07/06/16

Lelaki Telanjang Kaki

Lelaki ini aneh. Waktu itu Baghdad telah jadi kota besar, metropolis Islam, latar kisah Aladin dan 1001 Malam. Penduduk kota umumnya berpenampilan kece dan terhormat. Mereka ingin dipandang sebagai warga muslim yang berbudaya dan berperadaban.
Tapi lelaki ini aneh. Pada zamannya, dia adalah kontras bagi Baghdad yang sedang bersolek. Pakaiannya sederhana, bahkan kelewat sederhana. Siapa pun yang melihatnya untuk pertama kali, pasti mengira dia pengemis. Pengemis + gelandangan. Berjalan ke mana pun, dia tidak mengenakan terompah. Tidak juga sepatu. Dia merasa harus menapaki bumi dengan kaki telanjang.
Lelaki telanjang kaki, itulah gelar keagungannya, yang dalam bahasa Arab disebut al-hafi. Dia memang agung. Ahmad bin Hambal adalah muridnya. Imam besar Mazhab Hambali ini begitu sering mengunjungi al-Hafi. Sampai-sampai, santrinya tidak habis pikir. Bertanyalah si santri yang bingung ini, “Sekarang nJenangan kan ulama top dalam ilmu hadits, fikih, kalam, dan berbagai disiplin ilmu lain, tapi nJenangan malah berguru kepada al-Hafi, gelandangan awam itu. Apa pantas?”
“Memang,” jawab Ahmad bin Hambal “dibanding al-Hafi, saya lebih mengenal semua ilmu yang kamu sebutkan tadi. Tapi, al-Hafi lebih mengenal Allah daripada saya.” Jadi, kepada al-Hafi, Ahmad bin Hambal menimba ilmu tentang Allah. Kelak, ilmu ini dikenal sebagai makrifat. Kebudayaan Jawa menyebutnya dengan sejumlah nama, antara lain ngelmu kasampurnan, sastra gendhing, dan hidayat jati. Hanya ulama tertentu, yang dipilih langit, yang memperoleh kewenangan mengajarkan ilmu dasariah ini. Dan al-Hafi termasuk ulama yang dipilih langit.
Mengapa langit memilih al-Hafi, ceritanya begini. Kita mulai dari kelahirannya. Lahir di Marw, Turkmenistan pada 150 H, 767 M, dia diberi nama Bishr. Ayahnya bernama al-Harits. Entah bagaimana mula bukanya, ketika dewasa Bishr tinggal di Baghdad dan tenggelam dalam kehidupan kelam. Malam-malamnya dipenuhi arak dan tuak. Dia terkenal sebagai preman.
Barangkali dia jenuh dengan gaya hidup seperti itu. Barangkali dia merasa gersang, hampa, oneng. Tentang perasaan Bishr ini, kita hanya bisa ber-barangkali. Tapi tentang religiositasnya, kita bisa merasa yakin bahwa Bishr memendam hal itu di kedalaman lubuk hatinya. Selama menjalani kehidupan kelam, Bishr menyimpan sendiri religiositasnya. Religiositas jadi kesunyiannya sendiri. Apa bukti religiositas pemabuk Bishr?
Seperti biasanya, malam itu dia mabuk lagi. Ketika melangkah sempoyongan di jalanan, dia melihat sehelai kertas bertuliskan kalimat basmalah. Lalu, dia mengambilnya. Tiba di rumah, kertas itu dibersihkannya, disemprotnya dengan wewangian, dan dihias dengan bunga. Bishr kemudian meletakkan kertas itu di tempat yang tinggi dan terhormat. Bayangkan, seorang pemabuk melakukan tindakan kudus yang bahkan sering tak terpikir oleh ulama sekali pun, apalagi ulama yang hatinya berkiblat pada dunia.
Wajarlah kalau malam itu, ya, malam itu juga, seorang wali dalam mimpinya menerima pesan langit yang harus disampaikan kepada Bishr. “Engkau,” demikian bunyi pesan itu “telah mewangikan nama-Ku. Aku pun mewangikan namamu. Engkau telah meninggikan nama-Ku. Aku pun meninggikan namamu. Engkau telah mensucikan nama-Ku. Aku pun mensucikan namamu. Demi keagungan-Ku, niscayalah Aku mewangikan namamu di dunia ini dan di akhirat kelak.”
Ketika bangun dari tidur, sang wali tertegun. Mimpiku ini memang pesan dari langit atau hanya karangan setan? Inilah pertanyaan yang mungkin melintas di benaknya saat itu. Dia membatin, “Bishr adalah seorang awam. Pemabuk pula. Barangkali pandangan mata hatiku sedang kabur.” Untuk mengecek kebenaran mimpinya, dia pun berwudu, salat, lalu kembali tidur. Ternyata dia didatangi mimpi yang itu-itu juga.
Esok paginya, dia segera mencari Bishr. Sang wali menyambangi rumah tempat Bishr berpesta arak.
Kepada penghuni rumah, dia bertanya, “Apa Bishr di sini?”
“Ya, itu dia. Sedang minum. Mabuk berat tuh.”
“Katakan kepadanya, aku membawa pesan untuknya.”
Mendengar hal itu, Bishr menjumpai sang wali. “Pesan dari siapa?”
“Pesan dari Allah.”
“Waduh,” seru Bishr. Tangisnya pun meledak.
“Ini pesan merendahkan atau pesan meninggikan? Tunggu, izinkan aku menyampaikan sesuatu kepada kawan-kawanku dulu.”
Di depan kawan-kawannya sesama pemabuk, Bishr mengucapkan kata-kata perpisahan. “Bung, aku baru saja menerima undangan. Aku akan pergi. Selamat tinggal. Selamanya, kalian tidak akan melihatku berpesta arak lagi.”
Sejak saat itu, Bishr menghayati kehidupan asketik. Dia menjadi aneh bagi Baghdad, kontras tajam bagi kota pesolek itu. Kini, sahabatnya bukan arak dan tuak lagi, melainkan haus dan lapar, fakir dan papa. Pakaiannya begitu sederhana, seperti pakaian pengemis. Ke mana pun, dia tak pernah memakai alas kaki.
Dia pernah ditanya, “Kenapa nJenengan tidak mengenakan terompah atau sepatu?”
“Pada hari ketika saya beruluk salam dengan Allah, saya bertelanjang kaki. Semenjak itu saya malu memakai alas kaki. Lagipula, Allah juga berkata kepadaku, ‘Aku telah menjadikan bumi sebagai karpetmu’. Tak patutlah kalau saya manapaki karpet Sang Raja dengan terompah.”
Bishr al-Hafi memang berkata begitu. Tapi selain adab, bertelanjang kaki juga bisa bermakna lain, khususnya bagi kita yang jangankan beruluk salam, mengenal Allah saja belum. Bertelanjang kaki, saya pikir, adalah pasemon, metode al-Hafi memberikan pengajaran religiositas kepada kita. Perkenankan saya mencuplik sebuah bait dari Ziarah Tanah Jawa, puisi gubahan penyair yang puisi-puisinya sering saya kutip, Iman Budhi Santosa.
Lepaskan pula terompah sepatu dan seluruh buku
menapaklah dengan kaki telanjang
biar pasir kerikil memijat kembali
telapak kakimu yang berkarat dan membesi
Kaki telanjang adalah lambang cara dan syarat pencarian ilmu. Bukan sembarang ilmu, melainkan akarnya, induknya, hulunya segala ilmu. Pada zaman Yunani Kuno, ilmu ini bernama philosophia, cinta (dan) kearifan. Dalam dunia Islam, ilmu ini disebut tasawuf atau makrifat atau al-hikmah al-muta’aliyah. Dalam Hindu, dikenal sebagai sanatana dharma. Dalam Buddha, disebut prajnaparamitha.
Semua berbicara tentang kesuwungan yang dicapai setelah pendakian spiritual (al-‘aqabah) yang minta ampun beratnya. Berat minta ampun, sebab pendaki harus terus-menerus melawan keakuannnya (mukhalafah al-nafs) hingga keakuan tersebut lebur larut dalam samudera ketiadaan. Kabarnya, itulah kesuwungan, taman (al-jannah) tempat pencari ilmu mengalami kebahagiaan sejati.
Dalam pencarian ilmu itu, dalam pendakian spiritual itu, dia harus bertelanjang kaki. Dia harus menanggalkan terompah dan sepatu. Terompah dan sepatu adalah lambang keberadaban, kehormatan, kemuliaan, ketinggian, keberpunyaan. Simbol prestige dan martabat. Dia harus meninggalkan itu semua bukan hanya secara empiris tetapi lebih secara hakiki.
Maksudnya, dia perlu masuk ke dalam kesadaran kefakiran. Dia tidak memiliki sesuatu pun. Al-Qur’an mengingatkan, Allah Maha Kaya, sedangkan kita hanyalah kaum fakir di hadapan-Nya. Dengan kesadaran kefakiran itu, dia berkemungkinan mengalami kenikmatan spiritual. “Orang yang jadi bagian dari kenikmatan spiritual,” tulis William James dalam The Varieties of Religious Experience “akan membuang apa yang dimilikinya seperti membuang terompah.” Berjalan dengan kaki telanjang menandakan penerimaan, kebercukupan, dan kekayaan rohani. Sugih tanpa bandha, kata Sosrokartono.
Selain menanggalkan terompah, pencari ilmu juga disyaratkan melupakan buku. Buku melambangkan tumpukan klaim kebenaran. Kalau klaim tersebut benar, dengan kandungan buku, kita menyaksikan Tuhan. Tapi, kalau klaim kebenaran itu salah, hanya karena membaca buku, karena ingin (merasa/dipuji) pintar, jarak kita dengan-Nya bertambah jauh.
Klaim kebenaran, dari zaman ke zaman, menjelma dalam berbagai wujud: mitos, logos, sains, adat, bahkan tafsir kitab suci. Adakalanya, mau tak mau, siap tak siap, kita perlu merobek-robek tabir-tabir itu biar pasir kerikil memijat kembali telapak kaki kita yang berkarat dan membesi, agar pada akhirnya kasunyatan tersingkap di depan mata hati.
Tentang melupakan buku ini, ada cerita menarik seputar Bishr al-Hafi. Sebagaimana Bukhari, Muslim, dan ulama hadits lain, Bishr juga mengumpulkan hadits. Dia catat hadits-hadits itu dalam buku-bukunya. Akhirnya, buku catatan itu terkumpul hingga tujuh peti. Dia tidak mengajarkan, apalagi mencetak, kumpulan haditsnya. Al-Hafi malah menggali tanah untuk mengubur buku-buku tersebut.
Kenapa? “Saya ingin, saya bernafsu, mengajarkan hadits. Seandainya tak punya keinginan untuk itu, saya sudah mengajarkannya.” Bahkan, bagi al-Hafi, hadits pun jadi tabir spiritual. Mengajarkan hadits bisa jadi perpanjangan keinginan dan kepentingan pribadi. Begitulah al-Hafi, dia tampaknya memang sudah dibebaskan dari keinginan dan kehendak dan kepentingan pribadi. Lelaki telanjang kaki dari Baghdad itu tampaknya telah mencapai kesuwungan. Namanya diwangikan, ditinggikan, dan disucikan di dunia dan di akhirat.
Tidak salah jika Ahmad bin Hambal begitu menghormatinya, bahkan merasa perlu berguru kepadanya. Tidak hanya manusia, bahkan bighal pun menghormati al-Hafi. Ternyata, selama al-Hafi tinggal dan hidup di Baghdad, tak seekor pun bighal membuang kotoran di kota tersebut. Sebab, bumi Baghdad sedang ditapaki oleh kaki telanjang al-Hafi.
Suatu malam, seorang warga Baghdad berkata, “Ah, Bishr al-Hafi telah tiada.” Setelah diselidiki, ucapannya terbukti. Memang al-Hafi meninggal malam itu. Bagaimana dia tahu bahwa al-Hafi meninggal malam itu? “Sepanjang hidup al-Hafi,” ujarnya “di Baghdad tak tampak kotoran bighal. Malam ini aku menemukan kotoran bighal. Artinya, al-Hafi telah tiada.”
Al-Hafi memang telah tiada. Lebih seribu tahun silam dia berpulang. Dia wafat pada 227 H, 841 M. Tapi, sejatinya al-Hafi masih hidup di alam sana, alam kelanggengan. Barangkali sekarang dia sedang bercengkerama dengan Sang Kekasih. Barangkali dia sedang melihat saya menulis artikel kecil tentang kehidupannya ini, atau dia sedang memandang Anda membaca artikel ini.

Apa pun yang tengah dilakukannya kini, kita perlu berterima kasih kepadanya. Terima kasih, karena al-Hafi, dengan pasemon kaki telanjangnya telah mengajari kita cara dan syarat mencari ilmu. Maka, marilah kita ber-al-Fatihah untuk beliau, Abu Nashr Bishr bin al-Harits al-Hafi, sang guru dari Baghdad….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mohon hanya memberi komentar berupa kritik yang membangun. dimohon pula untuk memberi komentar yang tidak melecehkan nama baik pihak tertentu. salam