pengiasan sumur dengan orang berilmu. Apa makna sumur dalam jagad kebudayaan lain? Dalam jagad melayu, jagad bugis, jagad banjar, jagad…?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mohon hanya memberi komentar berupa kritik yang membangun. dimohon pula untuk memberi komentar yang tidak melecehkan nama baik pihak tertentu. salam