29/03/15

Keluarga

ada yang mengatakan, kita sekarang mengalami krisis sosial. tingkat kriminalitas meningkat. juga di kalangan remaja dan anak-anak. orang main hakim sendiri, misalnya membakar begal. media sering mengabarkan kasus kekerasan seksual terhadap anak, pengguguran kandungan, pembuangan bayi, pernikahan usia dini, dan perceraian yang tampaknya terjadi hampir di semua lapisan sosial. anak melaporkan ibu kandungnya kepada polisi. lembaga keluarga rupanya juga dilanda krisis. bukan hanya di kota-kota, bahkan juga di desa-desa.

ketika membicarakan masalah pendidikan aktual, khususnya pendidikan karakter, gejala krisis keluarga ini jarang disinggung. lemahnya karakter siswa, menurut kerangka pikir populer, semata-mata disebabkan oleh guru dan dikondisikan oleh lingkungan sekolah. kerangka pikir ini mereduksi pendidikan sehingga pengertiannya tidak lebih luas daripada sekolah. ia mengisolasi sekolah dari lembaga-lembaga pendidikan lain. sekolah dan keluarga, dalam hal pendidikan, dipandang tak berkaitan. tanggung jawab atas kerusakan moralitas anak dan remaja lebih dibebankan di pundak sekolah. akar masalahnya tidak dilacak pada krisis keluarga. 

padahal, kalau kita hitung, sumbangan keluarga terhadap pembentukan maupun pengrusakan karakter anak lebih besar ketimbang sumbangan sekolah. sering, residu krisis keluarga terbawa masuk ke ruang kelas. guru harus menghadapi siswa dengan kenakalan luar biasa akibat keluarganya remuk. ayah dan ibunya bertengkar terus, hampir bercerai, bahkan telah bercerai. mereka adalah tipe orang tua yang waktunya habis terbeli oleh pekerjaan. saudaranya pecandu narkoba. kerjanya keluyuran tak menentu. jarang di rumah. keluarga besarnya terlibat konflik hebat karena rebutan warisan. 

di rumah, siswa tersebut tidak memperoleh cukup perhatian dan kasih sayang. di kelas, dia mencari perhatian dengan berulah nakal. kepada siswa jenis ini, guru tidak bisa berbuat banyak. sukar pula bagi guru untuk mencegahnya menularkan kenakalan kepada siswa lain. jadi, sebenarnya, akar kenakalan anak dan remaja, hulu pangkal kerusakan karakter mereka ada pada keluarga, bukan pada sekolah. maka, pembenahan dan penggantian kurikulum, berapa kali pun itu dilakukan, bukan jalan efektif untuk menurunkan tingkat kerusakan karakter anak dan remaja, apalagi untuk menghilangkannya sama sekali. perbaikan kualitas pedagogik guru, juga bukan jalan yang efektif. 

mau atau tidak, kita harus menoleh pada lembaga keluarga. fungsi keluarga sebagai lembaga pendidikan, khususnya pendidikan karakter, baik karakter yang bersifat individual maupun sosial, harus diperkuat. kita harus kembali menempuh jalan kependidikan yang dibangun ki hadjar.

barangkali, di indonesia, ki hadjar-lah orangnya yang pertama kali memandang pendidikan sebagai gejala sosial. dia tidak mengisolasi sekolah dari lembaga-lembaga sosial lain yang berfungsi pedagogis. sekolah hanya salah satu pusat pendidikan. ada dua pusat pendidikan lain, yaitu keluarga dan komunitas sebaya. keluarga adalah poros ketiga pusat pendidikan yang (semestinya) saling terhubung ini. pengaruh sekolah dan komunitas sebaya terhadap dinamika keluarga tidak sebesar pengaruh keluarga terhadap dinamika sekolah dan komunitas sebaya. dalam salah satu artikelnya, ki hadjar menulis, "keluarga itulah tempat pendidikan yang lebih sempurna sifat dan ujudnya daripada pusat [pendidikan] lain-lainnya" (Ki Hadjar, 1935). 

karena alasan ini, ki hadjar menerbitkan Keluarga, berkala yang berfokus pada masalah pendidikan (dalam) keluarga. tujuannnya, membimbing ibu dan ayah, yang kebanyakan tidak punya pengetahuan pedagogis dan psikologi pendidikan yang cukup, dalam hal parenting. karena hal ini pula, dia merancang sistem pendidikan indigenous, paguron tamansiswa, yang pada dasarnya merupakan perluasan lembaga keluarga. ki hadjar menyebut dirinya sebagai bapak, sedangkan pawiyatan tamansiswa dianggapnya sebagai ibu. dalam "rumah" tamansiswa, guru lelaki tidak lagi disebut Meneer, tidak pula disebut Mr., tetapi dipanggil Bapak dan Ki; guru perempuan tidak disebut Mevrouw atau Juffrow, tidak pula Mrs., tetapi dipanggil Ibu dan Nyi. sebagaimana anak-anak dalam sebuah keluarga, siswa-siswi tamansiswa saling mengasuh, saling mengasah, saling mengasih, saling mengajar dan mendidik satu sama lain. pendidikan berlangsung tidak sebatas di ruang kelas dan selama jam pembelajaran formal. pendidikan terjadi di mana saja dan kapan saja, long life education, kata Unesco; deschooling society, kata Ivan Illich.

kira-kira, demikianlah gambaran pendidikan yang diharapkan ki hadjar, suatu harapan yang tidak mendapat sambutan memadai dari pembuat kebijakan pendidikan saat ini. sekolah kita menerapkan sistem klasikal barat, bahkan sekaligus dengan filosofinya yang darwinistis. keluarga sebagai pusatnya pusat pendidikan hampir diabaikan sama sekali. ketiga pusat pendidikan, keluarga, komunitas sebaya, dan sekolah dimaknai sebagai unit sosial-pedagogis yang terpisah. menteri anis baswedan baru-baru ini saja membentuk dirjen keayahbundaan di bawah naungan departemen yang dipimpinnya. hingga sekarang belum begitu jelas apa kerja dan bagaimana kinerjanya. 

saya terpaksa menyimpulkan, realitas pendidikan kita menyimpang entah berapa jauh dari idealitas ki hadjar. paling banter, kita hanya mengingat tut wuri handayani-nya saja, slogan yang telah klise dan kosong. pandangan kependidikan kita atomistis. tidak ada perhatian besar terhadap keluarga sebagai lembaga pedagogis. jika kukuh dengan pandangan pendidikan tersebut, mungkinkah krisis sosial diatasi secara sistemis dan tuntas? mungkinkah pendidikan memainkan peran luhurnya sebagai ujung tombak revolusi mental?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mohon hanya memberi komentar berupa kritik yang membangun. dimohon pula untuk memberi komentar yang tidak melecehkan nama baik pihak tertentu. salam