14/06/16

Jembatan Itu Bernama Agama

Ahmad Tohari pernah menulis sebuah cerpen berjudul Orang-Orang Seberang Kali. Tokoh utamanya adalah kyai yang tinggal di suatu desa yang religius, katakanlah kampung santri. Sebuah sungai memisahkan kampung santri ini dengan kampung seberang sana. Tidak hanya memisahkan secara geografis, tetapi juga secara kebudayaan.
Kalau penduduk kampung sang kiai pada umumnya saleh, penduduk kampung seberang sana abangan, jadi awam dalam hal agama, bahkan direndahkan sebagai orang bodoh. Warga kampung abangan gemar berjudi sabung ayam. Seorang tokoh kampung yang kecanduan judi sabung ayam, mengalami sakaratul maut yang ganjil. Sebelum nyawa lepas dari badannya, dia bertingkah seperti ayam jago yang menang sabung: berkeliling halaman rumah, mengepak-kepakkan tangan laksana jago mengepak-kepakkan sayap, lantas berdiri tegap dengan membusungkan dada, mengumandangkan kokok kejayaan, setelah itu tersungkur rebah ke tanah.
Adegan simbolis itulah yang memikat saya ketika saya membaca cerpen tersebut pada kali pertama. Saya menganggap cerpen itu ditulis dengan plot yang memuncak, dengan bagian akhir sebagai simpul makna. Setelah saya renung-renungkan, anggapan terburu-buru ini tidak tepat benar. Memang plot Orang-Orang Seberang Kali memuncak, tetapi simpul maknanya tidak diletakkan di ujung, melainkan di pertengahan cerpen, dengan adegan: sang kiai berjalan meniti jembatan pinang yang melintang di atas sungai yang menghubungkan kedua tepinya.
Dengan meniti jembatan itu, sang kiai sedang akan memasuki dunia yang lain, dunia abangan yang tidak selalu sesuai, bahkan banyak berbeda, dengan dunia santri yang selama ini dihidupinya. Dia sedang menyeberang dari dunia santri ke dunia abangan. Tapi, sebetulnya dia tidak hanya menyeberang. Lebih dari itu, dia menghubungkan kedua dunia tersebut. Jadi, peran dan fungsinya analog dengan peran dan fungsi jembatan pinang yang menghubungkan dua tepian sungai, yang sedang dititinya. Sang kiai adalah jembatan pinang itu sendiri. Atau, dikatakan secara terbalik, jembatan pinang itu merupakan simbol bagi sang kyai, bagi kekyaian.
Pesan Orang-Orang Seberang Kali pun menjadi terang-benderang: kyai harus menghubungkan dua dunia, dua kebudayaan, yang sukar bertemu, yaitu dunia santri dan dunia abangan. Dia tidak boleh bersikap eksklusif dan isolatif dalam kesantriannya, sembari meninggalkan dan menyalahkan kaum abangan. Seorang kiai harus menjadi jembatan. Soalnya, kebanyakan kiai tidak mampu bersikap demikian. Bagi mereka, santri adalah santri, abangan adalah abangan. Tidak ada jembatan. Abangan dan santri selamanya musuh abadi.
Walaupun kenyataan berkata demikian, imbauan simbolis Ahmad Tohari melalui cerpennya itu tetap mengandung kebenaran. Kyai sudah seharusnya hidup sebagai jembatan, sebagaimana Baginda Muhammad yang juga hidup sebagai jembatan. Pertama-tama jembatan spiritual, selanjutnya jembatan sosial.
Pemimpin keagamaan yang bertugas sebagai jembatan spiritual itulah yang oleh Nasr disebut manusia pontifikal. Kata pontifikal berasal dari kata dasar pontifex, artinya jembatan. Langit dan bumi, keilahian dan kemanusiaan, bagai dua tepi sungai yang terpisah. Harus ada jembatan yang menghubungkan langit dan bumi, ialah manusia pontifikal, dengan mana umat yang tinggal di bumi dapat menjalani kehidupan duniawi dalam rangka naik menuju langit tertinggi.
Konsep Nasr tentang manusia pontifikal, yang diperluasnya dari konsep al-insan al-kamil Ibnu Arabi, berhenti pada aspek spiritual ini. Implikasinya, manusia pontifikal tampil sebagai figur satu dimensi, sosok spiritual belaka, yang seolah-olah tidak memiliki dimensi sosial. Padahal, justru dalam kancah sosial-lah spiritualitas manusia pontifikal diuji. Kancah sosial akan mengesahkan dan melegitimasi apakah seseorang berhak menyandang gelar kudus manusia pontifikal atau tidak.
Mengapa Nasr luput mengembangkan konsep manusia pontifikalnya secara sosial? Kalau didekati secara hermeneutis, jawabannya berpulang pada biografi Nasr. Nasr lahir sebagai putra seorang cendekiawan berjabatan tinggi dalam pemerintahan Iran pada zamannya. Setelah memperoleh pendidikan terbaik di Iran, dia belajar di MIT, kemudian di Harvard. Sepulang dari Amerika, Nasr segera memperoleh tempat istimewa dalam lingkaran Syah Iran.
Pendeknya, secara sosial, Nasr bagian dari masyarakat kelas atas, tepatnya kelas elit. Kemiskinan dan kelaparan tidak menghantui masa kecil dan masa mudanya. Karena itu, jika konsep manusia pontifikalnya berhenti pada tataran spiritual, itu wajar-wajar saja. Realitas sosial yang keras berada di luar jangkauan horizon eksistensialnya.
Itulah yang membedakan Nasr dengan pemikir lain senegerinya, Ali Syariati. Penulis Manusia Haji yang mati muda secara misterius itu mengembangkan apa yang dalam lingkungan Katolik dinamai teologi sosial, dengan pendekatan Marxisme. Proyek Syariati adalah menurunkan ke bumi doktrin teologi Islam yang sebelumnya terbang melayang-layang di langit metafisis.
Bagi Syariati, Islam tidak saja harus menjawab, tetapi sejatinya merupakan jawaban, problem sosial. Tapi, di tangan ulama yang kehilangan etos sosial karena berbagai faktor, teologi Islam menjadi tidak bermanfaat bagi kaum marjinal yang tertindas, kaum miskin yang kelaparan, kecuali sebagai teodisi. Agama menjadi sekadar obat penenang yang tidak menyembuhkan—sebagai candu, kata Marx.
Di belahan dunia Islam yang lain, yaitu di Pakistan, proyek teologis Syariati digeluti pula oleh Asghar Ali Engineer. Islam tidak bisa mengelak dari fitrah keberpihakannya kepada kaum marjinal. Ia harus hadir sebagai kawan sekaligus pembela mereka. Di Indonesia, proyek teologi sosial Syariati dan Engineer diterjemahkan dalam bentuk praksis oleh Ahmad Dahlan dengan jalan dan gayanya sendiri.
Mbah Dahlan mendirikan Muhammadiyah, kemudian membangun organ-organ operasionalnya, antara lain sekolah, badan amal usaha, dan rumah sakit. Nama mula-mula rumah sakit Muhammadiyah, Pertolongan Kesengsaraan Umum (PKU), menegaskan ruh sosial teologi Mbah Dahlan. Sayangnya, setelah puluhan tahun ditinggalkan Mbah Dahlan, Muhammadiyah semakin menjauh dari khittah-nya sebagai institusi teologi sosial.
Kini Muhammdiyah cenderung menjadi lembaga elitis yang tenggelam dalam ideologi kelas menengah. Mbah Dahlan berpihak kepada kaum marjinal, sedangkan Muhammadiyah kontemporer berpihak kepada kelas menengah. Mbah Dahlan menjadi jembatan yang menghubungkan kaum kaya dan kaum miskin, sementara Muhammadiyah kontemporer terisolasi dan eksklusif dalam elitismenya.
Kepada pemimpin Muhammadiyah khususnya, juga kepada ulama pada umumnya, cerpen Orang-Orang Seberang Kali mengingatkan: agama, juga pemimpin agama, bertugas sebagai jembatan sosial. Agama adalah jembatan yang menghubungkan golongan santri dan golongan abangan, kelas menengah dan kelas bawah. Santri modern pada umumnya berlatar belakang sosial kelas menengah, sedangkan wong cilik muslim pada umumnya berkultur abangan.
Namun demikian, tugas kejembatanan Islam tidak berlaku dalam ruang internal masyarakat Islam saja. Islam pun harus menguniversalkan dan mentransendensikan dirinya dalam rangka mengambil peran sebagai jembatan bagi agama-agama yang berseberangan. Pada zaman Nabi, Islam menjadi jembatan bagi Nasrani dan Yahudi, dua agama abarahamik yang sukar berjabat tangan dalam damai. Pada zaman wali, Islam di Jawa relatif berhasil menjadi jembatan agama-agama, perihal yang menjelaskan mengapa Islam di Jawa tampak sinkretis.
Akan tetapi, saat ini Islam telah isolatif dan eksklusif, duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan Nasrani, Yahudi, Hindu, Buddha, dan agama-agama lain. Umat Islam menghancurkan jembatan religius yang telah dibangun leluhurnya kemudian membangun bentengnya sendiri. Konsekuensinya, kerahmatan Islam bagi semesta selalu dan selalu dipertanyakan.

Supaya kembali ke trayektori kerahmatannya, Islam perlu kembali menjadi jembatan. Ulama perlu kembali menjadi manusia pontifikal, baik dalam arti spiritual, lebih-lebih dalam makna sosial. Meminjam terminologi Ghazali, ilmu mesti disertai amal. Mudah dikatakan, tetapi pasti susah dilaksanakan, apalagi kalau kita mempertimbangkan kondisi sosial objektif Islam saat ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mohon hanya memberi komentar berupa kritik yang membangun. dimohon pula untuk memberi komentar yang tidak melecehkan nama baik pihak tertentu. salam